NovelToon NovelToon
The Return Of The Lost Heiress

The Return Of The Lost Heiress

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Keluarga & Kasih Sayang / Drama
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Haena_Llulia

Tujuh belas tahun hidup sederhana, Haena mendadak mendapati dirinya adalah putri kandung yang tertukar dari Keluarga Dirgantara, dinasti konglomerat terkaya. Namun, kepulangannya ke istana megah itu justru disambut dingin oleh sang ibu, Nyonya Rosalind, serta intrik busuk dari Vanya, anak angkat yang takut posisinya tergusur.

Bukannya tumbang oleh intimidasi dunia elite, gadis jenius bermental baja ini justru menarik perhatian Kaelen Arkananta, pewaris tunggal yang terkenal dingin dan tak tersentuh. Bersama Kaelen, Haena tidak hanya menemukan cinta sejati, tetapi juga mulai membongkar konspirasi gelap masa lalu yang sengaja membuangnya saat bayi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haena_Llulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Gempa di Lobi Utama

Riuh rendah suara ratusan siswa memenuhi area lobi utama Dirgantara High School siang itu. Di tengah lobi, sebuah layar LED interaktif raksasa setinggi tiga meter yang biasanya menampilkan prestasi sekolah kini berkedip lambat, memuat data terbaru yang dikirim langsung dari server pusat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ujian pra-olimpiade sains nasional yang baru saja usai dua jam lalu telah selesai dipindai oleh sistem koreksi digital terpusat.

Vanya melangkah anggun menuruni tangga marmer lobi, dikawal ketat oleh Sherly dan Marta di sisi kiri dan kanannya. Senyum kemenangan terkembang sempurna di wajah cantiknya yang dipoles riasan Korean Ulzzang. Tangannya dengan sengaja mengayunkan sebuah tas jinjing mini dari desainer Paris, memamerkan status sosialnya yang tak tergoyahkan.

"Vanya, kamu hebat banget tadi. Aku sempat melirik lembar jawabanmu, penuh semua sampai halaman terakhir," puji Sherly dengan suara yang sengaja dikeraskan agar didengar oleh siswa-siswa lain yang sedang berkerumun.

"Pasti peringkat pertama paralel sekolah kita kali ini jatuh ke tanganmu lagi."

Vanya terkekeh pelan, jemarinya merapikan tatanan rambutnya.

"Ah, kalian ini berlebihan sekali. Soalnya memang agak rumit tadi, tapi untunglah Papa selalu mendatangkan guru besar dari universitas negeri untuk memberiku les privat setiap akhir pekan. Jadi aku tidak terlalu kaget."

"Ya jelas bedalah kualitasnya," cibir Marta sembari melirik sinis ke arah koridor seberang.

"Tidak seperti seseorang yang baru masuk hari ini. Jangankan les privat mahal, melihat bentuk soal kalkulus saja mungkin kepalanya sudah mau pecah. Aku berani taruhan, namanya pasti ada di urutan paling bawah, mengotori nama baik kelas kita."

Vanya tidak menyahut, namun binar matanya memancarkan kepuasan yang mendalam. Dia sudah tidak sabar ingin mengambil foto papan pengumuman nilai tersebut, mengirimkannya kepada Nyonya Rosalind melalui pesan singkat, dan membuktikan bahwa anak kandung yang baru ditemukan itu tidak lebih dari sekadar aib akademik yang akan mempermalukan martabat Keluarga Dirgantara di hadapan kolega sosialita mereka.

Namun, begitu ketiga gadis itu semakin dekat dengan kerumunan di depan layar LED, suasana mendadak berubah drastis.

Keheningan yang aneh dan mencekam merambat dengan cepat. Satu per satu siswa yang semula berisik mendadak menghentikan pembicaraan mereka. Mereka berbalik, menatap ke arah Vanya dengan pandangan mata yang aneh perpaduan antara rasa syok, tidak percaya, dan sebersit rasa kasihan yang tertahan.

Melihat reaksi ganjil dari sekelilingnya, kerutan tipis muncul di dahi Vanya.

"Ada apa dengan mereka? Kenapa melihatku seperti itu?" gumamnya tak nyaman.

"Mungkin mereka terpukau melihat penampilanmu yang cantik hari ini, Van," hibur Sherly, meski di dalam hatinya dia juga mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

"Biar kubuka jalannya," Marta merangsek maju, membelah kerumunan siswa yang berdiri mematung.

"Awas, beri jalan! Vanya mau melihat hasil pengumuman!"

Kerumunan itu terbelah dua dengan patuh, memberikan akses langsung bagi Vanya untuk berdiri tepat di barisan paling depan, menghadap langsung ke layar digital raksasa tersebut. Vanya mendongakkan kepalanya dengan angkuh, matanya langsung mencari baris teratas tempat namanya biasa bertengger di peringkat pertama sekolah.

Namun, begitu matanya membaca deretan teks yang menyala terang di layar tersebut, seluruh tubuh Vanya seketika membeku seolah dialiri es.

Tas jinjing mahalnya terlepas dari genggaman, jatuh berdentum di atas lantai marmer tanpa dia pedulikan. Wajah cantiknya yang semula merona mendadak pias, kehilangan seluruh rona darahnya dalam sekejap mata.

Di baris paling atas, dalam cetakan huruf tebal berwarna emas yang menandakan pencapaian tertinggi, tertulis sebuah data yang mustahil.

(MUTLAK) HAENA, Dirgantara High School, 100 / 100, Lolos Utama.

Kaelen Arkananta, Dirgantara High School, 98 / 100, Lolos Utama.

3...

Vanya Dirgantara, Dirgantara High School, 62 / 100, Cadangan.

Lobi utama sekolah yang luas itu mendadak riuh oleh bisik-bisik histeris yang tak terbendung lagi.

"Gila! Skor seratus mutlak? Di ujian pra-olimpiade nasional yang tingkat kesulitannya mengerikan itu?!"

"Bahkan dia berhasil mengalahkan Kaelen Arkananta yang terkenal jenius tak terkalahkan! Kaelen saja salah satu soal!"

"Tunggu, lihat peringkat Vanya... merosot ke urutan tujuh puluh delapan nasional? Nilainya cuma enam puluh dua? Padahal selama ini dia selalu koar-koar paling pintar karena les privat mahal."

"Ternyata anak kandung asli Dirgantara emang beda ya genetiknya. Jenius asli, bukan hasil polesan uang."

Hantaman kalimat-kalimat itu terasa seperti tamparan bertubi-tubi yang menghancurkan harga diri Vanya hingga berkeping-keping. Napasnya mendadak memburu, dadanya naik turun dengan tidak teratur. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin seorang gadis miskin yang tumbuh di lingkungan kumuh pinggiran kota, yang setiap hari bergelut dengan asap dapur kedai soto, bisa menyelesaikan soal olimpiade sains internasional dengan nilai sempurna? Bahkan mengalahkan Kaelen?

"Ini... ini pasti ada kesalahan sistem!" teriak Sherly dengan wajah panik, mencoba membela Vanya yang tampak hampir pingsan.

"Pak Danu! Pak Danu! Ini tidak mungkin! Bagaimana bisa anak baru itu dapat nilai seratus sedangkan dia baru mengumpulkan kertas dalam waktu satu jam?!"

Marta ikut menimpali dengan suara gemetar.

"Betul! Dia pasti mencontek! Atau dia sudah membeli bocoran soal sebelum masuk ke sekolah ini! Kita harus melaporkan ini ke komite sekolah!"

Di tengah kekacauan dan histeria massal itu, sebuah langkah kaki yang santai namun tegas terdengar berirama dari arah koridor barat. Kerumunan siswa secara otomatis terbelah kembali, memberikan jalan dengan rasa hormat yang mendalam.

Haena berjalan perlahan memasuki lobi utama. Tas ransel hitamnya tersampir santai di salah satu bahunya. Penampilannya masih tetap sama seperti pagi tadi—polos, tanpa perhiasan, memakai kacamata transparan, dan tahi lalat kecil di bawah dagunya tampak bergoyang halus mengikuti gerak bibirnya saat dia mengunyah sebutir permen min.

Mental bajanya membuat dia menanggapi kehebohan di lobi ini dengan ekspresi yang luar biasa datar, seolah peringkat satu nasional itu tidak lebih berharga daripada selembar kertas pembungkus makanan.

Tepat di belakang Haena, berjalan sosok Kaelen Arkananta dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana. Penguasa sekolah yang terkenal dingin dan tak tersentuh itu kini berjalan dalam jarak yang sangat dekat dengan Haena, seolah bertindak sebagai perisai pelindung pribadi yang siap menghancurkan siapa saja yang berani menghalangi jalan gadis itu.

Vanya yang melihat kedatangan Haena langsung membalikkan tubuhnya. Dengan mata yang memerah karena amarah dan air mata frustrasi yang mengalir merusak riasannya, dia menunjuk wajah Haena dengan jari yang bergetar hebat.

"Haena! Katakan padaku, taktik kotor apa yang kamu gunakan untuk memanipulasi nilai ini?!" pekik Vanya, kehilangan seluruh tata krama kelas atasnya.

"Kamu tidak mungkin bisa menjawab soal-soal itu! Kamu sengaja ingin mempermalukanku di depan semua orang, kan?! Kamu membayar siapa untuk mendapatkan kunci jawaban?!"

Haena menghentikan langkah kakinya tepat tiga langkah di depan Vanya. Dia membetulkan letak kacamatanya dengan gerakan tangan yang sangat tenang, lalu menatap Vanya dengan tatapan mata yang dingin, tajam, dan penuh dengan dominasi intelektual.

"Membayar seseorang, Vanya?" tanya Haena, nada suaranya yang jernih terdengar sangat meremehkan.

"Kurasa otakmu yang hanya bernilai enam puluh dua itu lupa satu fakta penting. Ujian ini dikirim langsung dengan pengawasan enkripsi digital dari kementerian dalam bentuk kertas fisik bersandi rilis instan. Bahkan kepala sekolah pun baru memegang fisiknya lima menit sebelum bel berbunyi. Jika aku punya kemampuan untuk meretas sistem pertahanan siber kementerian hanya demi ujian sekolah... kurasa aku tidak akan sudi membuang waktuku untuk mengobrol denganmu di sini."

"Kamu...!" Vanya kehabisan kata-kata, wajahnya kian memucat karena penjelasan logis Haena langsung mematahkan tuduhannya di depan ratusan siswa yang menonton.

"Dan satu hal lagi," lanjut Haena, melangkah satu langkah lebih dekat hingga auranya yang kuat mengintimidasi Vanya secara fisik.

"Jika kemampuan belajarmu yang didukung oleh fasilitas triliunan rupiah dan les privat guru besar hanya mampu menghasilkan nilai enam puluh dua... maka saranku, sebaiknya kamu berhenti menangis dan mulailah menggunakan waktumu untuk belajar lebih keras. Berhenti mengukur kapasitas otak jenius orang lain dengan standar otakmu yang terbatas."

Skakmat.

Terdengar helaan napas kagum dan tawa tertahan dari para siswa di sekitar lobi. Kalimat taktis dan tajam dari Haena benar-benar meruntuhkan kesombongan Vanya hingga ke dasar paling dalam.

Kaelen yang berdiri di samping Haena menyilangkan kedua dadanya, lalu melirik ke arah Vanya dengan tatapan mata yang sedingin es—tatapan yang seketika membuat nyali Vanya menciut ketakutan.

"Dan jika aku mendengar ada lagi rumor tidak berdasar atau tuduhan mencontek yang keluar dari mulutmu atau kelompokmu tentang Haena..." ucap Kaelen, suaranya yang berat beraura mengancam yang sangat nyata.

"...aku sendiri yang akan memastikan Arkananta Group menarik seluruh investasi dari perusahaan keluarga besarmu sebelum matahari terbenam besok."

Ancaman dari Kaelen adalah sebuah vonis mati sosial dan finansial. Vanya langsung membekap mulutnya sendiri, air matanya kian deras mengalir bukan lagi karena marah, melainkan karena rasa takut yang teramat sangat. Dia tahu Kaelen tidak pernah bermain-main dengan ucapannya.

Tanpa memedulikan Vanya yang kini terduduk lemas di lantai lobi sambil menangis sesenggukan dibantu oleh Sherly dan Marta, Haena kembali melangkah maju, berjalan melewati mereka menuju pintu keluar sekolah karena jam pelajaran telah usai. Kaelen berjalan beriringan di sampingnya, menjaga jarak yang protektif.

"Nilai seratus yang sempurna, Haena. Kamu benar-benar membuat kejutan besar hari ini," ucap Kaelen dengan suara rendah yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua saat mereka berjalan di area parkir.

Haena menoleh sedikit, menatap Kaelen dari balik kacamatanya dengan senyum tipis yang penuh misteri.

"Ini belum ada apa-apanya, Kaelen. Ini baru pemanasan untuk menunjukkan kepada mereka siapa pemilik darah Dirgantara yang sesungguhnya. Pertunjukan yang sebenarnya... baru akan dimulai saat aku menginjakkan kaki di kantor pusat Dirgantara Corp nanti."

Kaelen terkekeh rendah, matanya berkilat penuh rasa kagum yang kian mendalam.

"Kalau begitu, aku akan memastikan diriku selalu berada di barisan paling depan untuk menonton bagaimana caramu menaklukkan dunia ini, Putri Haena."

(Cliffhanger)

"Sore itu, berita tentang nilai sempurna Haena yang mengalahkan Kaelen di tingkat nasional telah sampai ke telinga Tuan Bramasta. Pria itu begitu bangga hingga langsung mengumumkan akan menggelar sebuah pesta perjamuan mewah berskala besar minggu depan untuk memperkenalkan Haena secara resmi sebagai pewaris tunggal sah Keluarga Dirgantara ke hadapan seluruh kalangan konglomerat. Mendengar hal itu, Nyonya Rosalind dan Vanya mulai menyusun sebuah rencana sabotase yang jauh lebih kejam untuk menghancurkan fisik dan mental Haena tepat di malam pesta tersebut."

1
Osie
rosalind mak kandung harga bukan yaa?? kok malah jd musuh anak sendiri
Haena_Llulia: kamu tau kan maknya gimana😔
total 1 replies
Osie
ini hana apa udah gak sekolah ya..kok mainnya diperusahaan terus
Haena_Llulia: iya, kayaknya gitu deh. ini jg pasti krn masalah yg muncul
total 1 replies
Osie
eh nyonya rosalind ente emak kandung haena kan??? kok kayak mak tiri ya yg takut kehilangan harta warisan
Haena_Llulia: iya aku juga jadi ngedek dehhh sama dia😡
total 1 replies
Osie
mampir akuh nya..msh nyimak dan moga MC nya sosok tangguh. benar benar tangguh n smart
Haena_Llulia: Terimakasih banyak, aminnnn🙏🤗
total 1 replies
Alia Chans
"Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak bebkuhhhh😳🙏❤
total 1 replies
Alia Chans
mampir thor✍️👈
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🙏
total 1 replies
Siru06
mampir thor👍
Haena_Llulia: Terimakasih banyak🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!