NovelToon NovelToon
Luka Di Balik Janji Semu

Luka Di Balik Janji Semu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Persahabatan / Cinta Murni / Romansa / Cinta Karena Taruhan / Idola sekolah
Popularitas:10.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jing_Jing22

Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.​Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.​

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Kamar Sheila terasa lebih luas karena sebagian besar barangnya sudah masuk ke dalam koper besar di sudut ruangan. Cahaya lampu meja belajar menyoroti foto kecil dirinya dan Bundanya yang masih terpajang di dinding. Sheila duduk di tepi ranjang, mengusap perutnya yang kini mulai terasa sedikit mengeras—sebuah kenyataan yang selama ini ia sembunyikan di balik jaket kebesaran.

​"Hari terakhir," bisik Sheila pada dirinya sendiri. "Besok hari kelulusan, dan aku akan menjadi orang asing di kota yang asing."

​Tiba-tiba, Risma datang berkunjung membawa sebuah kotak besar. Wajah Risma terlihat serius, namun ada sedikit kelegaan.

​"Sheil, ini baru saja sampai ke alamatku. Aku memesan perlengkapan ini untuk kamu," ucap Risma sambil membuka kotak itu. Isinya adalah berbagai perlengkapan kesehatan, vitamin ibu hamil kelas satu, dan beberapa pakaian longgar yang sangat berkelas.

​Sheila mengernyitkan dahi. "Kenapa kamu repot-repot sampai memberikan hal-hal seperti ini, Ris? Kamu bahkan sampai menyiapkan kebutuhan medisku?"

​Risma tertegun sejenak, mengingat sosok Devano yang pernah memohon padanya untuk menjaga Sheila tanpa memberitahu sumber bantuannya. "Karena aku ingin menjamin sahabat terbaikku—yaitu kamu—tetap sehat, Sheil. Dan calon keponakanku tetap baik-baik saja. Jangan banyak tanya, ambil saja. Kamu butuh ini untuk pelarianmu."

​Sheila menatap isi kotak dari Risma dengan perasaan haru. Ia mengambil salah satu botol vitamin dan memeluknya. "Terima kasih, Ris. Aku gak tahu harus gimana tanpa kamu. Kamu satu-satunya orang yang tahu beban ini," ucap Sheila dengan suara bergetar.

​Risma memegang bahu Sheila, berusaha menahan air matanya sendiri. Ia tahu bahwa sebagian besar dana untuk barang-barang mewah ini berasal dari Devano, namun ia harus menjaga rahasia itu demi ketenangan jiwa Sheila. "Jangan pikirkan apa pun, Sheil. Fokus saja pada kesehatanmu dan si kecil. Kota baru nanti adalah lembaran bersih untukmu."

​"Makasih banyak, Ris," kata Sheila terharu sambil memeluk Risma.

​"Kalau gitu aku pamit! Bye, Sheila," pamit Risma sambil melambaikan tangannya.

​Sheila kembali duduk di meja belajarnya. Ia mengambil selembar kertas kosong dan mulai menulis. Jarinya gemetar, dan beberapa kali tetesan air mata membasahi kertas itu hingga tintanya sedikit meluber.

​"Bunda sayang," tulis Sheila dengan getaran di setiap guratannya. "Maafkan Sheila karena harus pergi begitu cepat setelah kelulusan. Maafkan Sheila jika di masa depan Bunda mendengar kabar yang mungkin menyakiti hati Bunda. Ketahuilah bahwa Sheila melakukan ini semua demi kita."

​Ia melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam laci yang paling dalam. Ia berencana meninggalkan surat itu saat berangkat ke stasiun nanti; saat Bunda membacanya, Sheila sudah berada di atas kereta menuju kota yang tak terjangkau oleh siapa pun.

​Malam terakhir sebelum wisuda tiba. Bunda Rini memasak sup ayam dan sambal goreng kentang, menu spesial yang selalu Sheila minta setiap kali merayakan sesuatu. Namun malam ini, perayaan itu terasa seperti upacara perpisahan.

​"Makan yang banyak, sayang. Nanti di perjalanan jauh kamu pasti butuh tenaga," ucap Bunda sambil menaruh potongan daging terbesar di piring Sheila.

​Sheila mengangguk lemah. Ia merasakan pergerakan halus di perutnya—sebuah pengingat bahwa ada nyawa yang harus ia beri makan. Ia menatap wajah Bundanya yang mulai keriput, menyadari bahwa ia akan melewatkan banyak waktu dengan wanita hebat ini.

​"Bunda... janji ya, Bunda harus selalu sehat," ucap Sheila sambil menahan isak tangisnya.

​"Kenapa bicara begitu? Kan Bunda bisa jenguk kamu nanti kalau ada libur semester," jawab Bunda sambil tersenyum hangat.

​Sheila hanya bisa tersenyum getir. Ia tahu, libur semester itu mungkin tidak akan pernah ada. Karena saat waktunya tiba, ia mungkin sudah menjadi seorang ibu di kota orang. Mereka makan dalam keheningan yang khidmat, sebuah momen terakhir yang akan Sheila simpan dalam ingatannya selamanya.

​"Sayang, nanti kalau sudah di sana, jangan telat makan ya," ucap Bunda sambil menatap Sheila dengan mata berkaca-kaca. "Bunda masih gak percaya anak kecil Bunda sudah mau kuliah jauh."

​Sheila tersenyum tipis, mencoba menelan makanannya yang terasa mengganjal di tenggorokan. "Bunda jangan khawatir. Sheila akan jaga diri baik-baik. Sheila janji akan jadi orang sukses buat Bunda."

​"Maafkan Sheila, Bun. Sheila pergi bukan hanya untuk mengejar mimpi, tapi untuk menyelamatkan kita dari rasa malu," batin Sheila berteriak pedih. Ia memegang tangan Bundanya dengan erat di atas meja, mencoba menghisap kekuatan dari sentuhan itu.

​Setelah selesai makan malam bersama, Bunda Rini mengusap kepala Sheila untuk terakhir kalinya sebelum masuk ke kamar. "Tidurlah yang nyenyak, sayang. Besok adalah hari besar untukmu," ucap Bunda dengan senyum yang begitu tulus.

​Sheila menatap punggung Bundanya hingga menghilang di balik pintu. Ia berdiri sendiri di tengah ruang makan yang kini terasa sangat sepi. Dengan langkah gontai, ia kembali ke kamarnya, mengunci pintu, dan terduduk di lantai bersandarkan koper besarnya.

​Ia membuka laci meja belajarnya, mengambil sebuah buku catatan kecil. Di dalamnya, ia menuliskan jadwal rutin pemeriksaan kehamilan yang telah ia cari secara sembunyi-sembunyi di internet.

​"Kita akan baik-baik saja," bisiknya pelan sambil mengelus perutnya. "Hanya ada aku dan kamu. Tanpa taruhan, tanpa masa lalu, dan tanpa luka."

​Sementara itu, di balkon apartemennya yang mewah, Devano berdiri menatap ke arah perumahan Sheila.

​"Gue gak akan pernah berhenti menjaga lo, Sheil. Meski dari jauh, meski tanpa nama," janji Devano pada dirinya sendiri. "Andai gue bisa putar kembali waktu, gue gak akan pernah sia-siakan lo."

​Malam semakin larut, namun dua jiwa di sudut kota yang berbeda sama-sama tidak bisa memejamkan mata. Di kamarnya yang sederhana, Sheila mulai memilah pakaian yang akan ia kenakan untuk upacara wisuda besok. Ia memilih kebaya yang sedikit lebih longgar di bagian pinggang, memastikan tidak ada satu pun mata yang bisa menangkap rahasia di balik lipatan kainnya.

​"Satu langkah lagi, Sheila," bisiknya menguatkan diri sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang buram. "Besok kamu akan lulus dari sekolah ini, dan pergi jauh dari masa lalu yang menghancurkanmu."

​Sementara itu, Devano masih berdiri di balkon, membiarkan angin malam yang dingin menembus kemeja hitamnya. Di atas meja bundar di sampingnya, tergeletak sebuah map cokelat berisi dokumen kelulusan dan tiket pesawat ke luar negeri yang disiapkan ayahnya.

​"Gue menang taruhan itu, tapi gue kehilangan seluruh dunia gue," gumam Devano serak. Ia mengambil ponselnya, menatap foto Sheila yang ia ambil secara diam-diam saat gadis itu sedang membaca di perpustakaan bulan lalu. Wajah Sheila di foto itu begitu tenang, sangat berbeda dengan tatapan penuh kebencian yang terakhir kali ia terima.

​Ia mengetik sebuah pesan, namun jarinya berhenti sebelum menekan tombol kirim. Pesan itu hanya berbunyi: "Maafkan aku." Ia menghapusnya kembali. Ia tahu, kata-kata tidak akan pernah cukup untuk membasuh badai yang ia ciptakan.

1
putri bungsu
mulut kamu bisa berkata baik-baik saja shei, tapi sahabat kamu tau kalau kamu sedang tidak baik-baik saja
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Infokan duel di ring sekarang /Curse//Curse/

Dia pakai tangan kosong aku pakai kapak/Doge/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sumpah Devano, kamu bakal menyesal main wanita kayak gini/Curse/
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Aku pingin jerit Ya Allah 😭😭
☕︎⃝❥Haikal Mengare
cukup aku gak kuat 😭😭, ini bertolak belakang sama prinsip ku🤣
Peri Cecilia
risma baik banget
☕︎⃝❥Haikal Mengare
Sejauh mana obsesimu 😭
Peri Cecilia
nah kan, aku sangat puas awoakwoka
Ani Suryani
Sheila trauma
Stanalise (Deep)🖌️
Pergaulan gila macam apa ini. Masih sekolah padahal Udh kayak gini. nanti dikasih bayi beneran, nangesss/Hey/
Jing_Jing22: pergaulan anak muda masih mengutamakan ego...
total 1 replies
Wida_Ast Jcy
thor kalimat yang huruf kapital ini dirubah mungkin lebih baik dech🙏🙏🙏 saran ya thor
Jing_Jing22: ok siap kacan! thanks sarannya😊
total 1 replies
Mingyu gf😘
Andai bundanya tahu, anaknya sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal
Mingyu gf😘: iya kak
total 2 replies
Herman Lim
aduh sapa lagi yg mau jahat sama Sheila
Jing_Jing22: masa lalunya yang sakit hati sama sheila
total 1 replies
Ikiy
kenapa baru nyesel sekarang/Scream/
Nadinta
DEVANO ASTAGAAA KATA GUE LU MINTA MAAF, SHEILAAA UHUUUU
CACASTAR
kecintaan sih Sheila..makanya
CACASTAR
emang kadang perempuan itu dibutakan oleh cinta,, udah bagus punya teman kayak Risma
CACASTAR
jangan Sheila..jangan...
CACASTAR
di mana-mana memang yang namanya Devano dalam karakter cerita sering banget jadi ketua gank, anak nakal, gitu ya
Ani Suryani
Vano orang baik
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!