Setitik debu mampu melahirkan dunia. Sehelai rumput dapat memutus takdir, hukum, dan karma.
Putra-putri takdir lahir satu per satu, sekte kuno membuka gerbang tersegel, dan para suci kembali mengejar keabadian.
Di sudut dunia yang tak layak dicatat sejarah, seorang pemuda membuka mata dengan ingatan dari dunia lain. Ia tidak menyembah keajaiban, melainkan membedah hukum di baliknya.
Ketika para jenius menunggu anugerah Langit, ia membongkar rahasia bumi. Ketika dunia menyebut keajaiban sebagai takdir, ia menyebutnya hukum yang belum dipahami.
Dengan pengetahuan fana dan bahan langit-bumi, ia menciptakan sesuatu yang mustahil di jalan kultivasi: jari emas buatan manusia.
Sejak ciptaan itu menyatu dengannya, takdir kehilangan jejak. Masa lalunya lenyap. Masa depannya tak terbaca. Bahkan Langit tak mampu melihat jalan yang akan ia tempuh.
Hingga ia mengangkat pandangannya ke Langit dan bertanya: apakah kultivasi anugerah Langit—atau rancangan keberadaan yang lebih tinggi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naevys Presspire, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3: Di Bawah Langit yang Tak Terjangkau
Setelah situasi berhasil ditenangkan, Leluhur Keempat tetap berada di tempat karena suasana hatinya sedang baik. Ia duduk dengan tenang, memperhatikan jalannya pengujian yang kembali dilanjutkan secara bergantian di bawah tatapan semua orang.
Ada yang bahagia. Ada yang sedih. Ada pula yang wajahnya langsung pucat, seolah seluruh harapannya runtuh dalam sekejap. Berbagai macam emosi muncul dari anak-anak yang diuji.
Walaupun Leluhur Keempat hanya tampak duduk diam, sebenarnya ia sedang berkomunikasi dengan para leluhur lain melalui Divine Sense (Indra Ilahi).
“Adik Keempat, aku tidak menyangka selain kamu, keturunanmu juga memiliki Heavenly Spirit Root lain!”
“Sepertinya Cabang Keempat benar-benar memiliki keberuntungan luar biasa.”
“Walaupun kita sering berselisih karena perbedaan pendapat, tetap harus diakui, dengan munculnya genius baru selain Adik Keempat, Clan Su sudah pasti akan maju ke tingkatan berikutnya.”
“Sudah jelas. Apakah kita akan mengajar Su Ya secara bergantian?”
“Itu bukan keputusan buruk,” tambah Leluhur Keempat. “Masalahnya, kita tidak memiliki Manual Kultivasi yang berfokus pada Akar Es.”
“Yah, itu memang masalah. Kita tidak memilikinya, tetapi bukan berarti clan lain juga tidak punya. Demi masa depan keluarga, kita harus berupaya mendapatkan Manual Kultivasi itu.”
“Sepertinya sudah saatnya aku menghubungi teman-teman lama.”
“Baik. Kalau begitu, untuk sementara bagaimana jika Su Ya ikut ke gua abadiku? Mengingat kami sama-sama perempuan.”
“Aku setuju dengan Adik Keenam.”
“Setuju.”
“Aku juga setuju.”
“Mari fokus dulu pada ujian akar spiritual. Siapa tahu masih ada genius lain yang muncul.”
“Aku rasa Su Xian sudah pasti. Kalau tidak memiliki Earth-Grade Spirit Root, setidaknya ia memiliki High-Grade Spirit Root.”
Leluhur Keempat ikut tersenyum saat menatap Su Xian. Saat ini giliran anak itu untuk menjalani pengujian. Bukan hanya para leluhur, hampir semua orang juga memperhatikannya dengan penuh minat.
Su Ya yang tampak dingin dan acuh pun turut melihat ke arahnya, meskipun ekspresinya tidak berubah sedikit pun.
Su Xian terlihat lebih dewasa dibanding anak-anak seusianya. Dengan sikap santai, ia meletakkan tangannya di atas batu pengujian. Di bawah tatapan penuh perhatian semua orang, batu itu memancarkan kilas balik yang seketika membuat seluruh tempat menjadi sunyi.
Bahkan Leluhur Keempat mengerutkan kening. Para leluhur lain yang mengamati dari jauh pun ikut terdiam, seolah-olah hasil itu benar-benar berada di luar dugaan mereka.
Biasanya, sejak kecil seseorang sudah menunjukkan sedikit tanda mengenai kualitas Spirit Root-nya. Terlebih lagi bagi para tetua di ranah Nascent Soul seperti mereka.
Seseorang berseru dengan terkejut, “Low-Grade Spirit Root!”
“Element Mortal Tier, Fire, Water, dan Wood!”
Leluhur Keempat menghela napas. Tanpa menunggu lebih lama, ia segera berdiri. Dengan satu lambaian tangan, ia membawa Su Ya pergi dan meninggalkan Su Xian begitu saja. Awalnya ia tetap berada di sini untuk menunggu hasil ujian Su Xian, tetapi sekarang sepertinya tidak perlu lagi.
Satu per satu orang mulai tersadar. Tidak lama kemudian, suara diskusi langsung pecah di mana-mana.
Su Dingxuan hanya mengetahui tingkatan Spirit Root, tetapi tidak memahami tingkatan varian dari Spirit Root. Karena itu, ia hanya berkedip sambil memperhatikan keadaan di sekitarnya.
Anak-anak lain yang memiliki status tertentu juga mulai berubah sikap. Ekspresi mereka yang awalnya penuh kekaguman terhadap Su Xian berbalik sangat cepat, terutama mereka yang dulu pernah mengikuti Su Xian, tetapi sekarang memiliki Spirit Root yang lebih tinggi darinya.
Wajah mereka dipenuhi ejekan. Bahkan ada yang tampak senang melihat kemalangan Su Xian. Bisa dibayangkan, kehidupan sehari-hari Su Xian ke depannya mungkin akan menjadi berat. Mungkin ia akan menjadi bahan tertawaan.
Namun, Su Dingxuan segera menyadari sesuatu yang tidak diperhatikan orang lain.
‘Tenang... Setiap tindakan dan ekspresinya terlihat tenang. Seolah-olah Su Xian sudah tahu kalau bakatnya rendah. Kalau orang lain, pasti sudah histeris. Ini sama saja seperti terjun bebas dari tempat yang sangat tinggi.’
“Apakah aku boleh pergi, Elder?” tanya Su Xian sambil membungkuk kepada Elder Core Formation. Senyum ramahnya masih tetap sama.
“Ha? Oh... ya, kamu bisa pergi.”
Setelah batuk beberapa kali, Elder itu kembali berbicara, “Selanjutnya.”
Dengan begitu, pengujian terus berlanjut.
Beberapa menit kemudian, akhirnya tiba giliran Su Dingxuan. Ia tidak terlalu terkenal di kalangan anak-anak, bahkan hampir tidak memiliki teman. Karena itu, kehadirannya tidak terlalu menarik perhatian siapa pun.
Paling banyak hanya kedua orang tuanya yang menatap penuh harap sambil diam-diam berdoa.
Ketika benar-benar berdiri di depan batu penguji, rasa gugup tetap muncul di dalam dirinya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Su Dingxuan meletakkan telapak tangannya di atas Batu Pengujian.
Satu detik...
Dua detik...
Tiga detik...
Setelah tidak ada tanggapan sama sekali, suara Elder terdengar datar.
“Tidak ada akar spiritual. Selanjutnya.”
Segera setelah itu, Su Dingxuan diabaikan oleh semua orang. Bagaimanapun, ia bukan satu-satunya anak yang tidak memiliki Spirit Root. Bagi banyak orang, hasil seperti itu bukan sesuatu yang aneh.
Tetapi bagi kedua orang tua Su Dingxuan, rasanya seolah-olah langit telah runtuh.
Air mata mengalir di wajah ibunya ketika ia menutup mulut. Ayahnya hanya memejamkan mata, sementara tangannya terkepal kuat.
Su Dingxuan berjalan perlahan. Di belakangnya, suara-suara pengujian masih terus terdengar. Awalnya ia sempat bertanya-tanya bagaimana reaksinya jika ternyata ia tidak memiliki Spirit Root. Apakah ia akan menangis? Berteriak? Atau histeris?
Namun setelah mengalaminya sendiri, ia justru tidak merasakan apa pun.
Matanya masih berkedip dengan ekspresi tenang. Bahkan dengan dua kehidupannya, ia tetap tidak mampu menggambarkan perasaannya saat ini.
Seolah-olah semua emosi negatif bercampur menjadi satu, lalu berubah menjadi sesuatu yang netral. Ia merasa ingin menangis, tetapi tidak menangis. Merasa sedih, tetapi tidak benar-benar sedih. Ingin berteriak, tetapi tidak bisa mengeluarkan suara.
Su Dingxuan baru tersadar dari lamunannya ketika ada yang menghentikan langkahnya. Saat ia mendongak, yang menyambutnya hanyalah senyuman hangat dan sejuk dari kedua orang tuanya.
“Ayo kembali,” kata ayahnya sambil merangkul bahu Su Dingxuan. “Ibumu sudah menyiapkan makanan kesukaanmu.”
Ibunya ikut tersenyum. “Kamu boleh makan sepuasnya, tapi jangan sampai ada yang tersisa.” Di akhir kalimat, ia pura-pura memasang wajah marah.
Tidak ada satu pun dari mereka yang membahas hasil ujian barusan. Seolah-olah ujian itu tidak pernah terjadi.
Hal itu membuat Su Dingxuan merasakan kehangatan di dalam hatinya.
Ia tahu mata ibunya memerah seperti baru saja menangis. Ayahnya, meskipun masih terlihat sama seperti biasa, memiliki tatapan sedih untuk anaknya. Su Dingxuan bisa merasakan apa yang mereka rasakan.
Karena di kehidupan sebelumnya, ia juga pernah merasakan hal yang sama. Perasaan sedih yang sama ketika melihat adiknya yang sudah berjuang mati-matian, tetapi tetap gagal lulus ujian sains karena menderita kanker otak.
...
Di Paviliun keluarga Dingxuan, tiga orang duduk bersama dalam suasana yang tampak harmonis. Mereka makan dan berbicara, dipenuhi tawa kecil, tetapi di balik semua itu tetap ada kesedihan yang disimpan diam-diam.
Su Dingxuan hanya bisa pura-pura tidak tahu ketika ibunya sesekali menyeka air mata. Ia juga pura-pura tidak melihat tangan ayahnya yang gemetar, meskipun pria itu berusaha terlihat tegar.
Ayah dan Ibu Dingxuan tahu seberapa besar obsesi anak mereka untuk berkultivasi. Karena itu, ketika melihat kegagalan anak mereka, hati keduanya terasa perih seperti diiris pisau. Bahkan seandainya transfer Spirit Root benar-benar ada, keduanya pasti rela memberikannya kepada anak mereka.
Su Dingxuan menghabiskan makanannya dengan cepat. Di depan orang tuanya, ia tidak tampak sedih. Itu bukan pura-pura. Entah kenapa, ia memang tidak merasa sedih sama sekali, meskipun ia tahu dirinya mungkin tidak akan pernah bisa mencapai hal luar biasa dan menjelajahi dunia ini.
Ketika memperhatikan Su Dingxuan pergi, kedua orang tuanya akhirnya tidak bisa lagi menahan emosi.
Lin Qinqing menangis sambil bersandar pada suaminya. Sementara itu, mata Su Baiyun juga memerah, dengan air mata tertahan di pelupuknya.
...
Hembusan angin mengibarkan rerumputan di sekitarnya, juga rambut dan pakaian Su Dingxuan. Ia berdiri di tempat favoritnya sambil menikmati pemandangan menakjubkan di depan mata.
Pulau-pulau melayang. Orang-orang terbang dengan kesibukan mereka masing-masing.
Setelah diam cukup lama, ia bergumam pelan, “Ternyata aku memang tidak memiliki Spirit Root.”
Ia tersenyum.
Namun itu bukan senyum bahagia, melainkan senyum yang penuh ketidakberdayaan.
“Jika sejak awal aku tidak memiliki jalan untuk mencapainya, lalu kenapa aku harus datang ke dunia seperti ini?”
Suaranya rendah. Tidak ada kemarahan besar di dalamnya, hanya kebingungan yang tertahan.
Ekspresinya masih terlihat tenang, tetapi alisnya sedikit mengerut. Ia mengangkat tangan dan menggenggam bagian dadanya, seolah sedang menahan sesuatu yang bahkan tidak bisa ia jelaskan sendiri.
“Daripada tahu bahwa semua ini benar-benar ada, tapi tidak punya jalan untuk menyentuhnya...”
Perasaan itu membuatnya teringat pada kehidupan pertamanya.
Saat itu, ia berjuang begitu keras dan menciptakan hal-hal yang dapat membuat manusia melampaui batas mereka. Termasuk penjelajahan luar angkasa.
Mengapa ia berusaha sekeras itu?
Karena ia ingin memahami dunia. Ia ingin menyingkap misteri-misteri yang tersembunyi di balik langit, bumi, dan segala hukum yang mengikat keduanya.
Dengan sifat seperti itu, ia justru dibawa ke tempat ini. Tempat di mana batasan manusia bisa dilampaui, tetapi ia sendiri tidak dapat melakukan apa-apa. Bisa dibayangkan seberapa besar perasaannya hancur pada saat itu.
Namun tiba-tiba, ia menyadari sesuatu.
“Berjuang keras?... Melampaui batas manusia?”
Matanya sedikit melebar.
‘Benar. Sesuatu yang dulu dianggap mustahil, bisa dilakukan olehnya dan manusia modern. Semua itu karena kegigihan dan keingintahuan... Bukankah aku juga bisa melakukan hal yang sama di tempat ini?’
Ketika manusia modern merasa mereka sudah menggali dan mencapai batas pengetahuan yang dapat dicapai, lahirlah seorang jenius yang tidak hanya mematahkan anggapan itu, tetapi juga menghasilkan cabang ilmu pengetahuan baru melalui karya ilmiahnya.
‘Tidak ada batasan dalam pengetahuan. Ketika suatu hal belum ada, bukan berarti hal itu tidak ada. Mungkin hanya belum ditemukan saja.’
Su Dingxuan tersenyum. Kali ini, matanya kembali hidup dan penuh semangat. Pikirannya berputar cepat, memikirkan langkah-langkah yang harus ia lakukan.
Ia memiliki satu kelebihan.
Pengetahuan modern.
Pengetahuan seorang ilmuwan genius.
“Saat ini yang aku butuhkan adalah informasi tentang dunia ini. Beberapa teori dunia modern mungkin tidak berlaku lagi di sini. Ini adalah langkah awal, dan juga yang paling krusial.”
Ia terdiam sebentar, lalu melanjutkan dengan suara rendah.
“Dengan statusku sebagai manusia fana, aku tidak akan bisa mengakses informasi lebih banyak... Aku hanya bisa bergantung pada seberapa baik aku dapat meyakinkan Ayah.”
Tidak lama setelah itu, Su Dingxuan termenung. Ia memikirkan bagaimana cara berbicara kepada ayahnya, juga apa yang harus ia katakan.
Beberapa jam berlalu tanpa ia sadari.
Sampai akhirnya, seseorang melayang dengan cepat dan tiba di dekatnya.
“Aku tahu kamu di sini, Nak.”
Su Dingxuan berbalik.
“Ayah!”
End Chapter 3.
Chapter 7 sampai 11 itu merupakan harga tiket mc untuk masuk kedunia yang lebih besar.
Jdi reset penelitian ini hanya terjadi di chapter awal 7 sampai 11, setelah itu dunia kultivasi akan terbuka.
Dia bukan orang yang di beri jalan oleh langit, jdi dia membuka jalanya sendiri, satu satunya yang bisa dia andalkan hanya lah ingatanya sebagai seorang saintis. Karena memang tidak ada yang bisa dia andalkan selain itu.
Mohon bersabar hingga chapter 11 lewat, karena kemampuan mc tidak jatuh dari langit, atau tibatiba mendapatkan warisan.
Cuman saran aj🙏👍
Itu semua karena gaya penulisan Author, Jdi dari 2013 author selalu baca novel terjemahan, bahkan sampai jalur mechine transate yang bikin kepala pusing (Biasanya di kenal sebagai penyimbangan kultivasi)😅
Apa yang sering dibaca mempengaruhi gaya tulisan. Jadi mohon maaf jika ada yang tidak tebiasa, 🙏
dan terimakasih sudah support novel ini.
Salam dari Naevys Presspire
Ku lihat kingkatan kultivasinya menggunakan standar Xianxia yah, kyk ISSTH, Renegade Immortal RMJI dan kwn².
Bagi yang belum tau, dari bab sejauh ini bab 11 yah, tingkatan Kultivasinya Qi Refining => Foundations Establishment => Core Formatin (Biasanya novel terjemahan menggunakan nama Inti Emas/Golden Core) => Nascent Soul.
Untuk di atasnya, belum terungkap, wkwkw