Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.
Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.
Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.
Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2: DI BALIK MEJA KOMANDO
Deru mesin truk-truk militer berukuran besar dan iring-iringan mobil dinas memecah keheningan jalanan aspal yang membelah kawasan perbukitan Kota Bukit Raya. Sinar matahari siang itu terasa menyengat, memantul di atas kap kendaraan loreng yang bergerak dalam satu barisan rapi. Ketika ban-ban tebal kendaraan tersebut melewati area pos provost di gerbang depan Pusdikmil Satria Garda, para bintara jaga langsung mengambil posisi tegap, memberikan hormat jajar yang tegas, menyambut kedatangan rombongan Satuan Pendidikan Bintara yang baru.
Begitu melewati pos penjagaan utama, Letkol Reyes Adrian Miguel segera memberikan instruksi melalui radio komunikasi internal. Ia memerintahkan agar seluruh rombongan perwira staf, pelatih, dan anggota logistik langsung bergerak menuju kompleks perumahan dinas yang telah disiapkan.
"Untuk para staf Pasi dan tim pelatih, langsung menuju sektor kiri ksatrian. Tempati rumah dinas masing-masing yang sudah terplot. Istirahat dan rapikan logistik terlebih dahulu," perintah Reyes tegas.
Mendengar instruksi tersebut, kendaraan yang membawa rombongan Lettu Yunita Eka Wardhana, Lettu Yusuf Pratama, dan Kapten Ayuni Ameera Bakri memisahkan diri dari barisan, berbelok menuju deretan rumah dinas perwira staf yang bernuansa hijau tentara. Di dalam mobil, Ayu mengembuskan napas pendek sembari membetulkan posisi duduk anak laki-laki kecilnya yang berusia empat tahun.
Matanya menatap rumah dinas baru yang akan ia tempati. Sembari memegang tablet digitalnya, insting intelijen Ayu sudah mulai memikirkan tumpukan data siswa Bintara gelombang baru yang harus segera ia screening esok hari. Ia ingin memastikan proses perpindahan ini selesai dengan cepat agar ia bisa segera mengobrol dengan suaminya di seberang telepon nanti malam, merawat jembatan komunikasi jarak jauh mereka yang sudah berjalan dua tahun lebih ini.
Sementara rombongan staf bergerak menuju perumahan, mobil dinas Letkol Reyes Miguel justru melaju lurus, membelah jalan ksatrian menuju gedung utama Markas Komando. Sebagai Komandan Satuan Pendidikan Bintara (Dansatdik Ba) yang baru tiba, sudah menjadi kewajiban mutlak bagi Reyes untuk langsung menghadap sang pucuk pimpinan tertinggi di ksatrian ini. Menghadap Komandan Pusat Pendidikan Militer—atau Danpusdikmil—untuk melaporkan bahwa kekuatannya telah mendarat dengan utuh.
Di lantai dua gedung Mako Utama Pusdikmil Satria Garda, suasana terasa sunyi dan sarat akan wibawa. Di dalam sebuah ruangan luas yang jendelanya menghadap langsung ke arah lapangan upacara, duduk seorang pria dengan seragam PDL loreng yang melekat sempurna di tubuh kekarnya.
Kolonel Victoria Reins Mari.
Pria bertubuh raksasa dengan tinggi badan 195 sentimeter itu masih tampak sangat kokoh, tegap, dan berwibawa di usianya yang kini menginjak tiga puluh enam tahun. Di pundaknya, tiga melati emas berkilau tajam, menandakan posisinya sebagai penguasa penuh dan pusat komando di Pusdikmil Satria Garda ini. Pria matang itu tampak begitu tenang, namun sorot matanya yang tajam menyiratkan kelelahan yang teramat dalam. Sesuai dengan reputasinya, Victor masih saja setia menenggelamkan dirinya ke dalam larut kedinasan yang seolah tak tahu kapan akan usai. Baginya, tumpukan berkas operasi, dokumen kurikulum pendidikan siswa, dan peta taktis lapangan adalah pelarian terbaik dari ruang hampa yang ada di dalam dadanya.
Hingga detik ini, di usianya yang sudah sangat matang untuk ukuran seorang perwira, Victor masih setia melajang. Kakak kedua dari Lettu Dokter Shaneen itu seolah menutup rapat-rapat pintu hatinya untuk wanita mana pun. Jika sang ibu menelepon dari kampung halaman, bertanya dengan nada cemas yang sama setiap bulannya tentang kapan ia akan segera melepaskan masa lajangnya dan membawa seorang menantu ke rumah, Victor selalu hanya akan memberikan jawaban yang sama;—
"Iya, nanti ya, Bu. Masih sibuk dinas."
Jawaban singkat yang selalu ia gunakan untuk menyembunyikan sebuah rahasia besar. Bagaimana tidak, hati dan jiwanya sebenarnya telah dirampas habis oleh seorang wanita di masa lalu. Seorang wanita yang di dalam lubuk hati terkecilnya, telah ia tetapkan sebagai pelabuhan terakhir dalam hidupnya, meskipun pelabuhan itu kini terasa mustahil untuk ia singgahi kembali.
Dulu, hubungan mereka adalah segalanya bagi Victor. Namun, tembok besar berupa perbedaan keyakinan di antara keluarga mereka membuat kedua sejoli itu harus berada di ambang frustasi yang berkepanjangan. Wanita itu... wanita hebat yang sangat penyabar, sebenarnya tetap setia menantinya di tengah ketidakpastian. Wanita itu berulang kali menggenggam tangannya, menatap matanya dengan ketulusan mutlak sembari mengatakan kalimat yang selalu menguatkan;—
"Takdir Tuhan akan selalu yang terbaik. Kita jalani dulu."
Namun, ego dan ambisi Victor kala itu terlalu besar. Di usia mudanya, Victor sangat ingin mengejar karier militer lebih jauh ke atas, menembus jajaran perwira elit tanpa ada ganjalan apa pun. Ketakutan akan masa depan kariernya yang buram akibat tidak adanya restu keluarga membuat wanita itu berada di ambang dilema yang menyakitkan. Di saat yang sama, pihak keluarga si wanita yang sudah kehilangan kesabaran akhirnya sepakat untuk menjodohkannya dengan orang lain—pria dari kalangan sipil yang dianggap lebih seiman dan mapan.
Bukannya bertahan, bukannya mendobrak pintu rumah orang tua wanita itu untuk bertarung memperebutkan cintanya, Victor justru bersikap pengecut. Ia seperti rela melepaskan wanitanya begitu saja demi kelancaran jalannya sendiri menuju apa yang ia kejar.
Tentu saja, wanita itu merasakan kekecewaan yang teramat dalam dan sakit hati yang luar biasa. Berpacaran bertahun-tahun, saling mendukung di setiap titik terendah, justru tidak membuahkan hasil apa pun selain kepasrahan yang dingin dari seorang Victoria Reins Mari. Kala itu, di pertemuan terakhir mereka di tepi laut, Victor hanya bisa menundukkan kepala, meminta maaf sedalam-dalamnya, dan membiarkan wanita yang amat ia cintai itu pergi menuju pelaminan orang lain.
Dan kini, lihatlah hasilnya. Semesta seolah sedang bekerja memutar porosnya. Karma sedang menghajar hidup Victor habis-habisan tanpa ampun.
Victor memang mendapatkan apa yang ia inginkan, pangkat Kolonel di usia tiga puluh enam tahun, jabatan mentereng sebagai Danpusdikmil, dan rasa hormat dari seluruh prajurit di jajarannya. Namun, semua kemewahan dinas itu terasa hambar. Sampai detik ini, semenit pun ia tidak pernah bisa melupakan wanita yang pernah menjadi cinta sejati dalam hidupnya. Setiap kali ia melihat seragamnya, setiap kali ia menatap pergelangan tangannya, bayangan wanita itu selalu hadir, mengunci dirinya dalam penyesalan abadi yang tak ada ujungnya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu memutus lamunan pahit sang Kolonel. Victor berdeham pelan, merapikan rahangnya yang sempat mengendur, lalu kembali memasang wajah dingin khas seorang komandan.
"Masuk," ucap Victor dengan suara bariton yang berat.
Pintu terbuka, dan Letkol Reyes Miguel melangkah masuk dengan tegap. Ia langsung mengambil posisi hormat militer yang paling sempurna di depan meja kerja Victor, yang dibalas oleh Victor dengan anggukan kepala dan hormat singkat.
"Lapor, Komandan. Satuan Pendidikan Bintara telah tiba di ksatrian Pusdikmil Satria Garda dalam keadaan lengkap dan aman. Seluruh personel staf saat ini sedang melakukan pergeseran logistik ke perumahan dinas," ujar Reyes melaporkan kedatangan mereka dengan tegas.
Victor menyandarkan punggungnya ke kursi jati besarnya, melipat kedua tangannya di atas meja. "Bagus, Reyes. Selamat datang di Bukit Raya. Bagaimana kondisi anggota selama perjalanan?"
"Siap, semua dalam kondisi prima, Komandan," jawab Reyes sembari melangkah maju seiring isyarat tangan Victor yang memintanya untuk duduk di kursi depan meja kerja.
Reyes membuka map dokumen tebal yang dibawanya sejak dari mobil, meletakkannya di hadapan Victor.
"Izin, Komandan. Selain melaporkan kedatangan, saya juga ingin menyampaikan bahwa dalam pergeseran jabatan kali ini, saya membawa beberapa rekan kerja—bisa dibilang anak-anak andalan saya yang selama ini sangat bisa diandalkan dalam bekerja di jajaran Saksana Guard."
Victor menurunkan pandangannya ke arah map dokumen tersebut. Jantungnya yang biasanya berdetak stabil dalam urusan kedinasan, mendadak memberikan ritme yang tidak beraturan saat Reyes mulai menyebutkan nama-nama timnya.
"Untuk sektor latihan dan lapangan tempur, saya menempatkan Lettu Yusuf Pratama sebagai perwira pelatih kepala khusus materi menembak siswa baru, didampingi istrinya sendiri, Lettu Yunita Eka Wardhana di Staf Operasi yang merancang jadwal," urai Reyes secara profesional.
"Dan untuk sektor pengamanan internal serta pemeriksaan data siswa, saya membawa Kapten Ayuni Ameera Bakri sebagai Kepala Staf Intelijen saya. Dia adalah otak dari setiap penyaringan keamanan yang saya miliki, Kolonel."
Mendengar nama Kapten Ayuni Ameera Bakri diucapkan secara lugas oleh adik iparnya sendiri, genggaman tangan Victor pada pulpennya mengeras hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya terpaku pada kertas manifes staf, tepat pada pas foto seorang perwira wanita berhijab hitam yang menatap lurus ke arah kamera dengan senyum formal yang sangat teduh.
Itu dia. Wanita yang selama lima tahun ini namanya selalu ia sebut dalam keheningan malam. Wanita yang telah ia lepaskan, kini melangkah masuk ke dalam ksatrian keselamatannya, berada langsung di bawah payung komandonya sebagai seorang Kapten Intelijen.
Sejarah kali ini akan terasa sangat nyata, unik, sekaligus mengerikan bagi seorang Victoria Reins Mari. Wanita yang hatinya pernah ia hancurkan, kini berada satu atap dinas dengannya, memaksa sang Kolonel untuk bersiap menghadapi setiap jengkal karma yang siap menuntut balas di bawah langit Bukit Raya.