Bagi Jayden Xeno Frederick, perempuan hanyalah makhluk rumit yang membuang waktu. Sebagai ketua VULTURES—geng motor paling disegani di Jakarta—ia punya segalanya: kuasa, ketampanan, dan pengaruh. Namun, sepulangnya dari program pertukaran pelajar di London, prinsip hidup Jayden runtuh dalam semalam. Ia bertemu dengan Elleanor Catleena Smith, murid baru pindahan Amerika yang barbar, gemar membuat rusuh, dan sama sekali tidak mempan dengan pesonanya.
Elleanor—sang Queen Racer tersembunyi—berpindah ke Indonesia bukan untuk mencari cinta, melainkan karena didepak dari sekolah lamanya akibat merusak fasilitas sekolah. Sifat liar dan tak terkendali milik Elle justru memicu rasa penasaran Jayden. Rasa penasaran yang lambat laun bermutasi menjadi sebuah obsesi gelap dan posesif. Jayden menginginkan Elle, mutlak untuk dirinya sendiri.
Namun, mengurung seekor burung hantu yang hobi berontak tidaklah mudah. Apalagi di belakang Elle, ada Alkana Putra Adhytama, ketua geng WOLFANGS.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alyssa Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: Rencana Rahasia dan Aliansi Baru
Sinar lampu neon dari markas rahasia WOLFANGS berkedip-kedip ritmis, memantul pada permukaan kap mesin mobil jeep tua milik Alka. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam, namun atmosfer di dalam bengkel modifikasi itu terasa jauh lebih hidup daripada siang tadi. Surat balasan dari Jayden sudah diterima satu jam yang lalu melalui perantara Shaka, dan poin addendum tambahan yang ditulis sang ketua Vultures sukses membuat seisi ruangan dihantui amarah yang membakar.
"Berlutut dan membubarkan Wolfangs?" desis Rafka Galan sambil melempar stik gitarnya ke lantai marmer dengan kasar. "Si brengsek Jayden bener-bener gak punya takaran kalau soal nyari musuh. Dia pikir kita ini remah-remah kerupuk yang bisa dia injek sesuka hati?!"
Alka tidak menyahut. Cowok itu berdiri menghadap papan tulis putih yang kini sudah dipenuhi oleh coretan skema layout sirkuit resmi Inter-School Championship di kawasan Sentul. Rahangnya mengeras sempurna, mengepalkan tangan kanan hingga buku-buku jarinya memutih dan berbunyi gemertak.
"Dia sengaja nyari taruhan tinggi karena dia tahu ego gua gak bakal ngebiarin gua mundur, Raf," ucap Alka, suaranya mengalun sangat rendah, serak karena frustrasi sekaligus dendam yang membara. "Dia mau ngeruntuhin semua yang gua punya, sekaligus ngunci Elle biar gak punya harapan lagi buat bebas."
Matthew Felix yang duduk di depan jajaran monitor bersuara tanpa menoleh. "Dan secara statistik, Al... rekor Jayden di sirkuit Sentul itu bersih tanpa cacat. Tiga tahun berturut-turut dia menang tanpa ada yang bisa nyentuh spion motornya. Haikal baru aja memperbarui sistem proteksi ECU pada Kawasaki H2 Carbon milik Jayden. Motor itu sekarang setara dengan spek balap kelas dunia profesional."
Nalendra yang sejak tadi diam di sudut ruangan sambil melipat tangan di dada akhirnya melangkah maju. "Kita gak bisa cuma ngandelin kecepatan mesin motor lo, Al. Kalau lo mau menang dari predator jalanan kayak Jayden, lo harus tahu titik lemah cara dia mengambil tikungan. Dan di Jakarta ini... gak ada satu pun pembalap yang tahu titik lemah itu karena belum ada yang pernah berada di depan dia."
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan tiga kali pada pintu besi bengkel yang terkunci membuat seluruh anggota inti Wolfangs seketika bersiaga. Rafka langsung meraih sebatang besi dongkrak di dekatnya, sementara Alka menatap tajam ke arah pintu lipat yang perlahan terbuka dari luar.
Seorang gadis dengan jaket bomber gelap berlambang huruf 'S' besar di punggungnya melangkah masuk. Ia menurunkan tudung jaketnya, menampilkan wajah blasteran yang luar biasa cantik dengan kilat mata liar yang begitu berapi-api.
"Elle?!" seru Alka terkejut, langsung menjatuhkan obeng di tangannya ke atas lantai. Ia melangkah cepat mendekati gadis itu. "Lo... gimana bisa lo kesini? Pengawalan abang lo kan ketat banget semenjak kejadian semalem!"
Elleanor Smith mendengus remeh, melemparkan tas ranselnya ke atas sofa kulit hitam markas Wolfangs dengan gaya barbarnya yang khas. "Gua pake taktik kuno. Gua minta Soraya sama Keysha dateng ke rumah buat kerja kelompok, terus gua tukeran baju sama Soraya dan keluar lewat gerbang depan pake mobil jemputan Keysha. Pengawal abang gua pinter, tapi gua jauh lebih licik kalau urusannya soal kabur."
Nalendra tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya kagum. "Darah pembalap emang gak bisa bohong. Selamat datang di markas Wolfangs, Elle."
Elle berjalan mendekati papan tulis putih yang berisi skema sirkuit Sentul, mengabaikan tatapan khawatir Alka yang masih terus menguliti penampilannya untuk memastikan tidak ada luka baru akibat ulah Jayden.
"Gua kesini bukan buat reuni atau main-macem, Alka," ucap Elle serius, menatap langsung ke dalam manik mata ketua Wolfangs itu. "Gua kesini karena gua dapet info soal addendum gila yang dibuat si Muka Tembok itu. Berlutut? Membubarkan Wolfangs? Lo bener-bener gila kalau mau setuju sama syarat kayak gitu!"
"Gua terpaksa setuju, El! Cuma itu satu-satunya cara buat narik lo keluar dari sangkar gila Jayden!" balas Alka dengan nada meninggi, mencoba membela keputusannya. "Gua gak bakal biarin lo dikurung terus di kelas itu!"
"Dan gua gak bakal biarin lo hancur cuma karena ego posesif si Jayden, Adhytama!" potong Elleanor lantang, suaranya bergema memenuhi seisi bengkel. Ia menumpukan kedua tangannya di atas meja skema, menunduk sedikit dengan aura Queen Racer yang mendadak menguar begitu pekat dari tubuh mungilnya. "Gua udah denger dari Bang Kenzo. Lo berdua mau taruhan pake nama gua di atas aspal bulan depan? Oke, gua jabanin. Tapi gua gak bakal duduk manis di bangku penonton sambil nunggu siapa yang menang."
Matthew memutar kursinya dengan cepat, matanya melotot. "Maksud lo, lo mau ikut turun balapan?"
"Tepat," angguk Elle dengan seringai liar yang begitu menawan namun sarat akan ancaman. "Gua bakal daftar sebagai pembalap independen dari faksi luar. Jayden pikir dia bisa memenangkan balapan ini dengan mudah karena dia gak pernah kalah di Jakarta. Tapi dia lupa satu hal... dia belum pernah balapan sama Queen Racer dari sirkuit ilegal New York."
Alka menggelengkan kepalanya cepat, mencengkeram bahu Elle dengan kedua tangannya. "Gak, El! Ini terlalu berbahaya! Sirkuit resmi Inter-School itu emang punya regulasi, tapi di tangan Jayden, balapan itu bisa berubah jadi ajang saling bunuh! Gua gak bakal izinin lo nempatin diri lo di jalur maut!"
Elleanor menepis tangan Alka dengan tegas, menatap cowok itu dengan pandangan mata yang tak terbantahkan. "Gua gak minta izin lo, Alka. Gua ke sini buat ngasih tahu rencana gua. Gua butuh Matthew buat daftarin nama samaran gua ke sistem panitia tanpa ketahuan Haikal, dan gua butuh mekanik bengkel lo buat modifikasi total motor cadangan gua yang dikirim dari Amerika minggu depan."
Suasana markas Wolfangs mendadak hening. Nalendra, Rafka, dan Matthew saling melirik sekilas, merasakan sebuah getaran energi baru yang begitu kuat dari rencana nekat gadis di depan mereka. Jika Jayden adalah sang predator tertinggi di Jakarta, maka Elleanor adalah badai liar dari luar yang siap memporak-porandakan seluruh ekosistem kekuasaan sang ketua Vultures.
"Gua suka gaya lo, neng bule," celetuk Rafka dengan cengiran lebar, kembali memungut stik gitarnya. "Ini baru namanya perlawanan berkelas. Gua dukung seratus persen."
Matthew kembali menghadap monitornya, jemarinya mulai menari lincah di atas papan ketik. "Sistem pendaftaran faksi independen bakal gua buka lewat jalur belakang. Nama samaran lo apa, El?"
Elleanor berjalan menuju jendela bengkel yang menampilkan rintik sisa hujan di luar, menatap ke arah langit malam dengan senyuman tipis yang sarat akan tantangan terbuka.
"Gunakan nama 'VÈRUNE'," jawab Elle pendek. "Gua mau liat gimana ekspresi muka tembok si Jayden begitu dia tahu kalau buronan yang dia kurung di dalam sangkar emasnya... justru bakal jadi orang pertama yang ngelewatin garis finis dan ngerebut piala dari tangan dia."
Di bawah kegelapan malam Jakarta, sebuah aliansi rahasia baru saja terbentuk di balik dinding bengkel tua tersebut. Elleanor Smith telah resmi menolak menjadi mangsa yang pasrah; ia sedang bersiap merobek jaring-jaring obsesi Jayden dengan kecepatan mesin dan keliaran darah pembalapnya sendiri, mengubah sirkuit bulan depan menjadi medan pertempuran paling akbar sepanjang sejarah jalanan ibu kota.