NovelToon NovelToon
PELET LAKNAT

PELET LAKNAT

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Tamat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: HERMAWAN 505

kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

sosok tanpa jiwa

BAB 12 - Sosok Tanpa Jiwa

Di sisi lain, Indra duduk tenang di bangku pangkalan ojek, tak jauh dari perkampungan tempat tinggal Mira. Penampilannya sama seperti biasanya, namun ada perubahan samar yang terlihat di matanya—sorot yang dingin, kosong, namun terselip senyum kemenangan yang sulit diartikan.

Sambil mengepulkan asap rokoknya ke udara, seulas senyum sinis terkembang di bibirnya.

"Akhirnya aku bisa mendapatkan Mira," gumamnya lirih, nyaris menyerupai bisikan angin. "Sekarang, tidak akan ada lagi yang bisa menandingiku untuk memilikinya. Bahkan maut sekalipun."

Tak lama kemudian, sosok Mira muncul dari balik tikungan jalan. Ia berjalan perlahan namun pasti, seolah dipandu oleh tali tak kasat mata. Jarak yang seharusnya memakan waktu berjam-jam itu seolah tak ada artinya baginya. Tanpa lelah, tanpa ragu, ia berjalan mendekati Indra.

Wajahnya pucat seperti kertas, rambut panjangnya terurai mengikuti hembusan angin. Dan seperti biasa, aroma tanah basah bercampur bau amis samar terus mengikuti ke mana pun ia pergi.

Indra tersenyum puas saat Mira tiba di hadapannya. Tanpa basa-basi, Indra mematikan rokoknya dan menaiki motornya yang sedari tadi terparkir di sebelahnya.

"Ayo Mira, naik..." perintah Indra.

"Iya, Dra..." sahut Mira datar.

Suaranya hampa, tanpa sedikit pun nada perasaan. Persis seperti rekaman suara yang diputar ulang.

Mira naik ke atas jok belakang, duduk tegak kaku persis seperti patung. Tak ada pelukan, tak ada genggaman tangan. Ia hanya diam membiarkan tubuhnya terbawa ke mana pun Indra membawanya.

Mesin menderu pelan saat Indra mulai memacu sepeda motornya, membelah jalanan kota yang riuh oleh keramaian. Hembusan angin seketika membelai rambut Mira yang terurai panjang. Namun, anehnya, kibaran rambut itu justru menyebarkan aroma amis yang pekat, meninggalkan jejak bau busuk di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Di dalam rumah, Agus baru saja duduk setelah beres-beres rumahnya. Sisa rasa takut dan ngeri yang dialaminya semalam di hutan masih terasa jelas menyelinap di dada. Ia berusaha keras meyakinkan diri bahwa semua kejadian mengerikan itu hanya mimpi buruk semata.

Namun, ketenangan itu pecah saat suara deru motor terdengar berhenti di depan halaman. Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di luar.

Tok... Tok... Tok...

Agus terlonjak kaget. Ia berjalan membuka pintu. Dan saat ia mendorong pintu itu, matanya langsung terbelalak lebar.

"Lah, Dra? Kamu balik lagi? Bukannya tadi malam kamu buru-buru ingin pulang katanya ngantuk? Apa ada barang yang ketinggalan di sini?" tanya Agus, dahinya mengernyit bingung.

"Tidak, Gus. Lihat siapa yang kubawa," sahut Indra dingin, sambil menunjuk ke arah Mira yang tengah berdiri mematung di samping motor.

Agus mengerjap tak percaya. Pandangannya bolak-balik menatap Indra lalu beralih ke sosok perempuan itu. Indra benar-benar berhasil membawa Mira bersamanya.

"Mira...? Kamu ke sini sama Mira, Dra?" tanya Agus lagi, suaranya tercekat seakan tak percaya dengan penglihatannya sendiri.

"Benar, Gus. Ini buktinya," ucap Indra sambil tersenyum miring, menyiratkan kemenangan mutlak. "Semua berjalan sesuai rencana. Sekarang dia ada bersamaku, sepenuhnya menjadi milikku."

Indra menoleh ke belakang, lalu menjentikkan jarinya. "Mira, kamu ke sini!" perintahnya, dingin tanpa ekspresi.

Mira melangkah maju. Gerakannya perlahan, nyaris ragu, namun seolah ada kekuatan yang memaksanya terus melangkah mendekati kedua pria itu. Kepalanya tertunduk, meremas ujung bajunya sendiri.

"Gimana… kabarnya, Gus?" tanya Mira. Suaranya bergetar hebat, ada ketakutan yang berusaha ia sembunyikan di balik nada bicaranya yang parau.

"Baik, Mir. Kamu... gimana?" sahut Agus. Suaranya mereda, sarat akan kekhawatiran.

"Ah, sudah! Ngapain kamu nanya kabar segala?" potong Indra cepat, menyambar pergelangan tangan Mira dengan cengkeraman yang kentara posesif.

Agus tak menjawab. Matanya menatap lekat wajah Mira yang pucat. Detik itu juga, ada tekanan buruk yang menggedor dadanya. Ada sesuatu yang sangat aneh pada diri wanita itu—tatapan matanya kosong, menyiratkan kekosongan yang mengerikan dan sulit dimengerti.

"Sudah, kita masuk. Ngapain berdiri di sini?" ucap Indra ketus, sengaja memutus pandangan di antara keduanya untuk mengalihkan perhatian.

Agus tersentak dari lamunannya. Ia memaksakan sebuah senyuman tipis untuk mencairkan suasana yang tiba-tiba kaku. "Oh iya. Maaf, maaf. Ayo, silakan masuk," sahut Agus, meski pikirannya kini dipenuhi tanda tanya besar.

Mereka pun melangkah masuk. Namun, pandangan Agus sama sekali tidak lepas dari Mira. Di matanya, sekelebat wajah Mira tampak berubah-ubah—seolah ada dua sosok berbeda yang sedang berebut tempat di dalam tubuhnya.

"Dra…," bisik Agus sambil menyenggol lengan Indra. "Si Mira lagi sakit ya? Kok mukanya pucat banget, badannya terus kayak lemas gitu."

"Udahlah, biarin aja. Dia enggak apa-apa, kok," sahut Indra acuh tak acuh.

Agus mengerutkan kening, tidak puas dengan jawaban sahabatnya. Sikap Indra yang terlampau santai justru terasa ganjil. Saat mereka berjalan semakin masuk ke dalam ruangan, hawa dingin tiba-tiba berembus, membuat tengkuk Agus meremang.

Ia kembali melirik ke arah Mira yang berjalan beberapa langkah di depan mereka. Langkah kaki wanita itu tampak berat, menyeret, seolah-olah dia sedang memikul beban yang sangat besar di pundaknya.

Meskipun masih merasakan ada yang ganjil pada diri Mira, kali ini Agus memilih untuk diam dan tidak memperpanjang masalah. Ia mencoba mengabaikan rasa takutnya dan mencairkan suasana.

Tak terasa, mereka pun asyik berbincang sampai lupa waktu.

"Duh, Gus… udah siang nih. Kami pamit pulang dulu ya," seru Indra sambil memecah keasyikan pembicaraan mereka.

Indra berdiri tegak, lalu kembali menggenggam tangan Mira erat seolah takut gadis itu lenyap begitu saja.

"Terima kasih ya, sudah diterima. Lain kali kami main lagi," tambahnya.

Agus mengangguk perlahan sambil mengantar mereka sampai ke depan pintu. Matanya sekali lagi menangkap satu hal aneh: saat matahari bersinar terang di atas kepala, bayangan Mira di tanah tampak samar, tidak utuh seperti bayangan manusia biasa.

Agus menelan ludah. Firasat buruknya makin menjadi-jadi. Ia tahu, kepergian mereka hari ini bukan akhir. Justru ini baru permulaan dari segala hal kelam yang telah Indra bangun.

BERSAMBUNG

1
HERMAWAN 505
jadi kebahagian indra itu di singkat, jatuhnya indra bahagia cuma 3 bulan bersama Mira, kalau sakitnya karena ilmu pelet yang di pakai, kini berbalik menggerogoti tubuhnya sendiri. begitu kaka.👍
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
Mega Arum
semoga karya kedepanya lbh bagus lg y Thor...
HERMAWAN 505: gimana pendapatmu tentang novel pertama saya? dan bagai mana perasaan kamu saat membaca novel pelet laknat ini?
total 2 replies
Mega Arum
msh tanda.tanya kak...knp.Indra bs tau2 sakit, blm juga ada bahagianya dg Mira.. ceritanya monoton tntg pertempuran dg dukun
Mega Arum
dr awal krg jelas..dr mana Indra tau keberadaan paranormal di tengah hutan itu, dan skt hati berlebihan sprti apa sbrnya Indra
HERMAWAN 505: makasih Mega Arum sudah mengikuti alur cerita saya sampai sejauh ini.
total 1 replies
Mega Arum
kasihaan Aguuus 😀
ÑIÇÃ
di tunggu lanjutannya💪
Wulandari Ayuningtyas
halo kak
mampir y ke novelku 😁
HERMAWAN 505: makasih sudah berkunjung ke novelku
total 1 replies
Aswad Us
kerennn👍
Raihan
di tunggu lajutan nya bang
HERMAWAN 505: makasih atas kunjungannya.
total 1 replies
Raihan
kak mampir juga la di novel ku 😄
Aswad Us
👍👍
Aswad Us
di tunggu bab berikutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!