Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 04
Tara melamun di dalam kamarnya. Dia memikirkan hal yang tak seharusnya dia pikirkan yaitu memikirkan David. Pertemuannya dengan David dan Miska yang tak disengaja beserta sebuah kenyataan bahwa David menjalin kasih dengan Miska mengusik pikirannya.
Ada perasaan yang tak bisa dia jelaskan. Antara senang, sedih, atau mungkin cemburu. Tapi mengapa dia harus merasakan perasaan yang tak seharusnya itu?
Tara menggeleng. Ada apa dengan hatinya? Kenapa kehadiran David mempengaruhi pikirannya? Tak sewajarnya dia seperti ini. Bukankah seharusnya Tara merasa senang kalau David sudah membuka hati pada wanita lain?
Terlalu sibuk dengan lamunannya, Tara sampai tak sadar jika Devan sudah masuk kamar dan memanggilnya.
Devan mengernyit karena Tara masih setia memandang jendela kamar. Devan melangkah mendekati Tara dan memegang bahunya.
Tara tersentak dan langsung menoleh. “Eh. Udah pulang, Dev?”
Devan mengangguk. “Lagi mikirin apa sampai aku pulang kamu nggak tahu?”
Tara menggeleng. “Nggak mikirin apa-apa kok,” dustanya.
“Aku manggil kamu dari tadi. Tapi kamu nggak denger.”
“Iya sorry. Aku cuma lagi mikirin Abang aja.” Tara terpaksa berbohong demi kebaikan. Bukan ingin menutupi, tapi dia tak ingin Devan tahu kalau dia tak sengaja bertemu David hari ini. Termasuk perasaan aneh yang ia rasakan sejak pertemuan itu.
Devan mengernyit. “Kenapa sama Abang kamu?”
“Nggak nikah-nikah juga. Padahal Mbak Dea mau lamaran.”
Devan terkejut. “Dea mau lamaran? Kok kamu tahu?”
“Aku kan follow instagram dia. Dia bikin story kalau mau lamaran.”
“Bagus deh.”
“Kamu senang? Kamu puas karena rencana kamu buat misahin Abang sama Mbak Dea dulu akhirnya sukses?” Sindir Tara.
“Aku nggak suka kamu ngomong kayak gitu, Ra. Kejadian itu udah jadi masa lalu. Dan kita sepakat untuk nggak bahas lagi.”
Tara tersenyum sinis. ”Ya gimana lagi. Nyatanya emang begitu kok.”
Devan mendengus dan melangkah ke dalam kamar mandi. “Bahas aja terus sampai bosen.”
Tara tertawa. “Baperan amat sih, Pak Guru.”
Devan menggeleng jengah dan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah Devan menutup pintu, Tara terdiam dan kembali berpikir. Kali ini bukan memikirkan David, melainkan memikirkan nasib pernikahannya.
Sebenarnya apa tujuan mereka menikah? Sampai kapan pernikahan hambar ini bertahan? Tara sudah berulang kali meminta pisah, tapi Devan selalu menolaknya. Tara sempat percaya diri bahwa Devan mulai mencintainya, namun hingga sampai saat ini, Devan tak mengatakan apa-apa. Bahkan Devan tak pernah menyentuh fisiknya lebih dalam.
Ting! Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Devan yang ditinggal di atas meja rias. Tara menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup. Terdengar bunyi air shower yang menandakan Devan masih mandi.
Tara berdiri dan melangkah ke meja rias. Sebuah pesan masuk terbaca dari nomor yang disimpan dengan nama ‘Alan’.
Jantung Tara mencelos ketika pesan itu terbaca sebagian. Tara bahkan sampai menggenggam ponsel Devan erat.
Alan [Besok malam, baby. Sesuai janji kita di ...]
Sayangnya pesan itu tak terbuka sepenuhnya jadi Tara tak tahu mereka akan bertemu dimana. Jelas Tara curiga. Siapa Alan? Dan mengapa Alan memanggilnya dengan sebutan yang … begitulah.
Tara bergidig membayangkan apa yang mungkin dilakukan Devan dengan pria yang bernama Alan. Alan, nama seorang pria bukan?
Suara air shower berhenti. Tara meletakkan kembali ponsel Devan dan duduk lagi di pinggir ranjang seperti sebelumnya sambil bermain ponsel.
Devan keluar dari kamar mandi dan mengambil ponselnya. Tara tak salah. Dia melihat dengan jelas Devan tersenyum saat membaca pesan itu. Tara menggenggam ponselnya erat untuk menyalurkan rasa kesal dan rasa tak berdayanya untuk bertanya siapa Alan itu pada suaminya.
Setelah membalas pesan itu, Devan melihat Tara. Dengan masih memakai handuk, dia menghampiri Tara dan duduk di sampingnya.
“Ra, aku boleh ijin keluar besok?” tanya Devan menatap Tara dan melirik ponsel Tara yang sedang scroll aplikasi belanja online.
“Besok kan Minggu. Mau kemana?” tanya Tara tanpa menoleh.
“Ada urusan kerjaan. Aku mau ke toko cabang di tengah kota. Sekalian ada pekerjaan juga disana.”
“Tumben nggak ngajak aku?” Tara menutup ponselnya dan menatap Devan. Jujur Tara tergoda dengan tubuh tegap suaminya yang hanya memakai handuk di pinggang itu. Namun Tara tahu bahwa dia tak bisa menyentuhnya. Tidak tanpa ijin Devan tentunya.
“Ini urusan laki-laki. Aku takutnya kamu bosan disana.”
Tara menghela napas berat. Jelas dia tahu apa maksud urusan laki-laki yang diucapkan Devan. Jelas ada hubungannya dengan pesan yang masuk ke ponsel suaminya tadi.
“Kamu besok boleh deh kemana-mana. Bebas. Atau mau belanja? Aku transfer uangnya buat belanja. Gimana?” Devan mencoba membujuk Tara agar tak ikut dengannya.
“Kalau kamu mau pergi ya udah pergi aja. Aku nggak tahu besok mau kemana,” ujar Tara sedikit ketus.
Devan menangkap nada bicara ketus Tara namun dia tak ingin bertanya lebih jauh lagi. Mungkin Tara lagi badmood, pikirnya.
Devan pun berdiri dan menuju ruang walk in closet untuk berganti pakaian. Tara mengembuskan napas panjang.
***
“Bapak.. Ibu..”
Kedua orang tua paruh baya yang sedang menonton televisi di ruang keluarga kompak menoleh. Keduanya mematung saat melihat orang yang menyapa mereka.
“David…,” gumam sang Ibu menatap David tak percaya.
David mengangguk pelan dan menghampiri kedua orang tuanya. David bersimpuh dan memeluk Ibunya.
“Maafin aku, Bu.”
Lia sontak memeluk erat sang putra sulung dengan air mata yang menetes. Sekian tahun berlalu tak bertemu membuat Lia terkadang terjebak dalam halusinasinya sendiri yang berharap David pulang.
Lia memegang wajah David, menatapnya lekat untuk memastikan bahwa ini bukan bagian dari halusinasinya.
David yang melihat ekspresi sang Ibu sontak ikut menangis. Dia sadar dia telah berbuat salah. Ibunya banyak berubah. Semakin kurus dan wajahnya terlihat lebih pucat.
“Maafkan aku, Bu. Aku salah. Maafkan aku karena aku baru pulang sekarang,” ujar David menatap wajah sang Ibu.
Lia menggeleng dan kembali memeluk erat putranya yang kini telah kembali padanya. Suara yang begitu sangat dirindukannya bertahun-tahun lamanya kini nyata ada di depannya.
“Ibu sangat merindukanmu, Nak. Maafkan Ibu yang egois. Ibu menyesal, Nak.”
David menggeleng. “Ibu nggak salah. Aku yang salah. Aku anak durhaka.”
Lia semakin memeluk erat putranya. Tak ada gunanya menyalahkan siapa yang salah. Yang terpenting mereka kembali bersama saat ini.
Bram melihat dengan haru kedua orang yang dicintainya. Akhirnya dia bisa melihat lagi senyuman dari bibir istrinya. Lia melirik Bram dan tersenyum.
Lia melepas pelukannya dan memberi kode pada David untuk mendekati sang ayah. David menoleh memandang sang Ayah yang juga sedang memandanginya.
David beranjak mendekati Bram dan bersimpuh di depan Bram. “Maafkan David, Pak.”
Bram merangkul bahu David dan memeluknya. “Maafkan Bapak juga, Nak.” Suaranya bergetar menahan tangis bahagia yang teramat sangat karena sang putra telah kembali.
Sebanyak apapun kesalahan sang putra, tetap saja orang tua tetap akan selalu merindukan dan menyayanginya.
David mengusap air matanya dan menatap Bram juga Lia bergantian. “Bapak dan Ibu bisa marahin aku sekarang. Aku banyak salah jadi perlu dihukum.”
Lia dan Bram saling tatap lalu melempar senyum. “Sini, Nak. Ibu akan menghukummu,” ujar Lia meminta David mendekat.
David mengangguk dan kembali bersimpuh di depan sang Ibu, siap menerima hukuman apapun bahkan jika itu berupa pukulan. David pantas mendapatkannya. Namun tak disangka hukuman yang diberikan oleh sang Ibu adalah memeluknya dengan erat sampai David kesulitan bernafas.
“Bu, udah, Bu. Bisa mati loh anakmu ini nanti,” ujar David dengan terbata karena kekuatan pelukan sang Ibu benar-benar luar biasa menyakitkan.
Lia melepas pelukan sembari tertawa. “Ibu dan Bapak selalu sayang kamu dan berharap kamu pulang. Ibu hanya ingin memelukmu, Vid. Ibu pikir kamu akan terus marah sama kami dan tak kan pernah kembali.” Tatapan sang Ibu kembali sendu.
David tersenyum. “Aku yang belum siap ketemu sama Bapak dan Ibu setelah kalian menjodohkanku waktu itu. Aku udah buat kalian kecewa.”
“Lalu apa yang membuat kamu akhirnya siap ketemu kami?” tanya Bram.
David menoleh dan tersenyum. “Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin memulai hidup baru tanpa masalah apapun, Pak, Bu. Aku belum meminta maaf pada kalian berdua. Mungkin itulah sebabnya apa yang kuinginkan tak juga ku dapatkan,” ucap David mengatakan kalimat terakhir dengan pelan. Ucapan itu merujuk pada ketidakmampuannya mendapatkan Tara kembali.
Lia dan Bram saling pandang. “Bisa ceritakan apa yang terjadi setelah kamu pergi dari rumah waktu itu, Nak?” tanya Lia.
David mengangguk. Dan mengalirlah cerita hidupnya sejak pergi dari rumah hingga akhirnya dia memutuskan kembali ke rumah orang tuanya kini. Hanya saja dia tak menceritakan tentang Tara. Dia hanya menceritakan tentang hubungannya dengan Miska yang akhirnya kandas juga karena hatinya masih belum bisa terbuka untuk wanita lain selain Tara.
Sepanjang bercerita, berbagai ekspresi ditunjukkan oleh kedua orang tua David. Dari yang terkejut hingga bangga karena akhirnya David punya usaha sendiri.
“Ibu bangga sama kamu, Vid. Perjuanganmu tak sia-sia. Kamu sekarang udah sukses,” ucap Lia mengelus kepala David dengan lembut.
“Bapak juga nggak nyangka kamu setangguh itu, Vid. Harusnya Vano bisa belajar dari kamu. Oh iya, Bapak sampai lupa untuk ngabarin Vano kalau kakaknya sudah kembali,” ujar Bram hendak mengambil ponsel di dekatnya.
“Vano sudah tahu, Pak, Bu. Sebenarnya aku sama Vano udah ketemu dari tiga tahun lalu. Tapi aku melarang Vano buat ngasih tahu kalian,” ucap David membuat Bram meletakkan kembali ponselnya dan menatap tajam sang putra sulung.
“Kalian diam-diam membohongi kami?” Desis Bram.
David menggeleng. “Nggak, Pak. Hanya menyembunyikan aja,” ujar David nyengir.
“Aw!” Pekik David saat tiba-tiba telinganya di jewer sang Ibu.
“Beraninya kalian berdua sekongkol seperti itu!” Seru Lia sambil terus menjewer pelan telinga David.
“Ampun, Bu,” mohon David.
Lia melepas tangannya dari telinga David dan mengelus kepala David. Ketiganya pun saling pandang dan tersenyum. Ada rasa lega luar biasa di hati ketiganya karena masalah mereka telah selesai. David sudah melupakan rasa sakit hatinya pada kedua orang tuanya yang memaksa menjodohkannya dengan wanita yang tak dicintainya. Dia ingin berdamai dengan kedua orang tuanya agar langkahnya lebih ringan untuk memulai hidup barunya nanti.
Bersambung …