Selina Saraswati, dokter muda baru lulus, tiba-tiba dijodohkan dengan Raden Adipati Wijaya — pria tampan yang terkenal sebagai pengangguran abadi dan kerap ditolak banyak perempuan.
Semua orang bertanya-tanya mengapa Selina harus dijodohkan dengannya. Namun kejutan terbesar terjadi saat akad: Raden Adipati menyerahkan mahar lima miliar rupiah.
Dari mana pria pengangguran itu mendapatkan uang sebanyak itu?
Siapa sebenarnya Raden Adipati Wijaya — lelaki misterius yang tampak biasa, tapi menyimpan rahasia besar di balik senyum santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prettyies, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nginep
Mobil melaju meninggalkan basement mall. Suasana di dalam kembali sunyi, hanya suara mesin yang menemani.
Adipati akhirnya membuka pembicaraan.
“Kamu… masih belum benar-benar move on dari mantan kamu?”
Selina menoleh cepat.
“Aku udah move on kok, Mas.”
Adipati melirik sekilas ke arahnya.
“Jangan bohong. Mas bisa lihat dari mata kamu.”
Selina menghela napas panjang, lalu menunduk.
“Aku lagi berusaha,” katanya jujur.
“Aku lagi belajar buka hati buat kamu… dan melupakan Evan. Jadi kamu tenang aja.”
Adipati tak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
“Mas gak nuntut apa-apa sekarang,” ucapnya lembut.
“Mas cuma mau kamu jujur sama perasaan kamu sendiri.”
Tak lama kemudian, mobil berhenti di depan rumah orang tua Selina.
Adipati mematikan mesin.
“Ayo, turun.”
Selina menatap rumah itu sebentar.
“Kita… ke rumah bapak ya, Mas.”
Adipati tersenyum tipis.
“Iya. Pasti kamu kangen sama bapak dan ibu kamu.”
Mereka turun dari mobil dan berjalan masuk ke teras.
Selina mengetuk pintu lalu mengucap salam.
“Assalamu’alaikum.”
Pintu langsung terbuka.
Wajah Bu Sri terlihat berbinar.
“Wa’alaikumsalam… Selina!”
Ia langsung memeluk putrinya.
“Ibu kangen banget.”
Selina tersenyum getir.
“Baru kemarin aku pulang… itu juga setelah kalian usir aku.”
Bu Sri langsung melepas pelukan.
“Astaghfirullah, sayang. Ibu sama bapak nggak ngusir.”
Pak Bejo ikut mendekat.
“Iya, Nak. Kami cuma mikir… kamu kan sekarang sudah punya suami.”
Selina menunduk, tak menjawab.
Bu Sri menepuk punggung Selina.
“Sudah, duduk dulu. Ibu lagi goreng bakwan, bentar lagi matang.”
Selina mengangguk dan duduk di ruang tamu bersama Adipati.
Pak Bejo melirik menantunya.
“Gimana, Di? Selina nyusahin kamu nggak?”
Adipati tersenyum sopan.
“Nggak, Pak. Selina baik.”
Pak Bejo mengangguk puas.
“Baguslah. Bapak tenang dengarnya.”
Bu Sri keluar dari dapur sambil membawa nampan berisi gorengan hangat, secangkir kopi, dan teh manis.
“Ini, makan dulu. Masih panas,” katanya sambil meletakkan piring di meja.
Selina tersenyum kecil.
“Makasih, Bu.”
Bu Sri duduk di samping Selina.
“Nanti kalian nginep di rumah ya.”
Selina menoleh ke Adipati sekilas, lalu mengangguk.
“Iya, Bu. Aku nginep.”
Pak Bejo ikut menimpali sambil tersenyum bangga.
“Ibu kamu masak makanan kesukaan kamu, Sel. Sudah lama kamu nggak makan di rumah.”
Selina terdiam sejenak, lalu tersenyum hangat.
“Iya, Pak.”
Adipati mengambil satu gorengan, lalu menoleh ke Pak Bejo.
“Gimana, Pak? Perkebunannya masih butuh dana tambahan nggak?”
Pak Bejo menggeleng.
“Nggak. Modal yang kamu kasih kemarin sudah cukup.”
Selina mengernyit, menatap ayahnya bergantian dengan Adipati.
“Bapak tahu kalau Mas Adipati bukan pengangguran?”
Pak Bejo tertawa kecil.
“Emang kapan bapak bilang Adipati pengangguran?”
Ia menyeruput kopinya pelan.
“Itu cuma omongan orang-orang. Mereka pikir kerja itu harus pakai seragam, atau keluar kota, bahkan keluar negeri.”
Selina terdiam.
Bu Sri ikut bicara sambil tersenyum lembut.
“Padahal Adipati itu kuliahnya bagus. Baru lulus S2.”
Selina membelalakkan mata.
“Hah? S2?”
Ia menoleh cepat ke Adipati.
“Mas… serius?”
Adipati hanya tersenyum tipis, sedikit canggung.
“Iya. Baru selesai.”
Selina menutup mulutnya, masih tak percaya.
“Ya Allah… pantesan.”
Pak Bejo tersenyum puas.
“Makanya, Sel. Jangan nilai orang dari kelihatannya saja.”
Selina menatap Adipati lama.
Dalam hatinya hanya ada satu kata:
“Omg…”
Ia mulai sadar—
pria yang dinikahinya bukan sekadar bukan pengangguran.
Ia jauh lebih dari itu.