Sejak kecil, hidup Nadira tak pernah benar-benar aman. Jaka—mantan yang terlalu obsesif—menjadi bayangan gelap pertama yang menjeratnya. Keenan datang sesudahnya, lembut dan perhatian, tapi jauh di dalam hati Nadira tahu: perhatian tidak selalu cukup untuk menyembuhkan luka.
Lalu hadir Nalen. Seseorang yang membuat Nadira untuk pertama kalinya merasa dicintai tanpa syarat. Namun ketika ia mulai percaya bahwa hidupnya bisa berubah… justru pada malam hujan itu, dunia Nadira hancur di tangan orang yang seharusnya melindunginya.
Erwin. Sepupunya sendiri.
Pria yang memaksanya, merobek pakaiannya, membungkam teriakannya, menggagahi tubuh yang bahkan belum mengerti bagaimana cara melawan. Malam itu mencuri segalanya—harga diri, keamanan, suara, dan masa depan Nadira.
Tak ada pelukan yang cukup kuat untuk menghapus ingatan itu. Tidak Jaka, tidak Keenan… bahkan tidak Nalen yang datang paling akhir, saat semuanya sudah terlambat.
Yang tersisa hanyalah Nadira—dengan tubuh memar, jiwa koyak, dan hidup yang terus memaksanya berdiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Varesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Tidak Enak
🦋
Hari-hari Nadira berubah menjadi lingkaran panjang yang melelahkan. Setiap pagi ia bangun dengan perasaan yang sama. Berat, sesak, dan selalu… selalu berharap kakeknya suatu hari akan menatapnya dan berkata, 'Kamu sudah berusaha. Kakek bangga.' Tapi ucapan itu tidak pernah datang.
Walaupun ia sering sakit hati karena kakek tidak pernah berpihak kepadanya, Nadira tetap mencari sedikit celah kasih sayang di dalam rumah itu. Sesederhana ingin dipeluk saat pulang sekolah. Atau sekadar ditanya, "Kamu capek?"
Namun yang ia dapat hanya pekerjaan rumah dan tatapan biasa-biasa saja dari kakeknya. Bukan benci. Tapi juga bukan sayang hanya saja seperti kosong.
***
Saat Nadira naik ke kelas 8 SMP, ia disibukkan dengan kegiatan perkemahan pramuka. Jadwalnya sangat padat, latihan baris-berbaris, persiapan tenda, tugas kelompok, dan segala hal yang membuat tubuhnya lelah. Setiap hari ia baru bisa pulang jam 17.30 WIB.
Guru-gurunya memang menyarankan pulang siang untuk istirahat, tapi jarak rumah Nadira terlalu jauh. Pulang akan menghabiskan waktu, dan kalau ia terlambat sedikit saja… ia akan kena marah kakek ketika sore datang.
Dan itu lebih menakutkan daripada terik panas matahari di lapangan.
Nadira sempat ingin meminta uang saku tambahan, karena kegiatan perkemahan memakan banyak biaya kecil seperti beli air, jajan untuk bertahan, atau sekadar ongkos tambahan. Tapi begitu melihat kakeknya duduk sambil membaca koran, rasa tidak enak langsung naik ke tenggorokannya.
Ah… nanti dibilang ngerepotin. Dibilang minta-minta terus. Sudah dikasih makan dan tempat tinggal, masih kurang?
Pikiran itu menghentikannya. Jadi ia kembali mengurungkan niatnya. Jangankan untuk meminta uang saku tambahan, hanya sekedar berkomunikasi dengan kakeknya saja sangat sulit.
***
Hari perkemahan pun tiba. Tiga hari tiga malam di bumi perkemahan, tanpa orang tua, tanpa rumah yang nyaman, walaupun rumah itu sendiri jarang memberinya kenyamanan. Nadira berangkat dengan ransel besar dan… uang saku yang sangat sedikit.
50.000 untuk tiga hari.
Uang yang bahkan tidak cukup jika ia benar-benar lapar atau kelelahan. Tapi Nadira tidak mengeluh. Ia menunduk saat menerima uang itu, mengucap terima kasih dengan suara yang kecil, dan berangkat bersama dengan Izarra.
Dalam bus menuju lokasi, ia hanya menatap jendela, menghitung-hitung di kepalanya:
Minum sekali 5.000… makan tambahan paling 10.000… kalau hujan gimana? Kalau lelah gimana?
Tapi lagi-lagi, ia tahan suara itu dalam hati.
Ia terbiasa menahan segalanya. Menahan lapar dan harus, sudah biasa bagi Nadira semenjak ia tinggal di rumah kakeknya.
Perkemahan yang harusnya menyenangkan berubah jadi mimpi buruk kecil. Bukan karena kegiatannya, Nadira bisa melewati semua itu. Ia kuat. Ia terbiasa bekerja keras.
Masalahnya ada pada Izarra.
Awalnya sederhana. Izarra meminjam uang. Namun uang Nadira hanya tersisa 25.000 setengah dari jatah yang sudah minim itu.
"Aduh Zarra… uangku tinggal sedikit banget," kata Nadira pelan.
Izarra pura-pura mengangguk memahami, tapi Nadira tahu mata itu tidak suka. Dan masalah pun dimulai.
Tanpa Nadira tahu, Izarra mendekati kakak-kakak kelas mereka dan mulai berbisik-bisik. Bisikan itu seperti racun yang cepat menyebar.
"Katanya Nadira itu ada kutunya… iya, dia sering garuk-garuk kepala."
"Ngeri juga ya… jangan deh tidur deket dia"
"Iya jangan tidur di sebelahnya. Takut nyebar nantinya."
"Aku gak mau ya punya kutu"
Dan yang paling menyakitkan? Nadira baru menyadari semuanya saat malam kedua.
Ketika semua tenda sudah dibuka dan anak-anak mulai menata posisi tidur, setiap orang berusaha tidak berada dekat Nadira. Bahkan saat ia mencoba menaruh sleeping bag di sisi kanan tenda, dua anak langsung pindah ke sisi lain sambil saling tatap dalam panik.
"Eh… aku di sini aja deh."
"Iya, aku juga."
Tidak ada yang menatapnya langsung. Tidak ada yang menjelaskan. Tapi semua menjauh seolah dirinya penyakit berjalan.
Hanya karena satu kalimat.
Satu kebohongan kecil, bisa mengubah cara pandang manusia.
Nadira terasa seperti ditampar. Ia duduk memeluk lutut di pojok tenda, mencoba mengecilkan diri agar tidak mengganggu siapa pun. Udara malam semakin dingin, dan kesepiannya semakin terasa menusuk. Untuk sesaat ia ingin pulang. Ingin kabur. Ingin menangis.
Tapi seperti biasa…
Ia tahan.
Besoknya, Izarra datang lagi.
"Dira… pinjem uang dong, aku butuh banget buat beli air. Kamu mau juga kan?"
Nada bicaranya santai. Seakan tidak terjadi apa-apa semalam. Seakan tidak ada fitnah yang menghancurkan reputasi Nadira dalam waktu lima menit.
Nadira menatap dompet tipisnya. Hanya ada tiga lembar uang terakhir di sana, sisa 25.000 yang ia simpan untuk bertahan sampai perkemahan selesai.
Ia tahu. Jika Ia menolak lagi, bisa-bisa membuat Izarra menyebarkan hal yang lebih buruk lagi dari fitnah kemaren.
Nanti mereka bilang aku jorok lagi. Nanti aku dijauhi lagi. Nanti aku tambah malu…
Dan yang paling menyesakkan: Nadira selalu merasa tidak enak. Bahkan terhadap orang yang menyakitinya sekalipun.
Akhirnya ia memberikan uang itu.
"Loh? Tumben langsung dikasih?" Izarra tertawa.
"Kamu butuh kan?" Suara Nadira hampir tak terdengar.
"Iya… butuh banget."
"Yaudah pake aja."
Izarra tersenyum lebar sambil menerima uang itu. "Makasih ya! Aku janji, setelah kemah nanti pasti kuganti."
Nadira mengangguk. Walaupun ia tahu janji itu hanya angin lewat.
Dan malam itu, Nadira tidur dengan perut kosong. Minum sedikit, uangnya habis, dan ia tetap berusaha tersenyum saat guru-guru bertanya apakah semua anak baik-baik saja.
***
Hari terakhir adalah yang paling menyakitkan. Semua peserta berfoto bersama, tertawa, saling bercanda, sementara Nadira berdiri di tepi, agak jauh dari barisan karena tidak ada yang mengajaknya mendekat.
Dua hari dua malam ia bertahan tanpa uang. Dua hari dua malam ia bertahan dengan tubuh lelah dan perut yang hanya terisi saat jam makan resmi. Dan tiga hari tiga malam ia bertahan dari rasa dikucilkan.
Semua itu karena satu kata:
Tidak enak.
Tidak enak menolak. Tidak enak meminta uang tambahan. Tidak enak membela diri. Tidak enak mengadu.
Dan akhirnya…
Nadira hanya melukai dirinya sendiri secara batin.
Saat pulang ke rumah, kakeknya hanya bertanya singkat:
"Kemahnya aman?"
"Alhamdulillah aman, Kek."
Tidak ada cerita.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada tangisan.
Karena Nadira tahu, ia tidak boleh merepotkan.
Ia duduk di kamar sore itu, memeluk tas ranselnya, dan untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa…
Menjadi anak baik itu capek ya. Menjadi yang selalu mengerti itu menyakitkan ya. Dan tidak enak hati itu bisa membuat seseorang terluka tanpa ada yang tahu.
Itulah luka batin Nadira berikutnya yang tidak berdarah, tapi meninggalkan bekas paling dalam.