NovelToon NovelToon
Gadis Desa Milik CEO Tampan

Gadis Desa Milik CEO Tampan

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: HegunP

Ayu pikir jadi istri dari CEO tampan hidupnya akan bahagia seperti di film-film, nyatanya malah selalu direndahkan dan diperlakukan kasar.

Sang CEO, bernama Arvin, memandang Ayu hanyalah gadis dari desa yang tak pantas bersanding dengan dirinya, yang berkelas dan premium. Arvin menikahi Ayu memang bukan karena cinta.

Hingga datanglah hari dimana kesabaran Ayu telah habis. Dia hendak mengakhiri rumah tangganya, namun perilaku Arvin malah berubah menjadi sosok yang tidak ingin lepas dari Ayu.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan isi hati Arvin? Dan bisakah Ayu tetap mempertahankan rumah tangganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HegunP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Belum Menyerah

Arvin menarik dan mendorong Ayu hingga jatuh ke lantai marmer yang penuh ceceran makanan dan kuah. 

Saking kuatnya, jidat Ayu nyaris saja membentur lantai.

Tak peduli dengan pakaian Ayu yang menjadi kotor. 

Tak peduli dengan permukaan tangan Ayu yang terseret dan terluka terkena pecahan kaca beling.

Napas Ayu tersengal. Perih di tangannya cepat menjalar tajam. Sementara cairan segar mulai menetes ke lantai. 

Bibir Ayu bergetar menahan suara tangisnya yang mau pecah.

Arvin meludah kasar. “Sudah aku bilang. Jangan sok memantaskan diri menjadi istri. Wanita kampung sepertimu tak pantas denganku. Lihat apa yang telah kau lakukan. Kau membuat lidahku kotor dengan rasa yang menjijikan!”

Ayu mendongak ke atas, kepada sosok pria yang berdiri menjulang di depannya. Di matanya sekarang, pria itu sedang menghujani tatapan hina.

Tubuh ayu gemetar. Aura dingin mulai terasa. Isakan tangisnya perlahan keluar.

Arvin menyugar frustasi rambut pendek lebatnya dengan satu tangan. “Ke depan. Jika masih berani menghidangkan makanan, balasannya akan lebih parah dari ini!”

Tak mau terus terbawa emosi, Arvin bergegas pergi, masuk ke kamarnya dengan membanting pintu.

Tangis Ayu makin pecah, tertunduk lemah sembari menutup luka di tangannya.

“Kenapa harus sampai seperti itu?” lirihnya dengan suara gemetar.

Pria itu … adalah macan pengusaha. Sedangkan Ayu … hanya kelinci kecil yang mudah dimangsa, kapanpun Arvin mau.

...****...

Pagi menyingsing.

Selesai menuntaskan bersih-bersih rumah, Ayu memutuskan mencari udara segar. Dia sudah duduk di sebuah kafe terbuka, satu meja dengan seorang wanita muda yang kenal baik dengan Ayu.

Wanita itu bernama Cintia. Dia terus berwajah kesal setelah selesai mendengar curhatan Ayu tentang semalam. Ayu menemui teman dekatnya ini memang untuk curhat. Selain itu, sebenarnya juga ingin meminta sebuah bantuan.

“I b l i s banget suamimu. Mentang-mentang orang kaya menindas sampe segitunya!” cibir Cintia, lalu meneguk habis jusnya. Merasa panas.

“Mendingan kamu cepat-cepat ajukan cerai. Bisa mati berdiri kamu hidup sama dia.”

Ayu yang sejak selesai curhat terus menunduk memandang jus stroberinya menjawab lirih, “Aku … tidak bisa.” 

Cintia mengerutkan alis. “Hah kenapa? Dia udah main kasar lho. Kamu juga gak dianggap sebagai istri. Jadi b a b u iya!”

“Entahlah. Aku …” 

Ayu ragu-ragu melanjutkan alasannya. Wajah bersihnya makin berubah merah merona, terutama area pipi.

Cintia menangkap ekspresi teman dekatnya ini, lalu menegakkan punggung dari sandaran kursi.

Alisnya meninggi, “Hah! jangan-jangan… kamu bilang tak bisa karena udah cinta mati sama pria itu?”

Ayu tak menjawab, memalingkan wajah meronanya ke samping sembari mengusap-ngusap tangan kirinya yang diperban.

 “Astaga!”

Cintia menghela kasar sembari mengusap kening.

“Wajar sih kamu sampai dibutakan cinta begini. Siapa yang gak mau jadi istrinya Arvino Pradipta. Salah satu pebisnis properti paling terkenal, udah kaya gantengnya kelewatan pula. Dia terlalu sempurna untuk jadi manusia. Tapi sayang, kelakuannya busuk banget!” Cintia terus mencibir sosok suami Ayu itu dengan gerakan kepala yang digoyang-goyangkan.

Tak mau lanjut mendengar ocehan Cintia, Ayu menyela.

“Daripada terus bahas itu, sebenarnya aku menemuimu karena ingin belajar masak daging steak.”

“Belajar masak? Masih mau nekat hidangkan dia makanan?”

“Aku … ingin suamiku sekali saja bisa menikmati masakanku. Pak Arvin suka masakan mewah ala restoran, jadi aku ingin bisa masak makanan seperti itu. Kamu kan punya pengalaman kerja di restoran.”

Cintia memutar bola mata malas, merapikan bajunya, lalu menaikkan tali tasnya ke bahu.

Ayu tersentak melihat Cintia berdiri. “Kamu tidak mau bantu aku Cin?”

“Bukannya tidak mau bantu… tapi kalau aku bantu, kamu pasti keterusan berusaha ngerubah dia bisa menerimamu. Padahal itu mustahil.”

Sewaktu Cintia hendak melangkah, dia menatap Ayu serius terlebih dahulu.

“Terima saja, Yu. Orang seperti dia tidak akan pernah bisa menerima kamu sebagai istri. Dia pria berkelas. Seleranya premium. Tak mungkin bisa menerima rakyat jelata sepertimu. Apalagi kamu yang jelas-jelas orang dari desa. Kalian tidak cocok bersama!”

“Cintia, kamu jangan per—””

“Aku sudah terlambat kuliah!”

Ayu mengerutkan bibir. Mau tidak mau, kata-kata pahit Cintia ia cerna baik-baik. Tapi bukannya menyerah. Justru semakin tertantang.

‘Kalau Cintia tidak mau mengajariku, terpaksa belajar sendiri!

Ayu dengan mantap bergegas pergi menuju supermarket.

Sebenarnya sebelum menemuimu Cintia, Ayu lebih dulu menelepon seseorang, yakni sepupu Arvin. Namanya Alden, pria yang sangat ramah —sifatnya bertolak belakang dari Arvin.

Ayu bertanya ke Alden tentang makanan mewah apa yang disukai Arvin. 

Sepupu Arvin itu lalu menjawab ‘steak ribeye.’

Karena sudah jelas Cintia tidak mau bantu belajar membuat steak, maka Ayu akan memasak mengikuti tutorial video saja hari ini.

Setibanya di supermarket, Ayu bergegas menuju ke rak-rak yang menyediakan berbagai macam daging.

Ayu mengambil steak ribeye 300 gram, dan saat melihat label harga, wajahnya tercengang.

“Ya Ampun. Daging sekecil ini lebih mahal dari harga sepatuku,” komentarnya sambil berdecak tak percaya.

Ayu beralih tempat, berjalan menuju rak-rak rempah-rempah di ujung rak sambil melihat video tutorial masak steak di HP.

Di belakangnya, datang seorang pemuda berkemeja biru tua menyalip sedikit buru-buru. 

Pemuda tinggi yang juga membawa keranjang belanjaan itu tak sengaja menyenggol bahu Ayu, membuat HP Ayu lepas dari genggamannya dan terjatuh.

Prak!

Ayu hendak berjongkok namun pemuda itu duluan memungut dan mengembalikan ke Ayu.

“Maaf. Aku tidak sengaja!” sesal pemuda itu dengan raut bersalah.

“Tidak apa-apa.” Ayu tetap ramah.

Ayu lekas memeriksa keadaan layar HP-nya. Masih berfungsi. Bahkan video tutorial masak masih berjalan. Hanya saja ada retakan di sisi pinggir layar yang cukup parah.

“Yah … layarnya retak,” lirih Ayu sambil berlalu pergi.

Baru beberapa langkah Ayu pergi, pemuda berkemeja biru itu datang menyusul.

“Maaf.”

Ayu berhenti. Menoleh.

“Iya?”

“Sepertinya aku tidak bisa hanya menerima kata maaf. Aku ganti rugi dengan uang, ya.”

Tangan Ayu sontak melambai menolak. “Tidak apa-apa. Beneran gak apa-apa ko. Kebetulan HP saya memang sudah agak butut. Mungkin ini pertanda harus ganti baru.”

“Oh.” Si pemuda menggosok-gosok leher belakangnya. Tetap terlihat bersalah.

“Saya permisi,” izin Ayu, menundukkan kepala.

Tak lama, si pemuda lagi-lagi menyusul.

“Kalau tidak mau ganti rugi uang. Bagaimana kalau saya ganti dengan bantu belajar masak?”

Ayu tertegun. “Ko mas bisa tahu saya lagi mau belajar masak?”

Si pemuda mengulas senyum. “Tadi saat mengambil HP mba, saya lihat layarnya nampilin tutorial masak. Di keranjang belanjaan mba juga terlihat ada daging mahal yang gak bisa sembarang dimasak.”

Ayu reflek melirik keranjang belanjaannya sendiri.

“Mudah ditebak ya?” Sudut bibir Ayu terangkat malu-malu.

“Saya kebetulan seorang cooking mentor. Jika ingin belajar masak bisa ikut kelas saya. Sebagai ganti rugi atas kecerobohanku tadi, bisa ikut secara gratis. Bagaimana?”

“Oh iya? Wah saya mau!” raut wajah Ayu bersinar senang. Ini ketidaksengajaan yang menguntungkan.

“Oh iya. Kenalin. Namaku Raka.”

Ayu menyambut uluran tangan pemuda itu. “Aku Ayu.”

“Ayu? Salam kenal.”

“Iya.”

Ayu dan Raka saling tukar menukar senyuman ramah. Sesuatu yang memang normal sebagai perkenalan biasa. Hanya saja, Raka merasa ini malah sesuatu yang lebih. 

Entah apa yang terjadi sebenarnya, namun pemuda itu mendapatkan getaran hati, yang mirip seperti ‘jatuh cinta pada pandangan pertama.’

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!