Pagi ini dia akad nikah dengan perempuan pilihannya. Padahal dua minggu lalu dia berjanji akan melamarku. Laki-laki mana lagi yang bisa dipercaya?
Dekat sejak SMA, bahkan Kyara selalu mendukung Bagaskara untuk mencapai cita-citanya. Mulai dari beli sepatu, memberi uang untuk ongkos seleksi, Kyara selalu ada. Namun, sekarang gadis cantik itu membuktikan jika kamu memulai hubungan dengan pasanganmu dari nol, maka kamu akan mendapat pengkhianatan.
Ikuti perjalanan cinta Kyara Athiya hingga mendapat pengganti Bagaskara dengan cinta yang tulus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERFORMA
"Mantan kamu ternyata gak sebaik yang kamu pikirkan ya," sindir Lovy sembari meletakkan ponselnya setelah mendapat foto dari sang manajer.
Bagas yang sudah siap tidur, hanya berdecak sebal, tak mau terpancing dalam membahas Kyara. Bisa-bisa kalau Bagas dirasa memuji Kya, Lovy bakal ngamuk, dan ya bisa dipastikan pertengkaran akan terjadi. Bagas menghindari hal itu, karena ia ingin tidur segera. Besok dia harus berangkat pagi karena ada pertandingan.
"Kamu dengar aku enggak?" tanya Lovy kesal, merasa diabaikan sang suami.
"Dengar. Hanya saja aku malas bahas Kya."
"Wao. Oh ya? tapi sayangnya aku gak percaya. Perempuan itu masih menjadi ratu dalam hati kamu, dan aku seorang istri sah tergeser begitu saja."
"Besok aku tanding, please. Biarkan aku segera istirahat, agar performaku besok baik."
"Kamu bisa tidur sedangkan istri kamu sedang cemburu karena hati kamu masih perempuan itu."
"Yang bilang hatiku buat Kya siapa. Kamu kan?"
"Gak ngaku. Padahal udah jelas banget kamu masih mencintai dia. Nih, lihat dengan mata kepala kamu sendiri, dia sudah move on dari kamu!" Lovy menunjukkan foto Kya duduk berhadapan dengan seorang laki-laki dan sedang tertawa bersama.
Meski cemburu, Bagas sadar diri. Tak punya hak untuk marah, Kya sudah bukan ceweknya, sangat wajar kalau dia berhubungan dengan cowok lain. "Terus? Dia single, dia berhak melanjutkan hidup dengan pria lain," ucap Bagas tak mau memperlihatkan rasa cemburunya.
Lovy tertawa meremehkan, dia sangat tidak percaya Bagas bisa terima saja melihat foto Kya tersebut. "Kamu harusnya move on juga."
"Kamu mau aku move on seperti apa lagi, bahkan hampir tiap hari aku meniduri kamu. Aku juga tidak menghubungi Kya lagi, aku harus gimana. Sekali aja, gak usah bahas Kya bisa gak sih. Tadinya aku sudah lupa, malah diungkit terus. Lagian dia gak bakal mau kembali sama aku, aku perjelas sekali lagi dia tidak akan mau kembali sama aku."
"Tapi kamu mau kembali sama dia?"
"Menurut kamu? emang bisa? Tolong, Vy. Kita sudah berumah tangga, jangan melibatkan masa laluku dalam rumah tangga ini. Aku sudah salah sama dia, aku tidak akan melukai dia lagi. Aku juga tidak akan mungkin mempermainkan pernikahan meski kamu sudah tidak perawan saat pertama aku menyentuhmu. Aku terima, tapi tolong jangan ungkit Kya, bahkan sampai saat ini aku belum punya kesempatan untuk minta maaf sama dia, karena apa karena aku menghargai kamu, istriku!" ucap Bagas dengan sangat tulus, tanpa emosi dan nada tinggi. Ia sudah capek bila disangkut pautkan dengan Kya, meski kadang dia juga masih kirim souvenir melalui Davina, tapi hanya murni kebiasaan saja.
Tidak ada niatan bagi Bagas mengajak Kya kembali, karena ia sudah punya istri. Kalau saja Bagas belum menyentuh Lovy mungkin tinggal menunggu waktu saja kapan ia bercerai. Tapi kenyataannya, kebutuhan biologisnya pun dipenuhi oleh Lovy. Bagas tak mengelak kalau dia juga sangat menikmati berkeringat bersama dengan Lovy.
Mendengar penuturan Bagas selembut itu, Lovy pun luluh, ia langsung memeluk sang suami erat. "Aku bersikap kayak gini karena aku sayang banget sama kamu, Bagas. Aku gak mau kehilangan kamu," ucapnya sembari menangis. Bagas pun menenangkan sang istri, mencium bibir Lovy lembut.
"Percayalah, aku sudah sangat ikhlas menerima pernikahan ini. Kya hanya masa lalu." Lovy mengangguk percaya, kemudian ia melumat bibir Bagas dengan kelihaiannya. Bagas paham episode selanjutnya bagaimana.
Mereka memadu kasih dengan begitu panas. Apalagi Lovy sangat plong dengan ungkapan hati Bagas, membuatnya liar tak terkira. Hingga Bagas pun terpancing untuk membalas keliarannya. Hampir tengah malam mereka selesai, dan Bagas langsung tertidur. Otaknya masih ingat bahwa besok ada pertandingan penting untuk clubnya.
Menjalani sesi persiapan, tubuh Bagas merasa fine-fine saja. Pemanasan pun tak terlalu berat, hingga saat tanding, tenaganya mulai terlihat tak power full, bahkan serve pun tersangkut di net. Anggota timnya menoleh kaget, sudah dua kali Bagas error. Padahal selama ini dia tak pernah missing saat serve.
Pelatih di pinggir lapangan sudah emosi melihat Bagas yang melakukan kesalahan, belum lagi saat blocking tangannya beberapa kali mengenai net. Sungguh pihak lawan sangat diuntungkan dengan keteledoran Bagas.
Set kedua Bagas diganti, sang pelatih langsung berhadapan dengan dia setelah memastikan pemain pengganti Bagas bisa langsung menguasai permainan dengan bagus. "Tadi malam main sama istrimu?" tanya pelatih sembari fokus pada pertandingan, sekaligus mengomeli Bagas di sampingnya.
"Iya, coach!" jawab Bagas pelan. Tak akan mengelak karena kenyataannya jam tidurnya kurang, apalagi dia keluar beberapa kali tadi malam, tentu saja sisa tenaganya menurunkan kualitas performa Bagas.
"Sekalian saja tadi sebelum berangkat main, makin jos performa kamu," sindir sang pelatih, Bagas hanya diam. Ia memejamkan mata, sekarang laki-laki mana yang bisa menolak kenikmatan dari sang istri. Kalau Bagas sih tak bisa. "Wajar sih, istri kamu sexi mana tahan kamu!" ucap beliau sebelum beranjak.
Sungguh teguran yang sangat menyakitkan, di satu sisi kebutuhan biologisnya sangat terjamin, tapi bisa menurunkan performanya. Kalau terus begini, bisa-bisa Bagas akan menjadi pemain cadangan atau bisa dijual juga.
Tak sampai di situ, meski club Bagas menang. Tetap saja evaluasi pelatih dilakukan, dan peringatan keras kepada para pemain, bahwasannya bila akan tanding diharapkan menjaga stamina. "Kalau mau tidur bareng pacar atau istri kamu, lebih baik setelah tanding. Mau berapa ronde juga silahkan," ceplos sang pelatih sudah di ambang batas kesabaran menghadapi Bagas pasca menikah.
"Kamu Gas yang disindir Coach?" tanya Lee, salah satu teman club Bagas dari Korea, dengan bahasa Inggris. Bagas hanya mengangguk.
"Aku pernah berada di posisimu, dan akhirnya aku dijual ke club ini. Pertahankan performa kamu, Bagas. Demi masa depan kamu," lanjut Lee sembari menepuk pundak Bagas.
Perbedaan Kya dan Lovy, di saat aku akan tanding Kya tidak akan merusak moodku, dan selalu mendukung agar aku tidur cukup. Sedangkan Lovy mana mau dia pengertian. Keinginan Lovy harus dituruti. Kalau aku menolak bercinta, dia pasti mengira aku sudah tidak mau sama dia, dan belum move on dari Kya. Mau sampai kapan hidupku dikekang dia begini.
Bagas nekad chat Kya namun ia sangat heran karena hanya centang satu. "Kamu blokir aku Kya?" Bagas menjambak rambutnya frustasi.
Dia cek pemberitahuan status, tak ada pembaharuan, dan Bagas semakin yakin kalau Kya sudah tak mau ada komunikasi dengannya. Ia langsung cek instagram, dan benar Kya tidak mengikutinya lagi.
"Bodoh ya aku. Aku yang meninggalkan kamu, tapi aku yang mendadak gila saat kamu sudah tak mau lagi dengar kabarku. Kyara, Arghh!"