Di lembah Brantas yang tenang, Wira hidup sebagai pemuda desa biasa, tanpa nama besar, tanpa warisan, dan tanpa tahu bahwa darah yang mengalir di tubuhnya menyimpan rahasia berbahaya. Ketika desa tempat ia tinggal dibakar dalam pusaran perebutan kuasa antara Gelang-Gelang, Singhasari, dan para penguasa yang saling mengkhianati, Wira kehilangan segalanya dalam satu malam. Dari reruntuhan itu, ia dipaksa melarikan diri, bertahan hidup, dan perlahan menapaki jalan yang mengubahnya dari anak desa menjadi pendekar yang disegani.
Di bawah bimbingan Ki Rangga, bersama sahabat setianya Panca, Wira melewati latihan keras, perburuan, pengkhianatan, dan pertarungan hidup-mati. Sementara itu, Jayakatwang dan kekuatan-kekuatan besar lain bergerak di atas panggung sejarah, menjatuhkan kerajaan dan membangun tatanan baru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Jalan Keluar yang Lama
Mereka berlari menyusuri lorong samping aula bawah tanah dengan napas memburu.
Di belakang mereka, suara benturan pada pintu batu utama makin keras, lalu disusul teriakan yang menggema dari ruang besar tadi. Musuh mereka sudah masuk ke kompleks bawah tanah itu. Wira tidak menoleh lagi. Ia hanya memegang cincin tua erat-erat di satu tangan, sementara tangan satunya menahan dinding batu agar tubuhnya tidak terpeleset di lorong yang miring. Udara di sana lebih sempit, lebih lembap, dan lebih dingin dari ruang utama. Seakan jalur itu sengaja dibangun untuk orang-orang yang hanya diberi waktu beberapa detik untuk hidup.
Ki Rangga memimpin di depan dengan langkah cepat namun tetap terukur. Jaya berada tepat di belakangnya, sesekali mengangkat lampu kecil agar lorong tidak terlalu gelap. Raden Seta membawa beberapa gulungan naskah dan tidak berhenti menoleh ke belakang. Panca berlari paling belakang sambil mengeluh pendek setiap beberapa langkah, tetapi tetap bertahan.
“Ini terakhir kali aku ikut turun tanah begini,” gumam Panca.
“Kalau kita selamat,” balas Jaya tanpa menoleh, “kau boleh menulis perjanjian itu.”
Panca menggerutu. “Aku benci orang yang masih sempat bercanda saat sedang dikejar.”
“Justru karena dikejar,” kata Jaya, “supaya tidak panik.”
Wira tidak ikut bicara. Kepalanya dipenuhi tulisan ibunya yang baru saja ia lihat di dinding aula. Kalimat itu masih menempel di benaknya seperti paku panas. *Anakku akan datang bila waktu tiba.* Ia tidak tahu harus marah atau menangis. Yang ia tahu hanya satu: selama ini ibunya memang menyiapkan dirinya untuk datang ke tempat ini. Bukan kebetulan. Bukan pula karena nasib. Ia memang dipanggil.
Lorong itu berakhir pada sebuah pintu kayu tua yang mulai miring ke dalam dinding batu. Ki Rangga mendekat dan menekan sisi pintu dengan kuat. Kayu berderit pendek, lalu terbuka ke sebuah ruang sempit yang lebih terang. Cahaya malam menyelinap dari celah atas, dan angin dingin menerpa wajah mereka.
“Keluar,” kata Ki Rangga singkat.
Mereka satu per satu menyeberangi ambang pintu itu dan mendapati diri berada di sebuah ruang batu yang tampak seperti bekas gudang lama di sisi lain bukit. Atapnya sebagian runtuh, namun dindingnya masih cukup kuat. Di salah satu sudut, ada tumpukan peti tua yang sudah lapuk, dan di ujung ruangan terlihat bukaan kecil menuju luar.
Wira menatap celah itu. Dari sana, ia bisa melihat lereng bukit yang turun ke semak-semak, jauh dari bangunan utama. Tempat itu tampaknya benar-benar salah satu jalan keluar rahasia yang dimaksud Raden Seta.
“Berhasil,” desis Panca sambil membungkuk, tangannya menyangga lutut. “Akhirnya ada pintu yang tidak menyiksa kami.”
Raden Seta memandang sekeliling dengan cepat. “Belum aman.”
Ki Rangga mengangguk. “Mereka akan mencari jalur ini.”
Jaya melangkah ke celah luar dan mengintip sebentar. “Ada jejak cahaya di bawah. Mungkin mereka masih di aula utama.”
Wira maju mendekat. Tangannya masih menggenggam cincin tua, dan ia baru menyadari jemarinya gemetar. Ia menatap keluar. Malam di luar tampak lebih pekat, namun udara terbuka membuat dadanya sedikit lebih ringan. Setidaknya mereka tidak lagi terkurung di bawah tanah.
Namun rasa lega itu tidak bertahan lama.
Dari belakang, terdengar suara keras. Seperti sesuatu yang jatuh menimpa lantai batu di lorong tadi.
Mereka semua langsung menegang.
Ki Rangga menoleh cepat. “Mereka sudah masuk ke lorong.”
Raden Seta mendadak memucat. “Kalau mereka tahu jalur keluar ini, kita harus bergerak sekarang.”
Panca langsung mengangkat kepala. “Selalu ada kata ‘sekarang’ dalam hidup kita.”
Jaya memberi isyarat ke luar. “Turun lewat sisi kiri. Ada semak rapat, lalu jalur batu ke bawah.”
Wira mengangguk, tetapi sebelum bergerak ia menoleh ke ruangan sempit itu sekali lagi. Di dinding dekat pintu, ada ukiran kecil yang mirip tulisan lama. Ia tidak sempat membacanya, tetapi bentuknya seperti penanda arah, semacam petunjuk bagi siapa pun yang keluar melalui jalur ini.
Ki Rangga menangkap pandangan Wira. “Apa?”
Wira menunjuk. “Ada tulisan.”
Raden Seta menoleh cepat dan mendekat. Ia menyapu debu tipis di bawah ukiran itu dengan jari. Ternyata benar, ada satu kalimat singkat yang tergores di batu.
“Yang keluar harus membawa yang hilang.”
Panca mengernyit. “Maksudnya apa lagi itu?”
Raden Seta menatap Wira tanpa bicara lama. Lalu pandangannya turun ke cincin di tangan Wira.
Wira langsung mengerti maksudnya. “Benda ini.”
“Ya,” kata Raden Seta. “Dan juga yang lain.”
Ki Rangga menaruh tangan di bahu Wira. “Kita bahas setelah aman.”
Wira mengangguk kecil. Mereka segera menuruni lereng kecil di sisi kiri bangunan runtuh itu. Jalannya sempit, dipenuhi akar dan batu-batu lepas. Beberapa kali Panca hampir terjatuh karena pijakan licin, tetapi Ki Rangga dan Jaya membantunya tanpa banyak bicara. Raden Seta bergerak paling hati-hati, menjaga gulungan naskah tetap aman di balik kain.
Setelah beberapa menit menurun, mereka tiba di sebuah dataran kecil yang dikelilingi ilalang tinggi. Dari tempat itu, bukit besar di belakang mereka tertutup batu-batu dan gelap malam. Wira berhenti sejenak dan menatap ke atas. Tidak ada api yang terlihat dari sisi ini, hanya siluet bangunan tua yang kini terasa sangat jauh.
“Ke mana sekarang?” tanya Wira.
Raden Seta menjawab, “Ke tempat yang lebih rendah. Kita butuh aman dulu sebelum fajar.”
Panca langsung mengernyit. “Aman itu seperti kata mitos malam ini.”
Jaya menyipitkan mata ke arah timur. “Ada kampung kecil tak jauh dari sini. Tapi kita tidak boleh lewat jalan umum.”
Ki Rangga mengangguk. “Kita potong melalui kebun tua.”
Wira menatap mereka bergantian. “Kampung apa?”
Raden Seta menjawab singkat, “Kampung yang tidak banyak bicara.”
Panca langsung tertawa pendek. “Hebat. Jadi kita menuju tempat yang bahkan penduduknya tidak suka bicara.”
Wira hampir tidak mendengar canda itu. Kepalanya masih penuh oleh satu pertanyaan besar. Ia akhirnya memberanikan diri bertanya kepada Raden Seta, “Tulisan di aula tadi... itu benar nama keluargaku?”
Raden Seta terdiam sebentar. Lalu mengangguk. “Ya.”
Wira menatap lurus ke depan. Ada sensasi aneh yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti mendengar bagian dari dirinya sendiri yang selama ini dipotong dari dunia. Ia tidak tahu apakah harus marah pada ibu, pada orang-orang lama, atau pada dirinya sendiri karena baru sekarang menyadarinya.
“Kenapa nama itu dihapus?” tanyanya.
Raden Seta menatap Wira cukup lama sebelum menjawab. “Karena saat itu ada orang yang ingin memastikan garis itu tidak lagi diakui.”
“Siapa?”
“Banyak orang,” jawab Raden Seta. “Dan sebagian masih hidup.”
Wira mengencangkan rahang. “Termasuk orang yang memimpin mereka?”
Raden Seta mengangguk. “Mungkin.”
Ki Rangga menoleh ke belakang. “Kita tidak boleh diam terlalu lama.”
Mereka pun berjalan lagi. Kali ini mereka menyusuri kebun tua yang dipenuhi batang tanaman tinggi dan tanah yang mengering keras. Di antara barisan tumbuhan, sesekali terlihat bekas bangunan kecil yang sudah roboh. Jalur itu sepi, tetapi kesunyian justru membuat Wira makin gelisah. Di setiap bayangan, ia merasa ada kemungkinan orang lain mengintip. Namun sampai beberapa saat, tak ada tanda pengejar.
Mereka akhirnya berhenti di bawah pohon besar yang akar-akarnya menjulur di permukaan tanah seperti jaring. Ki Rangga menyuruh semua beristirahat sejenak.
Panca langsung duduk dan menekan pelipisnya. “Aku sungguh butuh tidur, makan, dan hidup yang tidak diisi rahasia.”
Jaya menatapnya. “Tiga-tiganya tidak tersedia malam ini.”
Panca mendesah panjang.
Wira duduk di akar pohon sambil memandangi cincin tua. Pada permukaannya, ukiran tipis itu mulai terasa jelas. Ia berpikir tentang tulisan ibunya, tentang ruang bawah tanah, tentang nama keluarganya yang dihapus, dan tentang sesuatu yang disebut waris. Semua itu seperti potongan-potongan yang belum mau menjadi utuh.
Ia memegang cincin itu di depan cahaya remang. “Kalau ini pengikat, berarti ada sesuatu yang harus dipulihkan.”
Raden Seta menatapnya. “Benar.”
“Pemulihan apa?”
“Nama,” jawab Raden Seta. “Hak. Dan tempat yang dulu disembunyikan.”
Wira menatapnya lama. “Jadi ibu saya tidak kabur hanya untuk lari.”
Raden Seta menggeleng. “Ia menunda sesuatu. Dan mungkin juga menyelamatkan sesuatu yang lebih besar.”
Ki Rangga memandang Wira dengan tenang. “Itu sebabnya ia menyuruhmu datang.”
Wira menunduk. “Aku tidak tahu apakah aku siap.”
“Tidak ada yang siap,” kata Ki Rangga. “Yang penting kau datang.”
Jaya mengalihkan pandangan ke arah selatan. “Ada gerakan di belakang.”
Semua langsung menegang.
Wira menoleh cepat. Dari jauh, di antara kebun dan bayangan batang tanaman, tampak satu cahaya kecil bergerak perlahan. Lalu satu lagi. Bukan banyak, tetapi cukup untuk membuat perutnya dingin. Mereka ternyata masih diburu.
“Berapa orang?” bisik Panca.
“Tidak banyak,” jawab Jaya. “Tapi cukup kalau mereka tahu arah kita.”
Raden Seta langsung berdiri. “Kita harus pindah lagi.”
Ki Rangga menatap cahaya jauh itu, lalu menatap lereng ke barat. “Kita ambil jalur air.”
Wira mengernyit. “Ada sungai?”
“Bukan sungai besar,” jawab Ki Rangga. “Aliran kecil. Tapi cukup untuk menutup jejak.”
Mereka bergerak lagi, kali ini lebih cepat dan lebih teratur. Kebun tua berakhir di area berbatu yang menurun. Di bawahnya terdengar suara air yang mengalir pelan. Benar saja, ada parit alami yang memanjang di antara dua tebing batu rendah. Airnya dangkal, namun cukup deras untuk membawa jejak kaki.
“Lewat sini,” kata Jaya.
Mereka menyeberang satu per satu. Air dingin langsung menyentuh kaki Wira, membuatnya menggigil sejenak. Tapi ia tidak berhenti. Setelah menyeberang, mereka mengikuti aliran itu beberapa langkah, lalu berbelok ke kanan ke jalur tanah yang tertutup semak rendah. Wira bisa mendengar suara kecil di belakang mereka, samar namun nyata, seolah para pengejar belum menyerah.
Ki Rangga melangkah lebih cepat. “Jangan berhenti.”
Wira mengangguk. Napasnya sudah mulai terasa perih, namun tubuhnya tetap bergerak. Di depan, langit mulai berubah sedikit lebih terang di timur. Fajar belum datang, tetapi malam sudah mulai pecah di ujungnya.
Setelah berjalan cukup lama, mereka tiba di sebuah pondok kecil di tepi ladang tua yang tidak lagi terurus. Pondok itu lebih sederhana dari rumah singgah, tapi tampak masih cukup layak untuk berlindung semalam. Dindingnya dari bambu tua dan kayu, atapnya dari rumbia yang telah menghitam di beberapa bagian.
Raden Seta mengamati bangunan itu lalu berkata, “Di sini kita bisa berhenti sebentar.”
Panca hampir jatuh duduk. “Akhirnya.”
Jaya memeriksa sekitar. “Tidak ada jejak baru.”
Ki Rangga membuka pintu pondok dan mengintip ke dalam. Ruang di dalamnya kecil, hanya ada tikar, tungku kecil, dan beberapa peralatan sederhana. Namun tempat itu tampak kosong dan aman.
Mereka masuk satu per satu. Wira menurunkan tubuhnya di atas tikar dan merasakan punggungnya langsung protes. Ia memejamkan mata sebentar, lalu membuka kembali saat Ki Rangga duduk di depannya.
Raden Seta mengeluarkan gulungan naskah dan meletakkannya di tengah ruangan. “Kita sudah dekat.”
Panca langsung mengangkat kepala. “Dekat ke mana?”
Raden Seta menatap Wira. “Ke bagian terakhir dari cerita ini.”
Wira menatap cincin di telapak tangannya. Ia mengingat tulisan di aula. Yang keluar harus membawa yang hilang. Tulisan itu terasa seperti janji sekaligus peringatan. Ia belum tahu apa yang benar-benar harus dipulihkan, tapi ia tahu satu hal: hidupnya tidak akan kembali seperti semula.
Di luar, angin bergerak menyusuri ladang tua. Tidak ada suara langkah sekarang. Mungkin para pengejar tertahan oleh jejak air. Mungkin pula mereka masih mencari di jalur lain. Yang jelas, untuk sesaat mereka aman.
Ki Rangga memandang Wira. “Besok kita lanjut.”
Wira mengangguk pelan. “Ke pintu terakhir?”
Raden Seta menjawab, “Ke tempat yang ibumu sebut sebagai awal yang disembunyikan.”
Wira menatapnya. “Dan di sana aku akan tahu semuanya?”
Raden Seta terdiam, lalu berkata, “Kau akan tahu cukup banyak untuk memahami kenapa semua ini terjadi.”
Panca mengeluh kecil, lalu merebahkan badan di tikar. “Aku tidak suka ‘cukup banyak’. Aku suka jawaban yang lengkap.”
Jaya duduk dekat pintu dan menatap malam di luar. “Kalau semua jawaban diberikan sekaligus, kau tidak akan siap.”
Panca mendengus. “Aku juga tidak siap sekarang.”
“Masih sama,” jawab Jaya.
Wira hampir tertawa, tapi lelahnya lebih kuat. Ia memegang cincin itu erat-erat, lalu menatap langit-langit pondok yang mulai tenang. Di kepalanya, satu kalimat dari ibunya terus berputar: Anakku akan datang bila waktu tiba.
Sekarang ia tahu, waktu itu memang sudah tiba.
Dan meski ia belum mengetahui seluruh kebenaran, ia sudah berdiri di jalur yang tidak lagi bisa ditinggalkan.
bukin pusing aja