Veliora tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah ibunya menikah dengan pria paling berbahaya di dunia elite Jakarta.
Kaelric Vorn.
Pria dingin yang dikenal sebagai penguasa bisnis internasional itu memiliki segalanya, kekuasaan, uang, dan dunia gelap yang tidak tersentuh orang biasa.
Namun di balik mansion mewah, tatapan tajam, dan nama besarnya…
Kaelric menyimpan sesuatu yang jauh lebih menakutkan.
Seekor black panther betina bernama Nyx.
Dan anehnya, binatang liar itu memilih Veliora.
Awalnya Veliora hanya ingin bertahan hidup di dunia baru yang terasa asing baginya.
Namun semakin lama dia berada di sisi Kaelric…
semakin dia menyadari bahwa pria itu bukan sekadar ayah tirinya.
Kaelric terlalu protektif.
Terlalu dominan.
Dan perlahan mulai memperlakukannya seperti sesuatu yang tidak ingin dia lepaskan.
Di tengah dunia elite penuh rahasia, pengkhianatan, dan kekuasaan…
Veliora terjebak di antara rasa cinta terhadap Ayah Tirinya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wandhansari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 : Retakan Pertama
Ruangan itu sunyi. Terlalu sunyi untuk ukuran kantor yang biasanya dipenuhi suara diskusi dan ketukan keyboard.
Namun pagi itu, suasana terasa berbeda. Di balik meja kerjanya, Bismantaka duduk dengan posisi tegak.
Tatapannya tertuju pada layar di depannya.
Angka-angka bergerak. Naik lalu turun. Bahkan turun lalu naik. Naik kembali lalu turun. Pergerakan angka saham menjadi tidak stabil.
Ia tidak terlihat panik. Tidak juga marah. Justru kelihatan terlalu tenang.
Jari-jarinya mengetuk meja pelan.Teratur dan seolah mengikuti irama yang hanya ia pahami sendiri.
“Sudah mulai, Tuan.”
Suara dari seberang meja memecah keheningan.
Seorang pria berdiri dengan map di tangannya. Ekspresinya terlihat serius.
“Pergerakan saham menunjukkan pola yang kita rancang. Tidak mencolok tapi cukup untuk menarik perhatian.”
Bismantaka tidak langsung menanggapi.
Tatapannya masih pada layar.
“Bagus.”
Satu kata dan datar. Ia bersandar sedikit.
“Jangan terlalu cepat.”
Nada suaranya rendah.
“Hancurkan mereka dengan pelan-pelan.”
Sementara di tempat lain di kantor pusat Adiwinata Corporation mulai menunjukkan tanda-tanda yang tidak biasa.
Tidak ada kekacauan. Tidak ada juga kepanikan. Namun sesuatu yang besar telah berubah.
“Pak, perhatikan!. Angka ini tidak sinkron.”
Seorang staf menunjuk ke layar di hadapannya. Alisnya nampak berkerut.
“Pergerakan saham kita seperti ditarik dari dua arah.”
Di sisi lain ruangan, beberapa staf mulai saling bertukar pandang. Bukannya takut. Tapi, menjadi lebih waspada.
Di ruang kerja utama, Ravian Kestler berdiri di dekat jendela. Tangannya terlipat di depan dada. Tatapannya jauh.
Laporan di meja belum ia sentuh lagi. Ia sudah membacanya berulangkali. Dan satu hal langsung ia pahami ini bukan suatu kebetulan.
“Siapa yang bermain?”
Dia memegang dagunya sambil memandang kearah luar jendela kaca di depannya.
Pertanyaan itu tidak ia ucapkan keras. Lebih seperti gumaman. Namun jawabannya sudah mulai terbentuk di pikirannya.
Ravian menoleh ke arah asistennya.
“Kumpulkan semua data transaksi dua hari terakhir.”
Nada suaranya tegas.
“Terutama yang tidak biasa.”
Asisten itu mengangguk cepat.
“Baik, Pak.”
Namun bahkan tanpa data lengkap, Ravian sudah tahu satu hal. Seseorang sedang menguji batas kemampuannya sebagai CEO disitu. Dalam hatinya dia hanya tersenyum.
Di tempat yang berbeda, Bismantaka berdiri di dekat jendela kantornya. Tangannya dimasukkan ke saku. Tatapannya mengarah ke luar. Sikapnya tenang bahkan terlalu tenang.
“Ini baru permulaan, Ravian,” gumamnya pelan. Senyum tipis muncul di wajahnya. Bukan senyum bahagia, tetapi lebih seperti kepuasan.
“Biarkan saja mereka berpikir ini hanya gangguan kecil.”
Ia berbalik perlahan.
“Semakin lama mereka sadar
semakin mudah semuanya runtuh.”
Langkahnya berhenti di depan meja.
Jarinya menyentuh permukaan kayu dengan pelan. Satu ketukan. Dua ketukan.
“Mulai dari kepercayaan dahulu” lanjutnya.
“Kalau itu runtuh maka yang lain akan mengikuti.”
Bismantaka meminum segelas wine perlahan, sambil menatap jendela.
Kembali ke Adiwinata Corporation, suasana masih terkendali. Namun ritmenya telah berubah. Menjadi lebih cepat dan lebih tegang.
Beberapa keputusan kecil mulai dipertanyakan. Beberapa angka tidak lagi terasa pasti.
Dan untuk pertama kalinya sejak pergantian kepemimpinannya, keraguan mulai muncul. Sulutan kecil yang diciptakan Bismantaka perlahan menimpa percikan.
Ravian menatap layar di depannya. Grafik itu menjadi tidak stabil. Namun bukan itu yang ia pikirkan.
“Ini bukan serangan biasa…” Ia menarik napas pelan.
“Ini lebih seperti disengaja.”
Tangannya bergerak, menutup layar. Keputusan pun sudah diambil.
“Kalau kau ingin bermain…”
“Maka aku akan ikut.”
Suara Ravian rendah. Di luar sana
tidak ada yang benar-benar melihat apa yang sedang terjadi. Tidak ada suara ledakan bahkan tidak ada kekacauan.
Namun sesuatu telah dimulai. Sesuatu yang tidak akan berhenti hanya dengan satu langkah.
Dan di balik semuanya, Bismantaka tidak pernah berniat untuk berhenti di sini.
Dia akan menyerang Ravian Kestler. Dan akan membuat Ravian menyerah, mundur dari Adiwinata Corporation.
Kaelric yang mengetahui Ravian sedang dalam kondisi yang membahayakan, dia berkeinginan segera menghubungi Alessandro Vorneti.
Bagi sebagian orang, uang adalah tujuan.
Namun tidak untuk Alessandro Vorneti. Uang bukan motivasinya. Ia tidak pernah kekurangan itu. Dan karena itu ia tidak pernah benar-benar membutuhkannya.
Keheningan di ruang kerja itu terasa lebih berat dari biasanya.
Lampu redup, hanya menyisakan cahaya dari layar yang masih menampilkan grafik pergerakan saham Adiwinata Corporation. Garis-garis itu tidak stabil. Naik turun tanpa pola yang jelas, setidaknya bagi mereka yang tidak benar-benar memahami permainan di baliknya.
Namun bagi Kaelric Vorn semuanya terlalu jelas. Jelas sekali.
Ia berdiri di depan jendela, memandang kota yang masih hidup di bawah sana. Tangannya berada di saku, sikapnya santai bertolak belakang dengan situasi yang sedang terjadi.
“Jadi kau sudah mulai bergerak?”
Gumamannya pelan, hampir tidak terdengar.
Nama itu tidak perlu disebutkan. Karena dia sudah tahu.
Di tempat lain, Ravian Kestler mungkin masih mencoba membaca pola. Mencari titik masuk dan mengumpulkan data. Namun Kaelric tidak membutuhkan itu. Ia tidak membaca akibat, namun ia membaca niat.
Dan niat itu sudah terlihat sejak awal.
Tangannya bergerak mengambil ponsel dari atas meja. Tidak ada keraguan juga tdak ada jeda. Satu nama langsung dipilih. Panggilan telah terhubung cepat.
Di seberang sana seseorang menjawab panggilannya.
“Indonesia ternyata lebih menarik dari yang kukira.”
Suara di seberang terdengar ringan. Lebih santai. Seolah tidak ada yang perlu dipikirkan.
Alessandro Vorneti.
Kaelric tidak tersenyum.
“Kau sudah sampai.”
“Sudah. Dan aku yakin kau tidak menelepon hanya untuk memastikan itu.”
Nada santai. Tapi tajam terdengar dari mulut Alessandro Vorneti di seberang.
Kaelric menatap kembali layar di depannya. Grafik itu bergerak lagi lebih dalam.
“Adiwinata mulai disentuh.”
"Dia sudah berani bergerak sekarang."
Hening sejenak. Bukan karena terkejut melainkan karena memahami.
“Seberapa jauh dia bergerak?” tanya Alessandro.
“Belum dalam,” jawab Kaelric tenang.
“Tapi cukup untuk membuat retakan.”
Langkah Kaelric berbalik dari jendela. Tatapannya kini lebih fokus.
“Ravian akan bertahan,” lanjutnya.
“Namun bukan untuk ini.”
Ia berhenti sejenak. Bukan ragu melainkan memastikan setiap kata tepat.
“Untuk sementara aku tarik saja dia.”
Di seberang, tidak ada respon langsung.
Namun keheningan itu justru menandakan satu hal Alessandro mengerti.
“Dan aku?” tanyanya ringan.
Kaelric tidak menjawab dengan panjang.
Hanya satu kalimat.
“Ambil alih.”
Terkesan sederhana namun cukup untuk menjelaskan segalanya.
“Menarik sekali,” gumam Alessandro pelan.
Nada suaranya berubah sedikit. Lebih dalam.
Bukan karena terkejut melainkan karena tertarik.
“Berapa lama aku harus disana?”
“Tidak lama,” jawab Kaelric.
“Cukup sampai semuanya kembali stabil.”
"Kemudian, Ravian Kestler kembali kesana lagi."
Tidak ada penjelasan lebih jauh. Tidak perlu.
Keduanya berada di level yang sama cukup dengan sedikit kata.
Panggilan terputus tanpa basa-basi. Kaelric menurunkan ponselnya perlahan. Tatapannya kembali pada layar.
“Permainan kecil…”
Gumamannya tipis.
“Jangan terlalu percaya diri.”
Ia tidak terlihat marah. Tidak juga terganggu.
Justru sebaliknya terlalu tenang. Karena baginya, ini bukan ancaman.
Hanya sedikit gangguan yang perlu dirapikan.
Sementara itu di tempat lain, seseorang mungkin sedang tersenyum puas, merasa langkahnya berjalan sempurna.
Namun yang tidak disadari dia baru saja menyentuh sesuatu yang seharusnya tidak dia ganggu.
Retakan kecil yang dia ciptakan sendiri. Dan retakan itu bukan hanya milik satu pihak.