Naja Belial muncul saat keadilan gagal. Dia tidak datang untuk menyelamatkan, tapi untuk memastikan dosamu dibayar lunas.
Saat hukum bisa dibeli.
Saat kebenaran dimanipulasi.
Saat manusia saling menghancurkan demi kepentingan sendiri…
Entitas urban legend itu akan datang.
Ada yang menganggapnya penyelamat.
Ada pula yang menyebutnya kutukan.
Lalu, apakah keadilan yang dipaksakan benar-benar lebih baik daripada kehancuran yang dibiarkan?
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 : Evan Pelaku atau Korban
Di tengah derasnya hujan, terlihat ada kegaduhan di balik rumah besar yang ada di tengah kota. Kilatan petir sesekali menyambar langit dan pohon menambah ketegangan suasana. Di setiap sudut ruangan itu terdengar suara benda-benda jatuh merusak lantai marmer dengan pecahan kaca yang berserakan.
Di dalam kamar rumah itu, terdengar suara permintaan maaf berkali-kali dengan penuh ketakutan. Sosok Naja ternyata sedari tadi mengincar dia. Seperti biasa, sosok itu tampil dalam wujud separuh malaikat separuh iblis.
Namun, kali ini, aura gelapnya lebih terasa kuat dan sayap kirinya seperti menyalakan api membara. Tatapan mata Naja tajam bahkan merah saat menghampiri lelaki itu, membuat bulu kuduknya merinding.
"Ampuni aku, Naja! Aku tidak bersalah, aku hanya korban..." jerit seorang lelaki saat sosok Naja terus mendekat padanya dengan seringai seram di wajahnya.
Suasana di kamar itu begitu gelap, sunyi, dan menegangkan. Hanya ada dia dan Naja saja di ruangan. Sesekali petir menyambar menambah rasa takut yang ada di hati lelaki itu. Keheningan itu makin mencekam diiringi suara jam yang terus berdentang di dinding.
Lelaki itu terus menangis dan berusaha mundur. Namun tubuhnya seperti kaku. Di depannya, Naja tak berhenti tersenyum sinis sambil mengeluarkan kekuatannya yang membuat lelaki itu tak berdaya.
"Tidak bersalah katamu? Kau sudah merusak kepercayaan banyak orang. Bahkan kau juga membunuh adikmu sendiri, apa itu bukan dosa, Hah?" tanya Naja menyindir. “Dasar manusia, selalu saja playing victim saat terdesak!”
Lelaki yang dipanggil Evan itu meringkuk ketakutan. Dia segera mengangkat tangan saat Naja hendak menghukumnya dengan pisau yang akan digoreskan di wajahnya yang pucat.
“Ckk… Evan, manusia itu rapuh, egois dan penuh kebohongan.”
Naja yang merasa kesal dengan sikap siswa itupun tetap melukainya dengan menyayat luka di pergelangan tangannya. Lelaki itu sontak menjerit dan memegang erat tangannya. Namun, darah segar terus keluar membuat jantungnya seperti lemah untuk berdetak.
"Sudah aku katakan ... Naja, bukan aku. Aku difitnah. Aku hanya korban," tegas Evan dengan suara terbata-bata dan serak, hampir tidak terdengar karena rintihan rasa sakit.
Naja mengerutkan kening, dia awalnya mencoba untuk tidak percaya begitu saja. Apalagi mengingat bahwa Evan dari kemarin mendapatkan skor kenakalan paling tinggi di aplikasi. Saat Naja memperhatikan lelaki yang terus memelas itu, dia merasa ada yang janggal.
"Apa itu?" tanya Naja sambil menunjukkan sebuah kertas berisi surat.
Evan tidak menjawab karena mulutnya sudah kelu, pandangannya juga sudah buram. Darah tidak berhenti keluar dari tangan sampai menyatu dengan lantai. Naja memandangnya dengan sinis lalu berjalan mendekati surat itu. Sosok itu membuka dan membaca dengan saksama.
[Kak Evan, aku mohon datanglah ke sekolahku besok. Aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa malu ini. Setiap kali aku pergi ke sana, aku selalu ingat bagaimana mereka menertawakan keperawananku yang hilang. Seandainya saja aku bisa menjaga diriku baik-baik, mungkin kakak tidak akan melihatku pergi untuk selamanya. Maafkan, aku, Kak. Aku hanya bisa minta supaya kakak mencari keadilan untukku!]
Naja mengerutkan kening, tak percaya dengan isi surat itu. Dia pun berbalik menghampiri Evan yang sudah terkapar dengan napas sesak.
"Apa maksud surat ini, bocah?" tanya Naja dengan suara tegas.
Mendengar pertanyaan itu, Evan pun berusaha untuk bangkit walau rasanya sangat perih. Dia berusaha fokus menatap Naja.
"Itu surat terakhir dari adikku. Dia meninggal bunuh diri karena diperkosa oleh orang di sekolahnya. Aku hanya ingin keadilan untuk adikku. Namun, aku justru difitnah sebagai lelaki yang melecehkan adikku sendiri," ucap Evan dengan mata yang berkaca-kaca.
Evan mengingat saat dia datang di sekolah adiknya itu. Dia tidak masuk dengan senyuman ramah pada umumnya. Namun, lelaki itu datang dengan penuh amarah serta senjata yang ada di balik sakunya. Saat itu, dia segera menemui seorang lelaki yang sempat diceritakan oleh adiknya. Tanpa basa-basi, Evan segera menghajar lelaki itu hingga sekarat.
"Aku tidak bisa menahan emosi, aku sangat marah dan ingin sekali memberi cowo brengsek itu pelajaran!" tegas Evan. Tiba-tiba saja suara lelaki itu terdengar sangat keras dan tajam walau tadi sempet kelu.
Melihat itu, Naja menjadi merasa ragu. Dia berjongkok mendekati Evan sambil menatapnya dengan ekspresi yang sulit terbaca.
"Hadeuh, kamu salah, Evan. Seharusnya, kamu tidak terburu-buru menghajar lelaki itu. Itu tanggung jawabku untuk menghukum orang yang otaknya abnormal seperti dia," ujar Naja menasehati Evan.
Evan mengepalkan tangannya. Tatapan lelaki itu tajam. Rasa sakit yang ada di pergelangan tangan sepertinya mulai terasa hambar. Di pikirannya hanya ada dendam yang membara.
"Aku tidak terima jika adikku meninggal dengan cara seperti itu! Aku mau lelaki itu mendapat karmanya. Bila perlu dia harus pergi ke neraka!" geramnya sambil mengepalkan tangan dan memukul lantai dengan keras, tak peduli jika sikapnya itu membuat tangannya makin terluka.
Naja menunduk, dia menghela napas panjang dan menatap Evan dengan tegas tapi lembut.
"Oke, aku akan beri kamu kesempatan. Tapi, jika ini cuma alasan kamu biar aku kasihan, jangan berpikir kamu bisa lolos lagi!" kata Naja, suaranya dingin penuh ancaman dan tekanan.
Sejujurnya Naja juga kurang percaya omongan Evan, tapi Kali ini, Naja memilih untuk memberi kesempatan pada orang yang diadilinya. Dia bahkan memberi kesembuhan untuk lelaki itu.
Seperti sihir, seluruh luka menjadi tertutup kembali. Wajah Evan yang pucat juga kembali segar.
Akan tetapi, kesempatan itu diberikan hanya untuk memastikan bahwa Evan memang benar tidak bersalah.
***
Satria saat itu sedang sibuk mengerjakan tugas di kamarnya. Suasana malam yang hujan deras membuat dia merasa mengantuk. Lelaki itu mengambil camilan untuk menemani belajar agar lebih semangat. Saat sedang akan mengerjakan soal ke sekian, tiba-tiba saja arlojinya berdering dan berwarna hijau. Sontak Satria mematikan panggilan itu.
"Apa Naja gila? Ngapain dia memanggilku di tengah hujan deras begini?" tanya Satria sambil melihat sekeliling. "Apa dia mau bikin aku jatuh sakit?"
Merasa panggilan teleponnya diabaikan oleh Satria, Naja pun kembali menelponnya. Kali ini suara dering telpon di arloji Satria makin keras. Bahkan warnanya sudah bukan hijau tapi jingga. Satria mendelik melihat warna itu, dia mulai teringat sesuatu.
"Ingat, warna hijau artinya panggilan biasa, jika nanti warnanya jingga itu panggilan urgent yang tidak bisa ditunda," ucap Naja saat mengikatkan smartwatch khusus di tangan Satria.
"Ada apa ini? Apa Naja dalam masalah?" Tanpa basa-basi, Satria pun bergegas keluar dari rumahnya. Dia tidak memedulikan kondisi ruangannya yang masih berantakan. Bahkan lelaki itu juga nekat keluar rumah tanpa memakai jas hujan ataupun payung.
Beberapa saat kemudian, Satria tiba di lokasi yang dikirim oleh Naja. Lelaki itu memandang Naja dan Evan secara bergantian. Mereka malah sedang asyik memakan nasi goreng berdua.
Saat ini, Naja tidak lagi berwujud seram tapi seperti perempuan cantik yang biasa dia tampilkan saat menyamar di sekolah.
“Akhirnya datang juga. Satu jam? Seriously? Satria? Kamu bikin aku kelaparan nunggu!” Naja berdecih malas.
"Ada perlu apa memanggilku, Naja?" tanya Satria dengan suara tegas.
"Helow manies. Aku butuh bantuan, kali ini kasusnya cukup urgent. Tolong selidiki apa yang sebenarnya terjadi," jawab Naja lalu menceritakan apa yang dialaminya pada Satria.
Satria mendengarkan itu dengan seksama. Dia tersenyum mengangguk menatap Naja.
"Hhh…” Satria mengelap kasar air hujan di wajahnya lalu menyipatkan asal ke lantai. “Jangan khawatir, aku akan membantumu."