NovelToon NovelToon
Bukan Menantu Pilihan Umi

Bukan Menantu Pilihan Umi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:464
Nilai: 5
Nama Author: Mrs. Fmz

Apakah selembar kain jilbab cukup untuk menghapus masa lalu yang dianggap cacat?
Bagi Hana, pernikahan adalah gerbang lembaran suci. Namun, kenyataan menamparnya begitu menginjakkan kaki di kediaman suami. Sebagai wanita modern, ia dinilai miskin ilmu agama dan tidak bernasab terhormat. Sang Umi pun menganggapnya sebagai perusak masa depan putra kesayangan.
Kini, Hana harus menghadapi penolakan dingin dan upaya mertua mengembalikan kekasih lama suaminya. Ia hanya ingin bertahan demi membuktikan keikhlasan berbenah diri.
Jika gagal, Hana akan kehilangan pria tercinta sekaligus merelakan kesehatan jiwanya hancur. Di tengah jepitan konflik, sang suami dipaksa memilih antara bakti orang tua atau melindungi belahan jiwanya.
Akankah ketulusan Hana melunakkan kerasnya hati sang Umi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mrs. Fmz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15: Saat Suami Memilih Mengunci Rapat Mulutnya

Saat suami memilih mengunci rapat mulutnya sewaktu bayangan raga tinggi besar itu berdiri kukuh menghadang di dekat pintu gerbang, Hana merasa seluruh pasokan udara di sekitarnya mendadak lenyap. Azzam berdiri membisu dengan tatapan mata yang kosong, seolah menjelma menjadi tembok pembatas tak kasat mata yang merintangi kebebasan batin sang istri. Tas kain besar di dalam cengkraman jemari Hana terasa semakin berat seiring dengan detik waktu fajar yang terus bergulir membelah kabut tipis pesantren. Tidak ada kata sapaan ataupun hardikan yang meluncur dari bibir sang imam, hanya ada keheningan mencekam yang kian mempertegas runtuhnya sebuah jembatan kepercayaan.

"Singkirkan ragamu dari hadapanku, Mas, karena keputusanku untuk melangkah pergi sudah tidak bisa kamu tawar lagi," ujar Hana dengan suara yang bergetar hebat menahan luapan emosi.

Azzam tidak bergeming sedikit pun, hanya sepasang matanya yang bergerak lambat menatap tumpukan tas kain yang berada di dalam pelukan sang wanita kota. Kebungkaman yang dipertahankan lelaki itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada rentetan sindiran tajam yang biasa dilayangkan oleh ibunya sejak hari pertama pernikahan. Hana merasakan dadanya sesak, laksana dihantam palu gadam yang tak tampak sewaktu menyadari bahwa suaminya tetap memilih bersikap pasif dalam situasi paling krusial.

"Mengapa kamu hanya diam membisu seperti patung kayu sementara istrimu sedang memperjuangkan sisa harga dirinya?" cecar Hana lagi sembari melangkah maju satu tapak.

Azzam menghela napas panjang, lalu perlahan mengulurkan tangan kanan guna menyentuh pergelangan tangan Hana yang tampak sangat pucat. "Kembalilah ke paviliun belakang, Hana, jangan membuat keributan yang bisa mencoreng nama baik keluarga besar kita di hadapan para santri ronda."

"Nama baik yang mana lagi yang kamu khawatirkan, Mas, sementara batin istrimu sudah hancur lebur menjadi debu akibat kezaliman ibumu?" tantang Hana dengan air mata yang mulai menetes.

Keberpihakan setengah hati yang ditunjukkan Azzam kembali memicu kobaran api kekecewaan yang teramat dalam di dalam lubuk hati Hana. Sikap sang suami yang selalu berlindung di balik tameng nama baik keluarga membuktikan bahwa eksistensi dirinya tidak pernah dianggap penting di bawah atap pesantren ini. Hana menarik lengannya secara paksa, menolak sentuhan dingin yang tidak lagi membawa kehangatan perlindungan seperti janji suci masa lalu. Di bawah kepungan dinding tembok gerbang yang tebal, ia merasa predikat sebagai pendamping sah tidak lebih dari sekadar status tanpa makna di atas lembaran kertas.

Langkah kaki yang lambat namun pasti tiba tiba terdengar mendekat dari arah koridor utama asrama putri, memecah ketegangan sepasang insan tersebut. Umi Kalsum muncul dengan keanggunan yang dingin, ditemani oleh Sarah yang berjalan mengekor di belakang seraya membawa sebuah kitab catatan harian. Pandangan mata sang penguasa pesantren langsung mengunci pergerakan Hana, memeriksa tas besar yang dibawa sang menantu dengan sorot mata penuh penilaian rendah.

"Biarkan wanita kota itu pergi jika jiwanya memang tidak pernah sanggup menerima kesucian aturan di tempat ini, Azzam," cetus Umi Kalsum dengan intonasi suara yang begitu menindas batin.

Hana menegakkan punggung, menatap lurus ke arah mertuanya tanpa ada lagi rasa takut yang tersisa di dalam sanubari. "Saya pergi bukan karena tidak sanggup menerima aturan, Umi, melainkan karena saya menolak untuk terus dijadikan objek perbandingan yang tidak adil."

"Jiwa yang sombong akan selalu mencari alasan untuk membenarkan pembangkangan terhadap perintah orang tua," balas Umi Kalsum tanpa mempedulikan air mata menantunya.

Sarah mengulas senyum tipis di balik jilbab besarnya, lalu melangkah satu tapak mendekati posisi Azzam yang masih berdiri kaku laksana kehilangan arah berpikir. "Ustaz Azzam, biarkan saya yang membawa kitab tafsir ini kembali ke perpustakaan agar tidak mengganggu konsentrasi diskusi keluarga pagi ini."

Azzam hanya mengangguk pelan tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, membiarkan Sarah mengambil alih situasi dengan cara yang sangat halus namun mematikan. Pembungkaman diri yang kembali dipilih oleh sang suami di hadapan ibunya menjadi bukti paling benderang bagi Hana bahwa perjuangannya di tempat ini sudah selesai. Sifat pasif Azzam laksana duri tajam yang menusuk langsung ke bagian jantung Hana yang paling rapuh, menghancurkan sisa sisa harapan yang sempat tersimpan. Wanita kota itu menyadari bahwa berlindung pada lelaki yang kehilangan kemandirian berpikir adalah sebuah kesia siaan yang sangat nyata.

"Lihatlah bagaimana suamimu sendiri tidak pernah menahan langkahmu, karena ia tahu mana mutiara yang asli dan mana kerikil kota yang tidak berharga," sindir Umi Kalsum lagi seraya membalikkan raga.

Hana mengepalkan kedua belah jemarinya di balik kain tas, menahan gejolak rasa perih yang kian membakar dinding dadanya yang kian terasa sempit. "Saya akan tetap pergi, dan jangan pernah berharap saya akan kembali mengemis penerimaan di rumah yang penuh dengan kepalsuan moral ini."

"Pergilah, dan bawa serta seluruh ego kotamu yang tidak beradab itu keluar dari tanah suci pesantren kami," tukas Umi Kalsum seraya melangkah pergi diikuti oleh Sarah.

Gema langkah kaki kedua wanita itu perlahan menjauh, menyisakan rona merah fajar yang kian terik membakar permukaan kulit wajah Hana yang kian memucat. Azzam masih setingkat berdiri mematung di tempatnya, menatap lurus ke arah jalan setapak tanpa berani memandang wajah sang istri yang berada tepat di sampingnya. Skenario pembungkaman emosional yang diatur oleh sang mertua kini telah berhasil mengeksekusi pengusiran mental Hana dari wilayah kekuasaan dinasti asrama. Dengan sisa kekuatan batin yang masih tersisa, Hana memutar tubuhnya lalu melangkah lebar melewati gerbang utama tanpa menoleh ke belakang lagi.

Langkah kaki Hana menyusuri jalan raya luar kompleks pesantren dilakukan dengan ritme yang sangat cepat laksana dikejar oleh hantu masa lalu yang menakutkan. Sinar matahari pagi yang mulai bersinar terang terasa menyengat kulit wajahnya, namun hawa dingin di dalam kalbunya tidak kunjung mencair oleh kehangatan alam sekitar. Beberapa kendaraan umum yang melintas sesekali memberikan klakson, namun pikiran Hana sudah terbang jauh menuju ruang kebebasan yang sempat terampas selama sepekan ini. Labirin penuh intrik yang mengurung jiwanya kini telah resmi ia tinggalkan, meskipun harus dibayar mahal dengan luka batin yang teramat parah.

Sesampainya di stasiun kereta kecamatan, Hana langsung memesan selembar tiket perjalanan menuju kota kelahirannya tanpa memikirkan rencana lanjutan. Ia duduk di bangku peron yang dingin, memandangi rel besi yang membentang panjang tanpa ujung laksana gambaran masa depan rumah tangganya yang kian buram. Isak tangis yang sejak tadi ditahan kini pecah kembali dalam kesunyian stasiun yang masih sepi dari aktivitas calon penumpang lainnya. Kehancuran pernikahan baru ini menjadi pukulan paling telak yang meruntuhkan seluruh rasa percaya dirinya sebagai seorang wanita mandiri yang berpendidikan.

Ketika kereta api yang dinanti datang dengan suara gemuruh yang keras, Hana segera bangkit dan melangkah masuk ke dalam gerbong penumpang. Ia memilih posisi duduk di dekat jendela, membiarkan kepalanya bersandar pada kaca yang bergetar seiring dengan bergeraknya roda besi meninggalkan wilayah kecamatan. Di dalam saku gamisnya, selembar kertas memo kecil yang sempat ia ambil dari meja dapur paviliun belakang terasa meraba permukaan kulit paha. Hana merengkuh kertas tersebut perlahan, mencoba membaca kembali tulisan tangan suaminya yang sempat tercecer di antara tumpukan berkas administrasi asrama.

Untaian kalimat di dalam kertas tersebut memuat sebuah permohonan maaf yang ditulis Azzam pada malam sebelum ujian hafalan dadakan digelar oleh ibunya. Hana membaca kata demi kata dengan pandangan yang kembali berkabut, merasakan kepedihan yang kian memuncak karena ketidaksinkronan antara tulisan dan tindakan nyata. Mengapa lelaki itu bisa begitu puitis di atas lembaran kertas namun menjelma menjadi sosok penakut yang membisu saat istrinya dianiaya secara mental di depan umum? Pertanyaan besar itu terus berputar putar di dalam benak Hana, menguras seluruh energi spiritual yang ia miliki untuk sekadar bertahan dari badai kesedihan.

Sementara itu, di sudut kamar paviliun belakang pesantren yang kini telah kosong melompong, Azzam duduk bersimpuh di atas hamparan ubin tempat biasanya Hana meletakkan mukena. Penyesalan yang mendalam mulai merayapi dinding kalbunya sewaktu mendapati keharuman melati pengantin yang samar samar masih tertinggal di udara kamar yang dingin. Lelaki itu memejamkan mata erat erat, meratapi kelemahannya sendiri yang selalu gagal menjadi tameng pelindung bagi wanita yang telah sah ia halalkan di hadapan tuhan. Kamar yang semula dipenuhi impian sakinah kini berubah total menjadi sebuah ruang sunyi yang sangat menyiksa kewarasan jiwanya sendiri.

Pintu paviliun diketuk beberapa kali dari luar dengan sangat keras, membuyarkan lamunan pilu sang ustaz muda yang tengah didera rasa bersalah. Mbok Siti muncul di ambang pintu dengan wajah yang tampak sangat panik, membawa selembar amplop putih tebal yang baru saja ditemukan di bawah karpet ruang tamu utama. Azzam bangkit dengan lutut yang terasa lemas, menerima surat tersebut dengan firasat buruk yang kian menebal di dalam relung dinding dadanya. Dengan jemari yang gemetar pelan, ia merobek segel amplop tersebut lalu mulai membaca isinya yang memuat sebuah pengakuan mengejutkan dari masa silam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!