Semua orang menyebut Aelora anak kutukan. Ia dibuang, diburu, dan dibiarkan mati di hutan iblis. Tapi nasib berkata lain: Raja Iblis sendiri memungutnya dan menjadikannya putri kecil Nocthara. Kini Aelora harus menyembunyikan dua rahasia: ia pernah hidup di masa depan yang hancur, dan ia adalah anak malaikat yang dicari oleh Surga. Demi menyelamatkan ayah angkatnya dan mencegah perang tiga dunia, Aelora kecil harus mengubah takdir sebelum orang-orang yang ia cintai mati untuk kedua kalinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menara yang Mengingat Masa Depan
“Sudah waktunya kau melihat bagaimana dunia ini berakhir.”
Suara Mirael terdengar dari balik kegelapan.
Aelora berhenti di ujung lorong pelayanan.
Di hadapannya berdiri pintu Menara Rune Terkunci, pintu yang berkali-kali ia lihat sejak datang ke Istana Bulan Merah. Tingginya hampir mencapai langit-langit. Seluruh permukaannya tertutup simbol hitam, perak, dan emas yang saling bertumpuk seperti rantai.
Tujuh lapis segel.
Tujuh larangan.
Tujuh alasan bagi Kael untuk menyuruhnya menjauh.
Milo berdiri di dekat kakinya. Kucing bayangan itu belum pulih sepenuhnya. Ekor dan kaki belakangnya masih sedikit transparan, sedangkan salah satu sayapnya tidak lebih besar daripada daun.
“Suara itu bukan berasal dari balik pintu,” katanya.
Aelora menatap rune-rune yang mulai menyala.
“Lalu dari mana?”
“Menaranya sendiri.”
“Menara bisa bicara?”
“Di istana ini, pertanyaan yang lebih aman adalah benda apa yang tidak bisa bicara.”
Salah satu rune bergerak.
Bentuknya berubah menjadi mata dengan pupil keemasan. Mata tersebut memandang Aelora, lalu turun ke gelang perak milik Mirael di pergelangan tangannya.
Pintu bergetar.
“Aelora.”
Suara yang menyerupai Mirael terdengar lagi, lebih lembut daripada sebelumnya.
Nyaris seperti seorang ibu yang memanggil anaknya pulang sebelum malam.
Aelora mengangkat tangan.
“Jangan sentuh,” kata Milo.
“Aku tidak bisa membuka pintu tanpa menyentuhnya.”
“Kita juga tidak harus membuka pintu.”
“Aku sudah datang sejauh ini.”
“Itu bukan alasan untuk melanjutkan keputusan buruk.”
“Biasanya orang berkata begitu setelah aku membuka sesuatu.”
“Karena kau terlalu cepat membuka sesuatu.”
Dari kejauhan, suara sidang masih terbawa melalui saluran udara di dalam dinding. Kata-katanya tidak lagi jelas, tetapi Aelora masih mengingat kalimat terakhir yang didengarnya.
Raja harus memilih antara satu anak dan keselamatan kerajaan.
Aku akan memilih.
Ia tidak mendengar pilihan Kael.
Mungkin karena takut terhadap jawabannya.
Mungkin karena sebagian dirinya sudah percaya bahwa suatu hari semua orang akan memilih kerajaan, tugas, atau keselamatan mereka daripada dirinya.
“Kalau Ayah memilih Nocthara?” bisiknya.
Milo menurunkan telinga. “Kael sudah memilihmu berkali-kali.”
“Itu tidak berarti dia akan selalu memilihku.”
“Tidak ada orang yang selalu memilih dengan benar.”
“Itu tidak menenangkan.”
“Kejujuran jarang menenangkan.”
Aelora memandang pintu lagi.
“Kalau aku mengetahui kenapa semua ini terjadi, mungkin dia tidak perlu memilih.”
Ia menempelkan gelang Mirael pada rune pertama.
Cahaya perak menyebar.
Rune tersebut retak dan berubah menjadi serbuk berkilau. Suara seperti rantai terlepas terdengar dari dalam pintu.
Lapisan pertama terbuka.
Milo mendesis. “Kael akan tahu.”
“Belum tentu.”
“Seluruh menara baru saja menarik napas.”
Aelora merasakannya.
Dinding di sekeliling mereka mengembang sedikit, kemudian mengempis. Debu berjatuhan dari langit-langit. Udara dingin mengalir melalui celah pintu seperti embusan dari paru-paru raksasa.
Rune kedua berbentuk untaian garis yang menyerupai peta.
Aelora mengeluarkan sisir kayu Mirael dari dalam jubahnya. Ketika ujungnya menyentuh pintu, garis-garis merah muncul di udara.
Peta Katedral Fajar.
Jalur merah melingkari pintu, bergerak melewati gambar pegunungan, sungai, dan reruntuhan kuil, lalu masuk ke lubang kunci.
Klik.
Lapisan kedua padam.
“Dua dari tujuh,” kata Aelora.
“Masih ada waktu untuk menyesal.”
“Aku sudah menyesal sejak lapisan pertama.”
“Itu perkembangan.”
Rune ketiga berbentuk mahkota hitam.
Milo memandangnya.
“Segel Vesperion.”
“Bisa kubuka?”
“Tidak tanpa darah atau bayangan Raja.”
Aelora menggigit bibir.
Ia tidak memiliki darah Kael. Namun jejak ritual keluarga masih ada di dalam lambang Solumbra pada pergelangan tangannya. Kael telah mengakui Aelora sebagai anaknya di hadapan takhta dan bayangan.
Mungkin ikatan itu dapat mengenali pintu.
Ia menekan telapak tangannya pada rune mahkota.
Awalnya tidak terjadi apa-apa.
Kemudian bayangan kecil keluar dari jemarinya. Bentuknya memanjang menjadi tangan lelaki dewasa.
Tangan Kael.
Milo mundur setengah langkah. “Aku semakin tidak menyukai ini.”
Bayangan itu menyentuh mahkota.
Suara Kael terdengar dari dalam rune.
“Aku memberikan bayanganku sebagai dinding, darahku sebagai jalan, dan namaku sebagai perlindungan.”
Segel mahkota terbelah.
Lapisan ketiga terbuka.
Aelora mengangkat telapak tangannya. Bayangan itu sudah menghilang.
“Ritual keluarga tidak hanya memberi nama.”
“Tidak,” kata Milo. “Ritual itu membuat sihir istana mengenalimu sebagai bagian dari dirinya.”
“Berarti kontrak lama tidak sepenuhnya gagal.”
“Sesuatu mengikat kalian lebih kuat daripada kontrak.”
“Apa?”
Milo pura-pura memeriksa kaki depannya.
“Kau selalu diam ketika tahu jawabannya.”
“Aku juga diam saat lelah.”
“Sekarang yang mana?”
“Keduanya.”
Rune keempat berbentuk sayap putih.
Begitu sayap kecil di punggung Aelora bergerak, simbol itu menyala sendiri.
Rasa sakit tajam menusuk tulang belikatnya. Ia mengatupkan gigi agar tidak bersuara.
Segel keempat padam.
Rune kelima berupa lingkaran hitam tanpa ukiran.
Umbra.
Aelora menunggu.
Tidak ada reaksi.
Ia menyentuhnya menggunakan telapak tangan, tetapi permukaan pintu tetap dingin.
“Aku tidak cukup punya sihir bayangan,” katanya.
“Kita bisa kembali.”
“Tidak.”
“Aku sudah menduga.”
Garis hitam di bawah kulit punggung kirinya berdenyut.
Aelora terhuyung. Rasa sakit menjalar dari tulang belakang sampai leher, seperti sesuatu sedang mencoba membuka jalan dari dalam tubuhnya.
“Aelora?”
“Aku baik-baik saja.”
“Kau membungkuk seperti orang yang ditikam.”
“Sedikit sakit.”
“Jangan memakai kata sedikit. Eirna sudah melarangnya.”
Bayangan Aelora memanjang di lantai tanpa perintah. Bentuknya bergerak menuju pintu dan menyentuh rune kelima.
Cahaya ungu meledak.
Lingkaran hitam berputar, kemudian terbuka seperti pupil.
Lapisan kelima padam.
Milo menatap garis gelap pada punggung Aelora.
“Sayap keduamu mulai bangun.”
Aelora memegang sisi kirinya. “Apakah akan tumbuh sekarang?”
“Semoga tidak.”
“Kenapa?”
“Segala sesuatu yang tumbuh sebelum waktunya biasanya menimbulkan masalah.”
“Aku juga tumbuh.”
“Dan lihat berapa banyak masalah yang mengikutimu.”
Aelora tidak dapat membantah.
Segel keenam tidak memiliki bentuk.
Permukaannya licin seperti kaca gelap.
Ketika Aelora berdiri di depannya, pantulan muncul.
Bukan pantulan anak berusia tujuh tahun.
Aelora remaja berdiri di dalamnya.
Rambut peraknya panjang dan dipenuhi darah. Pakaian perangnya robek pada bahu dan pinggang. Satu sayap putih dan satu sayap hitam terbuka di belakang tubuhnya.
Di tangannya terdapat pedang yang menembus dada Kael.
Aelora kecil mundur.
“Tidak lagi.”
Versi remajanya mengangkat wajah.
Air mata mengalir di pipinya.
“Kau datang terlalu cepat.”
Aelora menggenggam Piko.
“Apakah kau benar-benar aku?”
“Ya.”
“Terakhir kali makhluk lain memakai wajahku.”
“Aku tahu.”
“Bagaimana membuktikannya?”
Versi remaja itu memandangnya lama, kemudian tersenyum sedih.
“Kau menyimpan roti pertama yang diberikan dapur Nocthara di bawah bantal selama dua hari.”
Aelora membeku.
Tidak ada yang mengetahui itu.
Bahkan Kael.
Pada hari pertamanya di istana, ia menyembunyikan separuh roti di bawah bantal karena takut tidak akan diberi makan lagi. Roti itu mengeras dan penuh serpihan kain sebelum akhirnya dibuang diam-diam.
Aelora mendekati permukaan gelap.
“Kenapa kau memperingatkanku agar tidak mempercayai Kael?”
Wajah remajanya berubah bingung.
“Aku tidak pernah melakukan itu.”
“Cermin di ruang penyembuhan—”
“Itu bukan aku.”
“Aku tahu sekarang.”
Versi remaja Aelora melihat pedang di tangannya.
“Namun pernah ada masa ketika aku memang tidak mempercayainya.”
“Kenapa?”
“Karena Kael menyimpan kebenaran terlalu lama, sampai kebohongan musuh terdengar lebih masuk akal.”
Aelora menunduk.
Kael selalu berniat melindunginya. Namun niat baik tidak membuat pintu yang terkunci terasa lebih ringan.
“Apakah dia akan mengirimku ke Benteng Umbrael?”
“Aku tidak tahu.”
“Kau berasal dari masa depan.”
“Masa depanmu sudah berubah.”
“Karena Daren hidup?”
“Karena banyak hal.”
Permukaan gelap berkedip. Api muncul di belakang Aelora remaja. Menara-menara Nocthara runtuh di kejauhan.
“Apa yang harus kulakukan?”
“Jangan mempercayai satu ingatan hanya karena ingatan itu milikmu.”
“Aku tidak mengerti.”
“Masa depan yang kauingat bukan satu-satunya masa depan.”
Aelora teringat ucapan Milo mengenai pecahan waktu.
Mungkin ada kehidupan sebelum kehidupan yang ia ingat.
Mungkin semuanya pernah terjadi berkali-kali.
“Berapa kali aku kembali?”
Versi remajanya terlihat takut.
“Aku tidak tahu.”
“Bagaimana bisa kau tidak tahu?”
“Setiap kali waktu berputar, sesuatu mengambil bagian dari ingatan kita.”
“Siapa?”
Aelora remaja melihat ke belakang.
Di langit yang terbakar, sebuah mata emas terbuka.
“Menara ini.”
Dinding di sekitar Aelora bergetar.
Pantulannya menempelkan telapak tangan pada permukaan segel.
“Jangan biarkan menara mengambil terlalu banyak.”
“Apa harga untuk membuka lapisan ini?”
“Satu ingatan.”
Milo langsung melompat di antara Aelora dan pintu.
“Tidak.”
“Aku harus masuk.”
“Ingatanmu sudah rusak akibat perjalanan waktu.”
“Hanya satu.”
“Tidak ada jaminan menara mengambil hal kecil.”
Aelora memandang pantulan masa depannya.
“Bisa aku memilih?”
“Menara akan memberi pilihan,” jawab Aelora remaja. “Tapi diberi pilihan tidak sama dengan memiliki kendali.”
Permukaan pintu berubah.
Tiga gambar muncul.
Gambar pertama memperlihatkan Aelora berjalan tanpa alas kaki di Hutan Hitam pada malam pembuangannya. Tubuhnya kotor, wajahnya dipenuhi air mata, dan Piko dipeluk erat di dada.
Gambar kedua menunjukkan Kael mengepang rambut Aelora. Kepangannya miring. Sebagian rambut masih lepas, tetapi ekspresi Kael sangat serius seolah ia sedang menyusun strategi perang.
Gambar ketiga memperlihatkan Mirael.
Wajah ibunya terlihat samar. Rambut gelap tergerai di bahu dan kedua matanya memandang Aelora dengan kehangatan yang hanya tersimpan dalam serpihan kenangan.
Suara menara berubah menyerupai Mirael.
“Pilih satu untuk dilupakan.”
Aelora menatap ketiganya.
Hari pembuangan adalah luka.
Ia ingin melupakannya. Tidak ingin mengingat rasa dingin, lapar, serta suara orang-orang yang bersorak ketika dirinya dibuang.
Namun hari itu juga merupakan hari Kael menemukannya.
Kalau ingatan tersebut hilang, mungkin ia juga akan kehilangan saat pertama kali seseorang datang ketika ia meminta pertolongan.
Ingatan tentang kepangan terasa kecil dan lucu. Namun itu adalah pertama kalinya Kael mencoba menjadi ayah, bukan raja.
Mirael hanya hidup dalam sedikit potongan kenangan. Aelora bahkan belum benar-benar mengenal ibunya.
Ia tidak akan memberikan salah satunya.
“Aku tidak memilih.”
Pintu bergetar.
“Tanpa harga, jalan tetap tertutup.”
“Aku akan memberikan ingatan lain.”
“Tiga pilihan telah diberikan.”
Aelora mengepalkan tangan.
“Ambil ingatan ketika aku dirantai di kapel.”
Mata emas muncul pada permukaan segel.
“Itu bukan pilihan.”
“Kenapa?”
“Luka membentuk kuncimu.”
“Ambil hari ketika aku tidak diberi makan.”
“Tidak.”
“Ambil rasa takutku kepada api.”
“Rasa takut bukan ingatan.”
Aelora menatap mata emas itu dengan marah.
“Kau hanya mau mengambil hal yang membuatku bahagia.”
Menara tidak menjawab.
Milo memandang ketiga gambar.
“Begitulah sihir waktu bekerja,” katanya pelan. “Perubahan besar dibayar dengan sesuatu yang berarti.”
Aelora melihat wajah Mirael.
Kemudian Kael yang memegang sisir dengan tangan terlalu kaku.
Lalu dirinya sendiri di Hutan Hitam.
“Aku tidak akan memberikan mereka.”
“Pintu tidak akan terbuka.”
Aelora memeluk Piko.
Sebuah ingatan lain muncul.
Istana Bulan Merah runtuh.
Kael sudah mati.
Aelora remaja duduk sendirian di dekat singgasana yang pecah sambil memegang mantel hitam berlumur darah.
“Aku akan memberikan satu hari dari masa depan.”
Versi remajanya menegang.
Milo menoleh tajam. “Jangan.”
“Itu ingatan yang paling menyakitkan.”
“Mungkin juga paling penting.”
“Ingatan itu membuatku terus takut.”
Aelora memandang mata menara.
“Ambil satu hari setelah Kael mati. Bukan seluruh masa depan. Hanya satu hari.”
“Tidak,” kata Milo.
Suara menara bertanya, “Hari yang mana?”
Aelora menutup mata.
Ia melihat abu beterbangan di dalam aula.
Mahkota Kael terbaring patah di lantai.
Aelora remaja tidak makan, tidak tidur, dan tidak menangis. Ia hanya duduk sambil menunggu seseorang mengatakan bahwa semua itu mimpi.
Tidak ada yang datang.
“Hari pertama aku sendirian setelah Ayah mati.”
Milo menggigit ujung jubahnya.
“Aelora, jangan.”
“Aku masih akan mengingat kematiannya.”
“Kau tidak tahu bagian lain yang ikut hilang.”
“Aku harus masuk.”
“Kael tidak akan menginginkanmu melakukan ini.”
“Kael tidak ada di sini.”
Aelora menyesali kata-kata itu begitu keluar.
Namun menara telah menerima.
Cahaya hitam menyambar dahinya.
Aelora menjerit.
Ingatan itu ditarik bukan seperti gambar, melainkan benang yang terikat pada jantungnya. Ia melihat singgasana pecah, mantel Kael, langit tanpa bulan, dan abu yang memenuhi mulutnya.
Kemudian semuanya hilang.
Tidak berubah menjadi gelap.
Hanya kosong.
Aelora jatuh berlutut.
Milo menopang tubuhnya dengan kepala.
“Apa yang kaurasakan?”
Aelora mencoba mencari hari tersebut.
Ia tahu Kael pernah mati.
Ia tahu dirinya pernah sendirian.
Namun ada satu ruang kosong di antara dua pengetahuan itu, seperti halaman yang dicabut dari sebuah buku.
“Aku tidak ingat bau abunya.”
Lapisan keenam terbuka.
Di baliknya muncul rune terakhir.
Bentuknya menyerupai Gerbang Tiga Dunia.
Aelora berdiri dengan susah payah.
“Bagaimana membuka ini?”
Versi remajanya menggeleng.
“Segel terakhir tidak dibuka oleh darah.”
“Lalu?”
“Oleh kesalahan.”
“Apa maksudnya?”
Rune gerbang menyala.
Sebuah tangan dari cahaya keluar dari pusatnya dan menembus dada Aelora tanpa merusak kulit.
Milo menerjang, tetapi terlambat.
Tangan itu menarik sebuah gambar dari tubuh Aelora.
Medan perang masa depan muncul di permukaan pintu.
Kael terbaring di tanah.
Pedang putih-hitam berada di tangan Aelora remaja.
Suara Mirael palsu memanggil dari balik gerbang.
Gunakan darah Raja Iblis untuk menghidupkan ibumu.
Aelora kecil menatapnya.
“Aku sudah pernah melihat ini.”
“Lihat lebih dekat,” kata menara.
Gambar bergerak.
Aelora remaja menancapkan pedang ke pusat gerbang. Darah Kael mengalir melalui bilah dan masuk ke rune.
Namun pada pantulan pedang, wajah Aelora berubah.
Hanya sepersekian detik.
Mata emas.
Senyum tenang.
Mahkota cahaya di atas kepala.
Seseorang memakai tubuhnya.
Napas Aelora tercekat.
“Aku dikendalikan.”
“Sebagian,” jawab versi remajanya.
“Siapa dia?”
Pintu terbuka.
Udara tua mengembus dari dalam, membawa ribuan bisikan yang saling bertumpuk.
Bagian dalam Menara Rune Terkunci jauh lebih besar daripada bentuk luarnya. Tangga melingkar naik tanpa terlihat ujungnya. Mural-mural memenuhi dinding, bergerak seperti jendela yang memandang masa lalu dan masa depan.
Pada mural pertama, Aelora mati di Hutan Hitam.
Pada mural kedua, Kael tidak pernah menemukannya.
Pada mural ketiga, Aelora tumbuh di Elyrion dengan dua sayap putih, tetapi wajahnya kosong dan tidak mengenali siapa pun.
Pada mural keempat, Kael menjadi musuhnya.
Pada mural kelima, mereka berdiri bersama di depan gerbang yang tertutup.
“Ada banyak masa depan,” bisik Aelora.
“Menara menyimpan semuanya,” kata Milo.
Aelora berjalan menuju mural terbesar.
Di sana, akhir masa depan yang ia ingat tergambar jelas.
Kael mati.
Mirael terkurung dalam kristal.
Seraphiel dirantai.
Nira, Ryn, dan Daren terbaring di medan perang.
Aelora berdiri sendirian di depan gerbang.
Pedang berada di tangannya.
Namun ada seseorang di belakangnya.
Lelaki berjubah putih dengan mahkota berbentuk matahari. Wajahnya tertutup cahaya. Telapak tangannya berada di atas kepala Aelora, seperti memberi berkat.
Atau mengendalikan boneka.
Tulisan di bawah mural menyala.
VARION, ARCHON PEMURNIAN.
Semua rune di dalam menara menjerit.
Milo merendahkan tubuh. Bulu-bulunya berdiri.
“Dia menemukan kita.”
Mata pada mural Varion terbuka.
Cahaya putih menyembur dari dinding.
Aelora mencoba mundur, tetapi rantai-rantai cahaya keluar dari lantai dan melilit kedua pergelangan kakinya.
Suara lelaki memenuhi menara.
“Akhirnya.”
Seluruh mural berubah serempak.
Berbagai kemungkinan masa depan menghilang.
Kini semuanya menunjukkan satu pemandangan yang sama.
Aelora berdiri di depan Gerbang Tiga Dunia.
Kael mati di kakinya.
Langit, bumi, dan Nocthara terbakar.
Varion tertawa pelan.
“Kau kembali lebih cepat daripada dugaanku, Aeloria.”
Aelora menarik kakinya. Rantai itu mengencang dan membakar kulitnya.
“Kau mengenalku?”
“Aku mengenal setiap versimu.”
Pintu menara menutup di belakang mereka.
Tujuh lapisan rune menyala kembali.
Milo menerjang rantai. Cahaya melemparkannya ke dinding.
“Apa yang kauinginkan?” teriak Aelora.
Wajah Varion membesar memenuhi mural.
“Apa yang selalu kuinginkan.”
Tangannya keluar dari dinding, terbentuk dari cahaya padat.
Jari-jarinya mengarah pada sayap putih Aelora.
“Kunci yang bersedia membuka gerbang.”
Ledakan terdengar dari luar.
Seluruh pintu bergetar.
Suara Kael mengguncang menara.
“Aelora!”
Aelora menoleh.
“Ayah!”
Bayangan hitam menyusup melalui celah rune. Kael sedang berusaha masuk.
Varion tersenyum.
“Bagus.”
Rantai menarik Aelora mendekati mural.
“Raja Iblis juga datang.”
Cahaya berkumpul di tangan Aelora.
Sebuah pedang putih-hitam terbentuk di antara jemarinya. Bilahnya terlalu besar bagi tubuh kecilnya, tetapi tangannya menggenggam gagang itu seolah telah memakainya ratusan kali.
Pedang yang sama.
Pedang yang pernah menembus dada Kael.
Varion membungkuk dari dalam mural, lalu berbisik dekat telinganya.
“Mari kita lihat apakah takdir dapat dipaksa mengulang dirinya lebih cepat.”