tiga tahun sudah pernikahan kita...Dipaksa menikah di usia muda ketika kita masih duduk di bangku SMA..
Tak ada kontak fisik. Di rumah seperti orang asing. Aku tahu Aksa memiliki ke kasih tapi apa salah ku. Hingga batas kesabaran ku hilang juga.
"Kak Aksa aku ingin gomong".
"Kalau ngomong ya ngomong aja Bintang".
"Kak mari kita berpisah".
Apa Aksa mengabulkan permintaan Bintang. Atau mempertahankan pernikahannya ???
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon vita no, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkapnya Fakta
Setelah pamit dengan mereka, aku berjalan ke kamar ku yang ada di atas. Seperti biasa kak Aksa selalu berada di belakang ku. Aneh memang dengan sikapnya yang tak pasti.
"Bin, kakak mau ngomong sama kamu."
"Iya kak, mau ngomong apa ya kak ? Kan nggak lama kan kak. Soalnya mata Bintang sudah ngantuk ni."
"Hanya sebentar. Kamu maunya kita ngomong dimana. Mau ke kamar kakak ngomongnya atau kamar kamu!"
"Disini aja kak, kan hanya sebentar."
"Nggak gitu juga konsepnya Bintang. Kalau ngomong tu kita harus duduk bukan berdiri seperti ini."
"Kalau kita ngomong dikamar kakak, tapi kakak bilang Bintang nggak boleh masuk kamar kakak. Jika ngomong di kamar aku, takutnya nanti terjadi lagi hal hal yang nggak kita ingin kan."
"Emang apa hal hal yang tidak kita inginkan Bintang."ucap Aksa sambil tersenyum sedikit karena telah menjahili Bintang. Tanpa Bintang sadari, kalau dia sedang di jahili sama Aksa.
"Itu itu kak. Seperti di apartemen kemarin. Yang waktu kakak tidur di kamar Bintang."
"Itukan tidur Bin. Kalau kali ini kakak hanya ngomong. Lagian selesai ngomong, kakak juga keluar dan kembali kekamar kakak juga."
"Ya sudah, ngomong dikamar Bintang aja kalau gitu kak.
Dan kami pun masuk kekamar ku. Aku duduk di atas kasur ku dan diikuti oleh kak Aksa.
"Kok kakak duduk disini juga. Kenapa nggak duduk di kursi itu."
"Nggak enak ngomongnya jauh jauh Bin."
"Kakak mau ngomong apa?"
"Kakak mau ngomong sama kamu, jika kakak sudah ambil keputusan mengambil bea siswa di sekolah."dan itu hanya aku anggukkan. "Trus?"tanya ku sama kak Aksa.
"Kamu nggak mau tanya kenapa atau apalah gitu."dan ucapan kak Aksa aku tanggapi dengan gelengan.
"Kenapa ?"
"Buat apa Bintang tanya kak? Kan tadi sudah kakak jawab ketika mama tanya!"
"Ada alasan dibalik kepergian kakak Bin. Kakak ingin menemukan jati diri kakak. Sebenarnya kak bukan nggak tertarik sama kamu. Tapi kamu itu adalah calon menantu yang sudah lama dijodohkan dengan kakak. Tapi kakak nggak mau dijodohkan Bin. Kakak ingin cari pasangan hidup untuk diri kakak sendiri, bukan pasangan yang dipilih mommy. Hanya karena insiden dulu makanya kakak menikahi kamu."
"Jadi begitu. Karena itu kakak nggak suka dengan aku dari awal. Dan tentang pernikahan kita ini, kakak merasa kalah dari mommy. Dan juga karena itu dari awal kakak nggak suka sama Bintang. Kakak merasa, kalau Bintang mengetahui perjodohan ini."ucap ku penuh rasa kecewa. "Bintang sangat kecewa sama kakak. Kakak tahu nggak, disini Bintang juga jadi korban loh kak."
"Semuanya sekarang baru Bintang ngerti kak. Ini karena ego kakak sendiri. Kalau gitu sebaiknya kita pisah aja kak. Kakak bisa mencari pasangan hidup pilihan kakak dan Bintang juga bisa menata masa depan Bintang kak."
"Masalahnya kakak belum bisa pisah sama kamu Bin. Kakak nggak tahu alasan apa yang harus kakak katakan ke mommy jika kita pisah. Oleh sebab itu diawal kakak katakan, jika kamu atau kakak sudah dapatkan orang yang kita cintai. Baru saat itu kita bahas lagi tentang pernikahan kita."
"Jadi kakak anggap Bintang apaan kak. Hanya status sebatas istri yang tak bisa berharap cinta suaminya. Atau jika kakak sudah dapat orang yang kakak cintai baru kakak lepaskan Bintang. Bintang wanita kak, punya perasaan lebih halus dari pria kak."ungkapan hati Bintang ke Aksa dengan nada yang sedikit meninggi.
"Bukan begitu Bin. Kakak berharap kamu yang pertama bertemu dengan orang yang kamu cintai Bin."
"Kakak kira wanita semudah itu menerima perasaan seorang pria. Apa lagi wanita itu masih punya pasangan halal nya. Nggak kak, nggak semudah yang kakak katakan. Ok kalau begitu, mulai sekarang Bintang nggak akan berharap lagi tentang pernikahan kita. Sebaiknya kakak keluar. Bintang mau tidur, sudah ngantuk banget."
Aksa keluar dari kamar Bintang menuju kamarnya. "Kenapa wanita ribet kali sih. Uh, niat hati mau bicara dari hati ke hati malah gagal. Malah dia marah marah nggak tentu. Ya sudah lah, lebih baik aku pack dulu barang yang aku bawa ke Cambridge. Lebih cepat lebih baik aku pergi dari sini. Aku akan mulai hidup baru disana. Jika dalam lima tahun kedepan, jika aku belum menemui cinta ku maka pernikahan ini akan aku lanjutkan tapi jika aku menemukan orang yang aku cintai, maka saat itu juga akan aku bawa kesini. Dan aku akan akhiri hubungan ini."gumam Aksa dalam hati.
Keesokan paginya, kami melakukan aktivitas seperti biasanya. Setelah itu aku mengantar mama dan papa ke bandara. Selama di perjalanan aku berbicara pada mama ku.
"Ma nanti jika Bintang sudah kuliah, Bintang mau kos yang dekat kampus aja ya ma. Lagian kak Aksa juga kuliah diluar negri. Kan Bintang ingin belajar mandiri. Dulu alasan mama titip Bintang ke mommy karena Bintang masih kecil, masih belum bisa bedakan mana lingkungan baik atau nggak. Tapi sekarang Bintang sudah dewasa ma. Boleh ya ma?"
"Kamu tu harusnya tanya dan minta izin sama suami kamu. Karena sekarang kamu itu tanggung jawab suami kamu."
"Kalau gitu, bagaimana kalau Bintang pisah aja sama kak Aksa ma?"
"Plak.ada ada aja kata kamu Bin. Ngomong tu di pikir dulu. Jangan asal ngomong."ucap mama ku sambil menepuk bahu ku agak keras.
Mendengar kata mama, aku nggak tahu harus sama siapa lagi ngomong. Tak ada yang tahu situasi ku. Lama lama aku bisa stres dan gila dengan situasi yang aku hadapi ini. Ingin rasanya aku menghilang aja dari semua ini.
Sesampai di bandara dan waktu keberangkatan mama dan papa sudah dekat. Aku memeluk mama dan papa ku erat erat.
"Pa, nanti jika Bintang kuliah. Papa masih mau kan biayai kuliah Bintang."
"Kamu ngomong apa sih nak. Papa akan selalu kirim uang tiap bulan sama kamu. Itu cukup untuk biaya kamu kuliah nanti asal kamu jangan boros."
"Siap papa kuuu. Bintang akan hemat pa."muah ucap ku sambil mencium pipi papa.
Mama hanya geleng geleng kepala lihat sikap ku. "Kamu sudah besar, tapi tingkah seperti anak kecil aja Bin, Bin."aku hanya cengengesan mendengar ucapan mama ku.
"Ya sudah, mama dan papa kedalam lagi. Kamu hati hati pulangnya."
"Iya ma."
"Dan ingat pesan papa ini Bin. Kamu harus fokus belajar. Papa doakan kamu bisa mewujudkan cita cita mu."
"Amin papa. Makasih support dan doanya pa."
Aku lambaikan tangan ku ke mama dan papa yang berjalan keruangan tunggu di bandara. Hati ku sedih, tak bisa tinggal sama mama dan papa lagi.
Aku berjalan keluar bandara. Aku naik mobil mang Ujang kembali ke rumah mommy. "Uh apa yang harus aku lakukan sekarang."ucap hati ku sambil melamun.