Masih duduk di bangku SMA tapi sudah dijodohkan, apa jadinya?
Thea, gadis yang mencintai kebebasan tanpa kekangan harus dijodohkan dengan Sagara yang selalu taat pada aturan dan prinsip hidupnya. Keduanya setuju untuk menikah, namun mereka mempunyai aturan masing-masing. Keduanya akan hidup satu atap tanpa ikut campur urusan masing-masing dan juga cinta. Namun, karena kesalahpahaman, hubungan mereka memburuk. Thea mengira Sagara hanya mengincar harta keluarganya, sementara Sagara mengira Thea lah dalang dibalik kematian adik kandungnya. Lalu, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya?
"Sudah Lima tahun, kita berpisah atau hidup kamu akan Aku buat lebih menderita!"
Thea menyunggingkan seulas senyuman. "Mana mungkin aku melepaskan kamu begitu saja, kamu adalah peliharaan keluargaku!"
"Brengsek! bahkan harta yang kamu miliki nggak bisa beli hati Sagara! kamu terlalu angkuh dan sombong! Sagara, nggak cocok hidup sama kamu!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan_Author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Rahasia
Thea melepaskan genggaman lengan Pak Jordan lalu mendekat ke arah Tante Maia.
"Aku mau pernikahan ini dirahasiakan Tante. Thea masih ingin sekolah lalu kuliah Pah, Om, Tante. Thea setuju untuk menikah, tapi kita menikah secara tertutup," ucap Thea.
Pak Haris mengernyit, "Jadi maksud kamu pernikahan ini hanya boleh di datangi oleh keluarga intim saja? Begitu maksud kamu Nak?" tanyanya.
Thea mengangguk, "Iya Om, aku mau pernikahan ini hanya dihadiri oleh keluarga besar Thea dan Sagara saja, setelah Thea lulus sekolah baru kita adakan resepsi."
Meskipun Thea setuju menikah dengan Sagara, tapi Thea harus bisa menata hatinya terlebih dahulu. Selain itu, Thea juga harus melihat seberapa kerasnya Sagara bisa tahan menerima semua kekurangannya. Apalagi Thea belum tahu betul bagaimana sikap dan kepribadian Sagara, dan juga masa lalunya. Tidak mungkin Sagara tidak punya perempuan, Thea tidak ingin hidup dalam bayang-bayang wanita lain di hidup suaminya.
"Oke aku setuju, memang lebih baik kita menikah secara tertutup terlebih dahulu mengingat kamu masih dibawah umur," sahut Sagara.
Thea langsung mengangguk, "Oke setuju!" sahut Thea yang langsung mengulurkan tangannya.
Pak Jordan hanya terkekeh mendengar perkataan anaknya. Karena dia yakin bahwa anaknya kelak akan berakhir bahagia bersama laki-laki pilihannya.
"Kalau begitu, tolong rahasiakan ini juga dari kedua teman Thea yang ada di luar. Thea tidak mau ada siapapun yang tahu soal ini."
Tante Maia mengangguk mengerti, "Baik sayang, kalau begitu Tante akan urus semuanya ya?"
Sagara dan Thea hanya mengangguk setuju.
Pak Jordan menghela nafas lega, tak terasa sudut matanya berair karena terharu.
"Terima kasih banyak sayang, ini adalah kado terindah untuk Papa."
Thea segera memeluk Pak Jordan dengan erat. "Apa pun itu asal Papa sembuh."
Satu Jam Kemudian....
Setelah Tante Maia dan Om Haris memanggil semua keluarga besarnya untuk datang ke rumah sakit, kini giliran Jesica Tante Thea yang memanggil penghulu ke rumah sakit.
"Sudah Mba hubungi semua kerabat Mba?" tanya Tante Jesica.
Tante Maia mengangguk, "Sudah Mba, kemungkinan saudara serta mertua saya akan datang sebentar lagi," sahut Tante Maia.
"Kalau begitu Mba siap-siap dulu, nanti biar Jess yang urus sisanya," titah Tante Jesica.
Tante Maia pun menuruti Jesica yang langsung pergi menuju kamar ganti untuk siap-siap. Beruntung boutique milik keluarga Sagara tidak jauh dari rumah sakit itu, jadi Maia bisa mengambil beberapa baju untuk dikenakan Thea dan Sagara menikah.
Tante Jesica adalah satu-satunya adik Pak Jordan yang masih ada dan tinggal tidak jauh dari komplek tempat mereka tinggal. Namun, sayangnya saat Pak Jordan sedang mengalami collapse Jesica sedang tidak ada di rumahnya, melainkan sedang pergi ke tempat anaknya.
"Gimana kabar anakmu Jess? Apa dia baik-baik saja?" tanya Pak Jordan dengan alat nafas yang masih terhubung dengan hidungnya.
Tante Jesica mendekat, "Dia baik Mas, Zara baik-baik aja kok. Hari ini dia hanya lagi sibuk aja, jadi zara nggak bisa dateng ke acara pernikahan sepupunya. Kamu tahu sendiri lah anakku itu seperti apa, dia sangat gila pekerjaan sampai-sampai dia lupa tentang jodoh dan masa depannya," ujar Jesica sambil menghela nafas kasar.
Pak Jordan memejamkan matanya, dia juga sangat menyayangi keponakannya itu. Tetapi, Zara selalu mengasingkan diri karena merasa risih saat ditanya soal jodoh setiap bertemu keluarganya.
"Kamu ya bilangin sama anakmu itu, jangan mau dia diperbudak pekerjaan. Dia sudah dewasa, tidak baik jika di umurnya yang sudah matang untuk menikah tapi dia masih sibuk sendiri," ujar Pak Jordan dengan suara lirih.
Tante Jesica tersenyum tipis, "Iya Mas, nanti aku bilangin Zara yah Mas. Aku jadi iri sama kamu Mas, anakmu bahkan belum lulus sekolah tapi dia mau menuruti perkataan Papanya. Semoga Thea hidup bahagia dengan pasangannya ya Mas."
Di Tempat Lain ...
ZAHRAARCORP
Di ruangan luas bernuansa klasik, sedang duduk seorang wanita berparas cantik, bertubuh ramping tinggi, serta memiliki rambut panjang hitam pekat terurai, membuat wanita itu terlihat sangat menawan.
Dia adalah Zahra, anak dari Jesica Mouremis yang juga sepupu dari Thea.
Wanita muda itu sedang duduk melamun sambil menikmati coffe late kesukaannya. Ditangannya ada foto seorang pria menggunakan baju sekolah SMA sedang berpose bersamanya.
Zara mengusap foto itu sambil memandangnya dengan penuh kerinduan.
"Andai kamu tahu, setelah kepergian kamu waktu itu, Aku bahkan nggak bisa buka hati ini untuk laki-laki mana pun lagi," gumam Zara.
Tok!
Tok!
Tok!
[Suara pintu yang di ketuk.]
Zara segera melepaskan foto yang sudah dia genggam cukup lama.
"Masuk."
"Permisi Ibu direktur," ucap Gladys sambil masuk ke dalam ruangan kerja Zara tanpa ragu.
Zara berdecak sebal, dia pikir orang lain yang mengetuk pintu, ternyata Gladys sahabatnya sendiri.
"Oh Lo! Kirain siapa!" cetusnya sambil meneguk kembali coffe miliknya.
Gladys langsung duduk di sebelah sahabatnya. "Lo masih di sini aja Zar? Bukannya hari ini sepupu Lo mau akad nikah ya?" tanya teman sekaligus partner kerjanya itu.
Zara berdecih sambil tersenyum tipis, "Gue lagi males kemana-mana hari ini! Gue masih berharap kalo ada keajaiban yang dateng ke Gue dan tiba-tiba aja Gaga hubungi Gue lagi dan kembali lagi ke kehidupan Gue!" ucap wanita itu sambil melantur.
Gladys tertawa terbahak-bahak, "Lo masih aja mikirin cowo itu Zar, serius?" cetusnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Zara langsung menoleh, "Salahnya di mana? Cinta siapa yang tahu kan? Nggak segampang itu move on dari Romeo!" sahutnya.
Gladys kembali menarik nafasnya lalu membuangnya dengan kasar. "Kalo udah bucin emang parah sih ya! Percaya sama Gue, daripada Lo masih ngarepin cowok yang udah tenggelam ke laut, mending Lo cari cowok lain aja! Masih banyak cowok ganteng di luaran sana yang mau sama Lo! Lo itu cantik, smart, kaya pula. Bahkan Lo punya bisnis sendiri yang menjanjikan, mana ada laki-laki yang berani nolak Lo!" ucap Gladys yang kesal karena sahabatnya itu tak bisa move on dari masa lalunya.
Zara hanya menghela nafas kecil sambil menatap nyalang ke arah depan sana.
"Dia terlalu spesial buat Gue, Dis! Sampai kapan pun Gue nggak akan bisa lupain dia," ucapnya sambil menatap gelang yang dulu pernah diberikan Gaga padanya.
Gladys yang merasa muak memalingkan wajahnya dengan malas lalu menyenderkan punggungnya kedinding sofa. "Lo itu bener-bener cewek tergila deh, Ra!"
Zara rak menghiraukan ocehan sahabatnya itu, justru dia berdiri lalu meraih ponsel dan tas miliknya dari atas meja.
"Kalo gitu, Gue mau pergi dulu sebentar! Gue mau cuci mata dulu deh ke cafe sebelah!" ujarnya sambil melengos pergi.
"Eh terus Gue gimana?" teriaknya.
Namun, tak ada sahutan dari Zara melainkan terus berjalan meninggalkannya sendiri di ruangannya.
......................
CAFE HORIZON
"Pelayan."
Zara melambaikan tangannya memanggil pelayan.
"Selamat siang, Nona. Ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan.
Zara mengedarkan matanya melihat menu-menu makanan yang ada di book yang dia pegang. "Aku mau pesen satu breakfast Italian dan satu hot chocolate, ya."
Pelayan mengangguk sambil mengambil buku menu yang disodorkan Zara. "Baik Nona, mohon tunggu sebentar," ujar pelayan lalu pergi meninggalkan Zara.
Di saat Zara sedang memperhatikan keadaan disekitar cafe, tiba-tiba Zara melihat Rossa adik dari ibu kandung mantan pacarnya yang sedang memesan sesuatu di cafe tersebut.
Melihat peluang di depan mata, Zara tak ingin menyia-nyiakannya, wanita itu langsung mendekat ke arah Rossa.
"Tante Rossa?"
Tante Rossa menoleh ke arah belakang.
"Iya, siapa ya?" tanya Tante Rossa.
Zara tersenyum manis, "Ini Zahra Tante, dulu Aku sama Gaga sering main ke tempat Tante, apa Tante lupa?" sahut Zara yang berusaha mengingatkan Rossa.
Sejenak Rossa terdiam sambil mengingat lagi siapa gadis dihadapannya ini. Hingga beberapa detik kemudian dia mengingat sesuatu.
"Oh iya Tante baru ingat! Kamu mantan pacar Gaga kan?"
Zara tersenyum lebar sambil mengangguk malu, "Iya bener Tante ini aku Zara mantannya Gaga, gimana kabar Tante sekarang?" tanya Zara basa-basi.
"Kabar tante baik-baik aja. Kamu sendiri?"
"Aku baik juga Tan," jawab Zara sambil meliuk-liuk kan tubuhnya sedikit.
Tante Rossa mengangguk pelan, "Syukur deh kalau begitu."
"Oh iya, gimana kabar Gaga sekarang Tan?"
Tante Rossa mengembangkan seulas senyuman diwajahnya. "Oh Gaga, dia hari ini mau.."
"Mau apa, Tante?"