NovelToon NovelToon
KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

KETIKA PENGUASA SURGAWI MENJADI HUNTER RANK E

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Kultivasi Modern
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

Wu Xuan telah mencapai puncak alam surgawi dan hanya selangkah lagi naik ke alam dewa. Namun saat ia mencoba kembali ke Bumi demi menebus hutang karma kepada kedua orang tuanya, tubuh fananya justru terhempas ke tengah badai kehampaan dimensi.

Dan ketika ia membuka matanya kembali…

Bumi yang ia kenal telah berubah menjadi dunia dungeon dan para hunter.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyimpangan Mana

Jauh di bawah tanah markas besar Wu Imperial Guild, di dalam sektor Fasilitas Medis, keheningan hanya dipecahkan oleh suara ritmis dari mesin-mesin penyokong kehidupan tingkat tinggi.

Ruangan VVIP itu dirancang untuk menahan ledakan mana dari seorang Hunter tingkat City Tier. Dindingnya dilapisi oleh paduan tungsten dan kaca anti-radiasi yang memancarkan pendar kebiruan. Di atas ranjang medis canggih di tengah ruangan, terbaring sosok rapuh Bu Yue. Gadis kecil berusia tujuh tahun itu terlihat sangat kecil di tengah lautan kabel, monitor, dan selang-selang pemompa mana yang mengelilinginya.

Setiap orang yang masuk ke dalam ruangan ini diwajibkan mengenakan pakaian hazmat medis lengkap yang tebal dan kedap udara untuk mencegah kontaminasi partikel mana liar. Para perawat dan dokter ahli bergerak dengan hati-hati dalam balutan pelindung putih tersebut.

Namun, aturan itu tidak berlaku bagi segelintir orang yang hadir di sana.

Wu Jiang dan Wu Yuena berdiri tidak jauh dari ranjang tanpa mengenakan alat pelindung apa pun. Bakat Kelas S dan level Country Tier mereka menciptakan sebuah domain sterilisasi pasif. Aura mereka secara otomatis menghancurkan partikel asing atau bakteri apa pun dalam radius satu meter sebelum sempat menyentuh kulit mereka. Di samping mereka, Xu Xin juga berdiri tegak dengan kacamata pintarnya, dilindungi oleh mana tingkat tingginya sendiri.

Dan kemudian, ada Wu Xuan.

Pemuda itu berjalan masuk dengan langkah yang pelan dan elegan. Ia hanya mengenakan kemeja kasual hitam dan celana panjang yang sangat sederhana. Ia tidak memiliki mana untuk mensterilkan udara, tidak memiliki pelindung radiasi, dan tubuhnya murni adalah fisik manusia tanpa setetes pun energi spiritual. Namun, tidak ada satu pun orang yang berani menegurnya.

Udara di sekitar Wu Xuan terasa aneh. Bukan menekan karena kekuatan, melainkan menekan karena kekosongannya. Kehadirannya seolah menyerap cahaya dan suara di sekitarnya.

Wu Jiang melipat kedua lengannya di depan dada. Matanya yang tajam menatap lekat setiap gerak-gerik putranya. Sebagai seorang ayah dan penguasa Wu Imperial Guild, ia sangat penasaran dengan apa yang direncanakan oleh anaknya yang baru saja bangkit dari tidur panjang.

Di sudut lain, Xu Xin mengamati Wu Xuan melalui kacamata analisanya. Ia menelan ludah secara diam-diam.

'Layar pembacaanku menunjukkan angka nol energi pada tubuh Tuan Muda,' batin Xu Xin, otaknya bekerja keras mencari pembenaran logis. 'Namun, ketenangan dan aura yang ia pancarkan... apakah mungkin desas-desus di luar sana benar? Apa mungkin bakat Tuan Muda memang berada di Kelas SS, sebuah tingkatan yang begitu tinggi hingga alat pemindai umat manusia bahkan tidak mampu mendeteksinya?'

Wu Xuan sama sekali tidak mempedulikan tatapan menyelidik dari orang-orang di sekitarnya.

Meskipun matanya dan struktur tubuhnya murni adalah manusia biasa, ia tidak buta terhadap aliran energi. Insting dari kesadarannya yang merupakan entitas Dao Agung memungkinkannya untuk "melihat" tatanan dunia dengan cara yang berbeda.

Ia berjalan mendekati ranjang, menatap Bu Yue.

Gadis kecil itu sedang tertidur di bawah pengaruh obat bius dosis tinggi, namun wajahnya terus berkerut menahan siksaan. Setiap beberapa menit sekali, urat-urat nadi di leher dan lengannya menonjol, memancarkan pendar biru yang mengerikan akibat mana murni yang diproduksi oleh genetikanya menyerang jantungnya sendiri.

Di sudut ruangan yang paling gelap, Butong berdiri mematung. Ayah berbadan raksasa itu telah menanggalkan segala harga dirinya, hanya bisa menatap putrinya dari kejauhan dengan mata merah yang menyimpan lautan keputusasaan, tidak berani melangkah mendekat karena takut mengganggu.

Wu Xuan berhenti tepat di sisi ranjang. Dengan gerakan yang sangat tenang, ia mengulurkan tangannya yang pucat dan menyentuh pergelangan tangan Bu Yue.

Ia mencoba mengeksekusi sebuah teori. Jika tubuhnya saat ini adalah kekosongan yang rakus akan energi, ia bermaksud untuk melahap mana liar yang menyiksa gadis kecil ini. Itu akan menjadi simbiosis yang sempurna; sang gadis sembuh, dan ia mendapatkan katalis energi pertamanya.

Namun, beberapa detik berlalu. Tidak ada yang terjadi.

Tidak ada pusaran energi, tidak ada mana yang tersedot ke dalam tubuh Wu Xuan seperti saat ia melahap batu spiritual emas sebelumnya.

Di dalam benaknya yang tenang dan rasional, roda gigi analisis Wu Xuan berputar cepat.

"Gagal. Kemungkinan karena..." batin Wu Xuan dalam pikirannya, matanya menatap tajam pada pendar biru di nadi Bu Yue. "Batu spiritual adalah energi murni yang netral. Sedangkan energi di dalam tubuh gadis kecil ini telah terikat dengan sistem biologisnya. Ini berbeda dengan penyakit penyimpangan Qi di dunia kultivasi."

Wu Xuan melepaskan tangannya perlahan, menatap telapak tangannya sendiri.

"Penyimpangan Qi di dunia kultivasi terjadi karena Dantian—pusat penyimpanan energi di perut—mengalami kelebihan beban atau retak. Tapi di dunia yang berevolusi ini... konsep penyimpanannya berbeda. Mereka tidak menggunakan Dantian." Mata Wu Xuan beralih ke arah dada Bu Yue yang naik turun dengan tidak stabil.

"Mereka menggunakan jantung. Jantung adalah reaktor utama yang mengolah energi Mana. Jantung gadis kecil ini terlalu lemah untuk memompa darah, namun genetikanya memaksanya untuk memompa Mana yang sangat padat. Ini bukan penyakit mematikan. Ini hanyalah masalah pipa yang tersumbat karena tekanan berlebih."

Sebuah senyum tipis, nyaris tak terlihat dan sarat akan ironi, terbentuk di bibir Wu Xuan.

'Jika Mama, sang Healer terbaik di dunia, mengatakan bahwa belum ada obat untuk penyakit ini... itu bukan karena penyakit ini tidak bisa disembuhkan. Itu karena di dunia yang mengandalkan kekuatan tempur kasar ini, tidak ada satu pun alkemis. Mereka memandang anatomi energi layaknya tubuh manusia biasa, bukan sebagai tubuh evolusi baru.'

Wu Xuan menoleh ke arah dokter kepala yang berdiri mematung dengan seragam hazmatnya.

"Ambilkan aku jarum emas," perintah Wu Xuan, suaranya mengalir tenang, elegan, namun tidak menerima bantahan. "Setidaknya, gadis kecil ini harus bangun terlebih dahulu sebelum aku bisa memperbaiki sirkuitnya."

Keheningan seketika pecah. Udara di dalam ruangan itu terasa seolah baru saja disedot habis.

"T-Tuan Muda..." dokter tua itu tergagap, matanya membelalak di balik kacamata pelindungnya. "Membangunkan pasien yang sedang mengalami ledakan mana internal?! Itu... itu adalah tindakan bunuh diri medis! Rasa sakitnya akan menghancurkan sistem sarafnya seketika! SOP kami mengharuskan pasien tetap dibius hingga mana-nya terkuras habis oleh mesin!"

Wu Yuena juga melangkah maju, raut wajahnya dipenuhi kekhawatiran. "Xuan'er, sayang... Mama tahu kau ingin membantu. Tapi kondisi anak ini sangat rapuh. Jantungnya—"

"Tenanglah Ma. Ambilkan saja. Jarum emas," potong Wu Xuan.

Ia tidak meninggikan suaranya. Ia tidak membentak. Namun kata-katanya seolah mengandung otoritas yang membuat seluruh isi ruangan membeku. Wu Jiang yang berdiri di belakang istrinya tidak mengatakan apa-apa, hanya mengangkat tangannya sedikit, memberi isyarat kepada dokter kepala untuk mematuhi putranya.

Dengan tangan yang sangat gemetar, sang dokter membuka sebuah kotak sterilisasi portabel dan menyerahkan satu set jarum emas medis ke tangan Wu Xuan.

Tanpa basa-basi, tanpa drama yang tidak efisien, dan tanpa penjelasan panjang lebar yang membuang waktu, Wu Xuan memutar tubuhnya menghadap Bu Yue.

Gerakannya sangat presisi, sangat cepat namun sehalus embusan angin.

Srat. Srat. Srat.

Tiga jarum emas ditusukkan langsung ke tiga titik meridian spesifik di sekitar dada dan leher gadis kecil itu. Bukan untuk menutup aliran mana, melainkan untuk membukanya.

Mata sang dokter tua nyaris melompat keluar dari rongganya. "Tuan Muda, apa yang Anda lakukan?! Anda menusuk titik sumbatannya! Anda membiarkan mana itu bocor keluar dari pembuluh darahnya! Jaringannya akan terbakar!"

Wu Yuena juga terperangah. Logika medis di era ini mengajarkan bahwa mana yang menyimpang harus ditekan dan disedot keluar secara perlahan, bukan dibocorkan secara paksa ke dalam tubuh. Itu sama saja dengan meledakkan bom di dalam ruangan tertutup.

Namun, kengerian mereka sama sekali tidak terbukti.

Saat jarum-jarum emas itu menancap dan bertindak layaknya katup pelepas tekanan (relief valve), pendar biru yang mengerikan di leher Bu Yue justru tidak meledak. Mana yang liar itu mendesis keluar dari pori-pori kulit di sekitar jarum emas, menguap menjadi kabut tipis berwarna biru yang tidak berbahaya dan langsung menghilang di udara steril ruangan tersebut.

Jarum itu membagi tekanan. Membiarkan energi yang menyiksa jantungnya mengalir keluar seperti uap dari teko yang mendidih.

Wajah Bu Yue yang tadinya berkerut menahan siksaan luar biasa, perlahan mengendur. Otot-ototnya rileks. Napasnya yang memburu menjadi teratur dan tenang.

Dan kemudian... kelopak mata gadis kecil itu bergetar, lalu terbuka perlahan.

Ia telah sadar dari koma rasa sakitnya.

Semua orang di ruangan itu—mulai dari dokter kepala, Xu Xin, Wu Yuena, hingga Wu Jiang—terpaku dalam diam. Rahang mereka seakan jatuh menabrak lantai. Sesuatu yang dianggap sebagai penyakit paling mematikan dan tidak bisa disembuhkan bagi anak-anak di era Tower, baru saja dinetralisir sementara hanya dengan tiga tusukan jarum oleh seorang pemuda yang tidak memiliki setetes pun mana.

Wu Xuan menoleh pelan, menatap ke arah kerumunan kecil di belakangnya yang sedang menahan napas. Matanya yang tajam menyapu mereka satu per satu dengan tatapan dingin dan penuh peringatan.

"Ada apa dengan kalian?" ucap Wu Xuan dengan nada datar yang mengintimidasi. "Berhentilah menatapku dengan wajah terkejut yang bodoh itu. Aura kalian berfluktuasi terlalu keras dan itu mengganggu konsentrasiku. Fisik milikku saat ini masih dalam kondisi penyesuaian."

Semua orang, termasuk pilar kemanusiaan sekelas Wu Jiang dan Yuena, seketika menutup mulut mereka rapat-rapat. Mereka saling berpandangan dalam diam, menekan aura mereka hingga ke titik terendah, membiarkan sang tuan muda menguasai ruangan itu sepenuhnya.

Setelah memastikan tidak ada lagi interupsi, Wu Xuan kembali menatap gadis kecil di depannya.

Seketika, seluruh aura dingin dan tirani di wajahnya menghilang tanpa bekas, digantikan oleh sebuah senyum yang luar biasa lembut, hangat, dan menenangkan. Ia dengan mudah memanipulasi ekspresinya, memainkan logika psikologi untuk menstabilkan kondisi mental subjek eksperimennya.

"Hai, gadis kecil," sapa Wu Xuan dengan nada suara seorang kakak laki-laki yang sangat ramah. Ia mengusap perlahan rambut Bu Yue yang sedikit basah oleh keringat. "Siapa namamu?"

Bu Yue mengerjap pelan, matanya yang besar dan polos menatap wajah tampan di atasnya. Ia tidak merasakan rasa sakit yang biasanya mencabik-cabik kepalanya.

"Siapa Kakak...?" suara Bu Yue terdengar sangat lemah dan parau. Ia melihat ke sekeliling ruangan yang asing dan menakutkan ini. "Di mana aku...? Di mana Ayah...?"

Wu Xuan dengan cekatan mencabut ketiga jarum emas itu dengan satu gerakan mulus sebelum katup itu merusak jaringan kulit aslinya.

"Apa masih sakit?" tanya Wu Xuan lembut, mengabaikan pertanyaannya.

Merasakan jarum itu dicabut, sedikit rasa ngilu kembali hadir, meski tidak separah sebelumnya. Bu Yue menatap Wu Xuan, lalu air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Pertahanan mental seorang anak berusia tujuh tahun akhirnya runtuh.

Gadis kecil itu menangis tanpa suara. Air matanya mengalir membasahi bantal medis.

"Bu Yue capek, Kakak..." isaknya dengan suara yang menyayat hati, sebuah kepolosan yang dihancurkan oleh dunia yang kejam. "Sakit sekali... setiap hari rasanya seperti terkena api. Bu Yue tidak mau diobati lagi... Bu Yue tidak mau menyusahkan Ayah lagi. Ayah selalu pulang dengan darah dan luka hanya untuk membayar obatku..."

Di sudut terjauh ruangan, mendengar perkataan putrinya, Butong tidak lagi bisa menahan dirinya. Pria raksasa itu jatuh berlutut, menutupi mulutnya dengan kedua tangan, menangis dalam diam dengan kepedihan yang luar biasa. Bahunya bergetar hebat.

Mata Bu Yue kemudian beralih, pandangannya menangkap bayangan ayahnya yang sedang berlutut menangis di sudut ruangan. Tangis gadis kecil itu semakin menjadi.

Wu Xuan tersenyum. Bukan senyum sinis, melainkan senyum pengertian yang merangkum seluruh kalkulasi emosional yang ia butuhkan.

Ia kembali mengusap kening Bu Yue dengan sangat lembut, menyingkirkan anak rambut yang menempel di sana.

"Gadis kecil, kau tidak boleh berkata seperti itu lagi," ucap Wu Xuan dengan nada yang menenangkan, namun setiap kata-katanya ditanamkan langsung ke alam bawah sadar gadis itu. "Kalau kau menyerah, kau akan membuat ayahmu sangat sedih. Perjuangan ayahmu akan menjadi sia-sia."

Wu Xuan mencondongkan tubuhnya sedikit, menatap langsung ke dalam mata Bu Yue.

"Bu Yue, apa kau mau sembuh?" tanya Wu Xuan.

Gadis kecil itu menghentikan tangisnya sesaat. Ia menatap Wu Xuan dengan penuh harap, menganggukkan kepalanya dengan lemah. "Mau... Bu Yue tidak suka sakit. Tolong Bu Yue, Kakak...?" isaknya memohon.

Wu Xuan menegakkan kembali tubuhnya. Senyum hangat di wajahnya perlahan memudar, tergantikan oleh ketenangan yang mematikan.

"Gadis kecil..." suara Wu Xuan bergema pelan di dalam ruangan yang sunyi itu, terdengar jelas oleh semua orang yang ada di sana.

"Aku tidak bisa menolongmu."

Seketika, napas Butong terhenti. Wajahnya memucat. Harapan yang baru saja mekar di ruangan itu seolah dihancurkan oleh godam es.

Namun, sebelum keputusasaan sempat mengambil alih ruangan, Wu Xuan kembali melanjutkan kalimatnya. Matanya yang hitam kecoklatan memancarkan kilatan kepercayaan diri yang menembus batas kefanaannya.

"Tapi..." ucap Wu Xuan, sudut bibirnya sedikit terangkat, menciptakan senyum seorang pahlawan. "...Aku bisa membantumu menghilangkan rasa sakitnya, dan membuatmu sembuh."

Bersambung...

1
Novi Prihartono
lanjuuuuuuuuut
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡🫡🫡🫡🫡
total 1 replies
Novi Prihartono
up lagiiiiiiiiiiiiiii
EGGY ARIYA WINANDA: 🫡👍👍👍👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Bantu like dan komentar untuk mendukung cerita ini agar terus berlanjut 🫡🫡
Fajar Fathur rizky
thor ini wuxuan jika nunjukin ranah kultivasi apakah dunia bakal hancur thor
Fajar Fathur rizky
di tunggu updatenya thor novel satunya bab 393 dan bab 394 thor
Zzzz
jejak dulu 👣👣
Zzzz
semoga dapat retensi ya/Determined//Determined/semangattt 🔥🔥🔥
Zzzz
/Slight/
Zzzz
/Hunger/
Zzzz
/Proud/
Zzzz
semangat 🔛🔥
Zzzz
/CoolGuy/
Zzzz
🤧bisa dong
Fajar Fathur rizky
cepat naikin level wuxuan
ABSOLUTE [2]
aaaaaaaaahhhhhhhh, lagi seru-seru nya baca malah abis
EGGY ARIYA WINANDA: Teknik marketing 🤭🤭
total 1 replies
Zzzz
👣
Zzzz
/Grimace/
Zzzz
/Slight//Proud/
Zzzz
/Frown/
Zzzz
/Determined/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!