Sinopsis:
Liang Chen adalah pengembara yang memilih hidup sederhana dan menjauh dari dunia persilatan. Ia tidak mengejar kekuatan, nama besar, atau kekuasaan—hanya ingin hidup tanpa meninggalkan jejak. Namun sebuah pertemuan dengan seorang pria sekarat menyeretnya pada sebuah warisan berbahaya: sebuah kitab beladiri yang tidak mengajarkan kemenangan, melainkan cara mengakhiri konflik secepat mungkin.
Sejak itu, hidup Liang Chen berubah. Orang-orang mulai memperhatikannya, mengujinya, dan menyebarkan cerita tentangnya. Ia tidak lagi dinilai sebagai orang biasa, melainkan sebagai gangguan terhadap keseimbangan. Setiap keputusan kecil memicu reaksi berantai, setiap pertarungan melahirkan musuh baru yang tidak selalu datang dengan pedang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUNGAI YANG TIDAK LAGI TENANG
Tiga orang itu berdiri menyebar, seperti pemburu yang sudah terbiasa mengepung mangsa. Wajah mereka tidak menunjukkan keraguan sedikit pun. Mata mereka tertuju pada Mei Lin, seolah gadis itu bukan manusia, melainkan barang yang harus dibawa pulang.
Liang Chen berdiri setengah langkah di depan Mei Lin. Tangannya masih memegang gagang pedang, tetapi belum mencabutnya.
Ia tidak ingin bertarung.
Bukan karena takut. Ia hanya tahu, setiap perkelahian selalu membawa masalah baru.
“Serahkan gadis itu,” kata pria yang berdiri paling depan. Tubuhnya tinggi, bahunya lebar. Di pinggangnya tergantung golok pendek yang terlihat berat. “Kau bisa pergi.”
Liang Chen menatapnya datar.
“Kalau aku tidak mau?”
Pria itu tertawa pendek.
“Berarti kau bodoh.”
Dua orang lain di belakangnya ikut tersenyum. Salah satunya memutar-mutar pisau kecil di tangannya, seolah tidak sabar.
Mei Lin menggenggam ujung baju Liang Chen dari belakang.
“Jangan… jangan lawan mereka,” bisiknya. “Kau bisa pergi. Ini bukan urusanmu.”
Liang Chen tidak menoleh.
Ia tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada tiga orang di depan.
“Aku tidak kenal kalian,” katanya tenang. “Kalian juga tidak kenal aku. Lebih baik kita berpisah di sini.”
Pria tinggi itu menggeleng pelan.
“Sayangnya, kami sudah melihat wajahmu.”
“Lalu?”
“Orang yang melihat terlalu banyak biasanya tidak hidup lama.”
Liang Chen menghela napas tipis.
“Kalimat itu sudah sering kudengar.”
Tangan pria tinggi itu bergerak ke gagang goloknya.
“Kalau begitu, kau juga pasti tahu akhirnya.”
Golok itu terhunus. Kilatan baja memantulkan cahaya matahari yang menembus pepohonan.
Dua orang di belakangnya langsung bergerak memutar, berusaha mencari celah dari sisi.
Liang Chen akhirnya mencabut pedangnya.
Suara logam keluar dari sarungnya, pelan, tapi jelas.
Mei Lin mundur beberapa langkah. Jantungnya berdegup keras. Ia tahu, pertarungan ini tidak bisa dihindari lagi.
---
Orang pertama menyerang dengan cepat. Goloknya menebas lurus ke arah bahu Liang Chen.
Liang Chen tidak mundur. Ia menggeser kaki kirinya sedikit, membiarkan tebasan itu meleset tipis di depan tubuhnya.
Pedangnya bergerak pendek, menusuk ke arah pergelangan tangan lawan.
Pria itu kaget. Ia menarik tangannya, hampir kehilangan pegangan pada goloknya.
Belum sempat ia menyeimbangkan diri, Liang Chen sudah melangkah maju. Siku kirinya menghantam dada pria itu.
Tubuh besar itu terhuyung ke belakang.
Pada saat yang sama, dua orang lain menyerang dari sisi.
Satu dari kanan, satu dari kiri.
Pisau kecil meluncur ke arah perut Liang Chen.
Liang Chen memutar tubuhnya. Pedangnya berputar pendek, menangkis serangan dari kanan. Suara logam beradu terdengar nyaring.
Orang di kiri mencoba menusuk dari bawah. Liang Chen mengangkat lututnya, menendang pergelangan tangan lawan.
Pisau itu terlepas dan jatuh ke tanah.
Tanpa ragu, Liang Chen memutar pedangnya. Ujung pedang berhenti tepat di tenggorokan pria itu.
Pria itu membeku.
Napasnya tersengal.
Ia tahu, satu dorongan kecil saja cukup untuk mengakhiri hidupnya.
“Pergi,” kata Liang Chen pelan.
Pria itu menelan ludah, lalu mundur perlahan.
Namun pria tinggi yang tadi terhuyung sudah kembali berdiri. Wajahnya memerah, matanya penuh amarah.
“Kalian mundur!” bentaknya. “Aku sendiri yang urus dia!”
Dua orang lain saling pandang, lalu mundur beberapa langkah.
Pria tinggi itu mengangkat goloknya, lalu menyerang lagi. Kali ini lebih hati-hati. Tebasannya tidak lagi liar, melainkan terarah dan berat.
Liang Chen menangkis sekali, dua kali.
Setiap benturan membuat lengannya sedikit bergetar. Golok itu memang berat, dan pria itu jelas terbiasa menggunakannya.
Liang Chen tidak mencoba melawan kekuatan dengan kekuatan. Ia hanya menunggu celah.
Pria tinggi itu mengangkat goloknya tinggi-tinggi, lalu menebas ke bawah dengan seluruh tenaganya.
Itu kesalahan.
Liang Chen melangkah setengah langkah ke samping. Tebasan itu menghantam tanah, membuat percikan tanah dan daun kering beterbangan.
Dalam sepersekian detik, pedang Liang Chen bergerak.
Bukan ke leher. Bukan ke dada.
Ujung pedangnya menekan pergelangan tangan pria itu.
Golok terlepas dari tangannya dan jatuh.
Pria itu menatap tangannya yang berdarah tipis. Wajahnya berubah pucat.
Liang Chen tidak melanjutkan serangan.
Ia mundur satu langkah.
“Aku tidak ingin membunuh siapa pun hari ini,” katanya.
Hutan kembali sunyi. Hanya terdengar napas berat tiga pria itu.
Pria tinggi itu menatap Liang Chen, lalu ke Mei Lin.
“Aku akan mengingat wajahmu,” katanya pelan.
Liang Chen tidak menjawab.
Pria itu memberi isyarat pada dua temannya.
“Mundur.”
Mereka bertiga perlahan masuk kembali ke balik pepohonan. Tidak berlari. Tidak tergesa. Tapi jelas tidak ingin melanjutkan pertarungan.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah tidak terlihat.
---
Mei Lin menjatuhkan diri ke atas batu. Lututnya terasa lemas.
“Kita… kita selamat?” tanyanya pelan.
Liang Chen memasukkan pedangnya kembali ke sarung.
“Untuk sekarang.”
Ia menatap arah hutan tempat tiga pria itu menghilang.
“Mereka tidak akan berhenti,” kata Mei Lin. “Mereka pasti kembali dengan lebih banyak orang.”
Liang Chen mengangguk.
“Karena itu kita tidak bisa lewat jalan biasa.”
Mei Lin menatapnya.
“Masih mau mengantarku?”
Liang Chen tidak langsung menjawab.
Ia melihat ke arah sungai. Airnya mengalir tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Aku sudah terlibat,” katanya akhirnya. “Terlalu terlambat untuk pura-pura tidak tahu.”
Mei Lin menunduk.
“Maaf,” katanya pelan. “Karena aku, kau jadi punya masalah.”
Liang Chen menggeleng.
“Masalah selalu datang. Kau hanya kebetulan muncul di tengahnya.”
Jawaban itu terdengar dingin, tapi entah kenapa membuat Mei Lin sedikit tenang.
“Kita ke mana sekarang?” tanyanya.
Liang Chen menunjuk ke arah hutan yang lebih rapat.
“Ada jalur lama di sana. Jarang dipakai. Lebih lambat, tapi lebih aman.”
Mei Lin berdiri, meski kakinya masih terasa berat.
“Baik. Aku ikut saja.”
Mereka berjalan lagi, meninggalkan tepian sungai.
---
Jalur yang mereka ambil benar-benar sepi. Tanahnya tidak rata, dipenuhi akar pohon dan batu. Beberapa kali mereka harus menyingkirkan ranting tebal untuk lewat.
Matahari sudah mulai condong ke barat.
Langkah Mei Lin semakin lambat. Wajahnya pucat, napasnya pendek-pendek.
Liang Chen akhirnya berhenti.
“Kita istirahat.”
Mei Lin langsung duduk tanpa protes. Ia bahkan tidak sempat menjawab.
Liang Chen mengambil kantong kecil dari tasnya. Ia mengeluarkan beberapa potong roti kering.
“Hanya ini yang ada.”
Mei Lin menerimanya.
“Terima kasih.”
Mereka makan dalam diam. Roti itu keras dan hambar, tapi cukup mengisi perut.
Setelah beberapa saat, Mei Lin berbicara lagi.
“Kenapa kau tidak membunuh mereka tadi?”
Liang Chen menatap tanah.
“Tidak perlu.”
“Mereka jelas ingin membunuhmu.”
“Selama aku masih bisa menghindari itu, aku akan menghindarinya.”
Mei Lin memandangnya.
“Kau aneh. Banyak pendekar justru mencari kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka.”
Liang Chen tersenyum tipis.
“Biasanya mereka mati lebih cepat.”
Mei Lin terdiam, lalu ikut tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, suasana di antara mereka tidak terasa tegang.
“Kalau nanti kita sampai kota,” kata Mei Lin, “apa yang akan kau lakukan?”
Liang Chen mengangkat bahu.
“Mencari kerja. Apa saja.”
“Kau benar-benar tidak punya tujuan?”
“Bertahan hidup sudah cukup.”
Mei Lin menatapnya lama.
“Aku iri.”
Liang Chen mengerutkan kening.
“Iri?”
“Kau bebas. Tidak ada yang mencarimu. Tidak ada yang mengejarmu karena sesuatu yang bukan salahmu.”
Liang Chen tidak menjawab.
Ia hanya menatap ke arah hutan yang mulai gelap.
Ia tidak bilang apa-apa, tapi dalam hatinya ia tahu, kebebasan itu hanya terlihat dari luar.
Masa lalu tetap menempel, seperti bayangan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Angin sore berhembus pelan. Daun-daun bergerak, mengeluarkan suara gemerisik yang lembut.
“Kita harus bergerak lagi sebelum gelap,” kata Liang Chen akhirnya.
Mei Lin mengangguk.
Mereka bangkit, lalu melanjutkan perjalanan.
Di kejauhan, langit mulai berubah warna. Sinar matahari terakhir menyelinap di antara pepohonan.
Perjalanan mereka masih panjang.
Dan entah berapa banyak orang lagi yang akan menghadang di depan.