"Tapi, aku tidak mencintai Papa," ucap Luna bergetar di depan pria yang seharusnya menjadi ayah mertuanya.
"Tidak masalah Luna, Papa yakin lambat laun kamu akan mencintai Papa."
Dikhianati Fauzan di hari pernikahan demi wanita lain membuat Luna hancur di hadapan semua tamu. Namun, saat dunianya runtuh, sang calon ayah mertua Mahendra justru mengulurkan tangan dan mengambil alih posisi mempelai pria. Mampukah pernikahan beda usia 25 vs 50 tahun ini menyembuhkan luka Luna, atau justru menjadi awal dari konflik baru yang lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Keesokan paginya, atmosfer di dalam kamar utama kediaman Dirgantara terasa begitu sibuk namun dipenuhi riak kegembiraan yang tertahan.
Luna berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya yang sudah mengenakan pakaian kerjanya.
Di sampingnya, sebuah topeng hitam berhias brokat mewah sudah terletak manis di atas meja rias.
Mahendra berjalan mendekat dari arah belakang. Pria paruh baya itu tampak luar biasa gagah dan berwibawa dalam balutan setelan tuksedo hitam custom-made yang mempertegas tubuh tegapnya yang kokoh laksana karang.
Ia melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Luna, lalu mendaratkan kecupan hangat di pelipis istrinya.
"Sayang, nanti malam setelah kamu sampai di ballroom, langsung cari aku, ya," ucap Mahendra dengan suara bariton yang rendah, seraya mengedipkan sebelah matanya dengan gaya yang teramat seksi dan memikat.
Luna berbalik di dalam kungkungan suaminya, menatap wajah matang Mahendra dengan pandangan penasaran yang menggemaskan.
"Memangnya Mas Mahendra pakai topeng apa? Biar aku tidak salah mengenali orang nanti malam," tanya Luna.
Mahendra hanya terkekeh rendah, sebuah tawa bariton yang renyah memenuhi ruangan.
"Rahasia, Sayang. Kalau aku beri tahu sekarang, namanya bukan pesta topeng lagi," sahutnya misterius sembari mencubit gemas hidung bangir Luna.
Sebagai pemilik tunggal Dirgantara Holdings sekaligus tuan rumah utama dari perhelatan akbar malam ini, Mahendra harus berangkat terlebih dahulu menuju gedung pusat.
Ia harus memastikan seluruh persiapan, pengamanan, hingga penyambutan para klien kakap dari dalam dan luar negeri berjalan tanpa cela sedikit pun.
Setelah berpamitan dengan sebuah kecupan manis di bibir Luna, sang Titan Bisnis melangkah pergi dengan aura kepemimpinan yang mutlak.
Luna melangkah turun menuju lobi rumah utama, di mana sebuah mobil sedan mewah beserta supir pribadi kepercayaan Mahendra sudah menunggu dengan patuh untuk mengantarkannya ke perusahaan Pak Dika terlebih dahulu.
Dengan hati yang berdebar kencang diselimuti rasa penasaran yang membuncah, Luna membiarkan mobil itu melaju membelah jalanan Jakarta, siap menyongsong malam pesta dansa bertopeng yang penuh dengan teka-teki dari suaminya.
Sesampainya di perusahaan, Luna segera melangkah menuju ruang kerjanya.
Dengan cekatan dan penuh ketelitian, ia memeriksa kembali seluruh berkas-berkas penting dan dokumen kontrak besar yang akan ia bawa nanti ke perusahaan suaminya. Luna tidak ingin ada satu pun detail kecil yang terlewat untuk momen krusial malam ini.
Tak lama kemudian, pintu ruangannya diketuk pelan. Pak Dika melangkah masuk dengan setelan tuksedo hitam formal yang tampak rapi, lengkap dengan topeng berdesain klasik yang sudah tersampir di tangannya.
"Sudah siap semuanya, Luna?" tanya Pak Dika, memastikan kesiapan rekan bisnis andalannya itu.
Luna mengulas senyum profesional yang menenangkan, lalu merapikan tumpukan berkas terakhir ke dalam map kulit eksklusif. Ia menganggukkan kepalanya dengan mantap.
"Sudah siap semuanya, Pak. Semua dokumen kerja sama sudah lengkap dan tidak ada yang terlewat," jawab Luna.
Detik demi detik berganti dengan cepat di tengah debaran jantung Luna yang kian berpacu.
Jam dinding di ruangan terus berputar hingga akhirnya jarum jam menunjukkan tepat pukul tujuh malam—waktu yang telah ditentukan untuk dimulainya perhelatan akbar di Dirgantara Holdings.
Dengan langkah anggun dan hati yang diselimuti rasa penasaran membuncah tentang kejutan apa yang tengah disiapkan oleh Mahendra, Luna bersama Pak Dika segera melangkah turun menuju mobil.
Mereka lekas membelah jalanan malam ibu kota, menuju ke perusahaan sang Titan Bisnis untuk menyongsong pesta dansa bertopeng yang penuh teka-teki itu.
Gedung pencakar langit Dirgantara Holdings malam itu bertransformasi menjadi sebuah istana megah yang memukau.
Sepanjang pelataran lobi utama, deretan lampu sorot vertikal membelah langit malam Jakarta, sementara karpet merah tebal membentang dari lobi hingga menuju lift khusus VIP.
Pintu kaca raksasa setinggi lima meter dijaga ketat oleh para pengawal bertuksedo hitam dengan alat komunikasi di telinga mereka.
Saat Rolls-Royce yang membawa Luna dan Pak Dika berhenti di depan lobi, seorang pelayan dengan sarung tangan putih bergegas membukakan pintu.
Begitu melangkah keluar, Luna terpana melihat kemegahan yang tersaji di depan matanya.
Area lobi disulap dengan dekorasi berkonsep Gothic-Victorian modern.
Untaian lampu kristal chandelier raksasa menggantung di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan yang berkilauan pada lantai marmer Italia yang mengilat laksana cermin.
Alunan musik orkestra simfoni yang megah namun misterius mengalun lembut, menggema di setiap sudut ruangan, menciptakan atmosfer pesta dansa bertopeng (masquerade ball) yang teramat eksklusif dan mahal.
Pak Dika menoleh ke arah Luna, mengulas senyum ramah di balik wibawanya.
"Ayo Luna, kita masuk ke dalam. Acaranya mau dimulai," ajak Pak Dika.
Luna menganggukkan kepalanya dengan anggun.
Sebelum melangkah lebih jauh, jemari lentiknya meraih topeng hitam berhias brokat mewah beraksen manik-manik gelap, lalu memasangnya dengan pas.
Topeng itu membingkai sepasang mata beningnya dengan sempurna, menambah kesan misterius pada kecantikannya yang berkelas malam itu.
Di sampingnya, Pak Dika juga memakai topeng bergaya klasik miliknya.
Mereka berdua berjalan beriringan memasuki ballroom utama yang berada di lantai teratas gedung.
Di dalam ruangan raksasa tersebut, ratusan tamu undangan VIP dari kalangan taipan bisnis, pejabat, hingga selebritas papan atas sudah memadati ruangan.
Sesuai instruksi, semua tamu tampil memukau dengan gaun malam dan tuksedo hitam pekat, lengkap dengan berbagai bentuk topeng mewah yang menyembunyikan identitas asli mereka.
Semua orang saling berbisik, berdansa, dan memegang gelas sampanye dalam kemewahan yang semu.
Di tengah riuhnya kepungan para tamu bertopeng, sepasang netra bening Luna mulai bergerak liar.
Di balik topeng hitamnya, Luna mencoba mencari keberadaan suaminya—sang Titan Bisnis pemilik pesta ini.
Dari kejauhan, ia melihat siluet seorang pria bertubuh tegap, jangkung, dan berwibawa tinggi yang tampak sedang berjalan membelah kerumunan untuk menyapa semua tamu penting.
Gerakan tubuh pria itu begitu familier di mata Luna, memancarkan karisma mutlak yang tidak bisa disembunyikan oleh topeng apa pun.
Jantung Luna berdesir hebat, bersiap untuk mendekati sosok yang sangat ia rindukan tersebut.
Luna melangkah mantap di atas lantai marmer ballroom, membelah kerumunan tamu yang sibuk berdansa.
Matanya terkunci pada sosok pria yang dikenali sebagai Mahendra.
Dengan senyum lebar yang tersungging di balik topengnya, Luna mempercepat langkah, ia sudah tidak sabar untuk memberi kejutan kecil pada suaminya di tengah pesta ini.
"Mahendra..." panggil Luna dengan nada lembut yang tertahan oleh alunan musik orkestra.
Namun, langkah Luna seketika membeku. Tepat sebelum ia sampai di hadapan sang Titan Bisnis, seorang wanita cantik dengan gaun hitam yang sangat terbuka tiba-tiba melesat dari arah samping.
Gadis itu langsung merangsek maju dan memeluk tubuh Mahendra dengan begitu intim, bahkan tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Mahendra untuk menjauh.
"Aku merindukanmu, Sayang..." ucap wanita cantik itu—Diana—dengan suara manja yang terdengar sangat jelas di telinga Luna.
Dunia Luna seolah berhenti berputar. Hatinya yang tadi dipenuhi rasa antusias kini terasa dicubit oleh rasa sesak yang menyakitkan.
Tanpa menunggu Mahendra bereaksi, Luna langsung berbalik arah.
Ia tidak ingin melihat lebih jauh lagi keintiman di depan matanya.
Ia berjalan dengan langkah cepat, hampir berlari menuju arah yang berlawanan dari posisi Mahendra dan Diana.
Pak Dika yang sedari tadi mengikuti di belakang Luna menyadari perubahan drastis pada gestur tubuh gadis itu.
Ia segera mempercepat langkah dan mencegat Luna, lalu menggenggam lembut tangan Luna untuk menenangkannya.
"Luna? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Pak Dika dengan raut wajah yang sarat akan kekhawatiran.
Luna mencoba menarik napas panjang, menahan getaran di dadanya agar air mata tidak jatuh di depan rekan bisnisnya.
Ia menganggukkan kepalanya dengan kaku, meski hatinya terasa hancur berkeping-keping.
"Saya, baik-baik saja, Pak," jawab Luna dengan suara yang sedikit bergetar.
Ia menundukkan kepala, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca di balik topeng.
"Maaf, Pak Dika. Saya izin ke kamar mandi sebentar. Saya butuh waktu untuk merapikan diri."
Tanpa menunggu balasan dari Pak Dika, Luna segera berbalik dan melangkah pergi dengan terburu-buru menuju koridor yang mengarah ke toilet wanita, menjauh dari ingar-bingar pesta yang mendadak terasa begitu menyesakkan baginya.
terimakasih thor dah double up 🙏❤️
bener" y si Kunti mil", beuh gertakkan doang ga kena, liat aja ntar klo Mahendra sehat ....abis kau.
kan sudah buang Azura anda faizan
biar duo Kunti, satu kuyang tdk meremehkan mu lagi