Di bawah langit London yang selalu mendung, Alex Ferguson berdiri sebagai predator puncak di dunia bawah tanah Inggris. Baginya, kematian Brandon Warming karena sakit jantung adalah sebuah "penghinaan"—ia kehilangan kesempatan untuk membalas nyawa ibunya dengan tangannya sendiri.
Namun, Brandon meninggalkan satu-satunya harta yang tersisa: Tiana Luxemburg Warming. Gadis berusia 18 tahun yang masih memiliki binar polos di matanya, sama sekali tidak tahu bahwa seluruh hidupnya kini telah beralih menjadi milik Alex sebagai pelampiasan dendam yang belum tuntas. Bagi Alex, Tiana bukan sekadar mangsa, melainkan mahakarya yang akan ia hancurkan perlahan di balik dinding kastelnya yang dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitnah dan keberanian
Roger Warming mematung di tengah ruangan, rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Matanya yang merah karena kurang tidur kini berkilat antara amarah dan ketidakpercayaan.
"Honey, dengarkan aku... Keponakanmu itu, dia lari dari mansion ini!" Angelia mendekat, memasang wajah yang seolah-olah sangat tersakiti. "Dia tidak terima ayahnya meninggal, bahkan dia menyalahkan kami semua atas kematian Brandon. Dia bilang kita tidak becus menjaganya!"
"Apa?!" Roger mendesis, suaranya rendah namun penuh penekanan yang mengerikan. "Tiana tidak mungkin seperti itu. Dia anak yang lembut!"
Liona langsung menyambar kesempatan itu. Ia mengusap matanya yang kering, berpura-pura terisak pelan untuk meyakinkan ayahnya. "Iya, Ayah... Tadi saja saat aku mengajaknya untuk pulang dari pemakaman, dia malah membentakku. Dia memilih pergi dengan laki-laki hidung belang yang baru ia kenal di jalan. Aku sudah berusaha menariknya, tapi dia lebih memilih pria itu..."
Roger terhuyung selangkah ke belakang, tangannya mencengkeram sandaran kursi kulit di dekatnya. "Laki-laki? Tiana... pergi dengan pria asing di hari pemakaman ayahnya?"
"Kami sangat malu, Roger. Dia seolah tidak punya harga diri lagi setelah Brandon tiada," tambah Angelia dengan nada yang sangat meyakinkan. "Mungkin dia selama ini menyembunyikan sifat aslinya di depan Brandon."
Roger terdiam seribu bahasa. Di dalam kepalanya, bayangan Tiana kecil yang selalu memeluknya saat ia pulang dari luar negeri kini bertabrakan dengan cerita busuk yang dikarang istri dan anaknya. Amarah mulai membakar rasa sedihnya.
"Cari dia!" bentak Roger tiba-tiba, membuat Liona dan Angelia tersentak kaget. "Aku tidak peduli seberapa jauh dia lari atau dengan siapa dia pergi! Bawa Tiana kembali ke sini! Aku sendiri yang akan memberinya pelajaran karena telah mencoreng nama besar Warming!"
------------------------------
Sementara itu, di mansion Alex Ferguson yang sunyi...
Tiana tiba-tiba merinding hebat. Ia meringkuk di atas kasur dingin Alex, memeluk bantalnya erat-erat seolah sedang mencari perlindungan dari fitnah kejam yang sedang dilemparkan padanya di rumah sendiri. Ia tidak tahu bahwa paman yang dulu ia harapkan sebagai penyelamat, kini justru sedang mencarinya dengan penuh amarah karena kebohongan Angelia dan Liona.
Alex, yang berdiri di balik pintu kamar yang terkunci, mendengar isakan lirih Tiana. Ia tersenyum tipis—sebuah senyum predator.
"Menangislah sepuasmu, Mawar kecil," gumam Alex pelan. "Karena besok pagi, dunia akan benar-benar melupakan namamu, dan kau hanya akan mengenal satu nama: Ferguson."
Pagi itu, sinar matahari London yang pucat membedah kegelapan kamar Alex Ferguson, memaksa masuk melalui celah gorden sutra yang mahal. Cahaya itu seolah mengejek penderitaan Tiana yang masih meringkuk di atas kasur king size yang luas.
Dengan tubuh yang terasa remuk dan kaku, Tiana memaksakan diri untuk duduk. Kepalanya berdenyut hebat, sisa dari tangis histeris semalaman yang tak kunjung usai. Dengan langkah gontai dan kaki telanjang yang menyentuh lantai marmer dingin, ia melangkah menuju cermin besar di sudut ruangan.
Begitu sampai di depan pantulan dirinya, Tiana terperanjat. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan yang gemetar.
"Aaaaaa... hiks... kenapa dengan mata cantikku..." pekik Tiana tertahan.
Di dalam cermin itu, bukan lagi sosok putri Luxemburg yang segar dan bersinar yang ia lihat. Matanya sangat bintip, bengkak kemerahan hingga kelopaknya terasa berat untuk dibuka. Lingkaran hitam di bawah matanya mempertegas betapa hancurnya ia secara mental. Wajahnya pucat pasi, kontras dengan sisa riasan semalam yang luntur dan berantakan.
"Hiks... Ayah... lihat Ana... Ana jelek sekali," isaknya lirih, meraba wajahnya sendiri dengan ujung jari yang lemas. Kebanggaannya sebagai gadis tercantik di keluarga Warming seolah ikut terkubur bersama ayahnya.
Tiba-tiba, suara langkah kaki yang mantap terdengar dari balik pintu.
Klik.
Pintu terbuka lebar, menampilkan sosok Alex yang sudah rapi dengan setelan jas kerjanya yang sempurna. Ia berdiri di ambang pintu, menatap Tiana yang masih berdiri di depan cermin dengan tatapan yang sangat datar, seolah-olah pemandangan gadis yang hancur di depannya itu adalah pemandangan pagi yang biasa baginya.
"Berhenti meratapi wajahmu, Tiana," suara bariton Alex menggelegar dingin, memutus isak tangis Tiana seketika. "Cantik atau tidak, kau tetap harus menjalankan tugasmu hari ini. Cepat mandi dan bersihkan dirimu. Sepuluh menit lagi, aku ingin kau sudah ada di ruang makan."
Alex melemparkan sebuah bungkusan kecil ke arah Tiana—mungkin itu adalah pakaian pelayan yang ia siapkan.
"Kenapa nasibku harus sama? Di rumah sendiri jadi pembantu, di rumah orang lain pun jadi pembantu..." gumam Tiana perih, menatap pantulan dirinya yang hancur di cermin. Air matanya sempat menetes satu kali lagi, membasahi pipinya yang pucat.
Namun, sesuatu di dalam diri Tiana seolah pecah—bukan pecah karena hancur, melainkan pecah karena muak. Ia menyeka air mata itu dengan kasar menggunakan punggung tangannya hingga kulitnya memerah.
"Okey, Tiana Luxemburg. Kau harus berubah," bisik Tiana pada dirinya sendiri, suaranya kini terdengar lebih stabil dan tegas. Ia menegakkan bahunya yang tadi merosot. "Ayo berubah menjadi gadis pemberani sekarang. Ayahmu sudah tidak ada, kau harus mandiri. Jangan biarkan mereka menginjak-injakmu lagi."
Tiana menatap lekat matanya yang sembab di cermin. Ia tahu ia tidak punya senjata apa pun melawan pria sekelas Alex Ferguson, tapi ia punya harga diri yang tersisa. Jika Alex ingin ia menjadi pelayan, ia akan menjadi pelayan yang tidak akan pernah menundukkan kepalanya lagi karena rasa takut.
Dengan gerakan mantap, Tiana menyambar bungkusan baju dari Alex. Ia melangkah menuju kamar mandi dengan dagu yang sedikit terangkat. Tidak ada lagi rintihan lemah. Ia akan menghadapi "iblis" itu dengan keberanian yang baru ia temukan.
------------------------------
Sepuluh menit kemudian, pintu kamar mandi terbuka. Tiana keluar dengan seragam pelayan yang sudah terpasang di tubuhnya yang ramping. Meski seragam itu terasa asing dan merendahkan statusnya, Tiana memakainya dengan sangat rapi. Ia menguncir rambut cokelat sebahunya dengan kencang, menampakkan lehernya yang jenjang dan wajahnya yang bersih meski matanya masih bintip.
Ia melangkah keluar kamar, menuruni tangga mansion yang megah itu menuju ruang makan. Di sana, Alex sudah duduk di kursi kebesarannya, sedang memotong steak setengah matang dengan gerakan yang presisi dan elegan. Aroma kopi mahal memenuhi ruangan yang sunyi itu.
Tiana berhenti tepat di samping meja makan, berdiri tegak tanpa gemetar sedikit pun.
"Tuan Ferguson," panggil Tiana dengan nada datar namun sopan. "Saya siap bertugas. Apa perintah pertama Anda untuk pelayan barumu ini?"
Alex menghentikan gerakan pisaunya. Ia mendongak perlahan, menatap Tiana dari ujung kaki hingga ke mata gadis itu. Ada kilat ketertarikan yang sangat tipis di mata Alex saat melihat perubahan sikap Tiana yang mendadak berani ini.
"Kau cepat belajar, Tiana," ucap Alex dengan suara baritonnya yang serak. Ia meletakkan pisaunya dan menyandarkan punggungnya di kursi kulit yang mahal. "Tuangkan kopiku. Dan pastikan tidak ada satu tetes pun yang tumpah di atas meja mahalku ini."
Tiana menarik napas dalam, memegang teko porselen itu dengan tangan yang berusaha ia buat sefiras mungkin. Dengan sangat hati-hati, ia menuangkan kopi hitam pekat itu ke cangkir Alex. Uap panas membumbung, namun tak satu tetes pun meleset ke taplak meja sutra milik sang mafia.
"Sudah, Tuan. Sekarang apa yang harus saya lakukan?" tanya Tiana datar, mencoba mempertahankan martabatnya di depan pria yang menghancurkan hidupnya semalam.
Alex menyesap kopinya perlahan, matanya yang tajam melirik Tiana dari balik cangkir. "Tunggulah ayam jantan bertelur," celetuknya dingin, seolah sedang memberikan perintah yang masuk akal.
"Hanya itu?" jawab Tiana polos, dahi cantiknya berkerut bingung. "Siap, Tuan. Di mana ayam jantannya?"
Alex nyaris tersedak kopinya. Ia meletakkan cangkir dengan dentingan keras ke piring porselen, menatap Tiana dengan pandangan yang sulit diartikan—antara geram dan tidak percaya.
"Astaga, kenapa kau bodoh sekali, Tiana?!" bentak Alex, suaranya menggelegar di ruang makan yang sunyi. "Ayam jantan tidak bisa bertelur! Itu artinya kau tidak punya pekerjaan selain diam sampai kiamat!"
Tiana tersentak, wajahnya memerah karena malu sekaligus kesal. Ternyata pria ini sedang mempermainkan otaknya.
"Lupakan soal ayam itu," lanjut Alex sambil bangkit dari kursi kebesarannya, auranya yang dominan kembali menekan Tiana. "Kuraslah kolam renang di halaman belakang. Aku ingin airnya diganti sore ini."
Tiana membelalakkan matanya yang masih sembab. "Apa? Menguras kolam? Itu terlalu berat, Tuan! Kolam itu luas sekali, saya tidak mungkin melakukannya sendirian!"
Alex melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Tiana harus mendongak untuk menatap wajah tajam pria itu. "Kau bilang ingin mandiri dan berani, bukan? Maka buktikan. Kerjakan sekarang atau kau akan tahu apa hukuman bagi pelayan yang membangkang."