Hati Davin hancur ketika mengetahui cintanya pada Renata juniornya, bertepuk sebelah tangan dan ternyata hanya dimanfaatkan untuk kepentingan karir.
Dia lalu memilih pergi menjadi relawan medis di daerah bencana, dan bertemu Melodi, gadis yatim piatu nan tangguh merawat adiknya yang lumpuh
Ketulusan dan ketegaran Melodi mampu membuat Davin terpikat. Namun, perbedaan status di antara mereka terlalu besar membuat Melodi ragu.
Mampukah Davin meyakinkan Melodi bahwa cinta sejati tak mengenal batas? Atau justru perbedaan akan memisahkan mereka selamanya?
Yuk, ikuti kisahnya hanya di sini;
"Melodi Cinta Untuk Davin" karya Moms TZ, bukan yang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24. Iri dengki
Selesai pertandingan semua orang memuji-muji kehebatan Melodi di lapangan. Kecepatan, ketangkasan, dan ketenangannya serta kemampuannya membaca serangan lawan sungguh luar biasa. Tak heran jika pujian terus mengalir, dari pelatih yang mengapresiasi kerja kerasnya, hingga teman-teman se-tim-nya merasa kagum padanya.
"Aah, si*lan! kenapa harus dia yang dipuji-puji terus, sih?"
"Cuma gitu doang kan, cuma sekelas kecamatan ini, belum kabupaten, propinsi bahkan tingkat nasional."
"Pasti dia bakalan besar kepala, dipuji selangit kayak gitu. Iiihh...nggak banget!"
"Apa sih emang kelebihannya yang lain selain ngebabu? Baru bisa voli aja, kayak apaan tahu pada ngelu-elu'in dia. Dasar, norak, kampungan...."
Entah apalagi umpatan dan sumpah serapah yang keluar dari bibirnya. Hatinya sudah dipenuhi oleh sifat iri dan dengki.
Saking semangatnya mencela Melodi sehingga ia lupa memperhatikan jalan. Akibatnya roda ban motor depan-nya menabrak batu dan....
"Eh..eehh...eehhh... Aaaahhhh..." saking paniknya ia tak bisa lagi menjaga keseimbangan motornya....
Brakk
Byuurrrr
Motornya pun mendarat sempurna di parit, tak jauh dari tempat Melodi jatuh waktu itu. Tubuhnya nyungsep di antara rumput liar dan tertimpa badan motor.
"Tolonggg...! Siapa pun, tolooonggg...!" Dahlia berteriak, sembari melampaikan tangannya berharap ada orang baik hati yang bersedia menolongnya.
.
Sementara itu, di tempat berbeda. Melodi dinobatkan sebagai pemain terbaik. Selain menerima piala ia juga mendapatkan hadiah berupa uang.
"Selamat ya, Mel. Kamu emang terbaik," ucap Nina, teman satu tim, ia memeluk Melodi.
"Makasih ya, Nin," kata Melodi. "Tapi ini semua berkat kerja keras tim, aku hanya beruntung."
"Kamu mah, selalu merendah, Mel," timpal Rosa. "Tapi penampilan kamu benar-benar oke, kok."
Melodi tersenyum kaku menanggapi pujian temannya. Ia tak tahu harus bagaimana. Karena sejatinya ia tak bisa melakukannya sendiri tanpa kerjasama yang solid bersama teman-temannya.
"Oh ya, jangan lupa, Gaes. Setelah ini kita masih ada turnamen lagi tingkat kabupaten, dan kita mewakili kecamatan." Wulan sang pelatih mengingatkan.
"Semoga performa kamu tetap stabil ya, Mel. Karena kami sangat mengandalkanmu," lanjutnya menambahkan.
"In syaa Allah, Mbak Wulan," jawab Melodi.
"Eh, ngomong-ngomong. Siapa tuh, cowok yang bersama adikmu, Mel? Pacar kamu, ya?" cecar Nina, sambil menunjuk ke arah Davin dan Alvian.
"Oh, itu... Pak Dokter," jawab Melodi pelan, wajahnya sedikit memerah.
Ia lantas menoleh ke arah Davin dan pandangan mereka berserobok. Buru-buru Melodi memutus kontak, lalu mengalihkan pandangannya.
"Wah, Mel. Kamu mesti hati-hati punya pacar kece badai macam dia. Harus kamu ikat yang kenceng biar nggak diserobot sama cewek lain," timpal Tika.
Melodi hanya terkekeh kecil, tanpa berniat menjawab ucapan kedua temannya tersebut.
"Ya sudah, aku pulang, ya. Capek banget ini," pamit Melodi pada mereka.
"Ok, papay, Mel."
Melodi menarik napas lega. Setidaknya itu bisa menghindarkan dirinya dari pertanyaan yang bakal berujung panjang. Ia lantas menghampiri dua pria beda usia itu yang sejak tadi menunggunya.
Melodi yang membawa piala lantas memberikannya kepada Alvian. "Ini kakak persembahkan untuk adik yang paling kakak sayangi."
Mata Alvian langsung berbinar, bibir kecilnya tersenyum lebar. "Makasih, Kak Mel," ucapnya setelah menerima piala itu, lantas menciumnya.
"Selamat atas prestasinya ya, Mbak Mel. Bakatnya sangat luar biasa," puji Davin, membuat wajah Melodi langsung bersemu merah.
Entah mengapa akhir-akhirnya ini jantungnya sering berdetak tak karuan setiap kali bertemu dengan Davin. Meskipun itu hanya melihatnya dari kejauhan. Ia juga sering salah tingkah tidak jelas hanya karena mendengar namanya disebut oleh adiknya.
.
"Mbak Mel, tadi mereka ghibah'in aku, ya?"celetuk Davin dengan percaya diri.
Mereka dalam perjalanan pulang dan Davin mendorong kursi roda Alvian.
"Hahhh, siapa?" Melodi mencoba mengelak.
"Mbak Mel tadi sama teman-temannya?"
"Oh..." Melodi tersenyum meringis. "Mereka tanya siapa cowok kece badai yang bersama Alvian."
Hidung Davin langsung megar rasanya. "Trus Mbak Mel, bilang apa?" tanyanya tak sabar.
"Ya saya bilang, itu Pak Dokter," jawab Melodi polos.
Wajah Davin yang tadinya berbinar, langsung berubah datar. Padahal tadinya dia berharap Melodi bilang pada mereka bahwa dirinya adalah kekasih gadis itu. "Sabar Vin, kamu rupanya terlalu berekspektasi," ucapnya menghibur diri. "Tapi ya, sudahlah, mungkin ini resiko menyukai gadis yang nggak peka."
"Vian, bagaimana kalau kita makan bakso? Kamu mau, nggak?" tanyanya mengalihkan topik pembicaraan.
"Mau, mau, mau, Kak." Alvian menjawab antusias.
Melodi terkejut mendengar jawaban Alvian. "Eh, sejak kapan manggil Pak Dokter jadi kakak?" tanyanya heran.
"Ya kan, Pak Dokter memang calon kakak ipar Vian, Kak," jawab Alvian tegas. "Iya kan, Kak Davin?" Pandangannya lantas beralih pada Davin.
Bagaimana dengan Davin? Tentu saja dia mengangguk dengan cepat sambil tersenyum bangga. Sebab dirinya sudah mendapat restu dari calon adik iparnya. Dia menatap Melodi seraya menaik-turunkan kedua alisnya, menggoda.
Melodi terdiam sambil berpikir. Namun, ketika ia hendak membalas ucapan Davin, samar-samar didengarnya suara teriakan seseorang meminta tolong dari jarak yang tak terlalu jauh dari tempat mereka berada.
"Toloooonnggg...!"
"Hahhh...dengar nggak, ada yang meminta tolong?" tanyanya sambil memperhatikan sekeliling.
"Iya, Kak. Sepertinya di sana," ujar Alvian, bocah itu menunjuk ke arah parit di seberang jalan.
Sementara Davin, menajamkan pendengarannya.
Melodi menstandarkan sepedanya, lantas menghampiri ke arah suara. Ia membelalakkan netranya lebar-lebar begitu melihat siapa yang berada di parit dengan posisi di bawah motor.
"Astaghfirullah... Bu Bidan! Kenapa bisa jatuh ke sini?" teriaknya panik.
"Tolong, siapapun tolong, aku," rintihnya pelan, kala tahu ada orang yang datang..
"Sebentar ya, saya cari bantuan dulu." Melodi lantas berteriak memanggil Davin. "Pak Dokter.... Tolong ini. Bu Bidan jatuh ke parit."
Davin melangkah cepat sambil mendorong kursi roda Alvian menghampiri Melodi. Dia lalu turun ke bawah menarik motor, sementara Melodi buru-buru membantu Dahlia untuk berdiri. Namun, Dahlia justru menepis tangan Melodi yang terulur, serta menatapnya dengan sinis dan penuh kebencian.
"Aku nggak butuh bantuanmu, najis aku bersentuhan sama kamu!" kata-kata Dahlia memang tidak begitu keras, tetapi sangat menyakitkan bagi yang mendengarnya.
"Oh, aku tahu. Pasti kamu yang nyumpahi aku kan, supaya aku jatuh?" tudingnya tak berperasaan.
Melodi terhenyak sesaat lalu tersenyum menyeringai. "Kalau iya, kenapa?"