Perkenalkan, author merupakan orang desa di pinggiran kota Trenggalek.
Makasih yang sudah mampir. Jika berkenan silahkan tinggalkan jejak.
Semoga terhibur. Happy reading.
Apa salahku, mengapa semua terasa tak adil bagiku?
Cahaya Senja adalah seorang gadis remaja yang berprestasi namun tak pandai bersosialisasi hingga membuatnya tak banyak memiliki teman. Tekanan dari keluarga yang membuatnya demikian. Pertemanannya sangat dibatasi, dan yang tak boleh ada di kamusnya adalah berteman dengan laki-laki. Tanpa Senja tahu, ini semua dilakukan karena adanya luka di masa lalu.
Bertahun-tahun Senja hidup dalam kekangan, hingga akhirnya dia masuk di bangku SMP. Dia mulai merasakan indahnya persahabatan, dan saat mulai timbul rasa penasaran terhadap lawan jenis, hadirlah sosok laki-laki yang membuatnya merasa nyaman. Hari-harinya mulai berwarna, semangat belajar yang kian membara, tidak hanya dalam prestasi juga dalam kehidupan.
Ada cinta, ada hasrat, ada rindu, ada asa, dan ada mimpi yang mulai dia pahami.
"Aku ingin dekat dengannya, tapi tak tahu harus berbuat apa jika bersamanya."
"Pacar? Pacaran itu bagaimana? Apakah untuk dekat aku harus belajar pacaran?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Risau
Bel berbunyi nyaring, pertanda waktu istirahat telah usai. Semua siswa bergegas menuju kelas masing-masing.
Di kelas VII f, Senja dan Ifa duduk menghadap Ayu dan Ucik yang berada di belakangnya, sehingga mereka berempat nampak melingkari sebuah meja. Membawa bekal dari rumah membuat mereka tak perlu ke kantin saat istirahat.
Senja baru saja menceritakan rentetan kejadian yang dia alami hari ini, mulai dari nyaris jadi korban bullying di kelas IX b hingga bagaimana atribut seragam untuk kelas VII f bisa berada di tangan Arga.
"Kayaknya mulai sekarang kamu kudu lebih hati-hati deh," kata Ayu.
"Tapi aku kan nggak cari masalah," bela Senja.
"Iya juga," lirih Ayu.
"Eh tapi, kamu tadi nggak ngelawan kan?" lanjut Ayu kemudian.
"Enggak, aku diem aja, wong aku juga takut, panik, mau nangis, nggak tahu lah," tutur Senja.
"Sejauh ini kamu aman," seloroh Ifa tiba-tiba.
Senja dan Ayu nampak sependapat.
"Kamu emang nggak ngelawan, tapi Kak Arga?" kata Ucik tiba-tiba.
Ketiganya menoleh serempak ke arah Ucik. "Dan dia ngebelain kamu," sambungnya dengan santai.
Senja, Ayu dan Ifa mendadak lesu.
"Dan kalau rumor yang dibilang Kak Arga itu benar, itu malah bikin kak Tito makin tertantang buat terus ngerjain Senja," terang Ucik sambil melanjutkan kegiatan membacanya.
"Astaga, kenapa aku nggak mikirin kemungkinan itu," Senja melipat tangannya di atas meja dan menenggelamkan wajahnya di sana.
"Jangan terlalu dipikirin," ucap Ucik.
"Kamu yang bikin aku kepikiran," gerutu Senja sambil menghentak-hentakkan kakinya.
"Anggap aja aku nggak pernah ngomong."
"Mana bisa!!" geram Senja sambil menjatuhkan kepalanya di atas meja.
"Woy, woy, woy minggir, ada Bu Isna," teriak Eka yang berlari dari luar dan langsung melompat ke tempat duduknya.
"Ih, Eka! Kalau jalan lihat-lihat!" Risma mencak-mencak karena dia nyaris jatuh kala Eka berlari melewatinya.
"Ssttt st st," balas Eka sambil menunjuk pintu dengan matanya.
Senja dan Ifa segera membenahi posisi duduknya dan kembali menghadap ke depan.
"Nggak ada PR kan?" bisik Ifa kepada Senja.
"Aman," jawab Senja juga sambil berbisik.
"Siang anak-anak, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," serempak kelas VII f.
"Apa ada tugas pada pertemuan sebelumnya?" tanya Bu Isna.
"TIDAK BUUUU," kelas VII f.
"Baiklah, mari kita lanjutkan materi tentang ciri-ciri makhluk hidup."
Siswa kelas f segera membuka buku masing-masing. Semua mengikuti pelajaran dengan serius tanpa terkecuali. Hingga tak terasa 2 jam pelajaran telah usai. Bu Isna pun meninggalkan kelas setelah mengucap salam.
"Fa, toilet yuk," ajak Senja pada Ifa.
"Ngapain?"
"Kebelet nih."
"Ogah ah, aku gak kebelet. Toilet sendiri aja sono, biasanya juga berani."
Senja pun menunduk dan mengerucutkan bibirnya.
"Anterin aja napa Fa, nggak di kasih contekan bahasa Inggris mam**s kamu," ucap Ayu.
Seolah mendapat angin segar, Senja lalu menyunggingkan senyumnya sambil menarik turunkan alisnya.
"Ih, ayok, ayok."
"Ifa cantik deh," ucap Senja.
"Nggak mempan, ayo buruan!"
Ifa dan Senja pun berjalan beriringan menuju toilet. Di depan toilet ada beberapa siswa yang sedang bersandar di pagar taman. Di depan salah satu toilet di sekolah Senja memang ada taman kecil dengan pagar yang tingginya sekitar setengah meter mengelilinginya. Tidak tahu siapa yang merancang taman kecil ini.
Saat Senja baru saja masuk toilet, Ifa yang sebelumnya hanya niat mengantar malah ikut nyelonong masuk.
"Loh, kamu mau ngapain?" heran Senja.
"Jadi ikut kebelet, hehehe."
"Sok, bilik sebelah masih kosong," ucap Senja pada Ifa kemudian keduanya masuk ke dalam bilik toilet yang berbeda secara bersama-sama.
Senja POV
Setelah menuntaskan hajatku, aku segera keluar.
"Loh, Ifa. Ngapain kamu di sini?" tanya Senja.
"Itu, di luar ada kakak kelas, takut aja nunggu kamu sendirian," cicit Ifa.
"Yuk, balik."
Ifa mengangguk.
Aku dan Ifa berjalan keluar dari toilet. Saat tepat di depan toilet, 4 orang kakak kelas yang sudah ada saat kami tiba masih diam di tempatnya.
"Ifa, sini bentar," panggil seorang diantara.
"Fa, siapa?" tanyaku pada Ifa tanpa suara.
Ifa hanya mengedipkan mata, seolah berkala nggak apa-apa. Ifa berjalan mendekat ke arah mereka. Mereka tampak membicarakan sesuatu. Bukan mereka semua, tapi orang yang tadi memanggil Ifa saja yang tengah bicara pada Ifa. Dua diantara sedang asik ngobrol, dan satu lagi seperti sedang menatap tajam ke arah ku. Bener nggak sih, dia natap aku nggak sih? Aku tak begitu jelas melihatnya, karena aku tak berani menatap mereka secara langsung. Ya Tuhan, apa mungkin dia juga ada niat buat nge-bully aku.
Dari arah ruang guru ku lihat Pak Nanang berjalan dengan buku di tangannya.
"Fa, pak Nanang," panggilku pada Ifa sambil menunjuk Pak Nanang dengan mataku. Ifa nampak memohon diri pada kakak kelas tadi dan berjalan menghampiriku.
Keempat Kakak kelas yang baru saja ditemui Ifa itu semua menatapku dengan senyum, kecuali Kakak yang sedari menatapku tajam. Hanya dia yang tetap menatapku acuh.
"Fa, tadi siapa?" tanya ku pada Ifa saat kami berjalan beriringan menuju kelas.
"Yang mana?"
"Ya semua lah," terangku.
"Yang tadi manggil aku namanya Rayi dan yang diem aja namanya Indra, mereka tetanggaku. Dan yang dua aku nggak kenal."
Melihat pak Nanang yang baru saja masuk kelas, Aku dan Ifa mempercepat langkah. Tepat saat tubuh kami mendarat di tempat duduk, Pak Nanang mengucapkan salam. Pelajaran Bahasa Indonesia pun berjalan dengan ceria, karena pak Nanang merupakan tipe guru yang tak suka suasana kaku saat proses belajar.
Dua jam pun usai, meninggalkan 1 jam kosong hari ini.
"Mendung gini nggak boleh apa kalau pulang aja," ucap Ayu tiba-tiba.
"Pulang aja sono," timpal Ifa.
"Jangan pulang dulu deh. Jelasin materi Bu Isna tadi ada beberapa bagian yang aku nggak faham," ucapku pada Ayu.
Ayu memang suka biologi, sedangkan aku mengalami kesulitan pada beberapa mapel yang menuntut untuk menghafal.
"Nggak salah? Dari kita berempat nilai kamu loh yang paling tinggi pas seleksi ujian masuk," cibir Ayu.
"Kagak. Nih jelasin yang ini," jawabku sambil menyodorkan buku ku di depan Ayu. Ayu mengambil alih buku yang aku sodorkan, kemudian matanya memicing menatapku tajam.
"Kamu nggak lagi ngerjain aku kan?" tanyanya penuh selidik.
"Enggak, please Yu, kalau nilaiku ambleg, mas Atma bakal nyeramahin aku sepanjang jalan kenangan," ucapku lesu.
Ifa dan Ucik hanya memperhatikan kami.
"Kok Mas Atma, orang tua kamu gimana?" tanya Ifa.
"Ayah, dia jarang ngomong, cuek sama sekolah aku, bukan sekolah sih tapi prestasi. Karena pencapaian ku sampai sekarang selalu di bawah ketiga kakakku. Aku masih terus berusaha, biar aku bisa setidaknya sekali saja jadi yang terbaik kayak kakakku."
"Tapi kamu tu udah pinter Senja," ucap Ayu.
"Matematika aku kalah sama Ucik, Biologi kalah sama Ayu, Bahasa Indonesia gak sebaik Ifa, Fisika Kimia aku di bawah Ratna, Sejarah dan semua yang menuntut hafalan aku lemah banget."
"Bahasa Inggris kamu pinter."
"Tapi Yu, aku masih jauh dari Mas Atma meskipun dia guru seni, tapi Bahasa Inggris ku jauh dari dia. Padahal dia nggak ngambil jurusan bahasa Inggris pas kuliah".
"Kamu dan Masmu berada di level belajar yang berbeda, nggak ada orang yang bisa dalam semua hal. Setiap orang pasti ada kelebihan dan kekurangan," terang Ucik.
"Ya udah, siapa nih yang bakal ngajarin aku."
Akhirnya mereka bersama-sama menjelaskan materi yang masih sulit ku pahami. Sebenarnya aku paham, hanya ada beberapa bagian informasi yang kurang lengkap, dan aku nggak suka sesuatu yang tidak benar-benar jelas.
Saat ku amati, ternya Ayu tidak benar-benar menguasai semua materi, ketika menjelaskan, ternyata ada penjelasan yang kurang tepat, dan di koreksi oleh Ucik atau Ifa. Begitupun Ucik dan Ifa. Dan memang tak ada yang sempurna bisa menguasai semua.
Aku terkadang menyesalkan keadaanku. Terlahir dalam keluarga berpendidikan di daerah pinggiran itu tak menyenangkan. Terlebih ketika harus menjadi aku, anak terakhir yang punya 3 kakak yang luar biasa.
Ketika aku belum juga bisa menunjukkan prestasi yang dianggap luar biasa, aku tetap di pandang sebelah mata.
Selalu juara kelas, sering memenangkan lomba, itu semua dianggap sudah biasa, seharusnya aku bisa lebih. Bukan keluargaku yang menuntut, tapi orang di sekitarku, dan saat mendapati ku terpojok, tak pernah sekalipun ada yg menolongku.
Bagiku, semua yang sudah ku raih tak ada yang mudah. Aku juga ingin mendapat selamat dari keluargaku atau sekedar mendapat senyum bahagia kala aku pulang lomba atau tertera rangking 1 di raporku. Tapi tak pernah, semua seolah menjadi hal yang biasa. Dan jika aku tak menjadi nomor 1, maka guratan kecewa akan dengan sangat mudah aku temukan.
Oh, Tuhan, aku hanya ingin di hargai, apapun yang aku capai, yakin lah, aku sudah berjuang dengan begitu keras untuk mendapatkannya.
TBC.
Alhamdulillah, done.
Komen, rate, vote, like, and share ya.
Terimakasih, 🙏