Arga, seorang pemuda yatim piatu miskin yang berjuang hidup sebagai nelayan sampan, harus menelan pil pahit saat dihina habis-habisan oleh mantan teman-teman sekolahnya di sebuah acara reuni.
Merasa putus asa dan tidak terima dengan ketidakadilan takdir, ia melampiaskan emosinya dengan memancing di tengah malam, namun kailnya justru menarik sebuah umpan logam berkarat misterius yang menyerap darahnya dan membangkitkan Sistem Mancing Mania Mantap.
Berbekal sistem aneh yang menggunakan emosi sebagai umpan dan menunjukkan lokasi pancing yang tidak masuk akal, Arga tidak lagi sekadar memancing ikan biasa, melainkan menarik harta karun dimensi lain, pusaka kuno, hingga kekuatan gaib yang akan memutarbalikkan nasibnya dari pemuda rendahan menjadi sosok kaya raya yang ditakuti semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Arga memarkirkan mobilnya di area parkir khusus tamu prioritas dan melangkah masuk melewati pintu lobi balai lelang.
Suasana di dalam lobi gedung ini sangat sunyi dan elegan dengan alunan musik instrumen klasik yang diputar sangat pelan.
Beberapa lukisan pemandangan mahal terpajang rapi di dinding lobi lengkap dengan lampu sorot kecil yang menonjolkan tekstur kanvasnya.
Arga berjalan santai mendekati meja panjang resepsionis yang dijaga oleh seorang wanita muda berwajah sangat formal.
"Selamat siang, apakah ada hal yang bisa saya bantu hari ini Bapak?" sapa resepsionis itu dengan nada suara datar tanpa senyum.
"Siang Mbak, saya datang ke sini mau titip jual barang antik buat masuk ke acara lelang terdekat bulan ini," jawab Arga mengutarakan niatnya secara langsung.
Resepsionis itu menatap pakaian Arga yang hanya berupa kemeja lengan pendek biasa dari ujung kepala sampai ke sepatu ketsnya.
"Mohon maaf sebelumnya Bapak, untuk proses konsinyasi barang di balai lelang kelas internasional kami harus selalu melalui proses kurasi yang sangat ketat," jelas resepsionis itu dengan nada yang sedikit merendahkan lawan bicaranya.
"Kami tidak bisa menerima barang antik sembarangan atau barang bekas yang biasa dijual di pasar pinggir jalan."
Arga menarik napas pelan dari hidungnya menahan emosi yang mulai sedikit terpancing oleh sikap sombong wanita ini.
"Saya bawa Guci Keramik Dinasti Song Utara asli di dalam tas ini Mbak, bukan barang bekas pasar," tegas Arga menatap lurus menantang mata resepsionis tersebut.
"Tolong panggilin kepala kurator ahli kalian sekarang juga biar dia sendiri yang menilai kualitas barang saya."
Mendengar nama sejarah Dinasti Song disebut dengan lantang, resepsionis itu sedikit terkejut namun raut wajah keraguannya sama sekali belum hilang.
"Baik Bapak, silakan tunggu sebentar di ruang tamu sebelah sana, saya akan menghubungi Kepala Kurator kami melalui telepon," ucap resepsionis itu menunjuk ke arah deretan sofa kulit hitam.
Arga berjalan menuju sofa yang ditunjuk dan duduk bersandar santai sambil terus memangku tas selempangnya di atas paha.
Sekitar lima belas menit waktu berlalu, seorang pria paruh baya bertubuh sedikit besar berjalan keluar dari balik pintu kayu ruang dalam.
Pria itu memakai setelan jas bergaris biru gelap yang terlihat mahal dan sebuah kacamata baca tebal tergantung pada rantai di lehernya.
Dia berjalan menghampiri meja Arga dengan langkah gontai dan wajah berkerut yang terlihat sangat terganggu.
"Kamu pemuda yang baru saja mengaku punya barang peninggalan dari era Dinasti Song?" sapa pria itu tanpa berniat memperkenalkan dirinya terlebih dahulu.
"Iya benar Pak, nama saya Arga," balas Arga langsung berdiri dari duduknya untuk mengajak bersalaman.
Pria paruh baya itu sama sekali tidak membalas uluran tangan Arga dan malah melipat kedua tangannya di depan perut.
"Saya Leo, Kepala Kurator paling senior di balai lelang nasional ini," ucap Leo dengan nada suara sangat angkuh.
"Keluarkan barang bawaan kamu itu sekarang juga, saya tidak punya banyak waktu luang untuk mengurus anak muda yang bermimpi mau cepat kaya."
Arga menarik kembali tangan kanannya secara perlahan dan menahan gejolak amarah yang mulai memanas di dalam dadanya.
Dia membuka resleting tasnya dan mengeluarkan guci keramik kecil yang dibungkus kain halus itu ke udara terbuka.
Arga meletakkan guci tersebut dengan gerakan sangat berhati-hati di atas meja kaca di antara mereka berdua berdiri.
Mata Leo langsung menyipit di balik lensa kacamatanya saat melihat motif biru putih yang melukiskan pola naga pada permukaan keramik guci itu.
Dia mengambil sepasang sarung tangan putih bersih dari saku jasnya dan memakainya perlahan sebelum berani menyentuh guci tersebut.
Leo membolak-balikkan guci itu selama kurang lebih satu menit penuh sambil mendengus pelan melalui hidungnya berkali-kali.
"Memang sudah saya duga dari awal saya melihat gaya penampilan kamu yang kampungan ini," ucap Leo meletakkan guci itu kembali ke atas meja dengan gerakan yang agak kasar.
"Ini cuma barang keramik tiruan kualitas tinggi yang diproduksi oleh pabrik modern di Tiongkok bulan lalu."
"Bapak jangan bercanda ya, ini murni barang asli peninggalan kaisar kuno," bantah Arga tidak terima barang berharganya dihina tanpa dasar bukti.
Keterampilan Penilaian Barang Gaib miliknya tidak mungkin berbohong menyajikan data mengenai status Sangat Langka guci tersebut.
"Dengar anak muda, saya sudah bekerja di bidang penilaian seni selama dua puluh tahun lebih," bentak Leo menaikkan volume suaranya karena merasa otoritasnya ditantang oleh pemuda ingusan.
"Warna glasir biru pada guci kamu ini terlihat terlalu mengkilap sempurna untuk ukuran sebuah barang yang usianya sudah ratusan tahun dikubur."
"Kamu pasti sengaja membeli guci palsu ini di toko suvenir pinggir jalan dan sekarang mencoba menipu balai lelang kelas atas kami."
Suara Leo yang sangat keras itu langsung menarik perhatian beberapa staf karyawan dan tamu balai lelang yang sedang berada di sekitar lobi.
Mereka mulai berbisik-bisik satu sama lain dan menatap Arga dengan pandangan menuduh serta senyum yang sangat mencemooh.
"Kamu sangat beruntung saya sedang malas memanggil petugas kepolisian hari ini atas tuduhan percobaan penipuan dokumen sejarah," ancam Leo tersenyum lebar merasa menang secara telak.
"Ambil kembali barang rongsokan kamu ini dan keluar dari pintu depan gedung kami sekarang juga sebelum saya panggil pihak keamanan."
Arga mengepalkan kedua telapak tangannya erat-erat di sisi tubuh hingga buku-buku jarinya memutih menahan dorongan untuk memukul wajah orang tua itu.
Dia menatap wajah sombong kurator tua di depannya ini dengan tatapan mata yang sangat tajam dan dingin menusuk.
Arga tidak mungkin mengalah dan mundur begitu saja setelah harga dirinya diinjak-injak dengan sengaja di depan umum seperti ini.
Dia memusatkan pandangannya ke arah ruang pameran kaca yang berada persis di bagian dinding belakang meja resepsionis.
Di dalam lemari kaca berpenerangan terang itu terpajang sebuah patung kuda perunggu yang diberi label besar sebagai koleksi kebanggaan mutlak milik Kepala Kurator Leo.
Arga segera mengaktifkan Keterampilan Penilaian Barang Gaib miliknya dan menatap fokus patung kuda tersebut dari kejauhan.
Sebuah kotak informasi transparan berwarna biru langsung muncul memproyeksikan kenyataan yang sangat mengejutkan bagi Arga.
Nama Barang: Patung Kuda Perunggu Tiruan Modern.
Tingkat Kelangkaan: Sangat Umum.
Deskripsi: Patung hasil cetakan mesin pabrik yang baru dibuat lima tahun lalu menggunakan teknik penuaan palsu dari bahan kimia klorin.
Nilai Taksiran Pasar: Sekitar dua ratus ribu rupiah di toko perkakas bangunan.
Senyum miring yang sangat mematikan perlahan mulai terbentuk di sudut bibir Arga.
"Bapak tadi bilang bapak udah dua puluh tahun lebih kerja di bidang seni dan ngerti banget soal keaslian barang antik?" tanya Arga dengan nada bicara menantang yang sangat kentara.
"Tentu saja pengalaman saya sangat panjang, mata saya ini tidak pernah salah sedikit pun dalam menilai keaslian sebuah peninggalan sejarah," jawab Leo menepuk dadanya dengan sangat bangga.
"Kalau mata bapak memang sepintar yang bapak banggakan itu, kenapa bapak majang rongsokan pabrik seharga dua ratus ribu perak di lemari pameran utama balai lelang bergengsi ini?" tunjuk Arga menggunakan telunjuknya tepat ke arah patung kuda perunggu kebanggaan tersebut.