NovelToon NovelToon
Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Enam Tahun Berlalu,Kau Masih Di Sana

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Ketos / Teen Angst
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: byyyycaaaa

Sinopsis:

Enam tahun lalu, Azzalia sengaja mendorong Danendra pergi karena merasa dirinya terlalu dingin untuk cinta setulus itu. Ia menghilang tanpa jejak, berharap luka laki-laki itu sembuh.

Namun di kota ini, semesta mempertemukan mereka kembali. Saat Azzalia masih membeku dalam rasa bersalah, Danendra justru masih berdiri di titik yang sama.

"Azzalia, kalau kamu sudah capek berkelana, tolong menoleh ke belakang. Aku masih di sini, menunggu kamu."

Masihkah ada ruang untuk cinta yang pernah dibuang, atau pertemuan ini hanya untuk membuka luka lama yang belum benar-benar kering?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Tunggu sebentar, Azzalia," potong Danendra tiba-tiba. Suaranya tidak keras, namun sanggup menghentikan kalimatku seketika.

Ia meletakkan tabletnya ke meja dengan bunyi brak pelan yang menggema di ruangan yang kedap suara itu. Danendra memajukan tubuhnya, menumpukan kedua lengan di atas meja, dan menatapku dengan intensitas yang membuat oksigen di sekitarku terasa menipis.

"Di halaman tiga poin B, kamu menyebutkan ada deviasi material sebesar lima persen karena kendala logistik di area Kota K. Pertanyaan saya sederhana," ia menjeda kalimatnya, matanya menyipit tajam. "Apakah deviasi ini murni kesalahan vendor, atau ada kelalaian dalam pengawasan teknis saat kamu meninjau lokasi kemarin? Karena sejauh yang saya ingat, pengawasan kemarin dilakukan dengan sangat... personal."

Deg. Jantungku serasa berhenti berdetak. Kata 'personal' itu diucapkan dengan penekanan yang hanya aku yang paham maknanya. Semua orang di ruangan—Pak Bram, Pak Hanan, bahkan Mbak Selly—kini menatapku dengan raut wajah tegang. Mereka mungkin mengira Danendra sedang menguji ketegasanku sebagai staf magang, padahal aku tahu ini adalah serangan balik atas sikap dinginku tadi pagi.

"Maksud saya, Pak..." suaraku tercekat, aku berdehem sejenak untuk menetralkan rasa gugup. "Pengawasan dilakukan sesuai prosedur teknis. Deviasi itu terjadi karena adanya perubahan jadwal pengiriman dari pusat yang tidak sinkron dengan kondisi cuaca di lapangan."

"Jawaban yang diplomatis," Danendra menyunggingkan senyum tipis yang dingin, sebuah senyum yang tidak mencapai matanya. "Tapi saya tidak butuh alasan cuaca. Saya butuh akurasi. Jika asisten teknis saya saja tidak bisa memastikan angka ini valid seratus persen karena pikirannya 'terbagi' ke hal lain saat bertugas, bagaimana saya bisa percaya pada laporan-laporan selanjutnya?"

Ruangan itu mendadak sangat sunyi. Pak Bram tampak gelisah di kursinya, sementara aku merasa wajahku mulai panas karena menahan emosi. Ia sedang mempermalukanku di depan umum menggunakan tameng profesionalitas.

"Pikiran saya tidak terbagi, Pak," sahutku tegas, akhirnya berani membalas tatapannya dengan sorot mata yang tak kalah tajam. "Laporan itu valid berdasarkan data riil yang masuk sampai jam delapan pagi tadi. Jika Bapak meragukan kredibilitas saya, Bapak bisa meminta Bagas atau Mbak Selly untuk melakukan audit ulang hari ini juga."

Danendra terdiam. Keheningan yang tercipta di antara kami terasa seperti benang yang ditarik kencang, siap putus kapan saja. Staf lain hanya bisa saling lirik, merasa suasana rapat ini sudah melenceng jauh dari sekadar bahas anggaran.

"Audit ulang?" gumam Danendra pelan, suaranya kini terdengar lebih rendah. "Tidak perlu. Saya sendiri yang akan mengaudit pekerjaan kamu nanti siang. Di ruangan saya. Berdua saja, agar tidak ada lagi data yang terlewat karena alasan... cuaca."

Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Pria ini benar-benar keterlaluan. Ia menggunakan kekuasaannya untuk menyudutkanku tanpa sisa.

"Rapat kita cukupkan sampai di sini. Pak Bram, Pak Hanan, terima kasih," ucap Danendra sambil berdiri tanpa melepas pandangannya dariku. "Azzalia, bawa semua berkas mentahnya ke meja saya sepuluh menit lagi. Jangan terlambat."

Ia melangkah keluar lebih dulu, meninggalkan aroma wood-scent yang kini terasa seperti aroma ancaman di hidungku. Mbak Selly mendekatiku dengan wajah cemas begitu pintu tertutup.

"Zal, lo nggak apa-apa? Pak Danendra tadi kok galak banget ya sama lo?" bisik Mbak Selly.

Aku hanya bisa tersenyum kecut sambil membereskan berkas. "Nggak apa-apa, Mbak. Namanya juga orang pusat."

Padahal di dalam hati, aku sedang merutuk. Sepuluh menit lagi. Aku harus kembali masuk ke sarang predator yang paling aku hindari.

Sepuluh menit terasa seperti sepuluh detik. Aku berdiri di depan pintu kayu jati yang tebal itu dengan napas yang masih memburu. Di ujung lorong, aku sempat menoleh dan melihat Nesha serta Mbak Selly menatapku dengan cemas. Nesha mengepalkan tangannya di udara, memberikan gestur fighting tanpa suara, sementara Mbak Selly hanya bisa memberikan senyum menguatkan.

Aku menarik napas panjang, mencoba menambal zirahku yang sudah compang-camping akibat serangan Danendra di ruang rapat tadi.

Tok, tok.

"Masuk."

Aku membuka pintu dan mendapati Danendra sudah duduk di sana, tanpa jas. Ia hanya mengenakan kemeja yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan urat-urat tangan yang menonjol—pemandangan yang dulu sering membuatku terpaku, tapi sekarang hanya membuatku waspada.

Aku melangkah mendekat, meletakkan tumpukan berkas mentah di meja kerjanya dengan bunyi berdebum pelan. "Semua berkas yang Anda minta sudah lengkap, Pak."

Danendra tidak langsung memeriksa berkas itu. Ia justru menyandarkan punggung ke kursi, menatapku dengan tatapan yang sangat berbeda dari tatapan membunuhnya di ruang rapat. Tidak ada lagi es yang membeku di matanya, yang ada justru kabut emosi yang sulit aku definisikan.

"Duduk, Azzalia," ucapnya rendah.

"Saya rasa saya tidak perlu duduk, Pak. Jika ada poin yang salah, silakan katakan agar saya bisa segera memperbaikinya di kubikel saya," jawabku kaku, tetap berdiri tegak.

Danendra terkekeh getir, ia berdiri dan mulai berjalan memutari meja kerjanya hingga berhenti tepat di hadapanku. Jarak kami begitu dekat sampai aku bisa mencium kembali aroma kopi pahit bercampur wood-scent yang ia pakai.

"Kamu pikir aku benar-benar ingin membahas angka material lima persen itu, Zal?" bisiknya, suaranya kini terdengar sangat lelah.

"Bukankah itu yang Bapak katakan di depan semua orang tadi? Bahwa saya tidak akurat? Bahwa saya tidak profesional?" balasku dengan nada yang sedikit naik, menantang manik matanya.

"Aku melakukan itu supaya kamu berhenti memakai topeng profesional palsu itu di depanku!" suaranya naik satu oktav, membuatku sedikit terlonjak. "Pagi-pagi buta kamu sudah di kantor, menghindariku di lobi, menolak tawaranku dengan alasan etika kerja... Zal, aku hanya ingin bicara sebagai pria yang kemarin menjagamu tidur di rest area, bukan sebagai Pak Danendra yang kamu benci ini."

"Tapi di gedung ini, Anda adalah Pak Danendra!" teriakku, melepaskan emosi yang sejak tadi kupendam. Napasku memburu, dadaku naik turun menahan sesak yang seolah mencekik. "Dan tadi juga saya sudah menerima makanan dari Anda, apa itu masih kurang? Apa itu belum cukup untuk membayar 'kewajiban' saya sebagai asisten Anda?"

Aku melangkah maju satu tindak, tak lagi peduli pada batasan hierarki. "Saya hanya staf magang yang tidak punya hak untuk membantah perintah Anda. Jadi tolong, periksa laporannya sekarang, maki saya kalau memang ada yang salah, dan biarkan saya keluar dari ruangan ini!"

Suaraku menggema di ruangan luas yang kedap suara itu. Danendra mematung. Matanya yang tadi berkilat emosi mendadak meredup, digantikan oleh gurat luka yang sangat dalam. Ia menatapku seolah aku baru saja menghujamkan belati tepat di jantungnya.

Keheningan yang mencekam kembali menyergap. Hanya suara dengung AC yang terdengar, kontras dengan gemuruh di dalam dadaku. Danendra menarik napas panjang, sangat berat, lalu perlahan ia memundurkan langkahnya. Ia kembali ke kursi kebesarannya dengan gerakan yang tampak lelah, seolah beban seluruh proyek ini tak sebanding dengan beratnya penolakanku.

"Begitu rupanya," gumamnya pelan, suaranya kini terdengar sangat dingin—lebih dingin dari Pak Danendra yang memojokkanku di ruang rapat tadi. "Jadi, perhatian saya selama ini... hanya kamu anggap sebagai transaksi?"

Ia meraih tumpukan berkas yang tadi kulemparkan ke mejanya tanpa menoleh lagi padaku. "Silakan keluar, Azzalia. Laporannya akan saya periksa. Dan mulai detik ini, kamu tidak perlu khawatir lagi. Saya akan bersikap persis seperti yang kamu minta; sebagai Pak Danendra yang tidak memiliki urusan pribadi dengan staf magangnya."

Aku terpaku di tempatku berdiri. Kalimatnya barusan seharusnya membuatku lega, tapi entah kenapa, justru terasa seperti hantaman godam yang meruntuhkan sisa-sisa pertahananku. Aku menatap punggung tegapnya yang kini terlihat begitu jauh dan asing.

Tanpa kata lagi, aku berbalik dan berjalan menuju pintu. Tanganku gemetar saat memutar gagang pintu kayu itu. Begitu aku melangkah keluar dan menutup pintu di belakangku, lututku terasa lemas. Di lorong yang sepi itu, aku menyadari satu hal yang menyakitkan: aku baru saja mendapatkan apa yang kuinginkan, tapi kenapa rasanya aku justru baru saja kehilangan segalanya?

1
kokita
ihhb kok jahat banget yang nyebarin🥺 nanti azzalia ngilang lagi thorr😭
kokita
semangat ngejar azzalia🤭
kokita
jangan kaku-kaku zal,
kokita
pepet terus nen🤣
kokita
makan siang bareng mantan🤭
kokita
keren torrr
kokita
kalau saling cinta kenapa pergi zal🤭
kokita
aku malah yang deg-degan thor😄
kokita
balikan zal
langit buku
si Danendra setia banget
Kembang Lombok
kenapa ak yg dek dekan yaaa🤭
falea sezi
zalia ini aneh di. tolak tp kepikiran ywda napa dlu g di. trima jalanin aneh bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!