Steven ---seorang Gumiho yang telah tertidur selama 1000 Tahun demi untuk naik tingkat menjadi seorang dewa. Namun di hari terakhirnya, seorang manusia mengacaukan pengorbanan nya.
Setengah kekuatan yang di miliki Steven berpindah pada manusia itu. Membuat dirinya harus tertunda menjadi dewa.
Zoelva Erlangga---- gadis lemah yang selalu di bully oleh ketiga Kakak dan ibu tirinya setiap kali Ayah nya tidak ada. Namun segalanya berubah saat kekuatan asing melindungi nya dan menjadikan nya sangat kuat.
Steven yang menginginkan kekuatan nya kembali. Namun Zoe yang merasa bisa melawan ibu tiri serta ketiga Kakak tirinya dengan kekuatan itu. Justru menolak untuk mengembalikan kekuatan tersebut.
Sementara Rahasia lain telah menantinya.
Bagaimana kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perdebatan Panas Di Cafe
Suasana siang di Le Ciel Café yang semula elegan dengan alunan musik jazz mendadak pecah oleh denting sendok yang menghantam porselen. Ketenangan kelas atas itu menguap begitu saja, digantikan oleh gelombang ketegangan yang menyesakkan dada. Semuanya bermula saat seorang pelayan muda dengan seragam rapi membungkuk takzim, namun suaranya bergetar saat mengembalikan kartu kredit platinum milik Tina.
"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nyonya. Kartu Anda... tidak dapat diproses oleh sistem kami," ucap pelayan itu lirih.
Tina, yang baru saja menyesap espresso-nya, mematung. Matanya melebar, kilatan kemarahan mulai menari-nari di sana. Ia merasa seolah-olah martabatnya baru saja diinjak di depan umum. "Apa kamu bilang? Tidak bisa digunakan? Kamu bercanda, ya? Periksa lagi! Mungkin mesin bututmu itu yang bermasalah!"
Melihat situasi memanas, Dika, Siska, dan Maudy segera bereaksi. Mereka masih mencoba berpikiran positif, menganggap ini hanyalah kendala teknis sepele. Satu per satu dari mereka mengeluarkan kartu-kartu premium dari dompet kulit mahal masing-masing.
"Pakai punyaku saja," ujar Dika tenang, meski mulai merasa tidak nyaman.
"Atau ini, pakai milikku," Siska menimpali sambil menyodorkan kartu berwarna emas.
Namun, setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, pelayan itu kembali dengan wajah yang lebih pucat dari sebelumnya. Hasilnya tetap sama: Declined.
"Kalian benar-benar keterlaluan!" bentak Tina, suaranya naik satu oktav hingga beberapa pengunjung di meja sebelah mulai berbisik-bisik. Ia berdiri, menunjuk wajah pelayan itu dengan jari yang gemetar karena emosi. "Kamu tidak tahu siapa saya? Saya ini Tina Erlangga, istri dari Joe Erlangga! Orang terkaya di negeri ini! Jangan main-main kamu, ya! Kamu sengaja ingin mempermalukan kami di sini?"
Pelayan itu berusaha keras menjaga profesionalitasnya, meski keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. "Kami tidak sedang bermain-main, Nyonya. Kami sudah mencoba tiga mesin EDC yang berbeda, dan semuanya memberikan respons yang sama. Kartu-kartu ini memang tidak bisa digunakan. Begini saja, Nyonya... bagaimana jika Nyonya membayar menggunakan uang tunai?"
"Berapa totalnya?" tanya Dika ketus. Wajahnya sudah semerah kepiting rebus karena malu melihat mata-mata sinis pengunjung lain yang kini tertuju pada meja mereka.
"Total semuanya lima juta rupiah, Tuan," jawab pelayan itu mantap.
Keheningan sesaat menyergap. Mereka saling pandang, lalu menggeleng serempak. Lima juta rupiah? Bagi mereka, itu hanyalah uang receh yang biasa mereka habiskan dalam sekali jentikan jari. Namun masalahnya, di era digital ini, siapa orang dari kalangan mereka yang masih membawa uang tunai sebanyak itu di dalam dompet?
"Kami tidak punya uang tunai sebanyak itu sekarang! Kamu ini bagaimana, sih? Periksa lagi, saya bilang! Pake alat yang lain, kek! Mungkin koneksi internet kalian yang sampah, makanya mesin itu tidak jalan!" seru Siska. Ia mulai merasa keringat dingin merembes ke balik blusnya yang mahal.
Tina mengangguk kasar, mendukung ucapan anaknya. "Benar! Jangan malas, coba pakai alat lain atau hubungi pusat! Tidak mungkin kartu kami semua mati di saat yang bersamaan!"
Pelayan itu menghela napas panjang, kesabarannya mulai menipis menghadapi arogansi di depannya. "Maaf, Nyonya. Tapi semua prosedur sudah kami coba. Hasilnya nihil. Kartu kalian ditolak oleh sistem perbankan. Jika Nyonya keberatan, lebih baik Nyonya segera hubungi pihak bank masing-masing untuk konfirmasi."
"Kamu merendahkan kami?!" bentak Siska, kini ia ikut berdiri dan menggebrak meja. "Heh! Kamu itu cuma pelayan rendahan, jangan sok menasihati kami! Dengar ya, kami ini orang terhormat! Kamu pasti tahu siapa keluarga Erlangga, kan? Orang terkaya nomor satu di negeri ini! Jangankan cuma membayar tagihan sampah ini, bahkan seluruh tempat ini saja sanggup kami beli sekarang juga!"
Maudy yang sejak tadi diam, kini ikut menimpali dengan wajah yang memerah padam karena amarah yang memuncak. "Benar! Kamu harus menghormati kami. Bahkan harga diri kamu saja bisa saya beli di sini dengan sekali setor! Kamu pikir kami ini penipu?!"
"Cukup!" Dika memotong dengan nada memerintah, matanya menatap tajam pelayan yang malang itu. "Saya tidak mau bicara lagi denganmu. Lebih baik kamu panggil manager mu sekarang. Cepat sana! Jangan sampai saya buat tempat ini tutup besok pagi!"
Pelayan itu mendengus pelan, menatap mereka dengan tatapan jengah sebelum akhirnya berlalu pergi untuk memanggil atasannya. Tak lama kemudian, seorang wanita berusia 30-an mendekat dengan senyum profesional yang dipaksakan. "Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?" tanyanya sopan.
Tina melipat tangan di dada, membusungkan dada untuk menunjukkan kekuasaan semu yang ia banggakan. "Dengar ya, pecat pelayan itu sekarang juga! Dia sudah berani mempermalukan saya di depan umum!" titah Tina tanpa kompromi. Namun, sang manajer justru menatap mereka dengan tatapan datar yang tidak terduga.
"Maaf, Nyonya, saya sudah mendengar semuanya melalui laporan staf saya. Kesalahan sepenuhnya ada pada kartu yang Nyonya bawa karena statusnya ditolak oleh sistem. Jadi, saya tidak bisa memecat pegawai saya karena dia hanya menjalankan prosedur yang benar. Kalau Nyonya tetap bersikeras tidak mau membayar makanan yang sudah kalian habiskan, terpaksa kalian harus mencuci seluruh tumpukan piring di belakang sebagai kompensasi," kata manajer itu dengan nada yang sangat tegas.
Seketika, wajah Tina, Dika, Siska, dan Maudy memucat. Kepanikan mulai merayap di balik ekspresi angkuh mereka. Bayangan pelarian mereka dari rumah sejak pagi tadi demi menghindari tugas rumah tangga dari Zoe kini berbalik menjadi bumerang yang menghantam telak. Benar-benar situasi 'keluar kandang singa, masuk kandang serigala'.
"Apa?! Cuci piring?!" Tina menggebrak meja hingga gelas-gelas bergetar. "Dengar ya, saya ini istri orang terkaya di negeri ini! Kalau saya mau, saya bisa menghancurkan usaha kecil ini dalam sekejap!" bentak Tina, mencoba mencari celah untuk menakut-nakuti.
Namun, sang manajer hanya tersenyum tipis, sama sekali tidak gentar. "Nyonya, kalau memang benar Anda istri orang terkaya, mustahil Anda tidak sanggup membayar semua tagihan ini. Ini masih siang bolong, kalau ingin bermimpi jadi penguasa, lebih baik lanjutkan nanti malam saja. Sekarang, bayar tagihannya atau silakan ambil celemek dan mulai bekerja di dapur seharian penuh," tutup sang manajer tanpa memberi ruang untuk berdebat lagi.
Siska yang mulai pucat pasi menyenggol lengan ibunya, berbisik dengan suara bergetar, "Ma, coba telepon Papa sekarang... aku nggak mau kerja kasar di sini. Kita kabur dari rumah buat lari dari perintah Zoe, tapi kenapa malah terjebak jadi pelayan di tempat begini?"
Dika pun ikut mendesak dengan wajah gelisah, "Iya Ma, cepat hubungi Papa! Jangan sampai kita dipermalukan lebih jauh lagi!"
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Tina merogoh tas bermereknya dan mengeluarkan ponsel. Satu kali nada sambung terdengar... tidak ada jawaban. Dua kali, tiga kali, hingga panggilan kelima, Joe tetap tidak mengangkat teleponnya.
Kecemasan mulai mencekik leher Tina, Dika, Siska, dan Maudy saat melihat sang manajer mulai bersedekap dada dengan raut wajah tanpa ampun. Di sekitar mereka, para pengunjung cafe mulai berbisik sinis--- ada yang tertawa mengejek, ada pula yang sengaja menyindir tentang 'orang kaya palsu'.
"Cukup!" Manajer itu mengangkat tangannya, menghentikan segala perdebatan. Suaranya menggelegar penuh penekanan, "Hentikan drama murahan kalian. Meisya, bawa mereka ke belakang. SEKARANG!"
Kata-kata itu bagaikan vonis mati yang membuat lutut Tina dan anak-anaknya seketika melemas. Niat hati ingin melarikan diri dari segala pekerjaan rumah, mereka justru terperosok ke dalam lubang penderitaan baru yang jauh lebih rendah dari bayangan mereka.
•
•
•
BERSAMBUNG
tapi semoga stev adalah jodoh Zoe dan nanti anak" mereka mewarisi kekuatan orang tuanya, pasti seru tuh...ayo Thor tambah semangat, buat ceritanya tambah menarik dan seru 💪💪💪💪😘😘😘😘