Siapa sangka jika pria yang membuat gue naik pitam adalah lelaki yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tua kami sejak dulu. No way. 😬 (Fiza)
Siapa sangka si tomboy yang gue jadikan rival dalam menebar pesona ke cewek - cewek klub adalah calon istri gue. 😑(Aksa)
Siapa sangka seseorang yang gue sangka babang hensem dan sempat gue taksir adalah calon kakak Ipar. kyaaaa 😱😱 (Yuna)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eeeewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aksa : Pegawai Baru Yang Mengagumkan
Gue sedang merasa excited. Akhirnya rencana untuk menjalin kerjasama dengan PT Bla..bla..bla berjalan dengan lancar. Bahkan saat ini kami sudah selesai menandatangani kontrak kerjasama yang benilai milyaran rupiah.
Gue segera meminta sekretaris gue supaya memboking restoran mewah untuk merayakan keberhasilan kerjasama kali ini.
"Thanks Ranma!"
Sebenarnya gue gengsi untuk mengucapkan terima kasih ke asisten gue yang satu ini. Tapi tidak dapat gue pungkiri, keberhasilan proyek kerjasama ini adalah berkat ketelatenannya menghadapi bos PT Bla.. bla..bla yang sangat arogan.
Dan yang membuat gue takjub, ternyata beliau takluk bukan karena Fiza pandai dalam bidang manajemen, bisnis, atau politik. Melainkan karena ia bisa berbicara dengan bahasa Jawa Krama. Bahasa yang menurut gue ribet karena tiak ada di kamus ataupun buku pepak.
Oke gue akan jilat ludah gue, Sob. Gue tarik ucapan gue kalau asisten gue ini pe'a. Dia justru bisa menjadi pion kuat di perusahaan gue dengan kemampuannya yang sangat langka itu.
Tapi ada yang tidak gue suka darinya. Mentang - mentang dia mendapat mandat langsung dari kanjeng mami Roro Fitria Harsono, lalu dengan seenaknya dia melarang gue pergi clubing. Heuh... siapa elu!
Setelah gue perang kata - kata dengan si Ranma, dia segera pergi meninggalkan gue lebih dulu ke tempat parkir. Sialan tuh orang, bisa - bisanya dia lupa membawakan tas kerja gue.
Gue semakin gondok ketika sampai di lobi kantor, dia sudah duduk di mobil. *Ya*ela.... sudah tidur pula.
Karena ada pak Warno, gue tidak bisa mengusili orang ini. Ya sudah, masih ada hari esok. Sambil jalan, gue akan memikirkan keusilan lain.
കകകകക
Setelah kanjeng mami melepas ajudannya untuk pulang kerumah, mami pun menginterogasi gue.
"Piye, Le?"
(Gimana nak?)
Sudah bisa gue pastikan, kanjeng mami pasti bertanya - tanya pada si mata - mata alias Ranma.
"Nggak gimana - gimana, Mi. Oh iya, Yuna baik - baik aja kan, Mi?" Gue mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mau kanjeng papi ngendika nek perusahaane dewe sido teken kontrak karo perusahaane pak Siswomihardjo. Malah pak Sis dewe langsung ngabari kanjeng papi mu!"
(Tadi kanjeng papi bilang kalau perusahan kita jadi tanda tangan kontrak dengan perusahaan milik pak Siswomihardjo. Malah pak Sis sendiri langsung memberitahu kanjeng papi mu)
Gue langsung tegangan tinggi, Sob! Kanjeng mami pasti bakalan kepo.
"Jan.., pak Sis kae ki kawit mbiyen angel tenan menawa dijak kerjasama. Piye mau ceritane kok pak Sis gelem teken kontrake?"
(Sebenarnya, pak Sis itu dari dulu susah sekali jika diajak kerjasama. Gimana tadi ceritanya kok pak Sis mau tanda tangan kontraknya?)
Sebenarnya gue yakin kalau kanjeng mami gue itu sudah tahu semuanya, tapi beliau sengaja memancing cerita dari gue. Kelihatan banget tuh dari senyumannya mami.
Gue menghela nafas berat. Asli, gue gengsi sekali untuk mengakui kalau kontrak kerjasama itu adalah hasil jerih payah ajudannya mami. Tapi karena gue ingin segera masuk ke kamar, jadi gue jawab saja. Yang penting selesai, beres kan!
"Itu karena ajudannya Mami pinter merayu pak Sis!"
Mami tersenyum lebar.
"Fiza ki pancen pinter. Ora salah Mami milih bocah kuwi dadi asistenmu!"
(Fiza itu memang pinte. Nggak salah mami memilih anak itu menjadi asistenmu!)
Gue kok merasa tidak senang ya dengan pujiannya kanjeng mami untuk si Ranma.
"Oh iyo. Kowe biyen ketemu Fiza nang endi?"
(Oh iya. Kamu dulu ketemu Fiza di mana?)
Begitu nama Fiza disebut, gue merasa ingin kena stroke saja, Sob! Terus Yuna adik gue yang sedang menonton tayangan sinetron 'Siapa Takut Patah Hati' langsung duduk mendekat ke kanjeng mami.
"Lha ya jelas aja Fiza pinter merayu pak Sis, kerjanya aja di club. Dia pasti seorang pe..."
Gue langsung nutup mulut gue dan tidak jadi meneruskan kalimat bantahan. Gue tidak mau menjadi korban lempar bakiak lagi atas ucapan gue tentang Fiza. karena gue seribu persen yakin jika Kanjeng mami pasti akan membela Ranma.
Gue sedang tidak ingin ribut dengan Kanjeng mami tercinta.
"Kene, Le! Tak critani!"
(Sini, Nak, aku ceritakan!)
Gue tertahan oleh mami dan duduk di samping beliau dengan rasa was - was. Paling - paling Kanjeng mami hendak mengomeli gue. Namun dugaan gue salah. Wajah mami terlihat sendu. Setela beliau mengatur napas, Lalu mengalirlah cerita tentang Fiza dan keluarganya. Kenapa Fiza yang pintar itu tidak bisa meneruskan kuliahnya, dan mengapa Fiza sampai harus mengamen untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Tapi gue tidak peduli, Sob. Gue bukan juri acara kontes bintang idola yang bakalan terhanyut sad story para kontestan demi mendongkrak popularitas. Gue tidak terpengaruh, lah yaw. Bagi gue, Fiza itu sama saja cewek munafik. Kalau dia perempuan baik - baik, tidak mungkin, lah dia bekerja di Black Cat meskipun hanya untuk mengamen doang.
Realistis saja, Sob. LGBT sudah menjamur dimana - mana. Barangkali saja tampang androgininya itu untuk menutupi kedoknya yang seorang lesbian atau penyuka cewek batangan mengikuti kisah sinetron 'Jenis Kelamin Terbalik'. Tidak ada yang tahu kan?
Tapi sekali lagi gue tidak berani julid di depan kanjeng mami. Khawatir muka hansem gue terkikis pelan - pelan. Jangan sampai karyawan gue yang cewek - cewek itu jadi tidak terpesona lagi dengan gue. Wajah gue itu aset berharga, Sob! Jadi harus gue jaga, jika perlu dengan bertaruh harga diri melawan si Ranma 1/2.
"Mi, mbak Fiza kan nggak punya hape tuh. Karena mbak Fiza sukses menaklukkan om Sis, gimana kalau mami memberi bonus hape aja!"
Yuna adik gue tiba - tiba ikut nimbrung pembicaraan kami. Wajahnya juga sudah segar bugar. Padahal tadi pagi saja sampai pingsan saat mengetahui gebetannya itu ternyata seorang perempuan.
Alhamdulillah.... adik gue aman dari gaya hidup LGBT. Tapi gue justru jadi bergidik. Kalau kanjeng mami Roro Fitria Harsono masih memaksa gue untuk jadian dengan si Ranma. Jika beneran kami bersama, terus masyarakat melihat gue sebagai apa coba?
Gue tidak bisa membayangkan. Oh my God!
Tbc
bayikk pikir ini crta tntang anak betawi ...ehh ternyata ada campuran jawax ...keren
klamaan tinggal di kalimantan kangen jg potongan2 bahasa kramanya