NovelToon NovelToon
Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Penjara Emas Untuk Ratu Instagram

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Crazy Rich/Konglomerat / Angst
Popularitas:32.4k
Nilai: 5
Nama Author: Newbee

Riven Daylon Chamron adalah pria yang memiliki segalanya. Terlahir sebagai putra sulung Thomas Chamron dan Hellary Chamron, ia tumbuh di tengah kemewahan, kekuasaan, dan lingkaran pergaulan elit yang membuat namanya dikenal di banyak kalangan.

Namun, ada satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh dunia bisnis, kekuasaan, ataupun pendidikan terbaik yang pernah ia terima: cinta.

Angelina Angie, seorang gadis yang terlihat polos dan pekerja keras demi mencapai impiannya mampu meluluhkan hati Riven.

Namun, saat perasaannya semakin dalam, Riven mulai menyadari bahwa wanita yang dicintainya mungkin tidak mencintainya dengan alasan yang sama.

Angelina Angie yang tak memiliki apapun tak membawa apapun hingga akhirnya menjadi Ratu Instagram berkat Riven, ternyata memiliki kehidupan yang penuh kontroversi. Di balik senyumnya yang memikat, tersimpan ambisi, drama, intrik, serta rahasia yang tak di ketahui.

Sebuah kisah tentang cinta, pengkhianatan, ambisi, dan harga yang harus dibayar ketika seorang pewaris konglomerat jatuh hati pada wanita yang salah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Newbee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 11

Sementara itu, Angie berjalan perlahan memasuki kawasan tempat tinggalnya. Namun belum sampai ke rumah, rasa perih di kedua kakinya kembali terasa. Ia akhirnya duduk di sebuah bangku beton yang berada di depan rumah warga.

Sambil menahan napas, ia memeriksa telapak kakinya yang dipenuhi luka lecet.

Beberapa bagian tampak lebih parah daripada yang ia sadari sebelumnya. Saat sedang memperhatikan lukanya, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang.

“Oi, Angie!”

Angie tidak perlu menoleh untuk mengenali suara itu. Ia hanya melirik sekilas. Seorang pria berjalan mendekat. Seseorang yang ia kenal dengan sangat baik, luar dan dalam.

“Sedang bertengkar lagi dengan keluargamu?”

Hening. Angie masih membisu. Tidak ada jawaban dari Angie. Pria itu menghela napas.

“Aku tadi bertemu dengan beberapa sopir bus di lapangan.” Pria itu berhenti di depan Angie. “Mereka bilang melihatmu berjalan sendirian di tengah malam seperti orang hilang.”

Angie tetap diam.

“Mereka bahkan menawarkan tumpangan, tapi kau menolak.” Tatapan pria itu kemudian jatuh ke arah kaki Angie. Seketika ekspresinya berubah.

“Angie.” Nada suaranya meninggi. “Kenapa kakimu seperti ini? Apa karena kau berjalan tadi? Ada apa denganmu!!” Pria itu langsung berjongkok hendak melihat lebih dekat.

Namun Angie segera berdiri. Ekspresinya berubah dingin. Ia berniat pergi begitu saja.

“Angie!” Pria itu ikut berdiri dan menahan lengannya. “Bicaralah padaku.”

Angie langsung menarik tangannya. “Aku tidak ingin bicara.”

“Aku khawatir.”

“Tidak perlu.”

“Kenapa kau berjalan sendirian sejauh itu?” Nada suara pria tersebut mulai terdengar frustrasi.

“Banyak sopir bus yang siap mengantarmu pergi dan pulang bahkan bersedia menunggumu sampai urusanmu selesai! Ada apa denganmu?”

“Lalu?!” Jawab Angie ketus.

“Meski kita saling mengenal satu sama lain di lingkungan ini. Kau tahu daerah ini tetap tidak aman untuk perempuan sendirian.”

Angie memejamkan mata sesaat. Jelas terlihat kesabarannya mulai menipis dan jengah. “Bobby.”

“Ya?”

“Apa yang terjadi padaku bukan urusanmu.”

Bobby terdiam. “Sudah ku bilang. Aku hanya khawatir.”

“Dan aku tidak membutuhkan itu.”

“Angie..”

“Bahkan jika suatu hari aku di ganggu preman, atau dipukul ayahku sampai mati sekalipun, kau tidak perlu ikut campur.”

Kalimat Angie membuat Bobby membeku. Tatapan matanya dipenuhi keterkejutan. Namun Angie sudah lebih dulu melangkah pergi.

“Kau masih terluka.” Bobby berusaha mengejar.

“Aku bisa berjalan sendiri!”

“Biar aku membantumu.”Bobby kembali mendekat, tangannya refleks ingin menopang tubuh Angie. Namun gadis itu langsung menepis tangannya.

“Pergi!” Suara Angie menggema di jalanan yang sepi. “Berapa kali aku harus mengatakan hal yang sama?”

Bobby terdiam.

“Aku tidak suka kau berada di dekatku.”

“Angie…”

“Bahkan jika kita bertemu di luar, berpura-puralah tidak mengenalku.” Tatapan Angie begitu tajam. Penuh penolakan. Penuh jarak. Jauh berbeda dari gadis yang pernah Bobby kenal.

“Aku hanya ingin membantumu.”

“Tolong, Bob….” Suara Angie melemah. Namun justru terdengar lebih menyakitkan. “Hubungan kita sudah lama berakhir.”

Hening seketika melanda. Tidak ada lagi yang bisa Bobby katakan. Angie berbalik tanpa ragu. Kemudian berjalan perlahan menuju rumahnya. Langkahnya masih sedikit pincang. Namun ia tidak pernah menoleh lagi.

Sementara Bobby tetap berdiri di tempatnya. Memandang punggung gadis itu yang semakin menjauh. Dan untuk kesekian kalinya, ia merasakan perasaan yang sama. Kehilangan. Ingatan Bobby perlahan kembali pada masa lalu. Pada Angie yang dulu.

Gadis manis yang selalu tersenyum kepadanya. Gadis ramah. Gadis polos. Gadis sederhana yang tidak pernah memandang rendah siapapun. Gadis yang selalu berbicara lembut dan penuh kehangatan.

Namun Angie yang berdiri di hadapannya sekarang terasa seperti orang yang berbeda. Tak peduli seberapa keras Bobby mencoba mendekat, ia tidak pernah lagi berhasil menemukan gadis yang pernah ia cintai dahulu.

Angie berjalan perlahan menyusuri gang-gang sempit menuju rumahnya.

Setiap langkah masih menghadirkan rasa perih yang menjalar dari telapak kaki hingga ke betisnya.

Namun ia sudah terbiasa. Bukan dengan luka di kakinya. Melainkan dengan berjalan sendirian. Dengan menanggung semuanya sendirian.

Malam semakin sunyi ketika akhirnya ia tiba di depan sebuah rumah tua yang berdiri di ujung gang.

Cat dindingnya telah memudar. Beberapa bagian bahkan mulai mengelupas dimakan usia.

Pagar kecil di depannya tampak berkarat, sementara lampu teras yang redup berkedip sesekali seolah menolak menyerah pada waktu.

Angie membuka pintu perlahan.

“Kreek…”

Suara engsel tua langsung menyambutnya.

Begitu melangkah masuk, pemandangan yang sudah sangat dikenalnya kembali terpampang di depan mata. Ruangan yang benar-benar berantakan.

Botol-botol minuman keras kosong berserakan di berbagai sudut ruangan. Beberapa bahkan masih tergeletak di lantai tanpa sempat dibuang.

Aroma alkohol yang samar bercampur dengan bau asap rokok memenuhi udara.

Di ruang tamu, seorang pria paruh baya tertidur pulas di atas sofa tua yang bantalannya sudah mulai robek di beberapa bagian. Tubuhnya terbaring telentang. Mulutnya sedikit terbuka. Dengkurannya terdengar berat.

Di atas meja kecil di samping sofa, sebuah asbak penuh sesak oleh puntung-puntung rokok yang belum dibersihkan selama berhari-hari.

Tatapan Angie hanya berhenti beberapa detik pada sosok itu.

Ayahnya.

Lalu ia mengalihkan pandangannya, melihat ke arah ruangan yang pintunya telah rusak di ganti tirai kin kumal yang terbuka. Ibunya tertidur lelap, wajahnya di penuhi dengan guratan keletihan.

Angie menatap kedua orang tuanya datar, melihat perbedaan kontras dengan kehidupan di kota yang selalu ia datangi, kini yang tersisa hanyalah kelelahan yang terlalu lama menetap.

Perlahan, Angie berjalan melewati ruang tamu. Menuju tangga kayu kecil yang berada di sudut rumah.

Tangga itu sudah cukup tua hingga beberapa anak tangganya mengeluarkan bunyi berderit setiap kali diinjak.

Meski begitu, tangga tersebut masih cukup lebar untuk dilalui dua orang berdampingan. Angie menaikinya perlahan. Dan begitu sampai di lantai atas, dinia seakan berubah. Seperti langit dan bumi:

Perbedaannya begitu mencolok hingga sulit dipercaya kedua tempat itu berada dalam satu rumah yang sama, dan satu atap yang sama.

Jika lantai bawah dipenuhi kekacauan dan kelelahan, maka lantai atas adalah kebalikannya.

Bersih.

Rapi.

Teratur.

Setiap sudut ruangan tertata dengan sangat baik.

Lampu-lampu studio menggantung rapi di beberapa titik. Ring light berbagai ukuran berdiri di dekat meja kerja.

Rak-rak putih dipenuhi produk endorsement yang telah disusun berdasarkan kategori.

Kosmetik.

Produk perawatan kulit.

Pakaian.

Aksesori.

Hingga berbagai perlengkapan siaran langsung.

Di salah satu sisi ruangan terdapat latar dekorasi khusus yang sering digunakannya untuk membuat konten dan melakukan siaran langsung.

Sementara di sudut lainnya, beberapa barang mewah yang diperoleh dari hasil kerja kerasnya tersusun rapi dalam lemari kaca.

Tas bermerek. Perhiasan. Perangkat elektronik terbaru. Semuanya tersimpan dengan baik.

Ruangan itu bukan sekadar kamar. Melainkan dunia kecil yang dibangun Angie seorang diri. Tempat di mana ia bisa bernapas.

Tempat di mana ia tidak perlu mendengar suara botol yang pecah atau pertengkaran yang melelahkan. Tempat di mana ia bisa menjadi dirinya sendiri.

Angie melepaskan sandal yang baru diberikan Riven.

Kemudian berjalan menuju sebuah sofa lantai berbentuk kucing berwarna merah muda yang menjadi tempat favoritnya untuk bersantai.

Perlahan ia menjatuhkan tubuhnya ke sana.

Rasa lelah yang sedari tadi ditahannya langsung menyerbu sekaligus. Di sampingnya, kantong obat yang diberikan Riven masih tergeletak rapi. Angie menoleh. Tatapannya jatuh pada kantong plastik itu.

Kemudian pada sandal jepit sederhana yang masih berada di dekat kakinya.

Senyum kecil perlahan terukir di wajahnya.

Jemarinya menyentuh kantong obat tersebut perlahan.

Mengingat kembali bagaimana seorang pria yang baru dikenalnya beberapa jam lalu rela berhenti di tengah jalan, membeli obat, membersihkan lukanya, bahkan membelikannya sandal hanya karena tidak ingin ia kesakitan.

Hal-hal kecil.

Sangat kecil.

Namun justru karena itulah terasa begitu berharga.

Angie menundukkan kepala. Lalu tersenyum tipis pada dirinya sendiri. Seolah kemenangan baru saja ia cetak hari ini.

Bersambung

1
Hanima
Lanjut Rivvv
Hanima
😍😍
evanindia
paham, paham tpi d blkang lain lagii nihh c angie....
evanindia
iya wajar klo loyal am adek sndri mh....
act service riven bnr² bkin meleyott wkw
btw angie mau k rumah tmn yg mana yaa ??
afifah
Seru
evanindia
panggilan utk kaka.a luar biasa nii elana 😄
nah kan ditnyain kmu kenapa blum ke kantor
wiliss
salting kk?
wiliss
😅😅
wiliss
perhatian bgt ya riv...
Rudy satria
nama "musang"begitu cocok untuk riven emak kelakuannya kaya musang🤣🤣🤣
Rahmat Soiku: bls apaan sih g terbaca dilayar hp
total 11 replies
Rudy satria
antara Maruk dan rakus beda dikit ya Riv,tapi entah kenapa dari awal nggk respek Ama pasangan yang satu ini,bang author bisa nggk sih di ganti alurnya tentang Gavin dengan cwe yang di jodohkan 😔😓
evanindia: wow baru tau gue sejak kapan dy ilang arah 🤣
total 26 replies
Rudy satria
boleh nggk si bilang" KAMU ITU MURAHAN RIF DUAKALI KETEMU DI RAYU DIKIT LANGSUNG BILANG SAYANG" kesel aku😓
afifah: aku mengakak so hard denger kata murahan🙏🤣
murahan itu kalau gonta ganti pasangan terus cowo nya mokondo miskin . ini gentle gini dikata murahan. tolong ya allah lulusan apa kak sskolahnya? 🙏🙏🙏
lagi pula ini cerita tidak tahu alurnya di percepat atau nggak. terus kalau boleh tanya kenapa lama kelamaan komenn nya nggak nyambung dan nggak mutu? nggak berdasar 🥲
total 4 replies
wiliss
merasa di cintai bgt sm riven aku klo jd angie
wiliss
😋😘😘😘😘
wiliss
gk papaa bang santae aja
Hanima
Lanjuttt
evanindia
Riven kerja² jgn kokopan trus am angie 🙊🙊
evanindia
ps tmen q juga samaa wehh 0 4x 😵😵😵
Hanima
🔥🔥
Hanima
Lanjut Akak..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!