No Plagiat ❌
Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara akhirnya meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal yang baru
...Bagi ibunya, bekerja di spa terdengar kurang baik. Di masa lalu, memang ada beberapa spa yang menawarkan layanan terlarang. Hal itu membuat citra spa secara keseluruhan ikut tercoreng, padahal banyak spa lain yang benar-benar berfokus pada perawatan dan kecantikan....
...Ibu merasa tidak nyaman, jika Zhara bekerja, dengan tamu yang hanya mengenakan handuk. Belum lagi orang-orang yang tidak paham, akan mencibir Zhara. Mengganggap Zhara bekerja yang tidak pantas....
...“Di Desa Melaruna, tidak semua orang memahami situasi di kota. Mereka kurang mengenal budaya dan lingkungan orang kota,” ucap ibunya dengan wajah datar....
...“Ibu kawatir kamu akan di olok-olok oleh mereka, yang tidak paham, dan di cibir yang bukan-bukan!...” ujar ibunya dengan nada tidak senang....
...“Zhara paham apa yang ibu saat ini khawatirkan, Zhara sudah memastikan Spa itu bersih, tempat perawatan kesehatan dan kecantikan yang Profesional,” ucap Zhara meyakinkan ibunya....
...“Zhara juga bisa membawa ibu kesana untuk melihat lihat, agar ibu percaya pada ucapan Zhara...Jika ibu masih kawatir, ibu dapat bertanya pada paman Bara.” Zhara menjelaskan agar ibunya yakin....
...“Terserah kamu saja. Andai saja, kamu mau kuliah. Pasti kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih baik. Semakin kamu besar, semakin sulit ibu menasihatimu...” ujar ibunya mulai kesal. “Semua ibu lakukan demi yang terbaik untukmu, tapi kamu sudah mulai pintar membangkang.”...
...Zhara bercerita kepada Paman Bara bahwa ibunya tidak yakin ia bekerja di spa. Ia meminta tolong agar pamannya bersedia membantunya berbicara dengan ibunya....
...Setelah pertimbangan yang cukup lama, dan penjelasan pajang lebar dari paman. Ibu pada akhirnya tidak punya pilihan, lalu mengizinkan Zhara bekerja di spa....
...Zhara tau ibunya tidak iklas tapi Zhara akan membuktikan pada orang lain, bahwa tidak semua Spa itu buruk seperti stigma orang-orang selama ini....
...◦•●◉✿✿◉●•◦...
...Zhara dan Tiara memulai hari ini dengan perasaan sangat senang, modal terbaik hari ini adalah produktif dan bahagia....
...Ini hari pertama training di spa terbesar di Kota Pinovale....
...Aroma terapi yang lembut memenuhi ruangan, ketika Zhara melangkah pelan mengikuti supervisornya. Ini adalah hari pertamanya training di spa tempat ia bekerja, dan hari ini ia akan dikenalkan ke seluruh area....
...“Zhara!... Tiara!... hari ini aku tunjukkan semua area, ya. Biar kamu lebih familiar,” kata Mega Sagara supervisornya dengan senyum ramah. “Ini ruang resepsionis. Semua tamu pertama kali datang ke sini. Kalian harus selalu ramah, senyum. ”...
...Zhara dan Thiara memperhatikan dengan serius, sesekali mengangguk....
...“Ini ruang tunggu. Tamu biasanya duduk di sini sambil minum welcome drink sebelum treatment.” Mega menjelaskan dengan serius. “Ini ruang treatment utama. Di sini kamu nanti akan melakukan massage atau perawatan tubuh.”...
...Zhara sedikit tegang, tapi juga antusias....
...Mega tersenyum. “Tenang saja, nanti kamu akan dibimbing pelan-pelan.”...
...“Iya kak.” Jawab Zhara dan Tiara....
...“Dan ini.” Mega membuka pintu terakhir, “ruang harmoni kusus staff. Tempat kamu istirahat, ganti baju, dan briefing.”...
...Zhara menghela napas pelan, mencoba menyerap semua informasi, ia tersenyum, rasa gugupnya perlahan berubah menjadi semangat....
...“Mulai besok, kamu latihan massage ya, Pelan-pelan belajar.” ucap Mega tersenyum....
...Zhara dan Tiara mengangguk mantap....
...Di dalam hatinya, Zhara berjanji akan berusaha sebaik mungkin. Hari ini mungkin baru awal, tapi ia tau ini adalah langkah pertama menuju masa depan yang ia inginkan....
...Satu bulan training Zhara dan Tiara menguasai semua treatment. Setelah lulus tes keterampilan, mereka boleh langsung bekerja. Mereka sangat semangat bekerja karena setiap selesai bekerja mereka mendapat tip dari tamu....
...“Tiara! ke kantin yuk makan...” ajak Zhara yang baru selesai menghandle tamunya....
...“Yuk... Tadi aku handle tamu Korea. mereka cantik cantik terus aku dapat tip lima dolar he... he...” celoteh Tiara penuh semangat....
...“Sekarang aku traktir kamu makan di kantin deh Zhaa...” kata Tiara yang sumringah....
...“Wuihh enak nih... sayangnya aku tadi handle tamu dari Cina, nenek-nenek cerewet sepanjang treatment... lihat kupingku masih mengepul panas nih,” oceh Zhara menujukan kupingnya....
...“Haha, emang begitu sih… kalau tamu nihao datang, kita harus punya telinga tebal. Dari awal treatment aja mereka sudah ngobrol terus.” Tiara tertawa sambil memelesetkan panggilan tamu dari Cina....
...Mereka menuju kantin untuk makan siang....
...Zhara dan Tiara duduk di pojok jendela besar seperti biasa, menunggu makanan mereka tiba. Rani datang, lalu bergabung duduk di sebelah mereka....
...“Haii.. Kalian...” Sapa Maharani Upania, memasang wajah sedih, ia sering dipanggil Rani...
...“Iya Rani... apa ada yang bisa kami banting,” tanya Tiara dengan ekpresi wajah menyeringai....
...“Untuk saat ini belum ada... tapi aku punya masalah besar!...” katanya terdengar serius....
...“Iya, coba ceritakan pada kami pelan-pelan.” Ucap Zhara mulai mendengarkan....
...“Tadi aku handle tamu honeymoon. Terus... Karena baru pertama kali dapat treatment facial, aku nggak tau kalau masker wajah sama waxing hampir mirip,” tutur Rani dengan raut wajah tertekan....
...“Pada saat sudah waktunya mengaplikasikan masker, dan menunggunya kering. Aku malah mengaplikasikan waxing. Karena tamuku cowok Arab, tentu saja kumis dan brewoknya ketarik,” tuturnya dengan wajah yang muram....
...“Lalu apa yang terjadi?” tanya Tiara yang mengernyitkan dahi....
...“Trainer Lani Laigas dipanggil, untuk menggantikanku. Yang awalnya treatment facial wajah, berubah mengerikan menjadi waxing brewok,” ucapnya dengan tangan menutupi wajahnya, yang mulai memerah....
...“Haha... haha... haha... kocak anjir.” Tiara tertawa terbahak bahak, dan tangannya menghentak hentak meja....
...“Bagaimana kondisi tamunya sekarang?” tanya Zhara mengalihkan suasana yang terasa canggung....
...“Tamu yang cowok komplain, katanya wajahnya merah dan sakit. Karena Ia tidak menyangka akan di waxing. Sedankan istrinya ketawa-ketawa terus, sepanjang suaminya teriak-teriak, sampai brewoknya habis kecabut,” gumannya Rani miris, ia menghela nafas pelan. ...
Rani melanjutkan ceritanya dengan perlahan.
...“Kata kak Lani , tamu yang cewek suka lihat hasil waxingnya, istrinya bilang suaminya tambah tampan. Setelah tamunya pergi buk Manager Mirah Andini manggilku, katanya aku harus di training treatment facial ulang,” ujar Rani pelan, berusaha terdengar tenang....
...“Iya lebih baik, kamu jalani latihan dengan baik kali ini, agar kedepannya tidak terulang kejadian yang sama.” Tiara menyemangati, Rani menundukan wajahnya yang suram....
...Bekerja dengan tamu, tentu bukan hal yang selalu mudah. Terkadang banyak hal membuat mereka komplain, karena merasa tidak sesuai harapan atau keteledoran terapis....
...Meski tidaklah mudah, pengalaman pengalaman itu, justru membentuk mereka menjadi lebih kuat, dan dewasa. Dalam menghadapi dunia bekerja yang sesungguhnya....
...Di tempat kerja, Zhara tidak merasa sendiri, ia dikelilingi oleh puluhan senior yang baik dan mau membimbing, lingkungan kerja yang memadai, serta suasana penuh rasa saling mendukung. Semua itu membuat ia merasa diterima dan dihargai....
...Perlahan, tempat kerja itu bukan hanya sekadar tempat mencari nafkah, tetapi juga menjadi ruang baru yang memberi kenyamanan bagi Zhara. Di tengah tekanan hidup yang Zhara hadapi, dukungan dari orang-orang di sekitar membuat ia lebih kuat untuk terus melangkah....
...◦•●◉✿✿◉●•◦...