Empat tahun lalu, Aelira S. Valenzia gadis unik, misterius terjerat oleh Ravian Kael Davino veyron, pewaris tunggal keluarga veyron , yang mengidap penyakit haphephobia. Suatu hari, Davino pergi ke sekolah karena suatu hal penting, dimana Aelira tidak sengaja terjatuh, dan menangkap tangan Davino, atau yang orang sebut Ravian. Ia tidak menyangka hal tersebut menjadi awal mula hidup tidak sebebas dulu lagi. Penasaran? yuk baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Aelira
"Marianne, kemarilah," titah Aelira dingin.
Pria paruh baya dengan setelan hitam itu melangkah mendekat, menunduk hormat. Sekretaris pribadi keluarga Aelira sejak dua dekade lalu.
"Baik, Nona."
"Katakan."
"Besok di tempat biasa, Tuan ingin bertemu Nona."
Aelira mengangguk sekenanya. "Baik, pergilah."
Marianne membungkuk lalu menghilang di balik pintu.
---
Keesokan harinya...
Sebuah mobil hitam tanpa pelat berhenti di depan vila tersembunyi di pinggir kota. Aelira turun dengan langkah mantap. Gaun putih polosnya berkibar tertiup angin.
"Princess..." Pelukan hangat sang Mommy langsung menyambutnya.
"Mommy rindu sayang. Very much."
"Me too, Mom."
Belum selesai, Daddy membuka tangan lebar. "My little Queen, Daddy juga kangen. More than anything."
Mereka bertiga berpelukan. Hangat. Tapi di balik hangat itu—ada sesuatu yang tak terlihat. Mata Aelira tidak sepenuhnya meleleh. Masih ada dingin di sana. Watak asli yang hanya keluar di depan keluarganya.
Aelira S. Valenzia.
Sforza. Marga lama yang namanya telah hilang dari publik. Pengusaha ternama—tapi juga terkenal di dunia bawah. Daddy yang sekarang adalah penerus terakhir, meski sudah lama pensiun dari urusan gelap.
Emas permata keluarga. Harta paling berharga yang harus dilindungi dengan cara apa pun.
Sejak Aelira lahir, keluarga mereka tidak lagi aman. Musuh dari masa lalu terus berusaha menghancurkan kejayaan Valenzia. Panti asuhan tempat Aelira "dibesarkan" adalah milik keluarga—tempat persembunyiannya selama bertahun-tahun.
Samaran.
Semua itu samaran.
Sifat aslinya? Dingin. Arogan. Datar. Tidak mudah tersentuh. Tapi selama bertahun-tahun, ia belajar menjadi "Aelira yang lain"—lembut, ramah, tersenyum.
Untuk misi.
Daddy menatapnya serius. "Ingat, Princess. Jangan pernah menaruh hati dengan target. Ingat misi di awal."
Misi. Menghancurkan keluarga yang pernah menghancurkan Valenzia. Dan target itu—tidak lain adalah keluarga Ravian.
"Sebentar lagi semua akan selesai," lanjut Daddy. "Dan kuncinya kini ada padamu."
Aelira menegakkan punggungnya. Matanya berubah—menjadi gelap. Tidak ada keraguan.
"Oke, Dad."
Mommy mengusap rambutnya. "Jaga dirimu, Princess. Jangan sampai ketahuan. Secepatnya kita akan berkumpul lagi."
Aelira mengangguk. Berbalik. Melangkah pergi.
Dingin kembali menyelimuti wajahnya.
---
Rumah — Malam itu
Aelira baru saja masuk ke rumah ketika sebuah tatapan menghujamnya dari sudut ruang tamu.
Ravian duduk di sofa dengan kaki disilangkan. Wajahnya datar. Matanya tajam—penuh selidik.
"V-Vano, lo dah pulang?" Aelira tersenyum—tapi canggung. Terlalu canggung untuk seorang Aelira yang biasa ia tunjukkan.
"Lo?" Ravian bertanya dingin.
Maksudnya, kamu kapan pulang? pikir Aelira. Tapi dari nada bicaranya—itu bukan pertanyaan tentang waktu.
"Tadi," jawab Aelira hati-hati.
"Darimana?"
Mata Ravian tidak berkedip.
Aelira menggigit bibir sejenak. "Tadi... habis ketemuan ama Azel." Nama teman lamanya keluar dengan lancar. Terlalu lancar.
"Serius?"
"Iya."
Ravian menatapnya beberapa saat. Lalu berdiri. Mendekat.
"Kangen."
Aelira mengerjap. "Apa?"
"Gue bilang, gue kangen." Ravian meraih pinggang Aelira dan menariknya ke pelukan. "Kerjaan gue banyak. Syuting dari pagi. Tapi yang gue pikirin cuma lo. Sekarang gue dah bisa peluk, cium... lo. Manja. Semau gue."
Aelira tertawa kecil—tapi matanya tidak ikut tertawa.
"Jangan pergi lama-lama lagi," bisik Ravian di pelipisnya.
"Iya."
Mereka berpelukan.
Tapi di balik pelukan itu—di balik senyum Aelira yang lembut untuk Ravian—sorot matanya berubah.
Tajam.
Dingin.
Seperti belati yang baru diasah.
Tidak lama kemudian, sudut bibirnya terangkat—sedikit. Hanya sedikit. Membentuk seringai tipis yang hanya ia yang tahu artinya.
Semua berjalan sesuai rencana.
Maaf, Van.
Tapi ini bukan tentang cinta.
Ini tentang keluarga.
Dan keluarga tidak bisa dikhianati.
Ravian masih memeluknya erat. Tidak tahu bahwa gadis di pelukannya sedang menyembunyikan badai.
Dan Aelira—dengan seringai tipis di bibirnya—hanya bisa tersenyum dalam hati.
"Kuncinya ada padamu," kata Daddy.
Dan kunci itu—tinggal menunggu waktu untuk diputar.
Satu gerakan salah, dan semuanya hancur.
Pertanyaannya: siapa yang akan lebih dulu jatuh?
Ravian?
Atau dirinya sendiri?