NovelToon NovelToon
Calon Duda Itu, Calon Suamiku

Calon Duda Itu, Calon Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romansa
Popularitas:52.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

"Papa tidak setuju!"

Terdengar suara tinggi Dion setelah mendengar keinginan anaknya, yang ingin menikah dengan pria yang berjarak 13 tahun dari sang putri.

"Aku ngga mau nikah, kalau bukan sama Om Alvin!" Sisil bersikeras.

"Tidak bisa!" tegas Dion. "Kamu itu masih muda, cantik, pintar. Jangan rendahkan diri kamu dengan menjadi PELAKOR!!"

***

Ingat, jangan nabung bab!

Follow IG : ichageul9563

Facebook : Khairunnisa (Ichageul)

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Semakin Berani

Anyelir sedikit menggeser tubuhnya seraya mendorong Sandi menjauh. Dia langsung menjaga jarak dari rekan kerjanya itu. tentu saja hal tersebut membuat Sandi kecewa.

“Kamu kenapa, Nye?”

“Tolong jaga sikapmu. Nanti kalau Dicky lihat gimana? Aku ngga mau ada gossip beredar tentang kita di kantor.”

“Baiklah.”

Sandi beranjak dari tempatnya. Dia mendaratkan bokongnya di sofa lain. Bertepatan dengan itu, Dicky memasuki boarding lounge. Tanpa tahu apa yang terjadi sebelumnya, pria itu dengan santai duduk di samping Sandi.

Setengah jam kemudian, seluruh penumpang Dexa Air diminta untuk menaiki pesawat. Kompak ketiganya segera meninggalkan boarding lounge.

Untuk perjalanan kali ini, mereka diberi tiket pesawat ekonomi. Mereka mendapat duduk dengan posisi tiga kursi. Sandi lebih dulu mengambil tempat di kursi samping Anyelir. Tentu saja mendapat protesan dari Dicky.

“Pak, itu kursi saya.”

“Sama saja mau kursi yang mana. Kamu duduk di kursi saya aja.”

Berhubung Sandi adalah atasannya, mau tidak mau Dicky menurut saja. Dia segera memasang sabuk pengaman karena sang pramugari sudah mulai memeragakan prosedur keselamatan di dalam pesawat.

Ketika pesawat mulai melakukan take off, dengan sengaja Sandi menaruh tangannya di atas tangan Anyelir. Tidak ada reaksi sama sekali dari wanita itu. Dia tetap bergeming. Sesekali matanya melirik pada Dicky yang duduknya terhalang oleh Sandi.

Dicky tampak menguap. Semalam dia kurang tidur dan rasanya memejamkan mata sejenak selama perjalanan menuju Medan bisa membuat tubuhnya sedikit segar.

Melihat Dicky yang sudah tertidur, Sandi mendekatkan dirinya pada Anyelir. Dia memberikan gigitan kecil di telinga wanita itu.

Sandi memang sudah tidak bisa menahan kerinduannya pada Anyelir. Dia akui kalau dirinya sudah jatuh dalam pesona istri orang itu.

Bahkan ketika pulang ke rumah, yang terbayang pun hanya wajah Anyelir.

Anyelir hanya bisa menahan nafas ketika bibir Sandi menyentuh daun telinganya, salah satu bagian sensitifnya. Apa yang dilakukan Sandi jelas menggoda hasratnya.

Tapi sebisa mungkin Anyelir berusaha menahan diri. Pikirannya berusaha mengingat Alvin yang menunggunya di rumah.

“Nye … kenapa kamu sekarang menjauhiku?” bisik Sandi tepat di telinga Anyelir.

“Maaf, San. Aku sudah janji pada Mas Alvin untuk berubah.”

“Berubah bagaimana?”

“Aku ingin menjadi istri yang baik untuknya.”

“Menjadi istri yang baik, bukan berarti kamu harus menjauhiku, Nye. Aku bisa menjadi narasumber untuk membantumu menjadi istri yang baik.”

Anyelir hanya berdecak saja mendengar ucapan Sandi. Namun tak dapat dipungkiri kalau dia pun merasakan kerinduan yang sama. Dua minggu bertemu dengan Sandi tanpa ada interaksi berlebih, tak ayal membuat wanita itu merindu juga.

Di satu sisi Anyelir ingin bertahan, namun di sisi lain, godaan Sandi menggelitiknya. Akankah dia lolos dari rayuannya?

***

Sesampainya di Medan, baik Anyelir, Sandi maupun Dicky langsung disibukkan dengan pekerjaan. Bahkan ketiganya sampai harus lembur.

Karena korupsi yang dilakukan manajemen sebelumnya, keuangan Blue Mart cabang Medan menjadi kacau. Banyak data yang harus dibenarkan lagi. Bahkan Dicky sampai harus turun ke lapangan untuk pengecekan langsung.

Sandi dan Anyelir kembali lebih dulu ke hotel karena pekerjaan mereka sudah selesai lebih dulu. pukul delapan malam, mereka baru tiba di hotel tempat menginap. Rasa lelah dan penat begitu terasa.

Ketika Anyelir hendak masuk ke kamarnya, Sandi menarik tangan wanita itu kemudian masuk ke kamarnya. Dia langsung menutup pintu dan mendorong Anyelir hingga punggungnya menempel ke daun pintu.

“Kamu apa-apaan sih, San?” kesal Anyelir sambil mendorong Sandi sedikit menjauh.

“Aku kangen kamu, Nye. Kamu tuh berubah,” wajah Sandi nampak cemberut.

“Sudah kubilang, aku ingin berubah menjadi istri yang baik.”

“Tapi kamu ngga harus menjauhiku, Nye. Memangnya kamu ngga kangen sama aku?”

Anyelir hanya terdiam. Bohong kalau dia mengatakan tidak. Mengobrol bersama Sandi, mendapat sentuhan darinya walau hanya pelukan, belaian lembut di pipi atau usakan di rambutnya adalah hal yang dirindukan Anyelir juga.

Belum sempat Anyelir berpikir jernih, Sandi sudah memeluknya. Harum aroma parfum pria itu langsung menyapa indra penciumannya. Wangi maskulin yang dirindukannya akhir-akhir ini.

Pikiran Anyelir memerintahkan dirinya untuk melepaskan pelukan Sandi. Namun rasa nyaman yang dirasakan, membuatnya enggan melepaskan diri dari rengkuhan Sandi.

Tanpa sadar Anyelir melenguh ketika Sandi menciumi pundak Anyelir. Wanita itu mulai terbuai dengan cumbuan Sandi.

Melihat Anyelir yang hanya diam saja, Sandi pun semakin berani. Setelah pundak, ciuman Sandi berpindah ke leher. Anyelir semakin tak bisa menahan hasratnya. Dia membiarkan saja dirinya terbakar gairah yang mulai terbakar.

Perlahan Sandi mengurai pelukannya. Ada rasa tak rela harus lepas dari rengkuhan Sandi. Namun kemudian dia dikejutkan ketika bibir Sandi sudah berada di bibirnya. Dengan penuh kelembutan Sandi memagut bibir Anyelir.

Mata Anyelir terpejam. Ini adalah hal terjauh yang mereka lakukan. Dulu mereka hanya melakukan sentuhan-sentuhan kecil. Tapi sekarang, keduanya sudah saling beradu bibir dan berbagi saliva.

Di saat ciuman mereka semakin dalam dan menuntut, terdengar deringan ponsel Sandi mengejutkan keduanya.

Seakan tersadar dari dosa terindah yang mereka lakukan, Anyelir mendorong Sandi kemudian keluar dari kamar pria itu dengan terburu.

Sandi menyugar rambutnya kasar. Gara-gara telepon dari istrinya, dia gagal membawa Anyelir ke atas ranjang.

***

“Kamu kapan pulang?” terdengar suara Alvin dari seberang. Sudah empat hari lamanya Anyelir berada di Medan. Pekerjaan di sini memang menumpuk dan tidak bisa diselesaikan dalam waktu cepat.

“Lihat besok, Mas. Ternyata pekerjaan di sini lebih banyak dan lebih rumit dari yang kukira.”

“Ya sudah. Cuma jangan lupa makan dan jaga kesehatan.”

“Iya, Mas. Mas sendiri gimana?”

“Seperti biasa. Aku sedang menyiapkan bahan untuk skripsi Sisil.”

Mendengar nama Sisil, kembali kecemburuan melandanya. Kenapa juga gadis itu harus mengambil tempat penelitian di mini market suaminya?

Mood Anyelir langsung berubah.

“Mas selama aku tinggal ngga lirik-lirik perempuan lain, kan?” ketus Anyelir.

“Sudahlah, lebih baik kamu istirahat. Aku juga capek, baru pulang ke rumah.”

Malas mendengar ucapan istrinya yang sudah mengarah ke posesif, Alvin segera mengakhiri panggilannya.

Niatnya ingin memberitahukan kedatangan Sisil besok dilupakan begitu saja.

Begitu Alvin mengakhiri panggilan, Anyelir nampak geram. Lagi-lagi nama Sisil membuatnya kehilangan mood.

“Kamu kenapa sih?” tanya Sandi tiba-tiba. Pria itu sudah berada di belakangnya dan sekarang tengah memeluknya dari belakang.

“Biasa, aku kesal sama Mas Alvin.”

“Sudahlah, lupakan Alvin. Lebih baik kita bersenang-senang sekarang.”

Tanpa menunggu persetujuan Anyelir, Sandi langsung menarik tangan Anyelir. Dia bermaksud mengajak wanita itu jalan-jalan. Merayakan hari terakhir bekerja. Besok mereka harus pulang ke Jakarta.

***

Begitu pesawat yang ditumpangi Anyelir mendarat di bandara Soekarno Hatta, keduanya menaiki mobil yang sudah disiapkan perusahaan untuk menjemput mereka. Sebelum pulang, lebih dulu ketiga ke kantor untuk laporan singkat.

Usai memberikan laporan singkat, mereka diperbolehkan pulang. Dicky langsung pulang ke kost-annya, sementara Anyelir ikut ke apartemen yang Sandi tempati.

Toh Alvin tahunya dia masih berada di Medan. Itu artinya dia bisa menghabiskan waktu sedikit lebih lama dengan Sandi.

Anyelir tengah berbaring di sofa dengan kepala berada di paha Sandi. Dia sedang melihat-lihat medsos melalui ponselnya.

Kemudian tanpa sengaja dia melihat notifikasi IG di ponselnya. Nampak Sisil baru saja mengunggah sebuah postingan. Karena penasaran, dia langsung membuka IG Sisil.

Gadis itu mengunggah foto dirinya yang sedang berada di kereta cepat dengan caption, Om Alvin, I’m coming.

***,

Kenapa juga caption-nya harus kaya gitu😂

1
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ¢ᖱ'D⃤ ̐
tapi apa mungkin Rian mau jadi sekutu Anye karena takut Poto Sisil ma Alvin di up ke medsos sama Anye yg akan menghancurkan nama baik Sisil juga, disamping dia punya perasaan juga ma Sisil
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ¢ᖱ'D⃤ ̐
deuh beneran dihapus ya,demi cinta Rian rela jadi sekutu Anye
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ¢ᖱ'D⃤ ̐
deuh si Rian beneran ya mo bersekutu dengan Anye
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
ish ko gitu sih Rian 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
surprise 🤣
Lila
karepmu lah Nye..atur2 aja gmna baiknya menurut kamu..
yg penting nti di Ending om Alvin ttp sma sisil🤭
sakura hanae @ mimie liyana❤️
Untunglah Sisil sdh laporan ama Kirana. Jd sebenarnya usaha tuh sia-sia aja 🤭
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
aq masih positif mak 🤣🤣
@$~~~tINy-pOnY~~~$@: positif thinking loh mak😎😎
total 2 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
jgn2 mau taruh kamera nih si rian. aq msh positif thinking loh amamu. jangan mengecewakan ya
Kusii Yaati
tuh kan bener Rian berkhianat.... dasar penghianat, walau pun kamu mencintai Sisil tapi cinta kan nggak bisa di paksa...males ah😤
Hasnawati Hasna
ternyata memang benar bahwa tidak ada pertemanan antara laki-laki dan perempuan, ujung ujungnya ada hati c i n t a 😄😄😄
Hasnawati Hasna
aduhhh Rian mah TTM teman tapi musuh, dalam selimut pula 🤣🤣🤣
Humaira
ternyata rian seorang pengkhianat, musang berbulu domba 😤😤
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
dikira Rian anak kemarin sore yang lugu gitu.pasti Rian punya cara sendiri menghadapi Anye yang suka berkelit dan manipulatif
𝓡⃟⎼ᴠɪᴘᵇᵃˢᵉ fjR ¢ᖱ'D⃤ ̐🍻
kalau Anye bisa menekan dan mengancam Rian, Rian juga pasti punya cara yang lebih cerdik menghadapi Anye.
Safitri Agus
Rian apa sih mau mu😏
Rahma Habibi
berharap rian narokamera atau cctv di apart nya sandi dan masih berharap rian baik tapi semuanyadi tentukan oleh author...
Eka Burjo
Rian, kukira kamu cerdas, ternyata 🙄
Eka Burjo
ku kira Rian cerdas
ana17
pembaca kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!