Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Candra Kanti : 01
“Kenapa kita tidak mengikuti bus rombongan? Malah keluar dari jalur jalan utama?” Dia menaikan topi hitam agar dapat memperhatikan sekitar lebih jelas.
“Diem lu cupu! Banyak banget bacotnya. Tinggal duduk, tau-tau sampai tujuan, protes mulu yang dibesarkan!” hardik pria berambut ikal tengah mengemudikan mobil Toyota Rush.
Yang dibentak tidak begitu peduli apalagi ambil hati kata-kata tajam bak belati. Gadis berpenampilan kurang menarik dimata pria penyuka wanita seksi, kembali menatap keluar jendela mobil. Dia duduk pada bagian belakang, di sebelahnya ada seorang pemuda tengah tertidur.
“Tau tu Kanti, dari tadi gelisah terus bawaannya. Sudah untung dikasih tumpangan, malah gak tahu diri,” cibir gadis memakai kaos pas badan, celana jeans ketat, parasnya cantik dengan senyum menggoda – Mayang, namanya.
Mobil yang dikendarai Abeer terus melaju, semakin jauh dengan bus mengantarkan para mahasiswa berangkat KKN ke daerah pelosok.
“Wuih … bagus banget alamnya, sejuk, gak ada polusi udara, masih seger.” Ahwaya, salah satu peserta KKN yang memilih naik mobil putra orang berpengaruh, menurunkan kaca jendela. “Jarang banget kita bisa menghirup udara seperti ini kalau di kota provinsi.”
“Lu bener, Aya. Yang ada pengab, belum lagi macet parah,” timpal Mayang.
“Lewat rute ini gak perlu dua jam nyampe tujuan, cukup empat puluh menit. Cocok lah menghindari punggung pegel, bokong panas.” Sambara duduk disebelah sang sopir, juga menurunkan kaca jendela.
“Sayang, kamu sudah mengatur tempat tinggal kita selama di pemukiman kumuh itu, kan?” Ahwaya memeluk kekasihnya dari belakang, tidak peduli terhalang kursi mobil.
“Tenang cintaku. Pagi sampai sore kita bertugas, malamnya lembur berpeluh keringat di atas ranjang.” Kedua tangannya memeluk leher sang kekasih lalu menarik agar Aya merunduk. Seperti tidak memiliki rasa malu, mereka berciuman sampai terdengar suara decapan hingga kursi bagian belakang.
“Gua juga pengen. Mayang, sayang buruan raba-raba!” Abeer berseru lalu tertawa.
Sang kekasih menurut, bukan mencium melainkan jari-jari lentiknya mengusap benda pusaka pujaan hatinya.
Dua pasang sejoli itu asik berbuat senonoh, tidak peduli pada gadis berkemeja kebesaran, celana panjang longgar.
Pun, tidak menghiraukan pemuda memakai kaos oblong, topi putih, celana jeans biru, dipadukan dengan warna jaket serupa.
‘Kenapa perasaanku semakin nggak enak? Seperti merasakan pertanda adanya hal buruk yang tengah menanti.’ Candra Kanti, atau sering disapa Kanti, mengusap-usap lengan kemejanya.
Sejauh mata memandang, jalanan mulus itu diapit hutan rimbun berpohon tinggi, terlihat angker.
“Makanlah, bisa sedikit mengurangi rasa cemas.” Genggaman telapak tangan besar terbuka, memperlihatkan sebungkus permen jahe.
Sedikit ragu Kanti mengambilnya, lalu membuka bungkus plastik dan memasukkan permen ke dalam mulutnya.
Entah berapa lama, tapi terasa sudah sangat lama, tiba-tiba mesin mobil mati dengan sendirinya. Kaca jendela otomatis menutup sempurna tanpa ada satupun orang menekan tombol pada sisi pintu.
Kabut tebal menyelimuti kendaraan roda empat itu, cuaca berubah suram layaknya awan mendung menggantung di langit. Suhu turun drastis, udara terasa dingin.
Suasana dalam mobil langsung berisik, terutama Mayang dan Ahwaya, terus bertanya ada apa gerangan.
“Ini kita di mana?” tanya Mayang, nadanya sedikit panik.
“Sial! Gak ada sinyal!” Sambara mengguncang ponselnya.
“Mesin mobilnya gak mau nyala, padahal masih ada bensin, pun sebelum berangkat sudah diperiksa kelayakannya untuk perjalanan jauh.” Abeer berulang kali memutar anak kunci tertancap pada bagian setir.
“Beneran gak ada sinyal, punyaku juga nol garisnya!” pekik Ahwaya.
“Jam pun berhenti berdetak, waktu seakan ikutan tidak berputar,” gumam lirih Kanti sambil memperhatikan jam tangan dan penunjuk waktu pada ponselnya.
“Sebaiknya kita turun dulu, siapa tahu bisa mencari bantuan, atau bila beruntung ada orang lewat,” ujar Aji Sardi, pemuda yang memberikan permen tadi.
“Gila lu! Kita gak tahu diluar itu kondisinya aman atau berbahaya!” tolak Sambara.
“Lantas apa mau tetap di sini, dikepung kabut tebal, bahkan melihat keluar saja kesulitan! Ahwaya, geser kamu! Biar aku yang keluar memeriksa sekitar.” Aji mengancingkan jaketnya.
Ahwaya tidak langsung menurut, terlebih dahulu menatap raut kesal kekasihnya.
Sambara mengangguk. “Kalau ada apa-apa biar dia mati duluan! Kita jangan ada yang menolongnya!”
Candra Kanti tidak tinggal diam, ditariknya resleting jaket berbahan kain, lalu dirinya berlutut demi mengambil tas ransel lumayan besar pada bagian belakang mobil.
“Lu mau kemana, Cupu?!” Abeer memperhatikan Kanti yang tengah berusaha melewati jok tengah.
“Lebih aman berada diluar. Menghindari bila tiba-tiba ada kebocoran pada tangki bensin maupun kehabisan oksigen,” katanya serius, lalu menjejakkan kaki ke jalanan tanah keras.
“Aji, kamu dimana?” panggil Kanti pelan. Dia kesulitan melihat, jarak pandang sangat terbatas.
“Aji Sardi!” Kanti mengencangkan tali ransel terasa berat.
Candra Kanti melangkah pendek-pendek, matanya sangat awas. Bunyi helaan napas seseorang membuatnya siaga.
“Aku gak bisa kemana-mana. Kabut ini bukan awan rendah yang menyentuh permukaan bumi, terbentuk dari uap air yang mengembun akibat suhu dingin, pun tidak bersifat cair, melainkan keras seperti es batu. Coba kamu rasakan daun ini!” Aji memperlihatkan daun hijau kaku.
Kanti menerimanya, tubuhnya langsung bereaksi seperti tersengat listrik tegangan rendah. “Aneh. Daun ini kering, tapi mengapa sangat dingin?”
Brak!
Candra Kanti dan Aji, sama-sama melihat dengan mata menyipit.
“Dalam mobil seperti hampa udara, sama sekali gak ada oksigen.” Abeer terengah-engah, dia dan lainnya seperti ikan tersangkut mata kail.
Mayang memukul udara layaknya mengusir Nyamuk. “Sialan. Sebenarnya kita di mana?”
“Tolong jaga ucapanmu! Jangan sembarangan berkata kasar terlebih kita lagi entah dimana,” Kanti memperingati.
“Diem lu, Cupu! Sok banget gayamu!” Mayang tidak terima ditegur, membalas membentak Kanti.
Ahwaya terbatuk-batuk, tubuhnya menggigil tapi tenggorokan sangat kering.
Sambara bergegas mengambil botol air di samping tas ransel yang dia sandang. “Airnya beku, tapi kenapa gak berembun?”
Semua terkejut, mereka mendekati sang pemuda, ikut memperhatikan air dalam botol masih terisi setengah.
“Ambil peta!” titah Aji Sardi.
Kanti berjongkok, membongkar isi ranselnya. Meskipun kesulitan melihat jelas, tapi masih bisa melihat sekeliling dengan jarak pandang cuma satu meter saja.
“Ini.” Ia serahkan kertas berisi kopian peta konvensional.
Aji menyalakan senter kecil, mengamati garis-garis melintang, membujur serta pola membentuk berbagai provinsi. “Tadi kita lewat jalur ini … terus berbelok arah ke sini ….”
“Ada apa? Kenapa diam, ada yang salah?” degub jantung Kanti terdengar nyaring sampai terdengar oleh Ahwaya.
“Cepat katakan, Aji! Jangan bikin gua cemas!” hardik Sambara, dia tidak pintar membaca peta.
“Jalan yang tadi kita lalui setelah berpisah dengan bus, tidak ada dalam peta ini.” Jari telunjuknya menyusuri garis hitam diatas kertas.
“Lu bercanda ‘kan?!”
.
.
Bersambung.