Brielle Ardelia Noor selalu hidup bak putri kerajaan—dikelilingi keluarga hangat, kakak-kakak jahil, dan Daddy yang selalu memanjakannya.
Sampai suatu malam… hidupnya berubah.
Demi menyelamatkan perusahaan keluarga, Brielle harus menerima perjodohan dengan putra keluarga rival.
Masalahnya?
Calon suaminya adalah cowok dingin, menyebalkan… dan seorang bocah cadel yang paling ingin ia hindari.
Namun, siapa sangka—di balik tutur katanya yang tak sempurna, tersembunyi cinta paling tulus yang belum pernah sebelumnya Brielle temui
•“Katanya dia cadel dan aneh…
Tapi kenapa cuma dia yang mampu bikin Princess Noor jatuh paling dalam?” ✨
•“Dijodohkan demi bisnis? Brielle siap memberontak.
Tapi semuanya berubah saat si bocah cadel itu mulai memanggilnya… ‘istri’.” 💍
" kenapa harus bocah kek lu sih, yang jadi Suami gw~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut
“APA?!”
Brielle sampai berdiri dari kursinya.
Sedangkan Nevran hanya menatap ayahnya datar… walau rahangnya terlihat menegang.
“Pa,” ucapnya pelan. “ini sangat merugikan hidup hajat orang banyak .”
“Dan aku juga gak mau!” sambung Brielle cepat.
Rakael Garendra malah menyeruput minumnya santai.
“Bagus. Berarti ini agar kalian kompak.”
“ITU BUKAN HAL BAGUS!” teriak Brielle frustrasi.
Nevran memijat pelipis.
“Blielle beliisik.”
“Lo juga nyebelin!”
“Lo celwet.”
“Lo cadel!”
“Lo cempring!”
“LO—”
“CUKUP!”
Bentakan Arvenza langsung membuat Brielle diam.
Sedangkan Zayden menunjuk Nevran malas.
“Dan lo. Jangan nyolot sama adik gue.”
Nevran menatap datar.
“Adik lo beliisik.”
“Mulut lo gue staples juga bisa.”
“Coba aja.”
Aura ruang VIP langsung berubah tegang.
Brielle malah sibuk narik lengan Arvenza.
“ Jangan,kasihan si cadel,kan dia masih bocah !”
“Siapa yang bocah hah ?!” bentak Nevran
Hening.
Lalu semua orang memijat pelipis.
“Gue pusing…” gumam Zayden.
“Mom, aku mau pindah keluarga aja,” tambah Arvenza.
Namun pasangan Garendra justru tampak terhibur.
Bahkan mommy Nevran sampai tertawa kecil melihat putranya yang biasanya dingin kini sibuk adu mulut.
“Kalau begitu kita lanjutkan saja,” ucap Rakael tenang.
Tak lama—
Seorang pelayan datang membawa kotak beludru hitam mewah.
Saat dibuka…
Kilauan cincin berlian langsung memenuhi ruangan.
Cantik.
Elegan.
Dan jelas sangat mahal.
Brielle langsung melongo sebentar.
“Wow…”
Namun sedetik kemudian ia sadar.
“Eh gak! Aku belum setuju!”
“Princess,” bisik Freya lembut sambil menggenggam tangannya.
Tatapan mommy-nya membuat Brielle perlahan diam.
Sedangkan di sisi lain…
Nevran tetap datar.
Tak ada ekspresi bahagia.
Tak ada senyum.
Tak ada penolakan besar.
Seolah pria itu benar-benar tak bisa ditebak isi hatinya.
“Pasangkan,” ucap Rakael.
“PA?!”
“SEKARANG?!”
Brielle dan Nevran kembali kompak.
“Berisik,” gumam Arvenza.
“Jodoh emang,” tambah Zayden.
“GAK LUCU!”
Namun akhirnya—
Dengan setengah terpaksa…
Nevran mengambil cincin itu.
Tatapannya turun pada Brielle yang masih manyun.
“Tangannya.”
“Ogah.”
“Blielle.”
“Jangan panggil nama gue kayak lagi kumur!”
Arvenza langsung menutup wajah pakai tangan.
“Ya Tuhan…”
Nevran menghela napas kecil.
“Tangan.”
Brielle mendengus panjang sebelum akhirnya menyodorkan tangan kecilnya kasar.
Dan detik berikutnya—
Cincin itu terpasang sempurna di jari manis Brielle.
Hening.
Entah kenapa…
Suasana tiba-tiba terasa berbeda.
Bahkan Brielle sendiri ikut terdiam beberapa detik saat melihat cincin itu.
Lalu gantian.
Brielle asal memasangkan cincin ke tangan Nevran.
“Udah.”
“Galak.”
“Daripada cadel!”
“Minimal ganteng.”
“Pede banget.”
“Fakta.”
“Najis.”
“Cocok.”
“GAK COCOK!”
Tawa kecil mulai terdengar di meja makan itu.
Meski aneh…
Meski kacau…
Pertunangan itu akhirnya resmi terjadi.
Setelah suasana sedikit tenang, Rakael kembali berbicara.
“Mulai besok,” ucapnya santai. “Nevran akan mengantar dan menjemput Brielle sekolah.”
“GAK MAU!”
Jawaban Brielle begitu cepat.
“Saya punya banyak mobil di rumah, Om,” ucapnya sambil menunjuk diri sendiri. “Malah semua edisi terbaru. Sayang dong kalau dianggurin.”
“Nah,” sambung Zayden santai. “Nanti tinggal kami jual lagi satu buat beli helikopter.”
“Lumayan nambah parkiran,” tambah Arvenza datar.
Brielle langsung mengangguk cepat.
“NAH ITU!”
Namun Rakael tetap tenang.
“Bukan soal mobil.”
“Terus?”
“Kalian tunangan.”
Brielle langsung menunjuk Nevran.
“Dia cadel.”
Nevran membalas datar.
“Dia beliisik.”
“Dia ngeselin!”
“Dia celwet.”
“Dia tukang ngerjain orang!”
“Dia tukang teliak.”
“Dia—”
“Brielle,” tegur Freya.
“…”
Brielle langsung manyun.
Sedangkan Nevran menyender santai di kursinya.
Lalu—
“Tujuh pagi gue jemput.”
Brielle langsung melotot.
“Siapa yang nyuruh lo jemput?!”
Nevran menatap datar.
“Daddy lo.”
“Jangan nurut!”
“Gak bisa.”
“Kenapa?!”
“Takut.”
Hening.
Brielle berkedip.
“Lo bisa takut?”
Nevran menatap ayahnya sebentar.
“…Bisa kan dia camer gw .”ucap nya santai
Untuk pertama kalinya malam itu—
Semua orang tertawa.
bantu support juga yaa😇