"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Diagnosis Palsu Sang Ratu
"Jadi, Nyonya Lily Alexander yang terhormat ingin meyakinkan seluruh dunia bahwa menantunya sendiri sudah gila dan tidak layak mengurus pewaris tunggal Alexander Group?"
Suaraku membelah keheningan ruang tamu utama yang pagi itu terasa seperti ruang sidang. Aku berdiri di tengah ruangan, mengenakan setelan kerja abu-abu baja yang memancarkan aura dingin dan tak tergoyahkan. Di tanganku, terdapat beberapa lembar koran pagi dan tablet yang menampilkan berita headline digital: "Skandal Mental Blair Alexander: Benarkah Sang Istri CEO Mengalami Gangguan Jiwa Berat?"
Di depanku, Lily duduk dengan dagu terangkat, menyesap teh Earl Grey-nya dengan keanggunan yang memuakkan. Di sampingnya, seorang pria paruh baya mengenakan jas putih—yang aku yakini adalah dokter bayaran Elodie—tampak sibuk merapikan tas medisnya.
"Aku tidak meyakinkan siapa pun, Blair. Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan cucuku," Lily meletakkan cangkirnya dengan bunyi denting yang sengaja dikeraskan. "Perilakumu belakangan ini sangat tidak stabil. Mencuci piring di tengah malam? Membentak tamu terhormat? Itu adalah tanda-tanda delusi dan mania."
"Delusi?" aku tertawa hambar, melangkah mendekat hingga bayanganku menutupi meja mereka. "Atau mungkin Anda yang delusi, Nyonya? Mengira bahwa tahun 2026 masih bisa menggunakan taktik murahan abad pertengahan untuk menyingkirkan lawan?"
"Jaga bicaramu!" Lily berdiri, wajahnya memerah. "Dokter Hendra di sini adalah psikiater terkemuka. Beliau sudah meninjau laporan observasiku selama tiga hari terakhir. Dan hasilnya... kau butuh perawatan intensif di fasilitas rehabilitasi kami."
Dokter Hendra berdehem, mencoba terlihat profesional meski matanya tidak berani menatapku langsung. "Nyonya Blair, berdasarkan laporan dari Nyonya Besar Lily, ada indikasi gangguan kepribadian ambang yang—"
"Tutup mulutmu, Dokter," potong sebuah suara berat dari arah tangga.
Liam melangkah turun dengan aura yang begitu gelap hingga suhu ruangan seolah turun drastis. Ia tidak mengenakan jas, hanya kemeja hitam yang lengannya digulung kasar. Matanya merah, menunjukkan ia tidak tidur setelah kejadian di dapur semalam.
[Apa yang mereka lakukan?! Berita itu... siapa yang berani merilisnya?! Mama, kau sudah benar-benar gila! Kau ingin memasukkannya ke rumah sakit jiwa? Kau ingin merenggut nyawaku secara perlahan? Aku bersumpah, jika satu helai rambut Blair tersentuh oleh tangan dokter gadungan itu, aku akan menghancurkan segalanya!]
"Ralph! Kau lihat sendiri kan? Istrimu sedang mengalami serangan panik!" seru Lily, mencoba mencari dukungan. "Dia menyerang Dokter Hendra secara verbal!"
Liam berjalan melewati ibunya seolah wanita itu tidak ada, lalu berdiri tepat di depanku, menjagaku dengan tubuh tegapnya. Ia menatap Dokter Hendra dengan tatapan predator.
"Dokter Hendra, ya?" Liam menyebut nama itu dengan nada yang sangat rendah namun mematikan. "Berapa banyak Elodie membayarmu untuk menulis diagnosis palsu ini? Atau haruskah aku bertanya, berapa lama waktu yang dibutuhkan tim pengacaraku untuk mencabut izin praktikmu selamanya?"
Dokter itu gemetar, wajahnya pucat pasi. "T-Tuan Liam, saya hanya menjalankan tugas—"
"Tugasmu adalah menyembuhkan orang, bukan menjadi anjing penjilat ibuku!" bentak Liam. Ia merampas map medis di tangan dokter itu dan merobeknya menjadi serpihan kecil di depan wajah Lily.
[Beraninya mereka... beraninya mereka menyentuh Blair-ku dengan cara kotor ini! Aku tidak akan membiarkan siapa pun melabelinya sebagai orang gila. Jika Blair gila, maka aku adalah orang yang paling gila karena tidak bisa hidup tanpanya!]
"Ralph! Ini demi kebaikan Axelle!" Lily berteriak histeris. "Kau tidak ingin anakmu diasuh oleh wanita yang tidak stabil, kan?!"
"Axelle justru paling stabil saat bersama Mamanya, Nek."
Axelle muncul di belakang Liam, memegang laptopnya yang selalu menyala. Wajah remaja itu tampak sangat tenang, namun matanya memancarkan kecerdasan yang tajam.
"Nek, aku sudah meretas akun bank Dokter Hendra sepuluh menit yang lalu," ucap Axelle sambil memutar laptopnya ke arah kami. "Ada transferan masuk sebesar lima ratus juta dari rekening pribadi Elodie Lunara kemarin sore dengan berita acara: 'Biaya Konsultasi Khusus'. Apa Nenek mau aku mengirimkan data ini ke dewan kode etik kedokteran sekarang?"
Ruangan itu seketika sunyi senyap. Dokter Hendra hampir jatuh terduduk, sementara Lily membeku dengan mulut terbuka.
"Dan untuk berita di media..." Axelle menekan satu tombol di keyboard-nya. "Sudah kuhapus. Aku juga sudah mengirimkan malware ke server kantor berita yang merilisnya. Mereka tidak akan bisa online selama dua puluh empat jam ke depan."
Aku tersenyum, mengusap bahu Axelle dengan bangga. "Terima kasih, Sayang. Kau memang pelindung Mama yang paling hebat."
Liam menoleh pada ibunya, tatapannya kini bukan lagi penuh kerinduan, melainkan kekecewaan yang sangat mendalam. "Mama... aku mencintaimu karena kau ibuku. Tapi jika kau terus-menerus bekerja sama dengan Elodie untuk menghancurkan keluargaku... aku tidak punya pilihan selain mengirimmu kembali ke London. Hari ini juga."
"Kau mengusir ibumu sendiri?!" Lily terisak, air matanya mulai mengalir.
"Aku menyelamatkan apa yang tersisa dari rasa hormatku padamu, Ma," sahut Liam dingin. "Pergilah. Sebelum aku kehilangan kesabaranku sepenuhnya."
Lily menatap kami bertiga—aku, Liam, dan Axelle yang berdiri rapat sebagai satu kesatuan. Ia menyadari bahwa di rumah ini, ia bukan lagi ratu. Ia hanya seorang tamu yang sudah merusak sambutan baiknya sendiri.
"Kalian akan menyesal!" Lily berteriak sambil menyambar tasnya dan berlari keluar, diikuti oleh Dokter Hendra yang lari terbirit-birit.
Liam menghela napas panjang, lalu berbalik menatapku. Matanya melunak, penuh dengan rasa bersalah yang tak terhingga.
"Blair... aku..."
"Jangan katakan apa-apa, Liam," aku menaruh jari di bibirnya. "Tindakanmu dan Axelle sudah cukup bagiku pagi ini. Tapi ingat, Elodie belum selesai. Dia baru saja kehilangan dua bidak besarnya: Andreas dan ibumu. Dia akan segera melakukan serangan langsung."
Liam menggenggam tanganku, menciumnya dengan penuh pemujaan di depan Axelle.
[Aku tidak akan membiarkannya. Aku bersumpah. Siapa pun dia—penulis atau iblis sekalipun—aku akan melindungimu dengan seluruh nyawaku, Blair. Terima kasih sudah tetap tegak di sampingku.]
"Ayo sarapan," ajakku sambil tersenyum tipis. "Sepertinya kita butuh banyak energi untuk menghadapi bab selanjutnya."
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/