Adeeva Zamira Arjunka tidak pernah menyangka bahwa sifat pemberontaknya justru menjadi alasan ia terjebak dalam pernikahan militer. Seharusnya, Kak Adiba—kembarannya yang sholehah dan lembut—lah yang bersanding dengan Kapten Shaheer Ali. Namun, sang perwira pasukan khusus itu secara mengejutkan justru menjatuhkan pilihan pada Adeeva, si gadis keras kepala yang terang-terangan membenci dunia militer.
Terpaksa menggantikan posisi kakaknya, Adeeva masuk ke kehidupan Shaheer dengan dendam dan penolakan. Baginya, lencana dan seragam hijau Shaheer adalah simbol pengekangan. Namun, perjalanan takdir adiba ke tanah Mesir dan kehadiran buah hati di balik pagar pinus perlahan mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ikatan di atas kertas
Pagi itu, Masjid Pondok Pesantren Al-Arjun dipenuhi oleh aroma melati yang kuat, namun suasana di dalamnya terasa kaku. Tidak ada pesta besar. Sesuai permintaan Shaheer dan persetujuan Abi, hanya ada akad nikah sederhana yang dihadiri keluarga inti dan beberapa pengurus pondok.
Adeeva duduk di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Ia mengenakan kebaya putih panjang dan kerudung sederhana yang dipasangkan oleh Umi. Wajahnya dipoles riasan tipis, namun matanya tidak bisa menyembunyikan rasa tidak puas. Tidak ada binar bahagia. Baginya, riasan ini terasa seperti topeng.
"Sudah siap, Sayang?" tanya Umi sambil mengelus bahu Adeeva. Tangan Umi gemetar, ada rasa bersalah yang terpancar dari tatapannya.
"Siap tidak siap, acaranya tetap jalan, kan?" jawab Adeeva datar. Ia berdiri tanpa menunggu bantuan Umi, lalu berjalan keluar kamar menuju ruang utama masjid.
Di sana, Shaheer sudah duduk di depan meja akad. Pria itu mengenakan seragam Pakaian Dinas Upacara (PDU) lengkap dengan medali-medali kecil di dadanya. Punggungnya tegak, wajahnya lurus ke depan. Saat Adeeva duduk di sampingnya, Shaheer tidak menoleh, namun Adeeva bisa merasakan aura otoriter yang kuat terpancar dari pria itu.
Abi duduk di hadapan Shaheer sebagai wali. Suaranya terdengar berat saat memulai khutbah nikah singkat. Adeeva hanya menunduk, memainkan kuku jarinya yang tersembunyi di balik kain kebaya. Pikiran gadis itu melayang ke Mesir, membayangkan Adiba yang mungkin saat ini sedang berada di asrama kampusnya, bebas dari beban ini.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Adeeva Zamira Arjunka binti Kyai Arjunka dengan mas kawin tersebut dibayar tunai," ucap Shaheer dalam satu napas. Suaranya mantap, bergema di langit-langit masjid.
"Sah?"
"Sah!"
Seketika itu juga, status Adeeva berubah. Ia bukan lagi sekadar gadis pemberontak dari Al-Arjun. Ia adalah istri dari seorang Kapten Infanteri. Saat diminta mencium tangan suaminya, Adeeva melakukannya dengan sangat cepat dan formal. Tidak ada sentuhan lembut, hanya formalitas yang terasa dingin.
Setelah acara makan siang yang singkat dan canggung, saatnya Adeeva berangkat. Ia hanya membawa dua koper besar. Sebagian besar isinya adalah pakaian santai, jeans, dan peralatan gambarnya. Ia sengaja tidak membawa banyak baju muslimah panjang agar Shaheer tahu bahwa ia tidak akan berubah dalam semalam.
"Ingat pesan Abi, Deeva. Jaga martabat suamimu. Sekarang kamu bukan tanggung jawab Abi lagi," ujar Abi saat Adeeva berpamitan di depan mobil.
Adeeva hanya mengangguk tanpa suara. Ia masuk ke dalam mobil SUV hitam milik Shaheer. Saat mobil mulai bergerak keluar dari gerbang pondok, Adeeva menatap spion, melihat bangunan pesantren yang selama ini ia benci namun kini terasa seperti satu-satunya tempat yang ia kenal.
"Kita akan mampir ke rumah orang tuaku sebentar untuk berpamitan, baru setelah itu ke asrama," ujar Shaheer sambil menyetir.
"Terserah. Aku ikut saja," sahut Adeeva pendek. Ia mengeluarkan ponsel dan mulai memakai earphone, menutup diri dari percakapan apa pun.
Pertemuan di rumah Jenderal Ali jauh lebih buruk dari yang Adeeva bayangkan. Jenderal Ali hanya menyapa sekilas lalu masuk ke ruang kerja. Namun, Fathiyah sudah menunggu di ruang tamu.
Fathiyah menatap Adeeva dari atas ke bawah dengan pandangan menilai. "Selamat datang di keluarga kami, Adeeva. Aku harap kamu sudah belajar aturan dasar menjadi istri perwira. Di asrama nanti, setiap langkahmu akan dipantau."
Adeeva melepas salah satu earphone-nya. "Aku menikah dengan abangmu, bukan dengan seluruh keluargamu. Jadi, simpan saja nasihatmu untuk pasienmu di rumah sakit, Dokter."
Wajah Fathiyah menegang. "Bang Shaheer, lihat? Istrimu bahkan tidak punya tata krama dasar."
Shaheer yang baru saja meletakkan tas di bagasi kembali masuk ke ruangan. Ia berdiri di antara istri dan adiknya. "Fathiyah, cukup. Adeeva lelah karena acara tadi. Kami berangkat sekarang."
"Kamu terlalu memanjakannya, Bang. Itu akan jadi bumerang buatmu," ketus Fathiyah.
Shaheer tidak menanggapi. Ia menarik lengan Adeeva pelan untuk kembali ke mobil. Begitu di dalam mobil, Adeeva langsung meledak. "Lihat? Bahkan belum sampai di asrama pun, adikmu sudah mencoba mengaturku. Kamu yakin mau membawaku ke sana? Aku tidak akan diam saja kalau dia atau teman-temanmu menghinaku."
"Aku tidak memintamu diam, aku memintamu untuk tetap di sampingku. Biar aku yang menghadapi mereka," jawab Shaheer tetap tenang.
Mobil memasuki gerbang asrama militer yang dijaga ketat oleh provost. Setiap prajurit yang lewat memberikan hormat saat melihat mobil Shaheer. Adeeva melihat deretan rumah dinas yang seragam, jalanan yang bersih tanpa sampah, dan suasana yang sangat disiplin. Baginya, ini tampak seperti barak penjara yang sangat rapi.
Shaheer berhenti di depan sebuah rumah tipe medium dengan halaman kecil yang asri. "Ini rumah kita. Mulai hari ini, ini wilayahmu."
Adeeva turun dan masuk ke dalam rumah. Ruang tamunya kecil, hanya ada sofa sederhana dan beberapa foto dinas Shaheer. Namun, saat ia melangkah ke ruang tengah, matanya tertuju pada sebuah sudut di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang.
Di sana ada sebuah meja gambar arsitektur yang baru, satu set cat air profesional, dan rak buku yang masih kosong.
"Itu apa?" tanya Adeeva.
"Aku tahu kamu mau kuliah desain. Anggap saja itu ruang kerjamu. Selama kamu di sini, kamu bisa tetap menggambar," ujar Shaheer sambil meletakkan koper Adeeva di kamar utama.
Adeeva terdiam. Ia ingin marah, ingin memaki Shaheer karena telah menariknya ke dunia ini, tapi melihat meja gambar itu, lidahnya mendadak kelu. Pria ini ternyata memperhatikan detail yang bahkan Abi-nya pun tidak pernah peduli.
"Jangan pikir ini akan membuatku langsung menyukaimu, Kapten," gumam Adeeva, meski suaranya tidak setajam biasanya.
"Aku tidak menyuruhmu menyukaiku. Aku hanya ingin kamu betah," balas Shaheer sambil berlalu ke dapur untuk mengambil air minum.
Adeeva menghela napas, ia duduk di kursi meja gambar itu. Di luar sana, ia mendengar suara terompet senja berkumandang, menandakan pergantian waktu di asrama. Hidup barunya sebagai istri tentara resmi dimulai, dan ia tahu, neraka yang sesungguhnya mungkin baru akan dimulai besok saat ia harus berhadapan dengan ibu-ibu Persit lainnya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...