Q adalah makhluk hidup. Q adalah esensi alam semesta.
Master Q adalah sosok Yang Mulia, pribadi yang melampaui batas kehormatan biasa dan menapaki jalan kemuliaan sejati.
Master Q memiliki tiga tugas utama: menjinakkan Q; memelihara Q; menggunakan Q.
Di tengah kebingungan dan misteri yang menyelimuti kesadarannya, Bagas Pratama terbangun dan mendapati dirinya bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang remaja bernama Rostav Zertu, di sebuah dunia yang dikuasai oleh lautan luas, mesin uap, bajak laut, deru meriam, ramuan-ramuan misterius, serta keberadaan Q dan Anomali.
Ikuti perjalanan Rostav Zertu menghadapi bahaya dan konspirasi yang memburunya, saat dia terjerat dalam intrik organisasi-organisasi rahasia yang mengendalikan dunia dari balik kabut.
Inilah kisah tentang "Kapten Mawar Hitam".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DaoisttjmlCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 - Q Larangan Kumbang Bombardir, Artefak Suar Pengungsian
Meskipun roti panjang itu hambar dan keras seperti batu, itulah satu-satunya makanan yang diberikan para penjahat itu kepada para tahanan. Semua tahanan yang berada di gua ini berasal dari Ras Athu. Alasan utama mereka menangkapnya adalah, karena mereka hidup di lautan, dapat bernapas di lautan. Dengan menggunakan mereka sebagai budak pencari mutiara, hasilnya akan lebih memuaskan dibandingkan membeli budak manusia yang pada dasarnya hidup di daratan.
Mutiara merupakan komoditas yang sangat diminati oleh kalangan atas, khususnya para bangsawan. Selain bernilai tinggi, mutiara juga digunakan sebagai perhiasan untuk mempercantik penampilan. Karena itulah para bajak laut memanfaatkan kemampuan alami Ras Athu untuk mencari mutiara, lalu menjual hasilnya kepada keluarga-keluarga bangsawan dengan harga yang sangat mahal.
Seluruh bajak laut yang menangkap mereka merupakan Master Q. Kapten kelompok tersebut adalah seorang Master Q Tingkat 3 Tahap Tengah. Sementara itu, sekitar sembilan per sepuluh anak buahnya berada pada Tingkat 1, sedangkan sisanya berada pada Tingkat 2.
Kebanyakan Ras Athu yang ditangkap dapat dipastikan hanyalah makhluk biasa, dan kurang dari lima persen adalah Master Q. Tapi mereka tidak terlalu khawatir, karena Master Q dari Ras Athu yang mereka tangkap, semuanya berada pada Tingkat 1. Para penjaga yang ditugaskan untuk mengawasi mereka totalnya ada sepuluh orang. Tiga diantaranya adalah Master Q Tingkat 2, dan sisanya hanya Master Q Tingkat 1.
Total awak kapal bajak laut yang menangkap mereka berjumlah lima puluh satu orang, termasuk Kapten. Jika dikategorikan sesuai Tingkat-an Master Q, satu orang berada pada Tingkat 3, yaitu Sang Kapten. Lima lainnya adalah Master Q Tingkat 2, dan sisanya adalah Master Q Tingkat 1.
Setelah para tahanan menghabiskan makanan mereka, kurungan dibuka satu per satu, menyeret mereka keluar dengan gerakan kasar, dan membariskan mereka dalam satu barisan panjang.
Penjaga Master Q Tingkat 2 berdiri di hadapan mereka semua, dengan suara berat berkata, "bergerak, kalian para pemalas! Jika ada yang mencoba untuk melarikan diri saat naik ke kapal, maka aku tidak akan ragu untuk menembak kalian," ucap penjaga tersebut sambil mengarahkan revolver ke arah mereka.
Setelah itu, dia berbalik dan melangkah keluar dari mulut gua, menuju kapal. Dia melompat ke dek atas, dan menurunkan jembatan yang terbuat dari papan.
Setelah jembatan turun, para penjaga yang tersisa di dalam gua memerintahkan para tahanan untuk bergerak maju. Mereka menyeret tubuh mereka menuju kapal.
Ketika Cia menyeret tubuhnya hingga ke jembatan yang terbuat dari jembatan kayu, dia dapat melihat sebuah kapal berukuran sedang, terapung di depan gua. Dia hanya menyeret tubuhnya, tanpa ada niat untuk kabur. Itu adalah tindakan yang bodoh, para bajak laut itu tidak main-main dengan ancaman mereka. Dia mengingat, sekitar delapan hari yang lalu, ada salah satu dari mereka yang nekat melompat ke lautan, dan dalam sekejap salah satu penjaga menembaknya berkali-kali sampai tubuhnya hancur.
Setelah kejadian itu, tak ada yang cukup berani untuk melompat ke dalam air saat diangkut ke kapal.
Setelah semua tahanan naik ke dek atas, mereka dikumpulkan di haluan, sambil ditatap oleh puluhan awak kapal dengan berbagai senjata. Salah seorang penjaga pergi ke kabin kapten, dan tak lama kemudian, Sang Kapten muncul. Dia memiliki wajah yang sangar, usianya sekitar lima puluhan, dengan kumis yang cukup tebal, pupil mata berwarna coklat tua. Memakai pakaian khas bajak laut dan topi dengan logo jangkar hitam.
"Para tahanan sudah disiapkan, Kapten," salah seorang penjaga berkata dengan nada penuh hormat.
Sang Kapten, tidak menjawab, dia menatap para tahanan dengan tatapan mata seperti elang, menembus ke dalam jiwa mereka.
Pada momen itu, dia mengibaskan tangan kanannya sambil menyalurkan energi Laut Primordial, dan sebuah tanda berbentuk kumbang bombardir muncul di udara, melayang, dan melesat menempel ke dahi para tahanan.
Itu adalah Q Larangan Kumbang Bombardir, Tingkat 2. Wujudnya menyerupai kumbang bombardir, tubuhnya hitam membulat serupa bom, dengan kepala merah menyala. Kemampuannya adalah memunculkan tanda larangan yang, begitu diarahkan pada target, akan langsung tertanam di dahi. Begitu simbol itu melekat, jika target memiliki niat memberontak, simbol tersebut akan aktif seketika dan meledakkan tubuh target dari dalam, seperti bom. Tapi, tanda itu hanya mampu bertahan selama dua belas jam.
Setelah itu, Sang Kapten melangkah turun ke dek tengah dan masuk ke ruang navigasi. Di sana, dua orang Master Q Tingkat 2 telah hadir, sementara tiga lainnya masih bertugas untuk mengawasi para tahanan.
Sang Kapten duduk di kursi kehormatannya, dan di depannya, terletak di atas meja, sebuah peta terbuka.
Sang Kapten memandangi peta dan beberapa saat kemudian berkata dengan nada tegas, "kita akan bergerak ke selatan, menuju Laut Nug'got."
Mendengar hal itu, dua perwira yang mendengarnya tak dapat menyembunyikan keterkejutan. Salah satu dari mereka yang berambut tipis, hampir botak berkata, "tapi, Kapten. Laut Nug'got adalah wilayah yang berbahaya, cuaca di sana tak menentu dan tak dapat diprediksi. Bisa saja terjadi badai besar yang dapat membahayakan kita. Juga, terdapat legenda bahwa di sanalah pintu masuk menuju Laut Mayat. Tempat paling berbahaya dan misterius di dunia."
"Saya setuju dengannya, Kapten," satu perwira lainnya mengangguk dan menambahkan, "hal itu juga dapat membahayakan para tahanan. Kapten pasti tahu, kita bersusah payah dan membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menangkap mereka. Akan sangat rugi jika kita kehilangan para penghasil uang kita. Juga, ada kemungkinan kita bertemu dengan angkatan laut yang sedang berpatroli."
Mendengar hal itu, Sang Kapten tertawa dengan keras dan berkata, "apa yang kalian takutkan? Apa kalian masih percaya dengan legenda itu? Selama ini, aku tak pernah mendengar berita ada orang yang masuk ke sana. Angkatan laut? Humph, mereka hanya orang-orang munafik yang mengatasnamakan diri sendiri sebagai pahlawan, nyatanya kebanyakan dari mereka diam-diam bekerja sama dengan para bajak laut dan memeras uang kita. Kalau tidak, bagaimana kita bisa masuk ke kota dengan mudah?
"T-tapi, Kapten. Menurut catatan sejarah, ada beberapa orang yang masuk ke Laut Mayat, tapi tak pernah kembali."
"Kalian masih percaya?" Sang Kapten tertawa keras, suaranya bergema di ruangan. "Itu hanya sebuah dongeng untuk menakuti para bajak laut. Laut Nug'got memang laut yang berbahaya, maka dari itu sebuah legenda diciptakan untuk mencegah orang-orang atau bajak laut pergi ke Laut Nug'got.
"Juga, kita akan untung. Laut Nug'got adalah peluang kita untuk bertambah kaya. Aku sudah menghitungnya, jika setiap tahanan berhasil mengumpulkan tiga mutiara merah saja di sana, maka kekayaan kita akan bertambah empat hingga lima kali lipat. Mutiara merah memiliki harga yang jauh lebih tinggi dari mutiara biasa."
"Tapi, Kapten, banyak orang masih mempercayai legenda Laut Mayat. Dan, jika legenda itu benar, apa yang akan kita lakukan?" ucap perwira dengan kepala hampir botak.
"Kalaupun legenda itu benar, maka kita harus menunggu dua matahari hitam kembar terbenam di ufuk barat, dan lain sebagainya. Selama lima puluh tahun aku hidup, aku tak pernah melihat matahari berubah warna menjadi hitam," Sang Kapten meremehkan legenda itu, menganggap itu hanya dongeng anak-anak.
"Kalaupun para tahanan berhasil mengumpulkannya, di sana juga terdapat banyak Anomali. Bagaimana jika para tahanan yang kembali berkurang secara drastis?" ucap perwira dengan kepala hampir botak.
Sudut bibir Kapten terangkat tinggi dan berkata, "apa kalian tahu alasan kenapa kita membeli Artefak Tingkat 3, Suar Pengungsian?"
Salah satu perwira dengan rambut sebahu menundukkan kepalanya, memikirkannya, sebelum akhirnya dia menyadari sesuatu dan berkata, "apakah Kapten akan menggunakan artefak itu untuk memberikan tanda penyelamat kepada para tahanan, dan jika mereka berada dalam bahaya, maka mereka bisa kembali ke tempat yang sudah ditandai olah artefak tersebut, yang dimana adalah kapal kita?"
Kapten tertawa dan mengangguk kecil.
"Kapten, Anda memang pintar. Dengan itu, kita bisa mendapatkan keuntungan yang sangat besar," perwira botak hampir tak dapat menahan tawanya, sebelum akhirnya dia kembali berkata, "hanya saja, kita berada di Laut Amhor, untuk sampai di Laut Nug'got, kita harus melewati Laut Xyoltre, membutuhkan waktu yang cukup lama, bisa sampai lima hingga delapan jam dengan kecepatan maksimum."
"Hahaha, tidak masalah, yang penting adalah kita mendapatkan banyak Batu Primordial. Selain membuat kita bisa membeli apa pun yang kita inginkan, kita bisa menggunakannya untuk meningkatkan kekuatan kita," Sang Kapten kembali tertawa. Dan semua perwira yang hadir menganggukkan kepala. Jika mendapatkan Batu Primordial yang begitu banyak, bukan hal yang mustahil mereka bisa mencapai Tingkat 3 dalam waktu dekat.
"Baiklah, sudah ditentukan, kita akan pergi ke Laut Nug'got! Perwira kedua, ambil artefak itu di ruang penyimpanan!" Sang Kapten menatap ke arah perwira dengan rambut hampir botak.
Perwira kedua berdiri, dan segera berlari ke ruang penyimpanan. Beberapa saat kemudian dia kembali sambil membawa sebuah peti besi hitam, dan menyerahkannya pada Kapten.
Kapten berdiri dan naik ke dek atas. Di sana, para awak kapal menunduk hormat dan memberikan jalan untuk Sang Kapten, dan juga kedua perwira.
Di haluan, Kapten menatap para tahanan yang menunduk ketakutan dan tanpa berkata membuka kotak besi hitam itu.
Ketika terbuka, cahaya berwarna kekuningan muncul, dan setelah cahaya mereda, Sang Kapten mengambil benda di dalamnya. Itu adalah sebuah menara suar seukuran genggaman tangan, berwarna kuning.
Sang Kapten kemudian menggigit jarinya dan menetaskan darahnya tepat ke atas artefak, membuatnya bercahaya berwarna kemerahan.
Dia meletakkannya di haluan, dan pada momen itu sebuah cahaya berwarna kuning menjulang tinggi ke langit, sebelum akhirnya beberapa saat kemudian cahaya itu memudar.
Sang Kapten mengendalikan artefak itu dan memunculkan tanda penyelamat berbentuk lingkaran dengan segitiga di tengahnya, dan meletakkannya di lengan kanan para tahanan.
Para tahanan hanya terdiam, tak merespon.
"Dengar, kalian para tahanan," suara Sang Kapten menggelegar seperti petir, membuat beberapa dari mereka tersentak kaget. "Aku cukup berbaik hati untuk memberikan tanda penyelamat. Jika kalian berada dalam bahaya saat mencari mutiara, tekan tanda di lengan kalian, dan kalian akan kembali ke kapal ini."