NovelToon NovelToon
Balas Dendam Nyonya Cha

Balas Dendam Nyonya Cha

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mayraa Ibnurafa

Han Ji-an rela dicap "mandul" dan dihina mertua demi menutupi aib suaminya, Kang Min-woo, yang tidak subur. Namun, ketulusannya dikhianati. Min-woo berselingkuh dengan sahabat sekaligus dokter kandungan Ji-an, memalsukan rekam medisnya, lalu mendepaknya tanpa sepeser uang pun.

​Di titik hancur, Ji-an dinikahi Cha Jin-wook, CEO nomor satu di Korea. Tiga tahun berlalu, Ji-an membuktikan kebohongannya dengan melahirkan dua anak. Kini, ia kembali ke Seoul sebagai Nyonya Besar Cha Group yang elegan, siap menghancurkan karier, rumah tangga, dan harga diri orang-orang yang telah membuangnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mayraa Ibnurafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: Riak di Air yang Tenang

​Kemewahan sejati tidak pernah berteriak. Bagi Han Ji-an, kenyataan itu terpampang jelas di kediaman utama Cha Group yang terletak di distrik Hannam-dong. Berbeda dengan rumah keluarga Kang yang dipenuhi ornamen emas mencolok untuk pamer kekayaan, rumah barunya ini didominasi oleh marmer putih, kayu ek langka, dan dinding kaca besar yang langsung menghadap ke Sungai Han. Keanggunan yang sunyi, namun mematikan.

​Pagi itu, Ji-an sedang menyesap teh kamomilnya di ruang makan komunal ketika asisten rumah tangga meletakkan koran pagi dan sebuah undangan tebal berwarna perak di atas meja.

​"Nyonya, ini undangan dari Asosiasi Nyonya Istana Grid," ucap pelayan itu dengan kepala tertunduk hormat.

​Ji-an melirik undangan itu. Grid Society. Itu adalah lingkaran sosial paling eksklusif di Korea Selatan, yang hanya berisi istri-istri dari pemilik sepuluh konglomerat teratas negeri ini. Tiga tahun lalu, jangankan masuk, mendekati gerbang perkumpulan mereka saja Ji-an tidak akan diizinkan.

​Tangan kokoh Cha Jin-wook tiba-tiba melingkar di bahunya dari belakang. Aroma sabun kayu cendana yang maskulin langsung menenangkan indra Ji-an. Jin-wook mengecup pipi istrinya sekilas sebelum melirik undangan perak tersebut.

​"Kau tidak perlu datang jika kau merasa bosan dengan wanita-wanita tua itu, Ji-an," kata Jin-wook sembari menarik kursi di samping istrinya.

​Ji-an tersenyum lembut, tangannya bergerak merapikan kerah kemeja kerja Jin-wook. "Aku tidak bosan, sayang. Justru aku penasaran. Kudengar posisi ketua asosiasi itu baru saja diganti?"

​Ekspresi Jin-wook berubah sedikit menegang—sebuah perubahan mikro yang hanya bisa ditangkap oleh Ji-an yang sudah menghabiskan tiga tahun bersamanya. "Ya. Keluarga Min dari Hotel Shinhwa baru saja kembali dari New York. Putri sulung mereka yang mengambil alih."

​"Min Chae-rin?" Ji-an menyebut nama itu dengan nada datar.

​Jin-wook menatap Ji-an, matanya memancarkan kejujuran mutlak. "Dia mantan tunanganku, Ji-an. Pernikahan bisnis yang diatur kakekku lima tahun lalu, sebelum aku membatalkannya karena dia terbukti mencoba memanipulasi dewan direksi di belakangku. Kau harus berhati-hati jika bertemu dengannya."

​Ji-an tidak cemburu. Dia adalah wanita yang telah melewati neraka, emosinya tidak akan mudah goyah hanya karena kata 'mantan'. Sebaliknya, kilatan tantangan muncul di matanya. "Terima kasih sudah jujur, sayang. Tapi kau tahu sendiri... aku bukan lagi Han Ji-an yang takut pada bayangannya sendiri."

​Sore harinya, di Grand Ballroom Hotel Shinhwa.

​Pertemuan Grid Society berlangsung dengan kemegahan yang tenang. Ji-an melangkah masuk mengenakan setelan celana panjang formal berwarna putih gading dengan potongan high-waist, dipadukan dengan blazer sutra senada. Penampilannya sangat modern dan dominan di antara para nyonya tua yang mayoritas mengenakan hanbok sutra atau gaun renda klasik.

​Kehadiran Ji-an langsung memicu bisik-bisik. Dia adalah magnet perhatian baru di Seoul.

​"Nyonya Cha Jin-wook. Suatu kehormatan Anda bisa hadir."

​Sebuah suara wanita yang jernih, bernada tinggi, dan penuh percaya diri terdengar dari arah panggung kecil. Seorang wanita berusia akhir 20-an berjalan mendekat. Dia mengenakan gaun merah marun dengan potongan dada rendah yang berani. Wajahnya cantik dengan fitur oriental yang tajam—tipe wajah wanita yang terbiasa memerintah sejak lahir.

​Dia adalah Min Chae-rin.

​Chae-rin berhenti tepat di depan Ji-an, memegang gelas sampanyenya dengan jemari yang dipenuhi perhiasan safir. Matanya menyisir penampilan Ji-an dari atas ke bawah dengan tatapan menilai yang tidak ditutupi.

​"Aku banyak mendengar tentangmu saat aku di New York, Han Ji-an Ssi," kata Chae-rin, sengaja memanggil nama asli Ji-an tanpa gelar 'Nyonya Cha'. "Kisah seorang wanita yang bangkit dari pengusiran... benar-benar seperti dongeng pengantar tidur yang menarik."

​Atmosfer di sekitar mereka seketika mendingin. Para nyonya sosialita lainnya menahan napas, menyadari bahwa ini adalah konfrontasi langsung antara masa lalu dan masa kini dari Cha Jin-wook.

​Ji-an tidak mundur satu senti pun. Ia menegakkan punggungnya, menatap lurus ke dalam manik mata Chae-rin dengan senyuman yang sangat tenang.

​"Dunia ini memang penuh dengan dongeng, Direktur Min," jawab Ji-an, suaranya terdengar merdu namun memiliki gema yang kuat di ruangan yang mendadak sepi itu. "Tapi ada perbedaan besar antara dongeng dan kenyataan. Di dalam kenyataan... wanita yang dibuang bisa kembali sebagai ratu. Sementara wanita yang gagal menjadi ratu... biasanya hanya bisa menjadi penonton di sudut ruangan."

​Sindiran telak. Ji-an langsung menyerang titik terlemah Chae-rin—kenyataan bahwa dia adalah wanita yang gagal dinikahi oleh Cha Jin-wook.

​Rahang Chae-rin mengencang. Senyum palsunya nyaris runtuh. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Ji-an, berbisik dengan nada yang penuh dengan racun jahat.

​"Jangan terlalu bangga dengan takhtamu sekarang, Han Ji-an. Kau pikir kau bisa duduk di kursi Nyonya Besar Cha Group hanya karena kau melahirkan dua anak? Kau tidak tahu apa-apa tentang kegelapan di dalam keluarga Cha. Dan aku... tahu persis di mana letak paku yang bisa membuat takhtamu itu runtuh berkeping-keping."

​Chae-rin mundur, memberikan senyuman kemenangan yang misterius, lalu berjalan melewati Ji-an untuk menyapa tamu lainnya.

​Ji-an berdiri diam di tempatnya. Jemarinya meremas tas tangan Hermes-nya. Naluri wanitanya berteriak bahwa Min Chae-rin bukan sekadar wanita pencemburu yang remeh. Wanita itu memiliki rencana yang jauh lebih besar—dan targetnya bukan hanya Ji-an, melainkan Cha Jin-wook.

​Sementara itu, di sebuah kedai gukbap (sup nasi) kumuh di daerah pinggiran Incheon.

​Kang Min-woo duduk di sudut warung yang berbau asap rokok dan minyak goreng pekat. Pakaian kerjanya—sebuah jaket murahan berwarna biru tua—tampak bernoda abu-abu di bagian lengan. Tangannya yang dulu halus kini dipenuhi kapalan tipis akibat memindahkan kotak-kotak logistik sejak subuh.

​Ia sedang menatap layar televisi gantung di kedai itu yang sedang menayangkan berita bisnis tentang kesuksesan Cha Group dalam meluncurkan proyek teknologi terbaru mereka di bawah kepemimpinan Cha Jin-wook. Di layar, wajah Jin-wook yang tampan dan berwibawa bersanding dengan foto Han Ji-an yang tersenyum anggun.

​Min-woo meneguk segelas soju murah dengan kasar hingga tenggorokannya terasa terbakar. Rasa iri, sesal, dan dendam bercampur menjadi satu di dalam dadanya, menciptakan rasa sakit yang kronis.

​"Permisi, apakah Anda Kang Min-woo Ssi?"

​Sebuah suara pria asing menginterupsi lamunannya. Min-woo mendongak. Di hadapannya berdiri seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas abu-abu rapi—terlalu rapi untuk ukuran kedai kumuh seperti ini.

​"Ya. Siapa kau?" tanya Min-woo defensif.

​Pria itu tidak menjawab. Ia justru menarik kursi di hadapan Min-woo, lalu meletakkan sebuah kartu nama hitam dengan tulisan perak di atas meja kayu yang berminyak.

​Cha Tae-sung — Wakil Presdir Eksekutif, Cha Corporation.

​Min-woo tertegun. Cha Tae-sung? Paman kandung dari Cha Jin-wook?

​"Presdir kami ingin bertemu dengan Anda, Kang Min-woo Ssi," ucap pria itu dengan senyum penuh arti. "Beliau mendengar bahwa Anda memiliki... 'informasi berharga' di masa lalu yang bisa membantu kami menertibkan keponakan kami yang terlalu angkuh itu. Dan sebagai imbalannya... hidupmu yang menyedihkan ini bisa kembali ke tempat yang seharusnya."

​Min-woo menatap kartu nama itu lama. Jemarinya yang gemetar perlahan meraih kartu tersebut. Kilatan licik dan serakah yang sempat padam selama enam bulan terakhir kini perlahan-lahan menyala kembali di matanya.

​Badai baru telah resmi bersekutu, dan dinding kaca Hannam-dong mulai menunjukkan retakan pertamanya.

1
Mutia Kim🍑
Seneng banget deh Ji-An dapat pengganti yg jauh lebih baik🥰
Mutia Kim🍑
Memang lebih baik kamu pergi saja dari keluarga toxic itu Ji-an😌
Mayraa_Tapaa: makasih ka udah mampir
total 1 replies
Mayraa_Tapaa
Mampir ya readers readers yg baik dan keren-keren, udah up banyak episode loh jadi enak bacanya...setiap hari juga bakal up min 4 episode sehari ya....
kutunggu kehadiran kaliam🤗✨️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!