NovelToon NovelToon
Kisah Arkan Dan Nara

Kisah Arkan Dan Nara

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Rani Febrianti

Sinopsis:

Arkan Dirgantara, CEO dingin dan angkuh, terpaksa menikahi Nara—gadis sederhana yang dijodohkan—hanya demi memenuhi permintaan keluarga dan menyelamatkan bisnis. Pernikahan ini hanyalah perjanjian dua tahun tanpa cinta, karena hati Arkan sudah lama tertutup dan milik wanita lain di masa lalu.

Di bawah satu atap, mereka berdua berjuang dengan perasaan masing-masing. Nara yang sabar dan tulus perlahan meruntuhkan tembok tinggi di hati Arkan, sementara Arkan berusaha menepis rasa nyaman yang tumbuh, merasa bersalah pada kenangannya. Saat wanita masa lalu itu kembali hadir, ujian terbesar pun datang: akankah Arkan tetap pada janji setianya pada kenangan, atau ia sadar bahwa Nara-lah kenyataan yang selama ini ia cari? Sebuah kisah tentang pernikahan terpaksa, luka masa lalu, dan cinta yang tumbuh perlahan di antara dua dunia yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Febrianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4: Salah Sangka yang Menyesakkan

Pagi itu, sinar matahari masuk lebih cerah dari biasanya, seolah ikut merayakan perubahan kecil yang terjadi semalam. Setelah kejadian di mana Arkan terbuka soal masa lalunya, suasana di rumah itu tak lagi sedingin es. Meskipun tak ada kata maaf yang terucap secara langsung, sikap Arkan sedikit berubah. Ia tak lagi menatap Nara dengan pandangan penuh penghakiman, melainkan pandangan kosong yang perlahan mulai terisi rasa lelah dan pengertian.

Nara turun ke ruang makan dengan pakaian sederhana seperti biasa. Ia berniat membantu Bu Inah menyiapkan sarapan, namun langkahnya terhenti saat melihat Arkan sudah duduk di sana. Pagi ini, Arkan tak sibuk dengan tablet atau berita seperti biasanya. Ia hanya diam memutar-mutar sendok di cangkir kopinya, pikirannya tampak melayang ke mana-mana.

"Selamat pagi," sapa Arkan lebih dulu, suaranya rendah namun tak lagi tajam.

Nara sedikit terkejut, tapi segera membalas dengan senyum tipis. "Selamat pagi, Mas."

Ia duduk di ujung meja yang agak jauh, menjaga jarak seperti biasa. Meski hati Nara kini lebih mengerti, ia sadar diri. Ia hanya istri kontrak, pendamping sementara yang keberadaannya hanya pengisi kekosongan. Ia tak boleh berharap lebih.

"Semalam... maafkan aku kalau bicara terlalu banyak dan bikin tidak nyaman," ucap Arkan tiba-tiba, matanya menatap lurus ke arah Nara. "Aku biasanya tidak begitu. Alkohol memang pembuka rahasia paling jujur."

Nara menggeleng pelan. "Tidak apa-apa, Mas. Justru aku berterima kasih. Setidaknya sekarang aku tahu apa yang ada di pikiran Mas. Aku jadi lebih paham posisiku dan posisi wanita bernama Kirana itu. Aku janji, aku tidak akan pernah mengganggu kenangan itu."

Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Nara, jujur dan tulus. Tapi bagi Arkan, kata-kata itu terasa tajam. Ada rasa sesak yang aneh mendadak menyerang dadanya. Mendengar Nara bicara seolah ia sama sekali tak berarti di hidup Arkan, seolah gadis itu siap kapan saja mundur dan menyerahkan segalanya pada Kirana... entah kenapa justru membuat Arkan kesal.

Kenapa dia sebegitu pasrahnya? batin Arkan menggerutu. Bukankah seharusnya dia cemburu? Bukankah seharusnya dia marah atau menuntut posisinya sebagai istri sah?

Namun Arkan tak mengeluarkan keluh kesah itu. Ia hanya mendengus pelan, lalu bangkit berdiri. "Aku berangkat ke kantor dulu. Ada rapat penting pagi ini. Kau di rumah saja, jangan ke mana-mana."

"Baik, Mas. Hati-hati," jawab Nara lembut.

Setelah mobil hitam itu menghilang di balik gerbang, Nara membantu Bu Inah membereskan meja makan. Waktunya kini banyak ia habiskan di dapur atau di kebun belakang, hal-hal sederhana yang membuatnya merasa berguna. Hari itu, ia berniat membuat kue kesukaan Ibu Arkan yang akan berkunjung sore nanti. Ia ingin menunjukkan bahwa meski dijodohkan, ia berusaha menjadi menantu yang baik.

Siang berganti sore. Nara sedang asyik merapikan bunga di taman depan saat sebuah mobil mewah berwarna putih berhenti tepat di halaman rumah. Seorang wanita muda, cantik, berpenampilan sangat modis dan berwibawa turun dari mobil. Rambutnya bergelombang indah, wajahnya dipoles riasan rapi, dan auranya begitu percaya diri—berbeda jauh dengan Nara yang polos dan sederhana.

Itu adalah Rania, teman dekat sekaligus rekan bisnis Arkan sejak kuliah dulu. Wanita yang sering dikabarkan media sebagai calon istri yang paling cocok untuk Arkan, sebelum pernikahan kontrak ini terjadi.

Rania berjalan masuk tanpa menunggu dipersilakan. Ia menatap sekeliling dengan pandangan menilai, lalu berhenti tepat di hadapan Nara yang sedang memegang gunting bunga dan baju yang sedikit kotor terkena tanah.

"Jadi kau ini Nara?" suara Rania terdengar manis namun ada nada meremehkan yang jelas. "Kau... jauh lebih sederhana dari bayanganku. Bahkan terlihat seperti pembantu di sini, bukan nyonya rumah."

Nara menegakkan tubuh, menyeka tangannya ke kain pel yang ada di saku celemek. Ia tersenyum sopan, meski merasa kecil di hadapan wanita itu. "Iya, benar saya Nara. Selamat sore, Bu...?"

"Panggil saja Rania. Aku teman dekat Arkan. Kami sudah bersama sejak lama, saling mengerti, saling membantu... hampir tak terpisahkan," Rania bicara dengan nada sengaja menekankan kata-kata itu, matanya menatap tajam ke arah Nara, ingin melihat reaksi gadis itu.

Nara tetap tenang. "Selamat datang, Mbak Rania. Mas Arkan belum pulang dari kantor. Silakan masuk dulu, saya buatkan minum."

Rania mendengus kecil, lalu berjalan melewati Nara seolah gadis itu tak lebih dari pelayan biasa. Ia masuk ke ruang tamu, duduk di sofa utama dengan santai dan menyilangkan kakinya yang jenjang.

"Aku dengar pernikahan ini hanya perjodohan dan kontrak, ya? Dua tahun saja, kan?" tanya Rania santai sambil memainkan ponselnya. "Kasihan sekali kamu. Harus mengorbankan hidupmu untuk menyelamatkan bisnis ayahmu. Tapi lebih kasihan lagi Arkan. Dia terpaksa terikat dengan orang yang bukan siapa-siapanya, yang tidak selevel dengannya."

Nara berhenti melangkah sejenak, genggamannya erat pada nampan minuman yang baru saja ia ambil dari Bu Inah. Kata-kata itu menyakitkan, tapi ia tak boleh marah. Ia tahu dirinya memang berasal dari keluarga biasa.

"Saya tahu posisi saya, Mbak. Saya tidak menuntut apa pun," jawab Nara pelan, meletakkan minuman di meja.

"Baguslah kalau begitu. Ingat saja batasanmu," Rania menatap Nara tajam. "Arkan itu bukan sembarang orang. Dia butuh wanita yang setara, yang mengerti dunianya, yang bisa bersamanya di mana saja. Wanita itu bukan kamu. Dan kalau kamu pintar, jangan sampai jatuh hati padanya. Karena hati Arkan itu... sudah lama dimiliki orang lain. Kau cuma pengisi kekosongan, Nak."

Kalimat terakhir itu menusuk tepat di ulu hati Nara. Padahal ia sudah berjanji tak akan berharap, tapi mendengarnya diucapkan oleh orang lain dengan nada merendahkan, rasanya tetap sakit sekali.

Belum sempat Nara menjawab, suara mobil terdengar masuk kembali ke halaman. Arkan pulang.

Pintu kaca terbuka, dan Arkan masuk dengan langkah tegap. Wajahnya yang awalnya lelah seketika berubah cerah saat melihat Rania duduk di sana. Senyum lebar—senyum tulus yang belum pernah Nara lihat sebelumnya—terukir jelas di bibir Arkan.

"Rania? Kapan kau pulang? Aku kira kau masih di luar kota," sapa Arkan antusias. Ia langsung berjalan mendekat, menyalami wanita itu dengan akrab, bahkan menepuk bahu dan punggung Rania seolah mereka adalah sepasang kekasih.

Nara berdiri diam di pojokan, mematung. Pemandangan di depannya begitu kontras. Arkan yang dingin dan kaku padanya, kini terlihat begitu santai, ramah, dan gembira bersama wanita lain.

"Baru sampai siang tadi, Kak. Kebetulan aku lewat sini, sekadar mau melihat siapa wanita yang berani mengikat Arkan Dirgantara," jawab Rania sambil tertawa renyah, matanya melirik sinis ke arah Nara.

Arkan menoleh ke arah Nara sekilas, lalu kembali menatap Rania dengan santai. "Ah, dia Nara. Istri kontrakku. Kau sudah tahu ceritanya. Dia baik, penurut, tapi ya begitulah... sederhana sekali. Beda jauh sama kau yang cerdas dan berkelas."

Dua kalimat itu. Dua kalimat itu menghancurkan hati Nara dalam sekejap.

Arkan mengucapkannya begitu saja, enteng, seolah Nara bukan manusia yang punya perasaan, seolah keberadaan Nara tak ada harganya sama sekali di matanya. Padahal semalam, saat Arkan mabuk, ia menangis dan curhat panjang lebar padanya. Padahal pagi tadi, Arkan bicara lebih lembut. Tapi sekarang, di depan wanita lain, Arkan merendahkannya begitu saja.

Rania tertawa puas, menatap Nara dengan pandangan kemenangan. "Kan aku bilang. Dia cocoknya cuma jadi pelayan di sini, bukan jadi nyonya besar."

Arkan tertawa ikut, tidak membela Nara sedikit pun. "Ya sudahlah, dia menjalankan tugasnya saja sudah cukup. Sudah, ayo kita ke ruang kerja, ada rencana bisnis yang mau kudiskusikan sama kau. Lebih enak ngobrol sama orang yang sepaham."

Arkan berjalan melewati Nara begitu saja, bahkan tak menatap wajah istrinya itu. Ia dan Rania masuk ke ruang kerja Arkan, lalu pintu ditutup rapat, mengunci mereka berdua di dalam.

Hening. Sunyi. Dan hati Nara terasa hancur lebur.

Air mata yang berusaha ia tahan sedari tadi akhirnya jatuh juga. Nara menutup mulutnya dengan tangan agar tak bersuara. Rasanya ia ingin berlari keluar, pergi sejauh mungkin. Ia merasa begitu bodoh. Semalam ia berpikir ada perubahan, semalam ia berpikir Arkan mulai menganggapnya manusia. Ternyata... semua itu salah sangka belaka.

Di mata Arkan, ia tetaplah gadis miskin yang dijodohkan, istri kontrak yang tidak seberapa, gadis sederhana yang kalah jauh dibandingkan wanita-wanita hebat di sekitar Arkan.

"Kau terlalu berharap, Nara..." bisiknya lirih pada diri sendiri. "Kau lupa? Kau cuma pengganti sementara. Kenapa kau sakit hati kalau dia merendahkanmu di depan orang lain? Itu memang kenyataannya, kan?"

Dengan sisa tenaga yang ada, Nara berjalan pelan menaiki tangga menuju kamarnya. Ia mengunci pintu rapat-rapat, membiarkan tangisnya pecah sepuasnya di sana. Di luar sana, di balik pintu ruang kerja yang tertutup itu, ternyata kenyataannya berbeda jauh dari apa yang terlihat.

Begitu pintu tertutup rapat, senyum di wajah Arkan langsung hilang seketika, berganti dengan wajah dingin dan marah. Ia berbalik menatap Rania dengan tajam, aura mengancamnya kembali muncul.

"Kau kenapa bicara begitu kasar dan menyakitkan padanya, Rania?" tanya Arkan rendah, nada bicaranya tak lagi ramah.

Rania terkejut, mundur selangkah. "Lho? Tadi kan Kak Arkan juga ikut bicara merendahkan dia? Kakak bilang dia sederhana, cuma istri kontrak, tidak selevel..."

Arkan mengusap wajahnya kasar, tampak frustrasi dan kesal. "Aku ngomong begitu supaya kau tidak curiga, supaya kau puas dan berhenti mengganggu dia! Kau kan tahu sifatmu, kalau kau tahu aku peduli sedikit saja sama Nara, kau akan makin jahat dan menyiksanya diam-diam. Aku sengaja merendahkannya di depanmu supaya kau merasa menang dan pergi dari sini. Tapi aku tidak suka, sama sekali tidak suka cara kau menghinanya tadi."

Rania terdiam, matanya membelalak kaget. Ada rasa cemburu yang hebat menyeruak di dadanya. "Kak Arkan... Kakak... Kakak mulai peduli sama dia?"

Arkan diam sejenak, menatap pintu kaca tempat Nara berdiri tadi. Ia tidak tahu kenapa, tapi rasa marah melihat Rania menyakiti Nara jauh lebih besar daripada rasa marah apa pun yang pernah ia rasakan. Dadanya terasa sesak setiap kali terbayang wajah sedih Nara tadi.

"Entahlah... Aku juga bingung," jawab Arkan pelan, penuh keraguan. "Tapi satu hal yang pasti. Dia istriku, walau cuma di atas kertas. Dan meski aku benci mengakuinya... dia orang baik, jauh lebih tulus dan jauh lebih murni dari kalian semua yang berpakaian mewah dan berlagak berkelas. Dan aku tidak suka ada yang menyakitinya, termasuk kau atau diriku sendiri."

Suara tangis samar terdengar dari lantai atas, sampai ke telinga Arkan. Pria itu menatap langit-langit dengan rasa bersalah yang mulai menggerogoti hatinya. Ia pikir dengan merendahkan Nara di depan Rania, ia bisa melindungi gadis itu. Ternyata, ia justru menjadi orang yang paling melukai hati Nara sore ini.

Salah sangka itu menjadi tembok baru yang lebih tinggi dan lebih tebal, memisahkan dua hati yang sebenarnya perlahan saling mendekat. Nara bersedih karena merasa tidak berharga, Arkan bersalah karena terpaksa berpura-pura. Dan keduanya sama-sama tidak tahu isi hati yang sebenarnya sedang bersembunyi di balik kepahitan itu.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!