Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Mendengar kalimat itu, badanku rasanya langsung membeku jadi es. Kepalaku mendadak pusing tujuh keliling.
“Baik, terima kasih informasinya,” jawab Pak Adrian dengan suara yang mendadak jadi sangat rendah dan berat.
Ia langsung memutuskan sambungan telepon, meletakkannya kembali ke meja dengan bunyi klek yang cukup keras. Aku menahan napas, bersiap jika pria itu akan langsung menyeretku keluar dan memecatku detik ini juga. Namun, di luar dugaan, Pak Adrian justru menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata sesaat, lalu kembali menatap para investor Singapura dengan senyum profesional yang luar biasa tenang.
Seolah-olah telepon tadi hanyalah angin lalu.
“Apologies for the interruption, Gentlemen. Let’s continue with the financial projections,” ucapnya dengan nada suara yang kembali berwibawa, seolah tidak terjadi apa-apa.
Rapat pun berlanjut. Selama satu jam berikutnya, rasanya seperti neraka jidat bagi diriku. Aku duduk di sebelah Pak Adrian dengan punggung tegak kaku, nyaris tidak berani bernapas dengan normal. Fokusku pecah berantakan. Setiap kali jariku mengetik di tablet, aku bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari pria di sampingku. Sialnya, aku tidak bisa kabur karena rapat ini terlalu penting.
Hingga akhirnya, setelah diskusi panjang yang melelahkan, para investor itu berdiri dan menjabat tangan Pak Adrian dengan puas. Rapatnya sukses besar.
“Thank you, Mr. Adrian. Great teamwork with your new assistant,” puji salah satu investor sambil melirikku dan tersenyum ramah.
Aku berdiri dan memberikan senyum kaku yang kurasa lebih mirip ringisan, sementara Pak Adrian hanya merespons dengan gumaman formal.
Begitu pintu ruang rapat lantai tujuh tertutup setelah para investor itu pergi, suasana ruangan luas itu mendadak hening seketika. Sunyi yang mencekam. Hanya ada suara dengung AC yang terasa menusuk kulit kemeja putihku.
Aku menundukkan kepala dalam-dalam sampai daguku menyentuh dada. “Maaf, Pak Adrian. S-saya benar-benar minta maaf. Tadi saya sudah mencoba bicara, tapi—“
“Saya yang salah.”
Kalimat pendek itu memotong ucapanku. Aku mengerjap, lalu perlahan mendongak.
Pak Adrian masih berdiri di ujung meja panjang. Ia sedang melonggarkan ikatan dasinya dengan satu tangan, sementara tangan satunya bertumpu di pinggang. Wajahnya yang tadi tampak angkuh kini memperlihatkan gurat lelah, dan jika aku tidak salah lihat, ada semburat merah tipis di sekitar telinga dan lehernya.
Ia berdehem pelan, mengalihkan pandangannya ke jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan kota, enggan menatap mataku secara langsung. “Tadi... saya terlalu buru-buru sampai tidak mau mendengarkan penjelasan kamu. Saya kira kamu Ariana asisten baru saya.”
“Iya, Pak. Nama saya Aruna Prameswari. Saya staf baru di bagian admin reimbursement,” cicitku pelan, meremas tali tas kerja yang sejak tadi tersampir di kursi.
Adrian berbalik menatapku lagi, tatapannya kini melunak, meski sisa-sisa gengsinya sebagai bos masih terlihat jelas. Ia menatap ID card-ku, lalu menatap tablet di tanganku.
“Admin reimbursement, tapi bisa membaca grafik keuangan dan mengatasi pertanyaan investor Singapura tanpa bicara,” gumam Adrian, suaranya terdengar seperti sedang berbicara pada diri sendiri. Ia mengusap tengkuknya yang tidak gatal. “Kamu... dari mana punya kemampuan seperti itu?”
Aku meremas jemariku sendiri, mendadak gugup lagi. “Eh... s-sebenarnya saya tidak mengerti teori keuangan korporat begitu, Pak. Saya Cuma melihat data di tablet. Di grafik bulan lalu kan ada garis merah yang turun drastis, terus di bawahnya ada catatan kecil soal keterlambatan pasokan dari vendor utama. Sementara di grafik tahun lalu, garisnya stabil karena vendor itu tidak ada masalah.”
Aku mengambil napas sejenak sebelum melanjutkan dengan polos, “Dulu waktu saya masih jadi kasir toko, kalau ada barang yang kosong dari distributor, omzet harian kami juga langsung turun dan pelanggan pasti komplain. Jadi... saya pikir polanya sama saja, Pak. Makanya tadi langsung saya tunjukkan bagian itu ke investor.”
Pak Adrian terdiam. Ia menatapku tanpa berkedip selama beberapa detik, membuatku panik kalau penjelasanku barusan terdengar sok tahu. Namun, perlahan-lahan, kerutan di dahinya mengendur. Sepasang matanya memancarkan binar ketakjuban yang ditahan.
Pria ini akhirnya sadar kalau staf baru di depannya ini bukan Cuma beruntung, tapi punya otak yang sangat cepat tanggap dan logis.
“Kasir toko, ya?” gumam Pak Adrian, sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyuman tipis yang hampir tak terlihat.
Ia membetulkan posisi jasnya, kembali ke mode CEO-nya yang berwibawa, meski kali ini suaranya terdengar jauh lebih ramah.
“Ya sudah. Berhubung asisten yang asli sudah ada, kamu boleh kembali ke tempatmu yang seharusnya,” ucap Pak Adrian sambil melirik jam dinding. “Ini sudah lewat jam makan siang. Kamu sudah telat masuk ke divisimu sendiri di hari pertama.”
“Ah! Iya, Pak!” Aku memekik panik, baru sadar kalau aku sudah menghilang berjam-jam dari divisi Keuangan. “Kalau begitu, saya permisi dulu, Pak. Maaf atas kelancangan saya tadi.”
Aku buru-buru meletakkan tablet dan map kulit milik Pak Adrian ke atas meja dengan rapi, lalu berbalik hendak lari menuju pintu.
“Aruna,” panggil Pak Adrian, menghentikan langkahku tepat di ambang pintu.
Aku menoleh ragu. “Ya, Pak?”
“Kalau manajer kamu bertanya kenapa kamu baru datang,” Pak Adrian memasukkan satu tangannya ke saku celana, menatapku dengan tatapan intens yang membuat dadaku berdesir aneh. “Bilang saja, kamu habis membantu saya.”
Aku mengerjap, lalu buru-buru mengangguk sopan. “Baik, Pak. Terima kasih banyak.”
Begitu keluar dari ruang rapat dan pintu kaca itu tertutup, aku langsung bersandar di dinding koridor, memegangi dadaku yang berdegup kencang seperti habis lari maraton. ‘Bilang saja kamu habis membantu saya.’ Kata-kata itu terus berputar di kepalaku.
Aku melangkah gontai menuju lift, hatiku masih berdegup tidak karuan. Begitu sampai di pantry lantai lima, aku baru sempat mengecek ponsel yang sedari tadi kuabaikan di dalam tas.
“Ya ampun...” bisikku ngeri.
Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Manajer Keuangan, Pak Danu. Napas yang tadi sempat lega kini tersendat kembali. Dengan tangan gemetar, aku menekan tombol call back.
Belum sempat aku mengucapkan salam, suara bentakan keras langsung menyambut telingaku.
“Aruna! Kamu ke mana saja? Baru jam berapa ini? Hari pertama kerja sudah berani bolos, ya? Saya sudah bilang kalau admin keuangan itu butuh ketelitian dan kedisiplinan. Segera ke ruangan saya sekarang juga!”
Tut. Sambungan terputus.
Aku berlari kecil menuju ruangan Pak Danu. Begitu masuk, aku disambut oleh wajah merah padamnya.
“Pak, mohon maaf sekali, tadi saya—“
“Tidak usah banyak alasan!” potong Pak Danu dengan nada tajam. Dia melemparkan tumpukan berkas ke meja, matanya menatapku dengan tatapan meremehkan. “Saya sudah curiga sejak awal kamu diterima. Lulusan SMA, Cuma modal pengalaman kasir minimarket, lalu beruntung bisa lolos seleksi. Sekarang, di hari pertama saja sudah berani bolos.”
“Tapi Pak, tadi saya benar-benar dipanggil oleh Pak Adrian untuk membantu rapat—“
“Berhenti membual!” bentak Pak Danu sambil tertawa sinis. “Kamu pikir saya percaya kamu masuk ke ruangan CEO? Pak Adrian itu orangnya sibuk, dia punya asisten pribadi yang profesional. Kamu itu Cuma admin kecil yang tugasnya mengurus nota kuitansi, bukan asisten direksi! Jangan karena kamu merasa cantik lalu berani halu berlebihan.”
Dia menunjuk pintu dengan kasar. “Kamu sudah bikin divisi ini rugi waktu. Hari ini kamu pulang saja dan tidak usah kerja di sini. Saya tidak butuh karyawan sepertimu. Jangan memalukan perusahaan dengan perilaku tidak profesional seperti itu!”
Mataku memanas. Rasanya sesak sekali. Aku ingin menangis, tapi harga diriku menolak untuk terlihat lemah di depannya.
“Baik, Pak. Saya permisi,” ucapku pelan, membalikkan badan dengan tangan mengepal kuat di sisi tubuh.
Aku keluar dari ruangan Pak Danu dengan langkah lemas menuju meja kerjaku untuk mengambil tas. Rasanya dunia seakan runtuh. Baru saja beberapa menit lalu aku merasa sedikit bangga karena bisa membantu rapat, sekarang aku justru diusir seperti sampah karena dianggap beruntung dan tidak kompeten.
Aku memang Cuma kasir, batinku pilu saat berjalan menuju lift. Mungkin dia benar. Aku memang tidak pantas di sini.