NovelToon NovelToon
Suami Yang Tak Di Inginkan

Suami Yang Tak Di Inginkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 5 : Tatapan mereka bertemu

Keesokan paginya...

Queen bangun sebelum alarmnya berbunyi. Matanya terbuka perlahan menatap langit-langit kamar. Biasanya ia akan langsung menarik selimut dan tidur lagi.

Namun pagi ini berbeda. Ucapan Kevin semalam terus terngiang di kepalanya.

"Kalau lo memang serius mau punya bisnis fashion atau salon... tunjukin kalau lo bisa tanggung jawab sama hidup lo sendiri."

Queen menghela napas panjang. Lalu tanpa banyak alasan, ia bangkit dari tempat tidur. Beberapa menit kemudian, Queen sudah mandi dan berpakaian rapi.

Saat turun ke ruang makan, Ibu Farah yang sedang membaca koran sampai mengangkat alisnya heran.

"Queen!"

Queen langsung mengernyit. "Kenapa?"

Ibu Farah melihat jam dinding. Masih pukul enam pagi. "Ini anak Mama atau bukan?"

Queen langsung memutar bola matanya. "Ih... Mama lebay deh. Ya anak Mama lah."

Namun dalam hati, Ibu Farah cukup terkejut. Biasanya jam segini Queen masih tidur pulas. Queen mengambil roti dan duduk di kursinya. Suasana menjadi sedikit canggung. Karena semalam mereka baru saja bertengkar.

Sampai akhirnya Ibu Farah yang membuka pembicaraan. "Bagaimana?"

Queen menatap mamanya. "Bagaimana apanya?"

"Masih marah sama Mama?"

Queen terdiam beberapa detik. Lalu menggeleng pelan. "Nggak."

Ibu Farah tampak sedikit lega. Meski begitu, wanita itu tetap menjaga wajah datarnya.

"Bagus."

Queen menggigit rotinya pelan. "Mama..."

"Hm?"

"Aku akan serius sama skripsiku."

Tangan Ibu Farah yang sedang memegang cangkir teh langsung berhenti. Tatapannya beralih kepada putrinya. Untuk sesaat ia bahkan mengira salah dengar.

"Apa?"

"Aku bilang aku akan coba serius sama skripsiku."

Kali ini senyum tipis muncul di wajah Ibu Farah. Senyum yang sejak lama tidak Queen lihat. "Itu baru anak Mama."

Queen langsung mendecih. "Emang aku anak Mama kan."

Ibu Farah hanya tersenyum.

Namun diam-diam, suasana pagi itu jauh lebih baik dibanding semalam.

Di kampus...

Queen berjalan memasuki area kampus. Begitu melihat sahabatnya datang lebih awal dari biasanya, Anggi langsung melongo.

"Gila."

Queen menoleh. "Kenapa lo?"

"Lo datang pagi."

"Iya."

"Lo sakit?"

Queen langsung memukul lengan Anggi. "Enak aja."

Anggi tertawa keras. "Serius, biasanya lo datang lima menit sebelum dosen masuk."

Mereka terus berjalan menuju gedung fakultas. Namun baru sampai di koridor utama. Langkah Anggi tiba-tiba melambat.

"Waduh."

Queen mengernyit. "Waduh kenapa?"

Anggi menyenggol lengannya pelan. "Itu."

Queen mengikuti arah pandang sahabatnya. Dan seketika langkahnya ikut terhenti. Di ujung koridor, seorang pria tinggi dengan kemeja biru gelap sedang berdiri sambil berbicara dengan beberapa dosen.

Rambut hitam rapi, postur tegap, tatapan tajam yang sulit dilupakan... Revan. Dosen tamu yang kemarin sukses membuat satu kampus heboh.

"Ya ampun..." bisik Anggi. "Itu dosen ganteng banget."

Queen langsung memutar bola matanya. "Apaan sih, biasa aja kali."

Namun entah kenapa, tatapannya tetap tertuju beberapa detik ke arah pria itu. Dan seolah merasakan sedang diperhatikan.

Revan tiba-tiba menoleh, tatapan mereka bertemu.

Deg.

Queen langsung memalingkan wajah lebih dulu.

Sedangkan Anggi sudah menahan jeritan heboh di sampingnya.

"Queen."

"Apa lagi?"

"Dia lihat kesini."

"Terus?"

"Dia senyum lagi."

Queen langsung membeku. "Hah?"

Refleks ia kembali menoleh. Namun kali ini Revan sudah berjalan menjauh bersama para dosen lainnya. Meninggalkan Queen yang berdiri diam dengan perasaan aneh yang sulit dijelaskan.

Queen segera menggelengkan kepalanya pelan. "Apa sih yang gue pikirin..." gumamnya.

Anggi langsung menyeringai jahil. "Yang gue pikirin sekarang cuma satu."

"Apa?"

"Kalau dosen itu masih single, gue rela jadi istrinya."

Queen langsung mendecih. "Itu sih mau lo!"

Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam kelas. Beberapa mahasiswa sudah memenuhi ruangan. Namun suasananya jauh lebih ramai dari biasanya. Semua orang membicarakan hal yang sama... Dosen tamu.

"Gue dengar dia lulusan luar negeri."

"Iya, dia punya gelar doktor."

"Gue juga dengar dia belum nikah."

"Nah yang terakhir paling penting."

Satu kelas langsung tertawa.

Queen hanya menggeleng melihat tingkah teman-temannya lalu duduk di kursinya. Tak lama kemudian, ponselnya bergetar.

Nathan.

Senyum kecil langsung muncul di wajahnya.

Nathan : Pagi cantik.

Nathan : Udah sampai kampus?

Queen tanpa sadar tersenyum sambil membalas.

Queen : Udah.

Nathan : Jangan lupa sarapan.

Queen : Iya, sayang.

Nathan : Nanti pulang gue jemput.

Queen sempat terdiam.

Bayangan kejadian di mall kemarin kembali terlintas. Namun ia segera mengusir pikiran itu.

Queen : Lihat nanti ya.

Nathan : Oke. Semangat kuliahnya.

Belum sempat Queen membalas lagi...

Pintu kelas diketuk.

Suasana yang tadinya ramai langsung mendadak hening. Semua mahasiswa serentak menoleh. Dan seketika beberapa mahasiswi langsung merapikan posisi duduk mereka.

Revan masuk ke dalam kelas. Kemeja biru gelap yang dikenakannya membuat pria itu terlihat semakin berwibawa.

Ia berjalan menuju meja dosen dengan langkah tenang. "Selamat pagi." Suaranya rendah dan tegas.

"Pagi Pak..." jawab satu kelas hampir bersamaan.

Queen buru-buru memasukkan ponselnya ke dalam tas. Hari ini adalah hari pertama Revan mengajar. Pria itu meletakkan beberapa berkas di atas meja lalu menatap seluruh mahasiswa.

"Sebelum kita mulai, saya ingin mengenal kalian terlebih dahulu."

Keluhan langsung terdengar.

"Aduh perkenalan."

"Fix bakal ditanya satu-satu."

Dan benar saja, Revan mengambil daftar hadir.

"Kita mulai dari barisan depan."

Satu per satu mahasiswa memperkenalkan diri. Hingga akhirnya...

"Queen Faradiva."

Nama itu disebut, Queen langsung berdiri dari kursinya. Semua mata tertuju padanya.

"Perkenalkan, nama saya Queen Faradiva. Mahasiswa semester akhir jurusan manajemen bisnis."

Revan memperhatikannya beberapa detik. "Lalu setelah lulus, apa rencana Anda?"

Pertanyaan itu membuat Queen terdiam.

Seketika ia teringat percakapannya dengan Kevin semalam. Tentang butik, salon dan fashion. Mimpi yang selama ini selalu dianggap sekadar hobi.

Seluruh kelas menunggu jawabannya. Bahkan Anggi ikut menoleh penasaran.

Queen menarik napas pelan. "Saya ingin punya bisnis sendiri."

"Oh ya?" tanya Revan.

Queen mengangguk. "Saya ingin punya salon, spa, dan butik fashion."

Ruangan langsung hening.

Karena biasanya Queen tidak pernah berbicara serius soal masa depannya di depan orang lain. Bahkan Anggi tampak sedikit terkejut.

Sedangkan Revan...

Tatapannya justru berubah sedikit berbeda. Seperti tertarik. "Menarik." Satu kata itu keluar dari bibirnya.

Kemudian pria itu mengangguk pelan. "Kalau begitu pastikan Anda lulus terlebih dahulu."

Satu kelas langsung tertawa. Queen sampai menahan malu sambil duduk kembali.

Namun entah kenapa, ada seseorang yang tidak menertawakan mimpinya. Dan hal itu membuatnya terus memikirkan ucapan Revan sampai kelas berakhir.

Beberapa menit kemudian, kelas akhirnya berakhir.

"Baik, cukup sampai di sini untuk hari ini," ucap Revan sambil menutup map yang sejak tadi berada di tangannya.

"Terima kasih, Pak!" jawab mahasiswa serempak.

Begitu Revan keluar dari kelas, suasana langsung ramai.

"Gila sih..."

"Dosen paling keren yang pernah gue lihat."

"Mana pinter lagi."

"Aura CEO banget sumpah."

Queen hanya menggeleng sambil membereskan buku-bukunya. Namun Anggi langsung menjatuhkan diri di kursi sebelahnya.

"Queen."

"Hm?"

"Lo sadar nggak?"

"Sadar apa?"

"Dari tadi Pak Revan sering nanya ke lo."

Queen langsung mendecih. "Perasaan nggak."

"Ya karena lo nggak peka."

Queen memasukkan laptop ke dalam tas. "Anggi, dia dosen."

"Terus?"

"Ya nggak ada terusnya."

Anggi malah tertawa.

Sebelum sempat membalas lagi, ponsel Queen kembali bergetar... Nathan.

Sebuah pesan masuk.

1
Amoera
Queen jangan khianatin pak Revan. kasian dia. lagian mau aja sama sih mokondo🤣
Arditya
cie... akhirnya nikah juga🤭
It's me Sky: hhheeee🤣
total 1 replies
Arditya
sejauh ini keren banget thoor👍
Siska Amelia
good
It's me Sky: terimakasih kaka🙏
total 1 replies
Alia Chans
Satu like = satu bentuk apresiasi. Semangat thor ✍️👈😉






Saling support sabi kali ya😉
It's me Sky: wihh makasih kakak/Smile/
total 1 replies
Reichan Muhammad
ya ampun torrr keren bgttt kmu punya 4 novel yg on going semua
It's me Sky: iya kakak, selama lagi ada ide jalan terus🤭
total 1 replies
Arditya
jadi inget inggit dan mas Arya, tapi ini kemasannya beda top lah thoor👍
It's me Sky: wkwkwkwkwk🤭
total 1 replies
Arditya
wajah di baca ini cerita menarik banget, remajanya dapet kisahnya fresh. suka sma Revan dan Queen. sukses thoor/Smile/
It's me Sky: makasih bnyk/Hey/
total 1 replies
Arditya
seru banget thoor😍
It's me Sky: wihhh makasihhh/Tongue/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!