Halo teman-teman, aku sedang memperbaiki & memperpanjang cerita ini supaya makin seru. Perubahan bertahap ya, terima kasih dukungannya!
---
Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.
Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.
Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara.
Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.
Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasya Bukan Aldo (Lalu Siapa?!)
Hari itu hujan turun dengan lebatnya.
Bukan hujan biasa, melainkan hujan sore khas bulan November yang dingin dan deras. Angin bertiup kencang, membuat dahan-dahan pohon di halaman sekolah bergoyang hebat seolah menari. Aku berdiri di teras perpustakaan, memeluk tubuh di balik jaket merah muda yang agak kebesaran, sambil menunggu.
Jam dinding menunjukkan pukul 14.47. Dia sudah terlambat tujuh belas menit.
“Pasti dia membatalkan janji,” gumamku pelan. “Sudah bisa ditebak. Cowok itu suka sekali membuat orang penasaran, lalu menghilang begitu saja.”
Tepat saat aku hendak berbalik dan memutuskan pulang, sebuah payung hitam berukuran besar tiba-tiba muncul di atas kepalaku.
“Sedang menunggu siapa?”
Aku menoleh. Rasya berdiri di sampingku. Bahu kirinya terlihat basah kuyup karena payungnya terlalu kecil untuk menaungi dua orang, tapi dia tampak tidak peduli. Wajahnya sedikit pucat, matanya terlihat sembab seolah kurang tidur, namun senyum tipisnya tetap terukir di bibirnya.
“Kamu basah kuyup,” ucapku dengan nada yang terdengar kaku dan tidak tahu harus berkata apa.
“Kalau kamu terus menunggu di luar, kamu juga akan basah.”
“Aku menunggu di teras, ini kan beratap.”
“Tapi anginnya membawa butiran air hujan sampai ke sini.” Dia mengusap pipiku dengan punggung tangannya yang juga basah. “Lihat saja.”
Aku tersentak sedikit. Tangannya terasa dingin, tapi anehnya, pipiku justru terasa memanas.
“Ya sudah, ayo masuk saja,” kataku cepat, lalu berjalan lebih dulu menuju pintu perpustakaan.
---
Di Dalam Perpustakaan
Sore itu perpustakaan terasa sangat sepi. Bu Lastri sudah pulang lebih awal karena ada pertemuan arisan. Tinggalah kami berdua di antara tumpukan ribuan buku yang mulai berdebu.
Rasya berjalan menuju meja panjang di pojok ruangan, persis di samping jendela yang terus dibasahi air hujan. Dia meletakkan payungnya di sudut lantai, lalu duduk di sana.
Aku ikut duduk tepat di hadapannya.
Suasana hening sejenak.
Hujan yang terus mengguyur kaca jendela terdengar berirama, seharusnya menimbulkan rasa tenang, tapi justru membuat detak jantungku berpacu semakin kencang.
“Nayla,” panggilnya, memecah keheningan. “Sebelum aku menceritakan semuanya, aku ingin kamu berjanji satu hal.”
“Apa itu?”
“Jangan lari.”
Aku mengerutkan dahi bingung. “Lari ke mana?”
“Aku tidak tahu. Tapi tolong berjanjilah padaku.”
“Baiklah, aku janji.”
Dia menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dengan suara yang sedikit bergetar di akhir kalimat, dia mulai bercerita.
“Nama asliku di kehidupan sebelumnya bukanlah Aldo.”
“Aku sudah tahu itu. Kamu pernah mengatakannya.”
“Ada lebih dari itu.” Dia menunduk, tangannya menggenggam erat buku catatan bersampul biru yang selalu dibawanya. “Aku juga bukan siapa-siapa yang pernah kamu kenal. Aku tidak pernah menjadi teman sekelasmu, tidak pernah menjadi tetanggamu, dan tidak pernah menjadi bagian dari lingkaran hidupmu.”
“Lalu siapa kamu sebenarnya?”
Dia mengangkat wajahnya. Matanya… terlihat basah.
“Aku adalah sopir pribadimu.”
---
Keheningan yang memekakkan telinga.
Aku mengerjap beberapa kali, mencoba memastikan apa yang kudengar benar.
“S-sorry, maksudmu apa?”
“Sopir pribadimu,” ulangnya dengan tenang. “Di kehidupan sebelumnya, namaku bukan Aldo. Namaku Rasyid. Aku bekerja sebagai sopir keluarga Kirana mulai tahun 2018 sampai… sampai kamu meninggal dunia.”
Mulutku terbuka, lalu tertutup kembali.
Sopir?
Dia adalah sopirku?
“Tapi—tapi kamu terlihat seusia denganku sekarang. Berarti di kehidupan sebelumnya, usiamu juga tidak jauh berbeda denganku, kan?”
“Aku tujuh tahun lebih tua darimu di kehidupan sebelumnya.” Senyumnya terasa pahit. “Entah bagaimana, saat aku terlahir kembali, aku lahir di tahun yang sama persis denganmu. Aku pun merasa bingung. Mungkin ini takdir yang menginginkan kita bertemu dalam usia yang sama kali ya?”
“Tapi kenapa… kenapa aku tidak pernah mengingatmu?”
“Karena kamu tidak pernah benar-benar memperhatikan sopirmu, Nayla.” Suaranya tidak terdengar menyalahkan, hanya menyampaikan sebuah kenyataan. “Kamu terlalu sibuk dengan Andre, Vania, dan segala drama dalam hidupmu. Aku hanyalah sosok yang terlihat samar di kaca spion mobil. Sosok yang tidak penting.”
Kata-kata itu terasa menusuk hatiku.
Tidak penting.
“Rasya—”
“Tapi aku selalu memperhatikanmu,” potongnya cepat. “Setiap hari. Saat kamu berangkat ke kantor, saat kamu pulang larut malam setelah berkencan dengan Andre, bahkan saat kamu menangis sendirian di dalam mobil karena bertengkar dengan Vania. Aku melihat semuanya.”
Aku menelan ludah. Rasanya seperti membuka lembaran lama kehidupan masa laluku—kebanyakan gambarnya kabur, namun kini ada satu sosok yang selama ini tersembunyi mulai terlihat jelas.
“Saat kamu dijebak oleh Andre dan Vania, saat kamu dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah kamu lakukan… aku berusaha membantumu.” Tangannya mulai gemetar. “Aku mengumpulkan berbagai bukti. Rekaman CCTV, percakapan mereka, semuanya. Aku simpan semuanya di dalam sebuah amplop cokelat.”
Amplop cokelat.
Detak jantungku seolah berhenti sejenak.
“Kamu… kamu orang yang ada di pinggir jalan itu?”
Dia mengangguk pelan. Air mata mulai jatuh perlahan dari matanya, membasahi permukaan meja kayu.
“Saat kecelakaanmu terjadi, aku sedang dalam perjalanan menemuimu. Aku ingin menyerahkan amplop itu. Bukti bahwa Andre dan Vania lah yang merencanakan segalanya—penggelapan uang, pemalsuan tanda tangan, semuanya. Tapi aku… aku terlambat.”
Aku nyaris tidak bisa bernapas.
“Mobilmu meledak tepat di hadapanku, Nayla.” Suaranya terdengar hancur. “Aku berteriak sekuat tenaga, aku berlari mendekat, tapi orang-orang di sekitar menahanku. Dan tepat saat itulah… aku melihat cahaya putih menyilaukan mata, lalu terbangun kembali sebagai bayi yang baru lahir.”
Di luar sana, hujan semakin deras mengguyur bumi.
Namun di dalam dadaku, badai yang jauh lebih dahsyat sedang berkecamuk.
“Selama ini… selama ini kamu diam-diam mengawasiku? Melindungiku? Dan aku bahkan tidak pernah tahu namamu?”
“Nama keluargamu di kehidupan sebelumnya adalah Kirana, sama seperti sekarang.” Dia tersenyum tipis meski air matanya masih terus mengalir. “Aku sangat menyukai nama itu. Kedengarannya indah, seperti bidadari.”
“Astaga, Rasya.” Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. “Aku… aku tidak tahu harus berkata apa.”
“Kamu tidak perlu berkata apa-apa.” Dia menyeka air matanya sendiri dengan punggung tangan. “Aku hanya ingin kamu tahu kebenarannya. Karena di kehidupan ini, aku tidak mau lagi menjadi bayangan yang tidak terlihat. Aku ingin kamu melihatku. Aku ingin kamu tahu bahwa…” Dia berhenti sejenak, menelan ludah dengan berat. “Bahwa aku mencintaimu.”
Tiga Kata Itu
Aku mencintaimu.
Tiga kata yang pernah aku dengar di kehidupan sebelumnya, diucapkan oleh Andre—namun itu semua palsu, penuh kebohongan, dan menyembunyikan racun.
Namun kali ini, diucapkan oleh Rasya—sosok yang bahkan tidak aku sadari keberadaannya dulu, yang diam-diam menjagaku bagaikan penjaga setia di tengah badai…
Tiga kata itu terasa sangat nyata dan tulus.
“Kamu tidak perlu menjawab sekarang,” ucapnya cepat, seolah takut mendengar penolakan. “Aku tidak memaksamu. Aku hanya—”
Aku tiba-tiba meraih dan menggenggam tangannya.
Tangannya terasa dingin, tapi aku menggenggamnya erat-erat.
“Rasya.”
Dia terdiam dan mematung.
“Kamu bilang di kehidupan sebelumnya, kamu hanyalah bayangan yang terlihat di kaca spion?”
Dia mengangguk pelan.
Aku mendekat, melewati jarak meja yang memisahkan kami. Lalu aku duduk tepat di sampingnya, bahuku bersentuhan dengan bahunya.
“Sekarang,” bisikku pelan, “kamu ada tepat di hadapanku. Bukan di kaca spion, bukan di belakangku. Di sini. Bersamaku.”
Dia menatapku dengan mata terbelalak, tampak tidak percaya dengan apa yang didengar dan dilihatnya.
“Nayla…”
“Aku belum bisa memastikan apakah ini sudah disebut cinta atau belum,” lanjutku dengan jujur. “Tapi yang aku rasakan adalah, setiap kali kamu mengirim pesan, aku selalu tersenyum. Setiap kali kamu berada di dekatku, jantungku berdebar tidak karuan. Dan setiap kali kamu marah demi melindungiku, aku merasa… aman. Ini perasaan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.”
Dia tidak bergerak sedikit pun, bahkan nyaris tidak bernapas. Seolah takut jika bergerak sedikit saja, momen ini akan hilang begitu saja.
“Jadi aku belum bisa berkata ‘aku juga mencintaimu’ saat ini,” kataku lagi. “Tapi aku bisa berkata… aku mau mencoba. Mencoba menjalin hubungan denganmu. Kalau kamu juga mau.”
Dua detik berlalu.
Lima detik.
Lalu dia tertawa.
Bukan tawa mengejek atau histeris, melainkan tawa lega—persis seperti orang yang baru saja berhasil diselamatkan dari tenggelam.
“Tahukah kamu,” ucapnya di sela tawa, “di kehidupan sebelumnya aku tidak pernah punya keberanian untuk mengatakannya. Aku merasa diriku terlalu rendah untuk mendekatimu.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang kita berada di posisi yang sama.” Dia menatapku, matanya berbinar terang. “Kita lahir di tahun yang sama, bersekolah di tempat yang sama, dan kita… kita mendapatkan kesempatan kedua.”
“Bersama?”
Dia mengangguk mantap. “Bersama.”
---
Namun dunia tidak selalu seindah harapan.
Tepat saat kami tenggelam dalam momen yang terasa indah seperti dalam adegan drama romantis, pintu perpustakaan terbuka dengan suara keras.
“Nayla! Kamu ada di sini!”
Aku dan Rasya saling berpandangan, lalu menoleh ke arah pintu.
Sasha berdiri di ambang pintu, tubuhnya basah kuyup terkena hujan, dengan wajah yang tampak sangat pucat dan panik.
“Sa-Sasha? Ada apa denganmu?” Aku segera berdiri mendekatinya.
“Aku tadi… aku tidak sengaja mendengar…” Sasha terengah-engah, berusaha mengatur napasnya. “Aku mendengar Vania berbicara dengan siswi kelas tiga. Dia… dia berkata…”
“Bilang apa?”
Sasha menelan ludah, melirik sekilas ke arah Rasya sebelum kembali menatapku.
“Dia berkata, dia akan membuat hidupmu menjadi sangat menderita. Persis seperti yang terjadi di kehidupan sebelumnya.”
Darahku seolah membeku di dalam tubuh.
Vania tahu.
Vania juga terlahir kembali.