.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ransel Kasih Sayang, Air Mata Jutek, dan Jejak sang Ibu
Kesibukan yang luar biasa absurd melanda halaman Paviliun Awan Tenang sejak fajar menyingsing. Belasan pelayan klan utama tampak mandi keringat, bahu-membahu menggotong ranjang Giok Es Spiritual seberat ratusan kati ke atas kereta kuda raksasa yang ditarik oleh empat ekor Kuda Kuku Api. Di bawah bayangan pohon bambu, Ji Huang duduk santai di atas kursi malas, mengunyah manisan buah dengan ekspresi lempeng tanpa beban, sama sekali tidak terganggu oleh kepanikan di sekitarnya.
Tepat saat persiapan hampir selesai, seorang kurir kilat dengan seragam debu Kota Amerta melesat masuk ke halaman. Di punggungnya, terdapat sebuah peti kayu besar yang diikat dengan tali tambang rami yang tebal.
"Laporan untuk Tuan Muda Ji Huang! Ini adalah kiriman paket darurat dari Tuan Paman Ji Tian!" seru kurir itu sembari menurunkan peti dengan napas terengah-engah.
Ji Huang menghentikan kunyahannya, memberi isyarat kepada Xiao Mei untuk membuka peti tersebut. Begitu penutup kayu terbuka, aroma minyak wangi murahan dan bau dendeng kering langsung menyeruak. Di dalam peti itu terdapat seonggok barang yang disebut Ji Tian sebagai "Ransel Kasih Sayang Ayah". Isinya adalah belasan bantal cadangan dari berbagai ukuran yang dijahit asal-asalan, sepotong selimut rajutan tangan bermotif bebek yang miring dan sangat jelek, serta tumpukan dendeng sapi liar yang keras.
Xiao Mei menutup mulutnya, menahan senyum geli melihat isi paket yang sangat kontras dengan kemewahan klan utama. Namun, Ji Huang justru bangkit berdiri, mendekati peti, dan mengambil selimut rajutan jelek itu dengan wajah polosnya.
"Tekstur benang rajutan tua ini... sangat kasar tapi memiliki tingkat kehangatan yang pas untuk menahan angin malam di perjalanan," gumam Ji Huang jujur. Dia langsung menyampirkan selimut bebek itu di pundaknya, mengabaikan fakta bahwa penampilannya kini terlihat sangat konyol bagi seorang Murid Kehormatan. "Masukkan peti ini ke dalam kereta. Jangan sampai ada satu bantal pun yang tertinggal."
Kereta kuda raksasa itu perlahan bergerak, membelah jalanan Kota Utama hingga tiba di gerbang luar yang megah. Di sana, di bawah naungan menara pengawas, Ji Lan sudah menunggu di atas punggung kuda spiritualnya. Baju berburunya rapi, dan sebuah tas perjalanan kecil terikat di pelana kudanya. Dia bersiap untuk menempuh jalan pulang menuju Kota Amerta.
Melihat kereta Ji Huang berhenti, Ji Lan memalingkan wajahnya yang mendadak merona merah, berusaha mempertahankan topeng juteknya yang mulai retak. Dia memacu kudanya mendekat ke jendela kereta, lalu melemparkan sebuah kantong kain kecil berisi jimat pelindung yang ditenun dengan benang perak.
"Ambil ini!" ketus Ji Lan, menolak menatap mata Ji Huang secara langsung. "Itu jimat pelindung penolak bala yang kubeli dari kuil kota. Jangan sampai kamu mati konyol di Akademi Kekaisaran hanya karena terlalu malas untuk menghindar, dan berakhir membuat Paman Ji Tian menangis meraung-raung lagi di rumah! Aku tidak sudi mendengarnya!"
Ji Huang menerima jimat itu dengan telapak tangan fanya, menatap wajah sepupunya yang dipenuhi gengsi tingkat tinggi. "Terima kasih, Sepupu jutek. Aku akan menggantungnya di dekat tempat tidur baruku agar tidak digigit nyamuk."
Ji Lan mendengus kesal, namun sepasang mata jernihnya perlahan melembut. Ada kilat kedewasaan yang kini terpancar dari tatapannya. Dia menatap Ji Huang dengan pandangan yang dalam, mengakui dalam hati bahwa jarak kekuatan dan takdir di antara mereka kini telah membentang jauh. Namun, alih-alih merasa rendah diri, kobaran tekad baru justru membakar dadanya.
"Aku akan kembali ke klan cabang, Ji Huang," ucap Ji Lan dengan nada suara yang jauh lebih tenang dan tegas. "Aku tahu aku tidak bisa lagi mengekangmu atau melindungimu dengan kekuatanku yang sekarang. Tapi ingat ini... aku akan berlatih dua kali lebih keras di Kota Amerta. Aku tidak akan membiarkan diriku menjadi beban bagimu di masa depan. Berjanjilah untuk tetap hidup, dasar babi malas."
Tanpa menunggu jawaban dari Ji Huang, Ji Lan memutar tali kekang kudanya. Dengan satu hentakan, kuda spiritual itu meringkik kencang, membawa tubuh anggun Ji Lan melesat menjauh menuju jalan raya barat, meninggalkan debu tipis di bawah sinar matahari pagi.
Kereta kuda raksasa kembali bergerak, meninggalkan batas Kota Utama Keluarga Huang menuju wilayah luar kekaisaran yang membentang luas. Di dalam kabin kereta yang luas dan sejuk karena keberadaan ranjang Giok Es, Ji Huang duduk bersandar sembari membuka dasar peti kayu kiriman ayahnya yang paling dalam.
Di bawah tumpukan bantal-bantal empuk, jemari Ji Huang menyentuh selembar surat tersembunyi yang disegel dengan sepercik darah yang telah mengering. Itu adalah surat wasiat pribadi dari Ji Tian yang tidak boleh dibaca oleh siapa pun dari klan utama.
Ji Huang membuka lipatan kertas itu, dan tulisan tangan ayahnya yang berantakan namun sarat emosi mulai terbaca:
"Huang-er, anakku yang paling pemalas... Jika kamu membaca surat ini, berarti takdir telah memaksamu keluar dari perlindungan paviliun klan cabang. Maafkan ayahmu yang tidak berguna ini. Alasan utama mengapa aku selalu membiarkanmu hidup malas, tidak berguna, dan menyembunyikan bakatmu di Kota Amerta adalah untuk melindungimu dari musuh-musuh besar yang dahulu memburu ibumu.
Ibumu... dia bukan wanita biasa dari wilayah bawah ini. Dia adalah entitas agung yang berasal dari lingkaran dalam Ibu Kota Kekaisaran, sosok yang memiliki garis darah yang terlalu suci hingga memicu kecemburuan faksi-faksi besar di atas langit. Ayah sengaja membuatmu terlihat seperti sampah agar dunia melupakan keberadaanmu.
Kini, karena kamu pergi ke Akademi Kekaisaran, tempat itu adalah satu-satunya gerbang yang terhubung dengan masa lalu ibumu. Ayah berharap, di sela-sela waktu tidur siangmu, carilah sedikit kabar atau jejak tersembunyi tentang seluk-beluk ibumu di sana. Namun ingat, lakukan dengan sangat rahasia. Jangan sampai klan Huang Utama mencium urusan ini, karena mereka pun terlibat dalam konspirasi masa lalu yang menjatuhkan ibumu..."
Wush.
Begitu kata terakhir selesai dibaca, Ji Huang menggeser dua jarinya. Sepercik energi Qi Lapis ke-3 yang sangat murni keluar dari ujung kuku fanya, membakar kertas surat wasiat itu menjadi serpihan abu halus dalam hitungan detik, tidak menyisakan bukti apa pun di dalam kereta.
Sepasang mata Ji Huang yang biasanya sayu dan mengantuk, mendadak berkilat tajam selama satu detik. Sebuah senyuman lempeng yang menyimpan kedalaman ribuan tahun muncul di wajah fanya. Informasi tentang ibunya ini akhirnya memberikan satu potongan teka-teki yang masuk akal bagi ingatan tubuh barunya.
Xiao Mei yang duduk di seberangnya, baru saja selesai menyeduh teh embun pagi, menatap majikannya dengan pandangan sedikit heran. "Tuan Muda, apakah ada sesuatu yang mengganggu pikiran Anda dari surat Tuan Paman?"
Ji Huang kembali merebahkan kepalanya di atas bantal sutra, menarik selimut bebek rajutan tangan ayahnya yang hangat hingga sebatas dada.
"Tidak ada, Xiao Mei," gumam Ji Huang polos sembari memejamkan mata dengan damai. "Menyelidiki masa lalu dan membersihkan konspirasi orang-orang tua terdengar seperti pekerjaan yang sangat melelahkan dan menguras energi faku. Namun... demi memastikan tidak ada kerikil tajam yang berani mengetuk pintu asramaku dan merusak ritual tidur siangku di masa depan, sepertinya aku harus menghancurkan beberapa dari mereka terlebih dahulu saat aku tiba di akademi nanti."
Kereta kuda terus melaju menembus perbatasan, membawa sang tirani pemalas menuju panggung terbesar di kekaisaran, di mana badai baru telah menantinya di gerbang akademi.