NovelToon NovelToon
Memories Of Verovska

Memories Of Verovska

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Four Forme

Cassie datang ke Verovska dengan satu tujuan, menyelesaikan kuliahnya dan pulang.
Sederhana. Seharusnya.
Namun negara itu tidak ramah pada orang asing.
Dinginnya menusuk tulang,
orang-orangnya menjaga jarak,
dan kesepian menjadi hal yang harus ia telan setiap hari.
Cassie belajar bertahan sendiri.
sampai ia bertemu Liam.
Pria yang tidak hanya mengubah hidupnya,
tapi juga menyeretnya ke dalam dunia yang tidak pernah ia pahami.
Dan sejak saat itu, Verovska tidak lagi sekadar tempat asing.
Ia berubah menjadi sesuatu yang… tidak bisa ia tinggalkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four Forme, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernyataan Resmi

Di dalam kamarnya yang luas, Liam berdiri di depan jendela besar yang menghadap ke arah kota Verovska yang mulai temaram.

Angin siang bertiup pelan, membawa aroma pinus dari hutan di belakang rumah.

Pikirannya tidak tenang.

Kata-kata Cassie di meja makan tadi terus berputar-putar di kepalanya.

​Minta secara resmi? Liam mendengus sendiri, menyugar rambutnya dengan frustrasi.

​Pikiran Liam mendadak ditarik kembali ke beberapa tahun lalu. Bayangan Amanda muncul begitu saja, seperti hantu yang menolak pergi.

Dulu, Liam pernah melakukan semuanya. Dia bukan pria yang tidak mengerti romansa. Saat dia meminta Amanda menjadi kekasihnya, Liam menyewa satu lantai restoran mewah, memesan ribuan mawar putih kegemaran wanita itu, dan menyiapkan sebuah kalung berlian yang harganya bisa membeli satu gedung di pusat kota.

​Semuanya sangat mahal. Semuanya sangat resmi. Semuanya sangat "sempurna".

​Tapi apa hasilnya? Begitu Amanda merasa dunianya dan dunia Liam tidak lagi seirama, begitu Amanda merasa bosan dengan risiko yang harus ia tanggung di samping Liam, Amanda mencampakkannya.

​Kejadian itu meninggalkan luka yang dalam sekaligus rasa skeptis pada Liam. Ia mulai percaya bahwa kemewahan dan pernyataan resmi tidak menjamin kesetiaan.

Itulah alasan kenapa dia bersikap sangat pragmatis pada Cassie. Baginya, kenyataan bahwa Cassie ada di rumahnya, makan bersamanya, dan hampir menyerahkan "yang pertama" untuknya, jauh lebih nyata daripada sekadar kata-kata manis.

​"Kalau yang resmi dan mahal saja bisa gagal, untuk apa aku mengulanginya?" gumam Liam pelan.

​Tapi kemudian, ia teringat wajah Cassie yang merah padam saat berdebat tadi. Cassie bukan Amanda. Amanda adalah wanita kelas atas yang terbiasa dengan kemewahan, sementara Cassie adalah gadis yang lebih memilih bekerja keras daripada menerima uang cuma-cuma. Cassie menginginkan harga diri dan pengakuan, bukan sekadar perhiasan mahal.

​Liam kembali teringat ucapan Cassie: "Kekasih itu butuh komitmen, butuh kata-kata yang jelas..."

​Ada gejolak aneh di dada Liam. Dia takut. Dia takut jika dia memberikan hatinya secara resmi, dia akan dihancurkan lagi. Tapi dia juga sadar, jika dia tetap diam dan hanya mengandalkan sifat posesifnya, Cassie dengan segala keras kepalanya, mungkin benar-benar akan pergi ke tempat asalnya setelah lulus nanti tanpa menoleh sedikit pun padanya.

​Liam menatap pantulan dirinya di kaca jendela. "Apa aku benar-benar harus melakukannya lagi? Untuk seorang mahasiswi yang hobi mengomel?"

Liam meraih ponselnya, mencari sebuah nomor di daftar kontaknya. Tangannya ragu sejenak, sebelum akhirnya dia menekan tombol panggil.

​"Jino," ucap Liam saat telepon diangkat. "Besok kosongkan jadwalku di siang hari. Dan... cari tahu di mana toko bunga terbaik di kota ini."

Setelah menutup telepon dari Jino, Liam tidak bisa tenang. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya. Sial, ia merasa seperti remaja ingusan lagi. Ia benci perasaan ini, perasaan di mana ia tidak memegang kendali penuh atas emosinya.

​Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintunya. Jino masuk dengan wajah yang sangat menyebalkan.

​"Bos, aku tidak salah dengar kan? Kau minta toko bunga? Bukan toko supplier tembakau?" ledek Jino sambil bersandar di kusen pintu.

​"Diamlah, Jino. Aku hanya ingin melakukan ini dengan benar agar dia berhenti mengomel soal status," jawab Liam ketus, meski wajahnya sedikit memanas.

​"Oke, oke. Tapi dengar, Liam," Jino masuk dan duduk di pinggir tempat tidur Liam dengan wajah yang mendadak serius.

"Kalau kau mau melakukan ini untuk Cassie, jangan gunakan cara yang sama seperti saat kau melakukannya untuk Amanda. Cassie itu beda. Dia tidak akan silau dengan restoran bintang lima yang sepi atau kalung seharga apartemen."

​Liam terdiam. Ucapan Jino tepat sasaran. "Lalu apa?"

​Jino menjentikkan jarinya. "Jangan beri dia kemewahan yang membuatnya merasa seperti 'pajangan'. Beri dia sesuatu yang menunjukkan kalau kau menghargai dunianya juga. Dunianya itu kan buku, kampus, dan... kesederhanaan."

​Malam itu, Liam benar-benar turun tangan. Ia tidak menyewa event organizer. Ia meminta Marco untuk mengamankan sebuah tempat di pinggiran kota, sebuah taman tua yang memiliki rumah kaca terbengkalai yang sudah ia renovasi sedikit.

Bukan tempat mewah yang mencolok, tapi tempat yang sunyi dan cantik.

​Liam juga menyiapkan sebuah kotak kecil. Bukan berisi berlian berkarat-karat, melainkan sebuah pena vintage yang sangat elegan namun fungsional, dengan ukiran nama Cassie di sana. Sebuah simbol bahwa ia mendukung impian Cassie untuk lulus dan sukses, bukan hanya ingin mengurungnya di rumah.

​"Dan bunga..." Liam bergumam sendiri sambil melihat katalog yang dikirim Jino. Ia mengabaikan mawar merah yang terlalu klise. Matanya tertuju pada bunga Lily of the Valley dan Daisy, simbol ketulusan dan awal yang baru.

***

Keesokan paginya, Liam tampak sangat gelisah. Ia beberapa kali berganti pakaian.

Kemeja putih dengan lengan digulung? Terlalu biasa.

Jas lengkap? Terlalu formal.

Akhirnya ia memilih kemeja biru navy yang membuatnya terlihat tegas namun tetap santai.

​Di bawah, Jino dan Marco sudah bersiap. Jino sibuk memasukkan beberapa perlengkapan ke bagasi mobil dengan senyum-senyum sendiri.

​"Siap, Bos? Ini akan jadi sejarah di Verovska." goda Jino saat Liam turun tangga.

​Liam hanya menatapnya tajam, namun kali ini ia tidak membalas dengan bentakan. Ia menarik napas panjang, meraba kotak pena di sakunya. Ia harus membuktikan pada dirinya sendiri bahwa kali ini, ceritanya akan berakhir berbeda.

***

Cassie sedang berada di ruang tengah, berkutat dengan tumpukan jurnal penelitiannya saat Liam turun dari tangga. Langkah kakinya yang mantap kali ini terdengar lebih tenang.

​Cassie mendongak dan sedikit tertegun. Liam tidak memakai setelan jas hitam yang biasa ia gunakan saat akan bertemu klien, juga bukan kaos dalam santai yang ia pakai saat di rumah. Ia mengenakan kemeja biru navy yang pas di tubuhnya, mempertegas bahunya yang lebar, dengan rambut yang tertata rapi namun tidak terlalu kaku.

​"Bersiaplah. Kita pergi sekarang," ucap Liam, mencoba terdengar sedatar mungkin untuk menutupi kegugupannya.

​Cassie mengernyit, tangannya masih memegang pena. "Pergi? Ke mana? Aku belum selesai membaca bab ini, Liam. Lagipula hari ini tidak ada jadwal ke gudang atau pelabuhan, kan?"

​"Jangan banyak tanya. Pakai pakaian yang nyaman, dan jangan pakai celemekmu," Liam berjalan mendekat, mengambil pena dari tangan Cassie dan menutup bukunya secara paksa.

"Aku memberimu waktu lima belas menit. Jika lewat satu detik, aku akan menggendongmu ke mobil dengan baju rumahmu itu."

​Cassie mendengus kesal, namun ia bisa melihat kilat yang berbeda di mata Liam. Akhirnya, Cassie menyerah. Ia naik ke kamarnya dan berganti pakaian dengan dress simpel selutut berwarna krem yang membuatnya terlihat manis tanpa usaha berlebih.

***

​Di dalam mobil, suasana terasa aneh. Liam tidak menghidupkan radio. Ia menyetir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk setir mengikuti irama jantungnya yang tidak karuan.

​"Kau aneh sekali hari ini," gumam Cassie sambil menatap profil samping Liam.

​"Simpan energimu untuk nanti, Cassie," sahut Liam pendek.

​Mobil melaju keluar dari pusat kota Verovska, menuju daerah pinggiran yang lebih hijau.

Mereka berhenti di sebuah taman tua yang dikelilingi pagar besi berukir.

Di tengah taman itu, terdapat sebuah rumah kaca kuno yang dinding kacanya berkilauan diterpa matahari sore.

​Liam turun dan membukakan pintu untuk Cassie.

​"Ini... cantik sekali," bisik Cassie saat mereka berjalan masuk ke dalam rumah kaca.

Di dalamnya hanya ada meja kayu kecil dengan dua kursi, dikelilingi oleh tanaman hijau dan bunga-bunga liar yang harumnya menenangkan.

Tidak ada mawar merah yang mencolok, hanya pot-pot kecil berisi bunga Lily of the Valley dan Daisy.

​Cassie terdiam saat melihat sebuah kotak kayu kecil di atas meja. Ia menoleh ke arah Liam dengan tatapan bertanya.

​Liam berdehem, mencoba membersihkan tenggorokannya yang mendadak kering.

Ia melangkah mendekat, berdiri tepat di hadapan Cassie.

​"Kau bilang kemarin kalau status kita tidak jelas. Kau bilang kau bukan barang milikku, dan kau ingin dihargai sebagai manusia yang punya impian," suara Liam terdengar rendah dan jujur.

​Ia mengambil kotak itu dan membukanya, memperlihatkan sebuah pena vintage yang sangat indah dengan ukiran nama 'Cassie' di badannya.

​"Ini bukan berlian seperti yang dulu pernah kuberikan pada... orang lain. Ini adalah pena," Liam menatap mata Cassie dalam-dalam.

"Karena aku tahu kau ingin sukses dengan usahamu sendiri. Aku ingin kau menggunakan pena ini untuk menandatangani kelulusanmu, kontrak kerjamu kelak, atau apa pun yang membuatmu merasa bangga pada dirimu sendiri."

​Jantung Cassie seolah berhenti berdetak. Ia tidak menyangka Liam akan memperhatikan detail sekecil itu.

​"Cassie..." Liam menarik napas panjang, menanggalkan seluruh gengsinya sebagai bos besar di Verovska.

"Aku tidak pintar berkata-kata manis, dan aku mungkin masih akan sering membuatmu kesal. Tapi aku tidak ingin kau hanya menjadi pelayan di rumahku atau 'pelarian'. Aku ingin kau menjadi kekasihku. Secara resmi. Tanpa paksaan, dan tanpa keraguan soal siapa yang ada di hatiku sekarang."

​Cassie terpaku, matanya mulai berkaca-kaca. Ia menatap pena itu, lalu beralih ke wajah Liam yang tampak sangat menunggu jawabannya.

​"Jadi... bagaimana?" tanya Liam lagi, suaranya sedikit bergetar. "Apa kau mau berhenti menjadi pelayan dan mulai menjadi masalah terindah dalam hidupku?"

1
Sri
Diihh
Harley
sama2 menurunkan ego 🥲
Harley
nurut2 aja
Ella Elli
Cassie sih lagian batuu, di bilang diem aja di rumah 😭
Malah memperburuk keadaan
Harley
iyuhh
Ella Elli
hmmm Cassie 😒
Harley
masih penasaran sama si ethan ethan itu
Donna
Paling nanti kalo ketemu sama amanda lagi, galau lagi
Donna
Idih amanda muluuu
Ella Elli
Harusnya kalo belum bisa lupain masa lalu, jangan memulai hubungan yang baru dulu.
Kasian Cassie 😭
Donna: Setujuuu
total 1 replies
Harley
lanjutttt
Harley
Seru dan ringan dibaca di waktu luang~
Harley
lanjuttt
Harley
lebih bertanggung jawab cenah wkwk
Harley
aman aman 🤭
Harley
sooo deep 🙂
Ella Elli
Tembak yang bener etdah
Harley
orang Italia lokal jg bilang padaku kalo mafia2 di novel 'it's scam' katanya wkwk
Four Forme: jauh dari bayangan ya haha
total 1 replies
Harley
kerja apaan tuh 👀
Hafiz Baihaqi
wey apa nih 🤣
Four Forme: hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!