NovelToon NovelToon
"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

"Aku Kangen, Tapi Tuhan Tau "

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Penyelamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Andri Yuliantina

Indry gadis religius yang lembut dan terlalu baik pada semua orang.

Zaki lelaki yang selalu hadir dan memberi namun perbedaan keyakinan selalu menjadi tembok pemisah yang tak terlihat diantara mereka.

pertemuan di stasiun tegal setelah 15 Tahun berpisah, menjadi awal dari kisah yang entah apa ujung nya.

tawa kecil, telfonan larut malam dan rasa nyaman pelan pelan berubah jadi kangen dan terbiasa.

tapi bagaimana jika cinta saja tak cukup?
bagaimana kalau Tuhan punya rencana lain....
dan satu keputusan yang harus dipilih,
melanjutkan.... atau melepaskan....


karna kadang, kangen terbesar adalah kangen yang hanya Tuhan yang tau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andri Yuliantina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ep 27 : RUMAH BERKAT 5 – MUSAWARAH TEGAL

Ep 27: RUMAH BERKAT 5 – MUSAWARAH TEGAL

_Senin pagi. Jam 8. Kontrakan Zaki Tegal._

Travel Karawaci-Tegal baru turun. Zaki pegang koper Mama. Mama Zaki langsung turun, nggak capek sama sekali. Mata masih nyala.

Begitu masuk rumah kontrakan Zaki, Mama tarik nafas. Taruh koper. Terus tepuk bahu Zaki.

Mama: “Nak, kita ngomong serius sekarang.”

Zaki: “Iya Bu. Soal lamaran ya?”

Mama: “Iya. Ini nggak bisa main-main. Butuh waktu, tenaga, biaya. Belum lagi boyong orang ke Kalimantan. Nggak bisa asal.”

Zaki tarik kursi. Mama duduk. Zaki teguk air di botol mineral nya.

Mama: “Pertama, wali. Ayah kamu udah nggak ada. Jadi siapa yang jadi wali kamu nanti? Paman Marsono? Atau kita minta Pak Haji RT sini jadi wali hakim?”

Zaki: “Paman Marsono aja, Bu. Biar keluarga.”

Mama: “Oke. Catat. Paman Marsono.”

Mama buka buku kecil. Tulisan rapih.

Mama: “Kedua, Ara atau petali. Indry bilang petali itu dari pihak cowok kan? Yang nyambungin dua keluarga. Harus orang yang disegani, bisa ngomong adat.

Kita minta Pak Haji Ustman. Dia guru ngaji, omongannya adem.”

Zaki: “Siap Bu. Aku yang hubungi.”

Mama: “Ketiga : seserahan. Indry udah kirim daftar: handuk, skincare, alat mandi, kain sarung, cincin tunangan. Tapi Ibu nggak mau ada yang kurang. Ibu mau tambah Stel baju tidur, sandal sepatu, alat nata rambut, Set perhiasan, kue khas Tegal, bakpau, sama satu stel baju adat Dayak buat Indry. Biar dia ngerasa diterima.dan lain lain, harus lengkap. Ibu gak mau kita keliatan kurang Niat, Za”

Zaki: “Bu, nanti kebanyakan…”

Mama: “Nggak ada kebanyakan! Lamaran cuma sekali. Biar keluarga Indry tau, keluarga Zaki serius.”

Mama buka HP. Telfon Paman Marsono.

Mama: “Mas, ini saya. Zaki mau lamaran ke Kalimantan. Mas bisa jadi wali nggak? … Alhamdulillah. Nanti kita atur tanggal ya.”

Tutup telfon.

Telfon lagi Pak Haji Ustman.

Mama: “Pak Haji, saya Siti. Anak saya mau lamaran. Bapak bersedia jadi petali nggak? … Makasih Pak Haji.”

Mama mondar-mandir. Catat. Telfon. Catat lagi.

Zaki cuma bisa senyum. “Ibu ini kalau udah heboh, satu kampung bisa kebangun.”

 

_Kamis malam. Jam 7 malam. Rumah Paman Marsono, Tegal._

Keluarga besar Zaki kumpul. Nggak cuma keluarga inti. Keluarga ayah, keluarga ibu, tetangga dekat. Ada 27 orang. Ruang tamu penuh.

Di tengah, Mama Zaki berdiri. Zaki di samping.

Mama: “Bapak, Ibu, Pak Haji, Paman, Bibi… malam ini kita kumpul bukan buat arisan. Tapi buat musyawarah. Zaki mau lamaran ke Indry di Kalimantan. Anak Alm. Pak Andre dan Alm. Bu Betari.”

Suara gemuruh. “Alhamdulillah!” “Akhirnya!” “Siapa Indry itu?”

Mama: “Anak baik. Katolik. Tapi Zaki dan dia sepakat jaga batas. Anak nanti ikut Katolik. Zaki udah ketemu romo, udah paham.”

Pak Haji Ustman: “Kalau niatnya baik, kita bantu.”

Pembicaraan panjang.

Siapa yang berangkat ke Kalimantan?

Paman Marsono: “Saya sebagai wali pasti berangkat.”

Pak Haji Ustman: “Saya sebagai petali.”

Mama: “Saya juga. Biar saya yang serahin seserahan.”

Zaki: “Aku, jelas.”

Paman Marsono: “Kita perlu minimal 2 orang muda bantu angkat barang. Ogah bisa ikut nggak? Dia adik Indry kan?”

Zaki: “Ogah mau, Paman. Dia udah nggak sabar ziarah makam mama, ayah, Deoni.”

(udah kenal dong sebagian keluarga sama Indry kan udah pernah ke Tegal)

Biaya gimana?

Ini yang berat. Tegal-Kalimantan nggak dekat.

Tiket, seserahan, penginapan.

Tiba-tiba suara dari sudut: “Saya yang bantu.”

Semua nengok. Kakek Rahmat, kakek dari ayah Zaki. Umur 78. Rambut putih. Duduk di kursi roda.

Kakek: “Dulu ayah Zaki nggak pernah minta bantuan. Dia supir angkot, tapi gengsinya tinggi. Sekarang anaknya mau nikah, saya nggak bisa diam.”

Mama Zaki nangis. “Pak… makasih.”

Kakek: “Nggak usah makasih. Ini kewajiban keluarga. Saya ada uang.

Tiket semua orang yang berangkat, saya tanggung. Seserahan juga. Asal satu syarat: kalian jaga anak itu baik-baik.”

Suasana hening. Terharu.

Zaki peluk kaki kakek. “Makasih, Kek.”

Kakek usap kepala Zaki. “Jaga Indry ya, Nak. Jangan sakiti dia.”

Tanggal dan adat

Pak Haji Ustman: “Kalau gitu kita tentukan tanggal. Tadi Bu Siti udah jelasin ke saya apa yang Indry sampaikan tentang adat di sana nanti.

Nupat Ara dulu. Petali datang bawa seserahan. Kalau diterima, baru tentukan hari nikah.”

Paman Marsono: “Kita kasih waktu Indry atur cuti. Jangan mepet.”

Zaki, : “Saya udah WA Indry. Dia bilang besok kabari tanggal cutinya.”

 

_Jam 10 malam. Grup WA “Keluarga AndreBetari” meledak lagi._

Meta: “DRY!!! GUE DENGER KABAR DARI ZAKI!!! KELUARGA BESAR DIA KUMPUL!!! GUE HARUS IKUT KE KALIMANTAN!!!”

Carel: “Met, kamu kerja kan?”

Meta: “GUE CUTI! GUE BAWA MR BULE!!! GANTENG BANGET DIA KALAU KETEMU KELUARGA KALIAN!!!”

Ogah: “KAK!!! AKU JUGA MAU ZIARAH MAKAM MAMA AYAH DEONI!!!”

Paul: “Aku nggak bisa ikut. Kerja nggak bisa ditinggal. Tapi kirim foto ya.”

Mauba: “Aku juga gak bisa ninggalin kerjaan. Dara apalagi, kerja juga. Tapi kirim video.”

Indry: “Tenang semua. Yang berangkat: Zaki, Ibu, Paman Marsono, Pak Haji Ustman, Ogah. Yang lain doakan dari jauh.”

Meta: “TAPI GUE TETEP PENGEN!!! GUE NANGIS KALAU NGGAK LIHAT!!!”

Indry: “Nangis di VC aja, Met. Kita live.”

Zaki ketik: “Kakek Rahmat bantu biaya semua. Kita berangkat minggu depan. Mohon doanya.”

Semua: “ALHAMDULILLAH!!!PUJI TUHAN” “TUHAN MEMBERKATI!!!”

 

_Malam itu. Jam 11 malam. Rumah Ibu.

Indry udang ngabari kalo Lusa bisa berangkat.

Gas lansung Zaki urus semuanya. meski kakek yang garis depan masalah biaya, Zaki tetap sudah siapkan Tabungannya untuk rencana rencana kedepan.

Selama 15 Tahun ini, Zaki kerja cukup keras mempersiapkan masa depan, banyak Jenis pekerjaan Ia tekuni, usaha bukan hanya dua atau tiga bidang saja.

Hanya Zaki Pria yang sangat rendah hati, tidak pernah umbar kesuksesannya. bahkan Ibu pun gak semua tau apa usahanya.

Meski dulu belum yakin akan dengan siapa... Namun untuk masa depan, Zaki sebenarnya sudah sangat siap.

Mama Zaki masih ngepak seserahan Kue kue yang tahan cukup lama.

Kain sarung batik. Handuk. Skincare. Alat mandi. dan segala macam nya, hanya set Emas yang masih belum di kemas. selain akan beli baru, Ibu juga akan memberi Perhiasan yang diwariskan turun temurun.

Mama: “Zaki, cincinnya udah kamu kasih Indry kan?”

Zaki: “Udah Bu. Indry yang simpan.”

Mama: “Bagus. Biar dia tau kamu serius.”

Zaki: “Bu… makasih ya. Buat semua ini.”

Mama: “Nak, ibu cuma pengen kamu bahagia. Ayah kamu pasti senang lihat kamu mau nikah.”

Mama peluk Zaki. Lama.

Zaki: “Bu, aku takut gagal.”

Mama: “Nggak ada yang gagal kalau niatnya baik. Yang penting kamu jaga Indry.”

 

Jumat pagi. Jam 6 pagi. Grup WA lagi

Indry kirim foto: Indry pegang cincin polos. Ada

ukiran “Z-I” di dalam.

....

Indry: “Iya, Bu. Cincinnya udah ama Indry. Makasih ya, Bu.”

berbalas pesan sama Ibu.

Mama Zaki balas voice note. Suara bergetar: “Pakai baik-baik ya, Nak. Itu tanda Zaki udah siap.”

Carel balas: “Kak, kirim foto cincinnya dong. Aku mau nangis.”

Ogah: “KAK!!! AKU JUGA MAU LIHAT!!!”

Meta: “GUE JUGA!!! GUE MAU NANGIS SAMA MR BULE!!!”

Indry ketawa. Kirim foto lagi. Close up.

Semua balas hati. ❤️❤️

 

Malam. Jam 9 malam. Zaki telepon Indry

Zaki: “Sayang… capek ya kamu?”

Indry: “Nggak. Senang. Keluarga kamu heboh tapi hangat.”

Zaki: “Ibu sampe nggak tidur ngepak seserahan.”

Indry: “Kakek kamu juga hebat. Nggak nyangka mau bantu.”

Zaki: “Ayah dulu gengsi. Tapi kakek bilang, ini kewajiban keluarga.”

Indry: “Keluarga itu jembatan ya, Zak.”

Zaki: “Iya, sayang. Jembatan kita ke altar.”

Mereka diem. Denger napas masing-masing.

Zaki: “Indry… aku nggak sabar.”

Indry: “Aku juga, Zaki. Tapi kita tahan.”

Zaki: “Tahan, sayang. Demi yang halal.”

Tutup telfon.

Di Tegal, Mama Zaki masih ngecek seserahan.

Di Karawaci, Indry pegang cincin. Tatap foto Zaki.

Di Kamar, Ogah udah packing baju.

Di Jakarta, Meta VC Mr Bule: “BABE, AKU MAU KE KALIMANTAN!!!”

Di Tegal, kakek Rahmat senyum lihat foto Zaki kecil.

Semua bergerak. Semua berdoa.

Lamaran tinggal menghitung hari.

Aku akan ke Bahtera. Tuhan tau

1
Aiko Yuki
air mataku ikut netes kak 😭
AnYu: terima kasih sudah membaca... ini karya pertama ku... masih tahap nulis blm d revisi mungkin masih banyak typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!