NovelToon NovelToon
12 Langkah Sebelum Januari

12 Langkah Sebelum Januari

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Single Mom
Popularitas:466
Nilai: 5
Nama Author: pashadena

Di usia lima belas tahun, Yuni dipaksa melipat rapat mimpinya memakai seragam abu-abu. Sebagai anak sulung dari keluarga yang serbakekurangan, dia harus mengalah demi menghidupi enam adiknya yang lahir beruntun setiap dua tahun sekali. Yuni memilih merantau menjadi buruh pabrik di Jakarta. Namun, kepulangannya dua tahun kemudian justru membawa takdir baru yang tak pernah dia duga: sebuah pinangan dari Hendra, pria mapan yang sama sekali belum dikenalnya.
Demi bakti pada ibu angkat dan harapan bisa mengangkat derajat keluarga, Yuni yang baru berusia 17 tahun akhirnya menerima pernikahan kilat tersebut. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Yuni justru terjebak dalam sangkar emas yang dikendalikan penuh oleh ibu mertuanya yang kejam. Di bawah intimidasi mertua dan sikap Hendra yang perlahan berubah dingin, rumah tangga yang baru berjalan lima bulan itu mulai retak di ambang kehancuran.
Hingga suatu malam, sebuah rahasia gelap yang selama ini disembunyikan di balik punggung Yuni akhirnya terbo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pashadena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: BARA DI BALIK DINDING EMAS

Gending Kebo Giro yang beberapa jam lalu bertalu-talu mengagungkan kemegahan di dalam gedung pertemuan hotel berbahan marmer itu kini telah senyap, digantikan oleh keheningan yang mencekam dan sarat akan hawa membunuh. Di dalam ruang VIP yang terletak di bagian belakang gedung, atmosfer terasa begitu pekat hingga oksigen seolah enggan mengalir. Di sinilah, di balik pintu kayu mahoni yang tertutup rapat, sisa-sisa kehormatan sebuah keluarga terpandang dari Pasar Besar sedang dipertaruhkan di atas meja.

Mbak Sari duduk di sudut sofa bludru merah maroon dengan tubuh yang gemetar hebat. Gaun pengantin tradisionalnya yang berhias payet premium dan ronce melati yang menjuntai anggun kini tampak seperti lelucon paling kejam yang pernah menimpa hidupnya. Riasan tebal yang menghiasi wajahnya mulai luntur oleh air mata amarah yang terus mengalir membasahi pipinya yang kaku. Di depannya, sang ayah—Pak Subroto, seorang pengusaha besar pemilik jaringan toko emas terkemuka di Pasar Besar—berdiri mematung dengan tatapan mata yang berkilat tajam bagai belati yang baru saja diasah.

"Kurang ajar! Keparat!" bentakan Pak Subroto menggelegar, menghantam dinding-dinding ruangan hingga membuat beberapa kerabat yang berdiri di dekat pintu tersentak ketakutan. Beliau melempar jas beskap hitamnya ke atas lantai dengan kasar. "Keluarga Wijaya benar-benar sudah bosan hidup! Mereka pikir siapa mereka, berani mempermalukan anak perempuanku di depan ratusan pasang mata kolega bisnisku?!"

"Tenang dulu, Pak. Jangan sampai tensimu naik," sahut Ibu Ratna, ibu kandung Sari, yang mencoba menenangkan suaminya meski tangannya sendiri tidak kalah gemetar saat menyeka air mata anak gadisnya.

"Bagaimana aku bisa tenang, Ratna?! Anak laki-laki Retno itu... bajingan kecil bernama Rendra itu, dia melangkah turun dari pelaminan tepat setelah saksi mengatakan sah! Dia melepaskan tangan Sari di depan semua orang dan melenggang pergi begitu saja seperti orang tidak punya beban! Ini bukan lagi sekadar pernikahan simbolis untuk menyelesaikan urusan denda emas, ini penghinaan terang-terangan terhadap martabat keluarga Subroto!" suara Pak Subroto meninggi, urat-urat di lehernya menegang, memerah menahan badai amarah yang siap meledak seutuhnya.

Sari mengangkat wajahnya yang sembap, menatap ayahnya dengan pandangan yang sarat akan rasa benci dan dendam yang mendalam. "Aku tidak terima, Pak. Aku tidak terima diperlakukan seperti wanita buangan. Rendra sengaja melakukan ini untuk menginjak-injak harga diriku karena dia tahu aku lebih tua dari dia! Dia mengira dengan melarikan diri setelah akad, keluarganya bisa bebas dari denda tujuh puluh gram emas murni itu tanpa perlu menanggung konsekuensi apa pun!"

Pintu ruang VIP tiba-tiba diketuk dengan tergesa-gesa. Seorang pria muda berkemeja batik gelap, yang merupakan orang kepercayaan sekaligus kepala bagian administrasi di toko emas Pak Subroto, melangkah masuk dengan napas yang agak terengah-engah. Di tangannya, dia memegang sebuah map dokumen berwarna biru dan beberapa lembar kertas fotokopi.

"Permisi, Pak Subroto... Mbak Sari. Saya membawa informasi krusial yang baru saja saya dapatkan dari orang dalam di kelurahan dan catatan sipil, terkait latar belakang keluarga Wijaya," ujar pria muda itu dengan suara rendah yang penuh kehati-hatian.

Pak Subroto berbalik dengan cepat, menyambar map tersebut dari tangan anak buahnya. "Apa ini? Jangan bertele-tele, Hendra! Katakan apa yang kamu temukan!"

Pria bernama Hendra itu menarik napas dalam-dalam sebelum membuka suara. "Pak, sepertinya kita tidak hanya dijebak dengan pernikahan simbolis yang ditinggalkan begitu saja. Keluarga Wijaya telah melakukan kebohongan yang jauh lebih besar dan fatal secara hukum. Sebelum Mas Rendra berdiri di pelaminan bersama Mbak Sari pagi ini, ternyata dia sudah berstatus sebagai suami orang."

Dar! kata-kata itu bagaikan sambaran petir di siang bolong yang meruntuhkan seluruh langit-langit ruangan.

Sari seketika berdiri dari sofanya, mengabaikan kain jariknya yang membelit kaki. "Apa kamu bilang?! Rendra sudah punya istri?! Jangan sembarangan bicara kamu, Hendra! Empat bulan lalu saat kami menandatangani surat perjanjian pertunangan penunda waktu, Retno bersumpah anaknya masih lajang! Bahkan saat pendaftaran di KUA bulan lalu, status Rendra di KTP masih jelas-jelas tertulis LAJANG!"

"Itulah masalahnya, Mbak Sari," Hendra menjelaskan sembari menyodorkan beberapa lembar kertas fotokopi akta nikah. "Status lajang di KTP Mas Rendra itu palsu, atau lebih tepatnya, mereka sengaja tidak memperbarui data kependudukan mereka setelah Mas Rendra menikahi seorang gadis desa asal Sukorejo bernama Sri Wahyuni, sekitar empat bulan yang lalu. Pernikahan itu sah secara agama dan hukum negara, tercatat resmi di KUA kecamatan asal gadis tersebut. Keluarga Wijaya sengaja menyembunyikan status pernikahan pertama ini dari kita, dan tetap menggunakan KTP berstatus lajang milik Rendra untuk mendaftarkan pernikahan dengan Mbak Sari di KUA Semarang Barat agar bisa lolos verifikasi berkas."

Pak Subroto merebut lembaran fotokopi akta nikah atas nama Rendra Wijaya dan Sri Wahyuni itu. Matanya membaca baris demi baris tulisan di sana dengan cermat. Semakin beliau membaca, wajahnya yang semula memerah karena amarah kini berubah menjadi pucat pasi oleh rasa murka yang luar biasa dingin.

"Jadi... Retno dan Didi sengaja memalsukan status kependudukan anak mereka?" desis Pak Subroto, suaranya kini terdengar begitu rendah namun beralas ancaman yang mengerikan. "Mereka menikahkan Rendra dengan gadis desa miskin itu sebagai pelarian sementara, lalu ketika tenggat waktu denda emas kita jatuh tempo, mereka membawa Rendra yang masih terikat pernikahan sah ke pelaminan anakku dengan dokumen palsu? Mereka menjadikan anakku sebagai istri kedua tanpa izin, hanya untuk menggugurkan tuntutan denda tujuh puluh gram emas murni?!"

"Benar, Pak," timpal Hendra. "Secara hukum, ini sudah memenuhi unsur tindak pidana murni. Keluarga Wijaya dengan sengaja menyembunyikan halangan perkawinan, memalsukan asal-usul atau status perkawinan seseorang untuk melangsungkan pernikahan baru. Ini adalah penipuan tingkat tinggi yang direncanakan dengan sangat rapi oleh Ibu Retno."

Sari tertawa getir, suara tawanya terdengar begitu menyeramkan di dalam ruangan yang sunyi itu. Air matanya mengering, digantikan oleh kobaran api balas dendam yang membakar seluruh akal sehatnya. "Hebat... luar biasa sekali permainanmu, Ibu Retno. Kamu pikir kamu bisa menyelamatkan toko grosir kainmu yang seret itu dengan mengorbankan nama baik keluarga Subroto? Kamu pikir anak desa itu bisa kamu jadikan tameng dan aku bisa kamu jadikan boneka pengisi kertas kosong?!"

Sari berjalan mendekati ayahnya, mencengkeram lengan Pak Subroto dengan kuku-kukunya yang dicat merah. "Pak, aku tidak mau tahu. Aku tidak mau pernikahan ini dibatalkan begitu saja lewat perceraian biasa. Itu terlalu enak untuk mereka! Aku mau mereka semua membusuk di penjara! Hancurkan toko grosir mereka, seret Rendra dan ibunya ke jeruji besi!"

Pak Subroto berjalan mendekati meja, mengambil telepon genggamnya, lalu menekan sebuah nomor dengan gerakan yang tegas. Beliau menghubungi kuasa hukum utama keluarga mereka, seorang pengacara senior yang terkenal dingin dan tanpa ampun di ruang pengadilan Semarang.

"Halo, Kusuma? Datang ke ruang VIP hotel sekarang juga. Bawa seluruh tim pidanamu. Aku punya kasus besar yang harus kamu selesaikan hari ini juga," perintah Pak Subroto singkat sebelum mematikan sambungan telepon tanpa menunggu jawaban.

Beliau kembali berbalik menatap Hendra dan seluruh kerabat yang ada di dalam ruangan. "Dengar semuanya. Kejadian memalukan di pelaminan tadi tidak boleh bocor ke media atau menjadi konsumsi gunjing orang-orang Pasar Besar sebagai kekalahan kita. Kita akan membalikkan keadaan ini. Keluarga Wijaya mengira mereka telah berhasil menggunakan hukum pernikahan simbolis untuk menghindari denda emas. Sekarang, kita akan menggunakan hukum pidana untuk meruntuhkan seluruh hidup mereka."

Pengacara bernama Kusuma masuk ke dalam ruangan sepuluh menit kemudian, diikuti oleh dua asistennya yang membawa tas kerja tebal. Setelah mendengarkan kronologi kejadian dari Pak Subroto, melihat bukti fotokopi akta nikah Rendra dengan Sri Wahyuni, serta memeriksa berkas KTP lajang yang digunakan untuk pendaftaran nikah dengan Sari, pengacara itu tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang menjadi pertanda buruk bagi siapa saja yang menjadi lawannya.

"Ini adalah kasus yang sangat bersih, Pak Subroto," ujar Kusuma sembari merapikan letak kacamatanya. "Keluarga Wijaya telah melakukan pelanggaran berat yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Kita tidak perlu lagi menuntut denda ganti rugi tujuh puluh gram emas murni di jalur perdata. Kita akan langsung menghantam mereka dengan jalur pidana murni."

Kusuma membuka sebuah lembaran catatan hukum, lalu menunjuknya dengan pena. "Pertama, kita akan menjerat Rendra Wijaya dan ibunya dengan Pasal 279 KUHP tentang melangsungkan perkawinan padahal mengetahui bahwa perkawinan yang telah ada menjadi halangan sah untuk itu. Ancaman pidananya tidak main-main, maksimal lima tahun penjara. Karena Rendra sengaja menyembunyikan pernikahan pertamanya dengan gadis desa bernama Yuni itu dari Mbak Sari dan pihak KUA."

"Lalu bagaimana dengan pemalsuan status di KTP-nya, Kusuma? Apakah itu bisa memperberat hukumannya?" tanya Ibu Ratna dengan nada bicara yang sarat akan dendam.

"Tentu saja, Ibu Ratna," jawab Kusuma dengan tegas. "Itu masuk ke ranah Pasal 263 dan Pasal 266 KUHP tentang pemalsuan surat dan memasukkan keterangan palsu ke dalam akta otentik. Mereka menggunakan dokumen kependudukan yang datanya tidak sesuai dengan kenyataan hukum untuk mengelabui pejabat KUA dan keluarga besar Pak Subroto. Ancaman hukumannya bisa berlapis, maksimal tujuh tahun penjara. Ditambah lagi, kita bisa memasukkan unsur penipuan murni di bawah Pasal 378 KUHP, karena ada tipu muslihat yang dirancang oleh Ibu Retno untuk menguntungkan diri sendiri, yaitu menghindari kewajiban denda denda emas dengan cara mengorbankan Mbak Sari dalam sebuah pernikahan fiktif."

Pak Subroto mengangguk puas, rahangnya yang tegas tampak kian kaku. "Bagus. Sangat bagus. Aku tidak mau ada kata damai atau mediasi, Kusuma. Aku mau laporan polisi ini dibuat sore ini juga di Mapolda Jawa Tengah. Biarkan polisi menjemput bajingan kecil itu dan ibunya langsung di rumah marmer mereka yang sombong itu."

"Bagaimana dengan gadis desa bernama Yuni itu, Pak? Apakah kita perlu menyeretnya juga?" tanya Hendra ragu.

Sari memotong dengan cepat, matanya berkilat kejam. "Tidak perlu. Dari cerita yang kita dengar, perempuan desa itu pasti cuma korban kebodohan dan kelicikan Ibu Retno yang dimanfaatkan sebagai pembantu gratisan selama empat bulan ini. Tapi, cari tahu di mana dia sekarang. Keberadaannya sebagai istri pertama yang sah adalah saksi kunci paling mematikan untuk menjebloskan Rendra ke penjara. Jika perempuan itu sudah pulang ke desanya di Sukorejo, jemput dia! Paksa dia memberikan kesaksian di depan penyidik bahwa dia tidak pernah memberikan izin poligami atau tahu suaminya menikah lagi!"

Sore itu juga, saat gerimis di luar kian lebat menggelapkan kota Semarang, sebuah mobil sedan hitam mewah milik kuasa hukum Pak Subroto meluncur membelah jalanan aspal menuju markas kepolisian. Di dalam tas kerja Kusuma, berkas laporan tindak pidana penipuan, pemalsuan dokumen, dan pelanggaran perkawinan telah tersusun rapi, lengkap dengan bukti-bukti otentik yang tidak akan bisa dibantah oleh argumen apa pun dari Ibu Retno.

Sementara itu, di rumah besarnya yang megah, Ibu Retno dan Mas Rendra baru saja tiba dari gedung hotel. Ibu Retno melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan menang yang luar biasa. Beliau langsung melepas selendang sutranya, melemparkannya ke atas sofa, lalu berteriak memanggil namaku dengan nada suara penindasan yang biasa beliau gunakan sehari-hari.

"Yuni! Yuni! Di mana kamu?! Cepat buatkan teh hangat untuk Mas Rendra-mu! Suamimu ini lelah habis menghadiri pesta!" teriak Ibu Retno sembari melangkah menuju dapur belakang, diikuti oleh Mas Rendra yang berjalan gontai dengan wajah yang sarat akan rasa bersalah yang amat mendalam.

Namun, tidak ada sahutan apa pun dari arah dapur. Suasana rumah dua lantai itu begitu sunyi, hanya ada suara dengungan lemari es tua dan tetesan air hujan yang menghantam atap seng ruang belakang. Ibu Retno mengernyitkan keningnya, berjalan kian dalam ke area cuci baju. Di sana, ember plastik besar masih tergeletak kosong, dan cucian kemeja batik Pak Didi yang biasanya sudah tergantung rapi di jemuran kini masih menumpuk basah di dalam bak semen.

"Yuni! Kamu tuli ya?! Dipanggil dari tadi tidak menyahut! Keluar kamu dari kamar!" bentak Ibu Retno, amarahnya mulai tersulut karena merasa pelayan gratisannya berani mengabaikan perintahnya.

Mas Rendra yang memiliki firasat buruk langsung berlari menaiki anak tangga marmer menuju kamar mereka di lantai dua. Dia mendorong pintu kamar kayu jati itu hingga terbuka lebar. Kamar itu kosong, rapi, dan terasa begitu dingin. Di atas tempat tidur, tidak ada selembar pun pakaian milikku yang tersisa. Mas Rendra melangkah mendekati lemari pakaian berpintu kaca, membukanya dengan tangan yang gemetar hebat.

Kosong. Seluruh baju kurung kusam dan kebaya hijau pupus milikku telah lenyap tanpa sisa. Yang tersisa di dalam lemari itu hanyalah deretan baju baru dan perhiasan perak mahal yang pernah dibelikannya untukku—semuanya ditinggalkan begitu saja, seolah-olah benda-benda mahal itu adalah racun yang menjijikkan bagi jiwaku.

"Ibu! Yuni tidak ada di kamar! Baju-bajunya semua sudah hilang!" teriak Mas Rendra dari atas tangga, suaranya bergetar hebat dihinggapi rasa panik yang teramat sangat.

Ibu Retno yang mendengar teriakan anaknya langsung berlari naik ke lantai dua dengan langkah yang tergesa-gesa. Beliau memeriksa lemari, lalu beralih menatap meja rias. Di atas permukaan kaca meja rias yang bersih, mata Ibu Retno menangkap sebuah benda kecil yang tergeletak di samping vas bunga kecil.

Sebuah alat tes kehamilan plastik dengan dua garis merah yang sangat jelas, dan di bawahnya, terselip selembar kertas catatan kecil bersampul cokelat milikku yang berisi salinan lengkap surat perjanjian denda emas yang mereka sembunyikan di laci bawah ruang kerja. Di bagian bawah kertas itu, aku menuliskan sebuah kalimat singkat dengan tinta hitam yang tegas:

“Terima kasih atas sandiwara empat bulannya, Ibu Retno, Mas Rendra. Saya pulang membawa anak kandung dari keluarga Wijaya di dalam rahim ini. Nikmatilah pernikahan simbolis kalian bersama Mbak Sari, karena saya tidak akan pernah sudi menjadi keset penahan badai utang emas kalian. Selamat menanti karma.”

Ibu Retno seketika mundur selangkah, wajahnya yang semula anggun kini berubah menjadi pucat pasi sewarna kain kafan. Surat salinan denda itu membuktikan bahwa seluruh rahasia busuk keluarga mereka telah terbongkar seutuhnya oleh gadis desa yang selama ini mereka remehkan.

"Gadis sialan... dia kabur membawa anak Rendra..." bisik Ibu Retno dengan bibir yang gemetar.

Belum sempat rasa terkejut dan panik akibat kepergianku mereda dari kepala mereka, tiba-tiba dari arah lantai bawah terdengar suara gedoran pintu depan yang sangat keras, berbaur dengan bunyi sirine mobil yang berhenti tepat di depan pagar tinggi rumah marmer mereka.

Brak! Brak! Brak!

"Permisi! Kepolisian Mapolda Jawa Tengah! Buka pintunya!" sebuah suara tegas dari luar rumah menggelegar, menembus keheningan sore yang pekat.

Mas Rendra dan Ibu Retno saling berpandangan dengan mata yang membelalak penuh ketakutan yang luar biasa. Sandiwara pernikahan simbolis yang mereka banggakan untuk menghindari denda tujuh puluh gram emas murni kini tidak hanya runtuh karena kepergianku, melainkan telah resmi berubah menjadi jerat hukum pidana penipuan yang siap menyeret mereka ke dalam kegelapan sel penjara yang dingin. Badai yang sesungguhnya telah tiba di rumah keluarga Wijaya, dan kali ini, tidak akan ada lagi tempat bagi mereka untuk melarikan diri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!