Siham tahu suaminya tidak pernah mencintainya. Dia tahu ada nama wanita lain yang masih bertahta di hati Dewangga. Namun, menemukan kotak berisi sajak-sajak cinta Dewangga untuk masa lalunya adalah luka yang tak bisa lagi ia toleransi. Siham memutuskan untuk pergi, tapi tidak dengan tangan kosong. Dia meninggalkan satu sajak luka setiap harinya sebagai 'hadiah' perpisahan. Saat Dewangga akhirnya mulai merasa kehilangan, Siham sudah menjadi puisi yang tak sanggup lagi ia baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SAJAK LUKA UNTUK MAS DEWANGGA
Suasana ruang makan pagi itu terasa lebih membeku daripada es di dalam lemari pendingin. Tidak ada aroma nasi goreng rempah yang menggoda, tidak ada suara denting sendok yang tertata simetris. Di atas meja marmer yang dingin itu, hanya tersedia roti bakar yang tampak pucat dan segelas susu yang uapnya sudah menghilang.
Dewangga turun dengan langkah tegap, sudah mengenakan setelan jas abu-abu arangnya yang mahal. Ia menarik kursi dengan suara derit yang sengaja dikeraskan, menunggu sebuah sapaan atau instruksi makan yang biasanya keluar dari bibir istrinya. Namun, keheningan justru menyambutnya.
Siham berdiri di dekat konter dapur, membelakangi Dewangga. Ia tidak mengenakan daster atau apron seperti biasanya; ia sudah rapi dengan setelan kerja yang tajam, rambutnya tergelung rapi tanpa cela. Tangannya sibuk memasukkan kotak bekal ke dalam tasnya.
"Siham," panggil Dewangga, suaranya mengandung nada kesal yang tertahan. "Kamu tidak menyuruhku makan? Dan kenapa kamu sudah rapi sepagi ini?"
Siham berbalik perlahan. Tidak ada senyuman editor yang biasanya ia pasang. Matanya datar, seolah ia sedang menatap orang asing di stasiun kereta.
"Sarapan sudah tersedia di meja, Mas. Aku harus berangkat lebih awal. Banyak urusan di kantor yang tidak bisa menunggu."
Dewangga mengernyitkan dahi, tangannya mengepal di atas meja. "Urusan apa? Dan kenapa kamu membawa bekal? Bukankah kamu biasanya makan siang bersamaku jika aku mengirim pesan?"
"Aku sedang ingin makan masakan sendiri hari ini, Mas. Dan mulai sekarang, jangan menungguku untuk hal-hal kecil seperti sapaan makan. Kamu CEO, kamu tahu cara menggunakan tanganmu sendiri untuk mengambil sendok, bukan?" ucap Siham datar.
Tanpa menunggu jawaban Dewangga yang mulutnya sudah terbuka ingin membalas, Siham menyampirkan tasnya dan melangkah pergi. Suara pintu depan yang tertutup dengan dentuman pelan namun mantap menjadi tanda pertama bahwa otoritas Dewangga di rumah itu mulai retak. Dewangga terpaku di kursinya, menatap roti bakar yang terasa hambar bahkan sebelum ia mencicipinya.
Gedung penerbitan pagi itu gempar. Pengumuman Aksara Renjana semalam telah menaikkan harga saham moral seluruh karyawan. Begitu Siham melangkah masuk, ia langsung dipanggil ke ruang Direktur Utama.
Pak Hendra sudah menunggu di sana dengan cerutu yang belum dinyalakan dan wajah yang luar biasa cerah. Di atas mejanya, berserakan statistik engagement media sosial yang menunjukkan grafik melonjak tajam.
"Siham! Duduk, duduk!" Pak Hendra menyambutnya dengan tawa lebar.
"Semalam itu luar biasa. "Surat Pamit untuk Rumah yang Tak Pernah Menganggapku Ada". Judul macam apa itu? Sangat tragis, sangat menjual! Tim kreatif bilang alurnya sangat kuat, seolah-olah ini adalah klimaks dari penderitaan yang selama ini dia tulis."
Siham duduk dengan tenang, meletakkan tasnya di pangkuan. "Aksara Renjana memang sedang dalam fase paling jujur dalam hidupnya, Pak. Dia sedang merevisi naskah itu sekarang. Dia ingin buku ini menjadi penutup dari seri luka-lukanya."
Pak Hendra mengangguk-angguk paham. "Dengar, Siham. Aku tidak akan lagi menuntut untuk bertemu dengannya. Jika dia merasa aman hanya denganmu, maka jadilah jembatannya. Aku sudah melihat draf kasarnya pagi ini yang kamu kirim lewat email manajemen. Luar biasa. Penjualan ini akan mencetak sejarah."
Siham terdiam sejenak, lalu sebuah pertanyaan iseng muncul di benaknya. "Pak Hendra, secara pribadi... apakah Bapak menyukai buku-buku Aksara Renjana? Maksud saya, di luar masalah keuntungan perusahaan?"
Pak Hendra terdiam, ia menyandarkan punggungnya ke kursi kulitnya yang empuk. Wajahnya yang tadi penuh ambisi bisnis mendadak melembut, penuh perenungan.
"Jujur, Siham? Iya. Saya suka sekali. Terlepas dari uang, buku-bukunya membuat saya berkaca. Saya membaca sajaknya yang terbaru dan saya langsung memeluk istri saya tadi pagi. Saya belajar untuk tidak menjadi tipe suami yang disebutkan Aksara dalam bukunya pria yang punya segalanya tapi buta pada perasaan orang di sampingnya." Pak Hendra terkekeh pelan. "Rasanya aneh ya, belajar kemanusiaan dari sebuah naskah luka."
Siham tersenyum tipis. Sangat tipis hingga Pak Hendra tidak menyadari bahwa senyuman itu mengandung kegetiran sekaligus kelegaan. Nyatanya, batin Siham, pria sukses seperti Pak Hendra saja bisa belajar. Berarti memang benar, yang tidak waras dan butuh psikiater itu bukan aku, tapi suamiku sendiri.
"Pak," ucap Siham, suaranya kini lebih mantap. "Hari ini saya minta izin untuk bertemu langsung dengan sosok Aksara Renjana. Dia sedang di titik emosional yang tidak stabil dan meminta saya menemaninya kurasi naskah di suatu tempat yang tenang. Saya mungkin akan bekerja di luar kantor seharian ini."
Pak Hendra langsung memberikan lampu hijau. "Tentu! Pergilah. Temani dia. Apa pun yang dia butuhkan untuk menyelesaikan naskah itu, berikan. Jika perlu fasilitas apa pun, kabari saya."
Siham mengangguk, lalu berpamitan. Ia keluar dari ruangan Pak Hendra dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Namun, tujuannya bukan ke kafe mewah atau hotel untuk bertemu orang lain. Tujuannya adalah sebuah tempat yang sudah ia rencanakan sejak ia memasukkan bekal tadi pagi ke dalam tasnya.
Di dalam tasnya, bukan hanya ada makanan. Ada dokumen-dokumen penting, ada catatan rahasia tentang Agata yang sempat ia foto di perpustakaan, dan ada keberanian yang baru saja ia kumpulkan.
Siham masuk ke dalam mobilnya, namun ia tidak menghidupkan mesin segera. Ia mengeluarkan kotak bekalnya, membukanya, dan memakan sesuap nasi dengan tenang. Ini adalah bekal keberanian. Ia akan pergi ke suatu tempat di mana Dewangga tidak akan pernah bisa menemukannya dengan doktrin-doktrinnya.
Hari ini, Siham akan menjadi Aksara Renjana sepenuhnya. Ia akan menuliskan ending untuk Dewangga, bukan dengan tinta biasa, tapi dengan kenyataan bahwa mawar yang selama ini Dewangga injak-injak, kini telah memiliki duri yang sanggup mencabik-cabik harga dirinya.
Siham menginjak pedal gas, meninggalkan gedung kantor dan bayang-bayang Dewangga di belakangnya. Ia siap mengedit bab terakhir dalam pernikahannya.
gk bhgia gk samawa lah.
ortu dewangga kl mau nikah in anak biar move on dulu biar gk ngrusak orang lain.
yg laki blm move on yg wanita kecintaan dah Wes.
2th sdh cukup lah. kcuali pingin jd orang kaya walau sakit ttp bertahan. enak ortumu sdh mati semua, km sendiri an sakit tinggal nunggu Hari mati.
hidup sekali di sia sia kan. kl wanita Pinter mah ogah lah, pasti milih cepat cerai Dan berobat biar hidup lbih berguna. gk bucinin suami yg jelas jelas mncintai wanita lain.
kalaupun gk bisa ninggalin warisan hrse gk ninggalin penderitaan. ortu siham ki ortu gagal. demi mantu kaya Raya dng Alasan balas budi.
kenapa di buat semenderita itu thor