NovelToon NovelToon
Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Terlempar Ke Zaman Kuno Di Tolong Pemburu Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Isekai
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Tasya Chuky

"Bujur buset!"

​Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.

​Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.

​"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.

​Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.

​Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.

​Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 01 Awal

• Halo Guys ini cerita baru ya! sebenarnya lama kesimpen di draf. Aku coba publish kalo menurut kalian ini seru dan menarik kalian boleh baca! Thanks you buat yang udah singgah!

Selamat membaca!♡

"Neng, singgah dulu sini... beli aksesoris saya," panggil seorang bapak tua sembari mengelap peluh di dahi dengan punggung tangannya.

​Sudah hampir setengah hari beliau berdiri di pinggir trotoar yang terik, namun belum satu pun barang dagangannya yang laku.

​"Aduh, maaf ya, Pak. Enggak dulu," jawab Dinda sembari melempar senyum kecil, berniat melanjutkan jalan.

​"Ayolah, Neng, bantu Bapak. Berapa saja... yang penting laku. Kasihan anak Bapak di rumah dari pagi belum makan," ucap bapak itu dengan nada memelas.

​Mendengar kalimat terakhir, hati Dinda langsung mencelos. Karena tak tega, ia berbalik dan mendekati tikar tempat aksesoris itu digelar. Matanya menyapu beberapa barang, hingga pandangannya jatuh pada sebuah gelang dengan hiasan kupu-kupu yang manis.

​"Ini berapa, Pak?" tanya Dinda.

​"Ah, yang itu sepuluh ribu saja, Neng," jawab si bapak, wajahnya mulai berbinar.

​Dinda mengangguk. Ia merogoh sling bag-nya dan mengeluarkan selembar uang dua puluh ribuan. Namun, tepat sebelum menyerahkan uang itu, sudut matanya tak sengaja menangkap sebuah cincin perak yang tergeletak di pojok. Di tengah cincin itu terdapat bandul bulan sabit yang simpel namun entah kenapa terlihat sangat memikat. Desainnya biasa saja, tapi ada dorongan kuat di dalam dada Dinda yang membuatnya ingin sekali memiliki cincin itu.

​"Kalau yang ini berapa, Pak?" tanya Dinda sembari menunjuk cincin perak tersebut.

​"Yang itu ambil saja, Neng. Barang lama... kelihatannya juga sudah kusam," jawab si bapak santai.

​Dinda tersenyum lebar. Ia langsung menyodorkan uang dua puluh ribuan tadi ke tangan si bapak. "Nih, Pak. Makasih, ya. Kembaliannya ambil saja buat jajan anaknya."

​"Wah, Alhamdulillah! Makasih banyak, Neng. Semoga rezekinya lancar," ucap si bapak terharu, matanya berkaca-kaca.

​Dinda mengangguk ramah lalu kembali melanjutkan langkah. Matahari kian meninggi, membakar aspal trotoar. Di seberang jalan, sekilas Dinda menangkap plang penjual es kopyor. Ia refleks meneguk ludah yang mendadak terasa kering.

​"Siang-siang bolong begini, minum es kopyor kayaknya surga banget," gumamnya pelan.

​Tanpa pikir panjang, Dinda langsung melangkah untuk menyeberang. Jalanan siang itu memang lumayan sepi, tapi bukan berarti bebas kendaraan. Baru setengah jalan, suara klakson melengking yang memekakkan telinga tiba-tiba menggema dari arah kanan. Sebuah truk tronton besar melaju kencang, kehilangan kendali.

​Nah, di sinilah dasar Dinda agak 'dodol'. Melihat kendaraan sebesar rumah bergerak cepat ke arahnya, bukannya buru-buru lari menyelamatkan diri, dia malah mematung. Dinda malah berteriak histeris di tempat sembari menonton moncong truk yang tinggal lima meter lagi menghantam tubuhnya.

​Tiiiit! Tiiiit!

​Wusssss!

​Sensasi hantaman keras yang ia bayangkan ternyata tidak ada. Alih-alih rasa sakit, Dinda justru merasa tubuhnya seringan kapas, tersedot masuk ke dalam pusaran angin kencang yang berputar-putar di sekelilingnya. Pandangannya menggelap seketika.

​Dan tiba-tiba...

​Bruakkk!

​"Adoooiii!" teriak Dinda kencang saat tubuhnya mendarat telak di atas tanah keras.

••••••••

"Aduh, sakiiittt..." ringis Dinda pelan.

​Matanya terbuka perlahan, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk. Namun, sedetik kemudian matanya langsung membelalak.

​"What?! Aku di mana?" pekik Dinda terkejut. "Gila, masa ketabrak mobil doang kelemparnya bisa sejauh ini?!"

​Dinda menoleh ke kanan dan ke kiri dengan panik. Tidak ada jalan aspal, tidak ada deretan rumah atau gedung tinggi, bahkan tidak ada satu orang pun di sana. Yang terlihat sejauh mata memandang hanyalah hutan rimbun yang gelap dengan pohon-pohon raksasa yang menjulang tinggi ke langit.

​"Mamaaa! Dinda di mana?!" teriaknya histeris memanggil sang mama.

​Di tengah kepanikannya, Dinda tiba-tiba teringat sesuatu. Ia meraba tubuhnya dan bernapas lega saat mendapati sling bag-nya masih ikut menyampir di bahu. Dengan tangan gemetar, ia buru-buru merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya.

​Ia menekan tombol daya di samping. Drettt... Ponsel itu bergetar dan menyala ulang. Begitu layar utama menampilkan menu, Dinda langsung mencari kontak nomor telepon yang bisa dihubungi.

​Namun, sedetik kemudian gerakannya membeku. "Loh, kok kosong?! Kemana semua nomornya?" tanyanya bingung pada diri sendiri.

​Merasa ada yang tidak beres, Dinda buru-buru membuka galeri foto, aplikasi WhatsApp, dan beberapa media sosial lainnya. Kosong melompong. Semuanya menampilkan halaman awal yang bertuliskan: Daftar atau Login. Ponselnya benar-benar seperti baru keluar dari pabrik!

​"Aduh, kok bisa gini sih?!" Dinda menggeram kesal sekaligus frustrasi.

​Ia terduduk lemas di atas tanah, hampir putus asa. Namun, belum sempat ia meratapi nasibnya, sebuah suara terdengar dari balik semak-semak.

​Kresek!

​Tubuh Dinda seketika menegang. Jantungnya berpacu liar. "Kalau itu macan, beneran mati konyol aku di sini," gumamnya super pelan, hampir tak bersuara.

​Dinda menunggu selama beberapa detik dalam keheningan yang mengekam. Karena tidak ada pergerakan lagi, dengan sisa-bisa keberaniannya, ia bangkit berdiri lalu menoleh takut-takut ke belakang.

​Deg!

​Dinda terpaku. Matanya melotot, dan jeritan batinnya langsung membumbung tinggi.

​Hah?! Di hutan belantara gini ada setan yang modelannya kayak Dylan Wang? Tapi... ini versi lebih lokal, versi kopinya... uh, manis banget!

​Tepat di depannya, berdiri seorang pria bertubuh tegap dan kekar tanpa sehelai baju pun yang menutupi dada bidangnya—hanya sepotong celana bawahan kain kasar yang ia kenakan. Kulitnya berwarna cokelat eksotis, matanya yang berwarna hazel menatap tajam, sementara rambut pendeknya tampak lepek oleh peluh.

​Dinda menatap pria itu tanpa berkedip sedikit pun, terhipnotis oleh visual di depannya. Si pria tampan kemudian melangkah mendekat.

​"Siapa kau?" tanya pria itu dengan suara berat dan datar.

​Dinda bergeming. Pemuda itu terlihat begitu berwibawa, membuat bibir Dinda mendadak kelu saat netra mereka saling bertubrukan.

​"Jawab. Apa kau seorang dewi dari langit?" tanya pria itu lagi, menuntut penjelasan.

​Pertanyaan itu praktis menampar kesadaran Dinda. Hah, dewi dari langit?! Dinda hendak menggeleng kuat-kuat, tapi sebuah ide tiba-tiba terlintas di otaknya. Eh, bentar. Pria ini... siapa tahu dia bisa bantu aku pulang!

​"Bukan! Aku bukan dewi," jawab Dinda cepat-cepat. "Aku... aku cuma tersesat di sini."

​"Tersesat? Bagaimana bisa? Bukankah kau jatuh dari langit?" Pria itu mengernyitkan alisnya.

​"Maksudmu, aku jatuh dari atas sana?" Dinda menunjuk ke arah langit biru yang tertutup rapat oleh rimbunnya dedaunan pohon purba.

1
Wahyuningsih
makin segu aja thor..... klau up jgn lma2 thor tk enak menunggu dikau bestari 😅😅 upnya yg buanyk thor n hrs tiap hri sehat sellu jga keshtn tetp💪💪💪 n makaciiiiih tuk upnya
Yulianti Amiruddin
lanjutkan Thor ceritax lgi ini🤣🤣
sasa adzka
😂😂😂 ngadi ngadi ne si othor mah.. ada emang beda dimensi saling bercakap mana jiwa nya pada di mana itu semu😂😂😂 tapi its ok ko.. bagus, keren cerita nya... 😍😍😍 lanjutkan lagi ya up nya kak😍😍😍
Ummanya Hil_Ziy: 😄Haha lucu ya. aku yang buatpun tertawa terbahak-bahak....😊
total 1 replies
Anita Rahayu
yg panjang thor nulisnya🙏🙏🙏🙏🙏🙏
Anita Rahayu
double up dan panjang thor ceritanya soalnya bagus dan menarik👍👍👍👍👍👍👍
Chen Nadari
y0 double up thorr
sasa adzka
thor jangan sampai lu bikin si dinda kagak bisa karate ya.. zaman ketinggalan kaya ini harus lebih pinter pinter loh karena dia dari zaman modern😍😍😍
semangat ya up trus 😍😍😍
sasa adzka
eh eh eh😄😄😄😄😄 nikah dulu secara adat thor😂😂😂 langsung terkam aja ne si wira
sasa adzka
😄😄 cuci mata tiap hari ya din.. kali aja bisa di pegang otot otot perutnya😂😂😂
sasa adzka
baru mampir Thor...
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍
Ana Putri
semangatt nulis nya thor 😍
Ana Putri
keren
Chen Nadari
di tanggu up nya Thorr
Ratmi Yati
di tunggu update terbaru your
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya
Wahyuningsih
waaaah mantap dpt ruang dimensi
Wahyuningsih
q mampir thor
Irmha febyollah
kapan update nya kk
Ummanya Hil_Ziy: Dari Tempatku jam 9 ya kakak. Tungguin Updatenya ya, Insyaallah bakal seru😊🙏
total 1 replies
Cahi Rama
bab nya terlalu sedikit kak tambah lagi dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!