Di tengah dinginnya kota New York, pernikahan megah Adiba Abbey dan Raynazh Leon Osborn hancur berantakan dalam waktu semalam.
Di dalam kamar griya tawang keluarga Osborn yang remang dan mabuk oleh atmosfer perayaan, sebuah kesalahan fatal terjadi.
Adiba menyerahkan segalanya kepada pria yang dia kira adalah sang suami yang baru saja mengikat janji suci bersamanya di altar.
Namun, tepat di detik-detik pelepasan yang intim, sebuah suara asing yang bergetar hebat meloloskan nama Adiba.
Kesadaran menghantamnya bak badai es; pria yang baru saja menidurinya bukanlah Raynazh, melainkan sang adik ipar, Louis Enver Osborn.
Pengkhianatan tak sengaja yang dipicu oleh kegelapan dan alkohol ini meruntuhkan dinding pernikahan mereka, menyeret Louis dan Adiba ke dalam jurang penyesalan, dendam, dan rahasia kelam yang mengancam kehancuran total dinasti Osborn.
_🌷_
Happy reading 🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
Malam di sudut kota New York yang lain tidak pernah tersentuh oleh bisingnya pelabuhan Brooklyn maupun kemegahan menara Manhattan.
Di sebuah griya bergaya Gotik modern yang berdiri kokoh di puncak tebing terisolasi di pinggiran New York, keheningan meraja bak sebuah kuil pemujaan yang sunyi.
Seorang pria berdiri tegak menghadap jendela kaca besar berkubah tinggi.
Di tangan kanannya, sepasang jemari berbalut cincin perak kuno mencengkeram sebuah gelas kristal berisi single malt whisky berwarnakan amber pekat.
Es batu di dalam gelas itu berdenting pelan, memecah kesunyian ruangan yang hanya diterangi oleh pendar temaram lampu dinding.
Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu memiliki rahang yang tegas, potongan rambut gelap yang rapi, dan sepasang mata sehitam jelaga yang menyimpan kedalaman samudra tanpa dasar.
Aura di sekelilingnya begitu pekat, sarat akan otoritas yang tenang namun absolut. Pria itu tampak mendengarkan dengan saksama semua kata yang keluar dari bibir Clark, asisten pribadinya yang berdiri membungkuk penuh hormat beberapa langkah di belakangnya.
"Dia sudah bercerai, Tuan," ucap Clark, suaranya rendah, melaporkan dinamika terbaru dari konflik dinasti Osborn dan klan Abbey.
"Dan obsesinya pada Louis Osborn telah mati malam itu juga. Kini, perasaan itu telah bermutasi menjadi kebencian yang nyata. Anda tidak perlu lagi menahan diri sekarang. Sudah cukup Anda mengawasi dan mengamatinya dari jauh selama sepuluh tahun ini."
Mendengar laporan itu, sudut bibir pria berusia dua puluh sembilan tahun itu perlahan terangkat.
Sebuah senyuman misterius, sarat akan kepuasan yang teramat pekat, terukir di wajah tampannya. Kebencian Adiba pada Louis adalah skenario terindah yang telah dia tunggu-tunggu selama satu dekade penuh.
Dia memutar gelas whisky-nya perlahan, lalu bertanya dengan nada suara bariton yang teramat tenang namun mengintimidasi,
"Bagaimana kondisinya?"
Clark menundukkan kepalanya lebih dalam. "Bayi Anda aman, Tuan. Dan semuanya berjalan dengan sangat lancar. Nyonya Adiba tidak akan pernah mengira bahwa janin itu adalah bayi Anda. Kami sudah mengatur segalanya dengan rapi agar rekam medis memalsukan usia kehamilan itu, membuatnya tampak baru berusia tiga minggu."
Mendengar konfirmasi tersebut, pria itu membawa gelasnya ke bibir, menyesap whisky hangat itu dalam sekali tegak.
Sensasi membakar di tenggorokannya berpadu sempurna dengan kepuasan batin yang membuncah di dalam dadanya.
Ya, inilah kebenaran jahanam yang sesungguhnya. Kebenaran yang terkubur jauh di bawah konspirasi berdarah dinasti Osborn dan keangkuhan klan Abbey.
Pria itu bernama Giorgio Chiellini. Sosok bayangan yang memiliki tingkat obsesi yang sama persis—bahkan jauh lebih gelap dan metodis—dengan obsesi gila yang selama ini dimiliki Adiba Abbey kepada Louis Osborn.
Giorgio telah mencintai Adiba sejak mereka masih remaja. Dia adalah pria yang tahu setiap jengkal napas Adiba, setiap rahasia terkecilnya, dan bagaimana gadis itu mengunci jiwanya untuk memuja berandal Queens bernama Louis Osborn sejak sepuluh tahun lalu.
Namun, berbeda dengan Adiba yang mengejar cintanya secara ugal-ugalan dan penuh emosi, Giorgio Chiellini adalah seorang arsitek takdir yang teramat sabar.
Dia memilih berada di balik layar. Selama bertahun-tahun, dengan kekuasaan raksasa klan Chiellini di Eropa, dia membiarkan gadisnya mengejar cinta ilusinya.
Dia mengamati, mendukung dari kegelapan, dan melihat sampai sejauh mana cinta gila itu akan membawa wanitanya melangkah.
Hingga akhirnya, kabar tentang rencana pernikahan bisnis antara Adiba Abbey dan Raynazh Osborn meledak Beberapa bulan lalu.
Tepat dua minggu sebelum hari pernikahan itu dilangsungkan di Manhattan, Giorgio memutuskan bahwa waktu mengamati dari jauh telah selesai.
Dia tidak akan membiarkan wanitanya disentuh oleh pria Osborn mana pun. Dengan kekuasaan, jaringan medis internasional, dan kekayaan tak terbatas yang dia miliki, Giorgio telah mengatur sebuah konspirasi yang teramat rapi.
Saat Adiba diwajibkan menjalani kedok pemeriksaan kesehatan berkala di rumah sakit—Giorgio melakukan hal yang melanggar hukum dan batasan moral demi egonya.
Memanfaatkan kondisi Adiba yang berada di bawah pengaruh obat penenang dosis tinggi, Giorgio melakukan prosedur inseminasi buatan pada rahim Adiba, menyuntikkan benih miliknya sendiri ke dalam tubuh wanita itu tanpa pernah disadari oleh Adiba Sendiri.
Dua minggu sebelum Adiba menikah dengan Raynazh, rahim wanita itu sebenarnya sudah mengandung kehidupan baru. Benih murni seorang Chiellini.
Giorgio tersenyum lebar saat mengingat bagaimana dia mendapatkan laporan pemeriksaan laboratorium beberapa minggu yang lalu.
Prosedur ilegal itu berhasil dengan sangat sempurna. Adiba telah positif hamil, mengandung benih miliknya.
Dan kehamilan berusia "tiga minggu" yang memicu kepanikan Louis di Brooklyn serta laporan seorang mata-mata tempo hari?
Itu hanyalah rekayasa rumah sakit yang berada di bawah kendali mutlak klan Chiellini.
Mereka memalsukan dokumen medis digital tersebut, sengaja mengaturnya agar garis waktu kehamilan itu bertepatan persis dengan malam penuh dosa saat Louis menyentuh Adiba di Malam pertama Pernikahan nya.
Skenarionya bekerja dengan kejam. Louis mengira janin itu adalah darah dagingnya yang dia kutuk sendiri, sementara Adiba mengira dia sedang membawa anak dari pria yang ia puja, yang kini berubah menjadi pusat dendamnya.
Padahal, baik Louis maupun Adiba, keduanya hanyalah bidak catur yang bergerak di atas papan yang dirancang oleh Giorgio Chiellini.
"Tuan," Clark kembali bersuara setelah keheningan panjang, "Nyonya Adiba saat ini berada di rumah aman klan Abbey di Long Island. Dia telah bersumpah di depan George Abbey untuk menghapus namanya dari kehidupan Louis Osborn dan bersiap memimpin perang bisnis untuk menghancurkan pelabuhan Brooklyn. Apakah kita akan membiarkannya bergerak sendiri?"
Giorgio meletakkan gelas kristalnya yang telah kosong di atas meja kayu jati kuno. Dia berjalan perlahan mendekati sebuah lukisan potret Adiba berukuran raksasa yang tergantung di dinding ruang kerjanya—sebuah lukisan saat Adiba dengan seragam High School-nya.
Jemari panjang Giorgio bergerak, mengusap permukaan kanvas yang melukiskan wajah cantik Adiba yang sedang tersenyum tanpa beban.
"Biarkan dia bermain, Clark," bisik Giorgio, suaranya terdengar begitu lembut, namun sarat akan obsesi yang protektif. "Biarkan Adiba-ku meluapkan seluruh kemarahannya pada keluarga Osborn. Biarkan dia menggunakan seluruh kekuatan klan Abbey untuk meruntuhkan takhta Louis Enver Osborn hingga menjadi abu."
Giorgio berbalik, menatap asistennya dengan sepasang mata sehitam jelaga yang berkilat kejam. "Louis telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya dengan berani menghina wanitaku dan melontarkan kata 'menjijikkan' pada anakku yang berada di rahim Adiba. Pria berandal itu pantas membusuk di dalam neraka penyesalan yang semu. Dia akan mengejar bayang-bayang kosong di Swiss, mengira dia telah membuang darah dagingnya, tanpa pernah tahu bahwa dia tidak pernah memiliki hak setetes pun atas anak itu."
Giorgio berjalan menuju kursinya, mendudukkan tubuh tegapnya dengan keanggunan seorang raja yang mengendalikan kerajaan dari balik tirai hitam.
"Awasi rumah aman di Long Island dengan ketat," perintah Giorgio lagi. "Pastikan semua asupan gizi, tim medis, dan perlindungan di sekitar Adiba tidak luput dari perhatian kita. Dan saat waktunya tiba... saat emosinya telah sepenuhnya stabil setelah menghancurkan dinasti Osborn... aku sendiri yang akan melangkah keluar untuk menjemput wanita ku dan anakku pulang."
"Baik, Tuan Giorgio. Segalanya akan dilaksanakan sesuai perintah Anda," ucap Clark sebelum membungkuk hormat dan melangkah mundur, keluar dari ruangan kerja dengan perlahan.
Di dalam kesunyian malam di tebing New York, Giorgio Chiellini kembali menatap lukisan wajah Adiba.
Retakan takdir di antara Louis, Adiba, dan Raynazh kini bukan lagi sekadar konflik keluarga Osborn, melainkan sebuah labirin manipulasi tingkat tinggi yang dikendalikan oleh pria berusia dua puluh sembilan tahun yang cintanya jauh lebih mengerikan daripada kematian itu sendiri.
Penyesalan Louis di Brooklyn baru saja dimulai, dan dia tidak akan pernah tahu bahwa dia sedang menangisi sebuah kebohongan yang paling agung.
...****************...
Happy reading 🌷 Jangan sampai ketukar nama Giorgio sama Papi George ya Reader 🤭😅