Helen Kusuma adalah seorang putri konglomerat yang jatuh miskin setelah ibu tirinya, Beatrix Van Amgard mengusirnya paksa pasca mendiang papa Helen, Aditya Kusuma tewas dalam sebuah kecelakaan tragis! Helen harus menghadapi penderitaan dan kehinaan oleh kejamnya Beatrix walau ia sudah tak punya apa pun lagi namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria bernama Aryo Diangga membuat hidupnya jauh lebih baik. Bagaimana akhir kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dia Kabur
Dengan keberanian yang lahir dari keputusasaan, Helen menarik tangan Andre menuju mulutnya. Ia menggigit punggung tangan pria itu sekuat tenaga. Ia bisa merasakan rasa anyir darah di lidahnya.
"Aaghh! Sialan!" Andre berteriak kesakitan, refleks melonggarkan cengkeramannya.
Helen tidak membuang waktu. Ia meraup segenggam pasir dan kerikil dari tanah, lalu melemparkannya tepat ke arah wajah Andre.
"Mataku! Kurang ajar!"
Andre terhuyung, menutupi matanya yang perih terkena pasir tajam. Helen tidak berhenti di situ. Ia menyambar apa pun yang ada di dekatnya—batu seukuran kepalan tangan, ranting-ranting kering, hingga dedaunan kaktus yang berduri. Ia melemparkannya secara kalap ke arah Andre dan dua anak buahnya yang mulai mendekat.
"Pergi! Jangan sentuh aku!" jerit Helen histeris.
Ia berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju semak-semak Manchineel yang rimbun di pinggir tebing. Ia tidak peduli jika duri-duri merobek kulitnya atau batu tajam menyayat telapak kakinya. Yang ia tahu, ia harus kembali pada Ario. Ia harus meminta maaf pada pria yang telah ia maki-maki, pria yang ternyata adalah satu-satunya pelindung sejatinya.
****
Di Jakarta, fajar hampir menyingsing, namun cahaya di ruang kerja Beatrix van Amgard tidak pernah padam. Ia sedang duduk di kursi kebesarannya, memutar-mutar sebuah pulpen emas, menunggu kabar keberhasilan dari Aruba.
Ponsel di atas meja bergetar. Beatrix segera mengangkatnya.
"Katakan padaku dia sudah di atas kapal," perintah Beatrix tanpa basa-basi.
Hening sejenak di seberang sana. Hanya suara desis angin dan napas yang memburu.
"Nyonya... ada kendala," suara Andre terdengar bergetar, ada nada ketakutan yang nyata. "Helen... dia melarikan diri. Dia melawan. Dia menyadari posisi saya sebelum kami bisa membawanya ke titik penjemputan."
Prakkk!
Beatrix menghantamkan gelas kristal berisi wiski ke dinding marmer di belakangnya. Cairan cokelat dan serpihan kaca berserakan, mencerminkan kemarahan yang meluap-luap.
"Bagaimana mungkin?!" teriak Beatrix, suaranya melengking tajam, membuat Bambang yang berdiri di pojok ruangan berjengit. "Kau dilatih untuk memanipulasi emosi wanita paling keras kepala sekalipun, Andre! Dan sekarang kau bilang seorang gadis manja seperti Helen bisa meloloskan diri darimu?!"
"Ario ikut campur, Nyonya. Dia meretas komunikasi kami dan memberi tahu Helen lebih awal—"
"Aku tidak butuh alasan!" sela Beatrix, napasnya naik-turun dengan cepat. "Dengar, Andre. Jika Helen sampai kembali ke pelukan Ario dan mereka berhasil meninggalkan Aruba, kau jangan pernah bermimpi untuk melihat uangmu. Bahkan jangan bermimpi untuk melihat matahari esok hari. Cari dia! Seret dia kembali! Gunakan kekerasan jika perlu!"
Beatrix memutus sambungan telepon dengan kasar. Ia berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke arah cakrawala Jakarta yang mulai memutih. Tangannya mengepal kuat hingga kukunya memutih.
"Helen... kau pikir kau sudah pintar?" gumam Beatrix, matanya berkilat penuh kebencian yang murni. "Kau pikir pasir dan batu bisa menyelamatkanmu dari jaringku? Kau hanyalah tikus yang sedang berlari di dalam labirin yang kubangun sendiri."
Ia menoleh ke arah Bambang. "Bambang, kirimkan tim tambahan dari Venezuela. Aku ingin Aruba ditutup. Jangan biarkan ada satu pun pesawat atau kapal pribadi meninggalkan pulau itu tanpa seizinku. Dan hubungi relasi kita di kepolisian setempat. Laporkan bahwa ada buronan internasional bernama Ario Diangga yang membawa lari tawanan."
Beatrix tersenyum kejam. Jika ia tidak bisa memiliki Helen secara fisik untuk dihancurkan perlahan, maka ia akan memastikan Helen dan Ario mati sebagai buronan di tanah asing.
****
Kembali di Aruba, Helen terus berlari hingga paru-parunya terasa seperti terbakar. Ia bersembunyi di balik sebuah batu karang besar yang menghadap ke laut, mencoba mengatur napasnya yang tersengal. Tubuhnya gemetar hebat, bukan hanya karena dinginnya angin malam, tapi karena rasa bersalah yang kini menghimpit dadanya.
Ario... maafkan aku... maafkan aku... isaknya tanpa suara.
Ia teringat betapa kasarnya ia memperlakukan Ario semalam. Ia teringat bagaimana ia menuduh suaminya sebagai penjara, padahal Ario sedang membangun benteng untuk melindunginya dari predator seperti Andre.
****
Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat. Bukan langkah kasar Andre, melainkan langkah yang lebih ringan namun mantap. Helen mencengkeram sebuah batu tajam, bersiap untuk melawan lagi.
"Helen?" suara itu rendah, bergetar oleh kecemasan.
Helen tertegun. Ia mengenal suara itu. Suara yang selama ini ia anggap dingin, namun kini terdengar seperti musik yang paling indah.
"Ario?" bisik Helen ragu.
Seorang pria muncul dari balik bayang-bayang pohon Divi-divi. Kemejanya robek di bagian bahu, wajahnya berlumuran darah sisa perkelahian di hotel, namun matanya memancarkan kelegaan yang luar biasa saat melihat Helen.
"Helen!" Ario berlari mendekat.
Tanpa pikir panjang, Helen menghambur ke pelukan Ario. Ia menangis sejadi-jadinya di dada pria itu, mencengkeram kemeja Ario seolah takut jika ia melepaskannya, ia akan kembali ke dalam mimpi buruk.
"Maafkan aku, Ario... Kau benar... Andre itu... dia jahat... Dia orangnya Tante Beatrix..." rancau Helen di sela tangisnya.
Ario memeluk Helen dengan sangat erat, membenamkan wajahnya di rambut Helen yang berantakan. "Sshh... sudah, tidak apa-apa. Aku di sini. Kau aman sekarang."
Ario melepaskan pelukannya sedikit, memegang wajah Helen dengan kedua tangannya yang kasar namun terasa sangat hangat. "Apakah kau terluka? Apa pria itu menyentuhmu?"
Helen menggeleng cepat. "Aku menggigitnya. Aku melemparkan pasir ke matanya. Aku lari, Ario... aku lari untuk kembali padamu."
Ario tersenyum tipis—sebuah senyuman yang benar-benar tulus, bukan senyuman dingin yang selama ini Helen lihat. "Kau hebat, Helen. Kau jauh lebih kuat dari yang kau duga."
Namun, kebahagiaan itu hanya berlangsung sesaat. Suara raungan mesin jeep terdengar mendekat dari arah jalan setapak. Lampu sorot membelah kegelapan, mencari keberadaan mereka.
"Mereka datang," desis Ario. Wajahnya kembali menjadi mode prajurit. "Dengar, Helen. Beatrix sudah menutup pulau ini. Kita tidak bisa pergi melalui jalur resmi. Kita harus menuju ke sisi lain pulau, ke tempat para nelayan lokal yang mengenalku. Kita harus menyeberang ke Venezuela malam ini juga."
Helen menggenggam tangan Ario dengan erat. "Aku akan ikut ke mana pun kau pergi, Ario. Aku tidak akan melepaskan tanganmu lagi."
Ario menatap mata Helen, dan di tengah kegelapan malam Karibia itu, sebuah ikatan baru terbentuk—bukan lagi karena paksaan balai desa, melainkan karena kepercayaan yang lahir dari api pengkhianatan.
"Ayo," ajak Ario.
Mereka mulai berlari menembus kegelapan, menjadi bayang-bayang di atas pasir putih, meninggalkan jejak kaki yang segera disapu oleh ombak. Di kejauhan, Andre Willson masih berteriak memanggil nama Helen, namun suaranya kian tenggelam oleh deru samudera. Perang ini belum berakhir, namun kali ini, sang Putri Jakarta tidak lagi berdiri sendirian. Ia telah menemukan pelindungnya, dan bersama-sama, mereka akan meruntuhkan tahta berdarah yang dibangun oleh Beatrix van Amgard.